RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
MUSUH LAMA?


__ADS_3

...***...


Acara lamaran telah selesai diselenggarakan dengan baik. Bahkan hari pernikahan mereka juga telah ditetapkan.


Saat ini hanya acara saling kenal antara kedua belah pihak keluarga besar Raja yang berkuasa. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedang berbincang-bincang dengan Prabu Kawanda Labdagati hanya berdua saja. Sementara yang lainnya sedang berbincang-bincang dengan keluarga lain dari Prabu Kawanda Labdagati.


"Sungguh, saya tidak menyangka. Ternyata yang memimpin kerajaan suka damai adalah putra bungsu dari mendiang gusti prabu kawiswara arya ragnala." Prabu Kawanda Labdagati tidak menyangka akan hal itu.


"Semua telah berjalan dengan sesuai dengan takdir paman prabu." Ucap Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedikit sedih, karena ia begitu merindukan ayahandanya.


"Saya yakin, nanda bisa memimpin kerajaan dengan baik. Semoga dengan hubungan baik ini. Kita bisa memberikan kesejahteraan pada rakyat yang kita pimpin."


"Aamiin, semoga saja paman prabu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat senang mendengarnya.


"Rasanya ini adalah sebuah mimpi. Bisa bertemu denganmu. Karena saya telah mendengar kabar-kabar angin yang baik tentang nanda prabu setelah menjadi raja."


"Saya bisa karena banyak orang yang membantu saya, paman prabu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil. "Jika hanya saya yang bekerja, tentunya tahta pemerintahan tidak akan berlangsung dengan baik hingga sekarang." Lanjutnya lagi.


"Ya. Nanda prabu benar. Kita tidak akan bisa bergerak sendiri tanpa adanya bantuan dari bawahan yang akan menjalankan apa yang kita perintahkan kepada mereka." Prabu Kawanda Labdagati sangat setuju dengan apa yang dikatakan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Meski sebagai pemimpin, tata bahasa kita pada orang lain. Sikap kita dalam memerintah, serta perkataan kita saat perilaku kita saat memberikan perintah. Tapi jangan jadi seorang penjilat hanya memerintah, tapi tidak bisa memikirkan apakah perintahnya itu sasarannya tepat atau tidak." Senyumannya begitu tulus saat mengatakan itu.


"Paman prabu benar. Dulu ayahanda pernah berkata seperti itu pada saya." prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat mengingat dengan jelas apa yang dikatakan Ayahandanya dulu.


"Semoga nanda bisa memimpin kerajaan suka damai dengan baik."


"Semoga saja paman prabu." Balasnya.


"Tapi saya juga tidak menyangka. Jika yang melamar itu adalah rakamu. Saya kira itu nanda prabu."

__ADS_1


"Waktu itu saya masih labil paman prabu. Jadi saya belum bisa menerima perasaan lain, selain rasa cinta saya terhadap ibunda." Matanya melihat ke arah ibundanya yang sedang berbincang dengan Ratu Gendari Candramaya. "Saya yang waktu itu belum bisa mengendalikan diri. Marah, karena ibunda saya diperlakukan tidak adil di istana. Hingga saya berpisah selama depan tahun lamanya. Sungguh, tujuan saya sekarang hanyalah untuk membahagiakan ibunda saya setelah kematian ayahanda prabu." Mata itu terlihat sedih. Tujuannya sungguh mulia, sehingga Prabu Kawanda Labdagati dapat merasakannya.


"Nanda prabu sungguh anak yang baik." Prabu Kawanda Labdagati menepuk pundak Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dengan pelan. "Jagalah ibunda nanda dengan baik. Semoga nanda selalu mendapatkan kebahagiaan."


"Aamiin ya Allah." Dalam hatinya juga berharap demikian.


Sementara itu, Putri Andhini Andita dan Putri Agniasari Ariani tak hentinya menggoda Raden Hadyan Hastanta dan Putri Bestari Dhatu. Hingga membuat keduanya tersipu malu.


"Sudahlah rayi. Jangan permalukan aku dihadapan Putri bestari dhatu." Dengan perasaan jengkel, Raden Hadyan Hastanta berkata seperti itu.


Mereka semua malah tertawa geli melihat reaksi dari Raden Hadyan Hastanta. Mereka tidak tahan dengan tingkah lucunya yang malu-malu saat digoda.


Hari itu mereka habiskan untuk bersama. Mengenal satu sama lain. Keluarga Prabu Kawanda Labdagati dan prabu Asmalaraya Arya Ardhana menyatu dengan baik. Semoga hari bahagia selalu mereka dapatkan sampai hari pernikahan itu terjadi.


...***...


Namