
...***...
Satu hari menjelang acara besar dimulai. Mereka semua melakukan persiapan. Mendekorasi halaman istana menjadi tempat untuk acara besok. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedang memantau persiapan tersebut bersama kedua ibundanya.
"Semoga saja acara besok berjalan dengan lancar."
"Aamiin ya Allah. Semoga saja ibunda."
"Ibunda sudah tidak sabar lagi menunggu kedatangan nanda ratu agung."
"Semoga saja yunda ratu cepat sampai, sebelum acara di mulai ibunda."
"Semoga saja nak. Karena ibunda sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan nanda ratu agung."
"Kita semua tidak sabar menunggu kedatangan yunda ratu, termasuk nanda." Raden Hadyan Hastanta juga ikut bergabung dengan mereka. Bersama istrinya Putri Bestari Dhatu.
"Dimana kedua adikmu nak?. Mengapa tidak ikut bersama kalian?."
"Katanya mau persiapan besok ibunda."
"Persiapan besok?."
"Rayi andhini andita, juga rayi agniasari ariani sedang bermanjakan diri ibunda. Katanya agar tampil lebih cantik di acara besok. Apalagi katanya karena ingin bertemu dengan yunda ratu agung. Makanya mereka benar-benar harus lebih cantik dari yunda ratu agung. Begitu katanya ibunda."
Ratu Dewi Anindyaswari, dan Ratu Gendhis Cendrawati tertawa kecil mendengarkan apa yang dikatakan oleh Putri Bestari Dhatu, mengenai kedua Putri Raja yang ingin tampil sempurna di hari penting besok?.
"Tidak biasanya mereka seperti itu. Tapi ya sudahlah yunda."
"Mungkin mereka hanya tidak mau kalah dari yunda mereka saja rayi."
"Mungkin saja seperti itu yunda."
Setelah itu, mereka kembali mengawasi jalannya persiapan tersebut. Karena bukan hanya demi kebahagiaan keluarga saja, melainkan demi rakyat suka damai yang tidak bisa menghadiri acara pernikahan Raden Hadyan Hastanta. Acara ini hanya untuk rakyat Kerajaan Suka Damai saja, karena itulah raja-raja yang bersahabat dekat dengan kerajaan tidak diundang. Tapi, bagaimana persiapan mereka untuk besok?. Temukan jawabannya.
...***...
__ADS_1
Sementara itu, Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara sedang dalam perjalanan menuju istana Kerajaan Suka Damai. kali ini ia melakukan perjalanan dengan Bedati yang disediakan oleh kerajaan untuk ratu atau raja yang bepergian kemana saja. Dengan begitu, perjalanan menuju Istana Kerajaan Suka Damai akan terasa lebih cepat, dibandingkan dengan jalan kaki. Karena, ia sudah tidak sabar lagi bertemu dengan keluarganya. Meskipun beda ibu, namun kasih sayang yang mereka berikan padanya sangat tulus.
"Apa yang akan aku katakan pada ibunda. Jika ibunda dewi juga ibunda gendhis bertanya masalah ibunda ardiningrum bintari?." Pikirannya masih bercabang mengenai mendiang ibundanya.
"Tapi aku yakin, rayi prabu, rayi hadyan hastanta telah menceritakannya." Ia mencoba untuk menekan perasaan gelisahnya. "Oh dewata yang agung. Hilangkan lah kegelisahan yang aku rasakan. Karena aku tidak mau datang dalam keadaan raut wajah yang bermuram durja seperti ini." Dalam hatinya berharap, jika ia sampai dengan raut wajah yang bahagia, bukan wajah penuh dengan kecemasan.
"Tapi, rasanya aku memang sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan mereka semua. Mereka yang baik padaku. Selalu menyambut kedatanganku dengan wajah senyum bahagia." Perlahan-lahan, wajahnya mulai menampilkan senyuman, walaupun kecil.
"Terutama ibunda ratu dewi. Beliau selalu baik, tidak menaruh dendam sedikitpun padaku. Nanti aku benar-benar ingin minta maaf pada ibunda dewi. Agar aku memerintah kerajaan mekar jaya lebih ringan lagi. Aku akan meminta ridho darinya." Senyumnya semakin mengembang, karena sebentar lagi, ketika ia sampai di Istana Kerajaan Suka Damai, ia akan melakukan apa yang ada di dalam pikirannya.
"Tunggu sebentar lagi ibunda. Aku akan segera sampai. Aku sudah tidak tahan lagi menahan perasaan rindu pada ibunda." Dalam hatinya ia berharap segera sampai ke Istana Kerajaan Suka Damai.
...***...
Matahari telah melewati kepala, sang Prabu melangkahkan kakinya menuju kota Raja yang masih dekat dengan istana. Setelah melakukan sholat dzuhur, ia ingin berjalan melihat keadaan kota Raja yang masih aman dari kerusuhan, ataupun hal-hal yang dapat merugikan mereka semua.
"Aku hanya ingin jalan-jalan sebentar. Mungkin aku berpas-pasan dengan yunda ratu nanti." Ucapnya dengan senyuman kecil.
Matanya terus menatap mereka yang terlihat senyum bahagia. "Alhamdulillah hirobbil'alamin. Karena jaya satria, semuanya baik-baik saja." Dalam hatinya merasa bersyukur, karena semuanya dilakukan oleh Jaya Satria. "Nanti, setelah pulang ini aku ingin menemuinya." Ia kembali melangkah mengikuti kata hatinya yang berkeinginan kuat untuk terus berjalan.
"Maaf kisanak. Mengapa menghalangi langkahku?. Apakah kisanak perlu sesuatu denganku?."
"Banyak yang ingin aku selesaikan denganmu!."
Maaf kisanak. Apa masalah yang pernah kita lalui, sehingga kisanak ingin menyelesaikan masalah denganku?."
"Kau jangan berpura-pura lupa raden cakara casugraha!. Selama ini aku menderita karena kau!."
"Karena aku?. Tapi apa yang telah aku perbuat?. Sehingga kisanak marah padaku?."
"Tidak usah banyak bicara kau raden cakara casugraha!. Akan aku habisi kau sekarang juga!."
Setelah itu, orang misterius itu terus menyerang Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Tentunya sang Prabu terkejut, karena tidak mengetahui sama sekali, dimana akar permasalahan yang telah terjadi.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba mempertahankan dirinya, akan tetapi sangat disayangkan. Ia merasakan ada yang aneh dengan dirinya.
__ADS_1
Ia merasa lebih cepat mengalami kelelahan. Nafasnya cepat naik turun, sehingga ia tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah, mengapa-."
"Mengapa aku tidak bisa menggunakan tenaga dalam?." Pemuda itu seakan membaca pikiran Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang kebingungan dengan apa yang terjadi pada dirinya.
"Aku telah membuat tali merah tak kasat mata, untuk mengendalikan dirimu. Sehingga kau tidak bisa menggunakan semua jurusmu lagi cakara casugraha!." Pemuda itu tertawa puas, karena ia berhasil menyiksa Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Apa yang kau katakan?. Aku tidak mengerti sama sekali. Aku hanya berpasrah kepada Allah SWT. Hanya kepada Allah SWT aku meminta pertolongan. Tiada daya dan upaya kecuali pertolongan Allah."
"Kau tidak usah berusaha menghibur diri raden cakara casugraha. Aku yakin kau takut, jika aku memusnahkan mustika naga merah delima yang ada di dalam tubuhmu itu kan?."
Deg!!!
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat terkejut. Bagaimana orang itu bisa mengetahui apa yang menjadi rahasia dirinya?.
"Siapa kau?. Mengapa kau mengetahui rahasia itu?. Katakan padaku!."
"Ahahaha kau tidak perlu semarah itu raden cakara casugraha. Yang aku inginkan hanyalah mustika naga merah delima itu." Setelah itu, pemuda yang sama sekali tidak diketahui siapa dirinya itu menyerang Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dengan sangat ganas.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana benar-benar tidak bisa berkutik, karena ia tidak bisa menggunakan tenaga dalamnya saat bertarung, sehingga ia merasakan kewalahan yang luar biasa.
"Ya Allah, mengapa hamba tidak bisa menggunakan tenaga dalam hamba?." Dalam keadaan sakit karena serangan bertubi-tubi yang ia terima, ia mencoba untuk tetap mengingat Allah. "Jaya satria. Jaya satria. Apakah kau mendengarkan aku?."
Namun tidak ada tanggapan dari Jaya Satria. "Ya Allah. Mengapa hamba tidak bisa berkomunikasi dengan jaya satria?. Apa yang terjadi?."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana semakin panik, ia tidak bisa berbicara dengan Jaya Satria?. Sementara itu tubuhnya semakin sakit, karena pemuda itu tidak membiarkan dirinya untuk menangkis serangannya.
Namun yang terjadi ketika ia lengah, tangan pemuda itu menyentuh dada kanannya. Seperti mencengkeram erat dada kanannya, sehingga ia berteriak keras karena kesakitan.
"Keghaaaaaaaakh."
Bagaiman nasib sang Prabu?. Mengapa ia tidak bisa berkomunikasi dengan Jaya Satria?. Temuan jawabannya.
...***...
__ADS_1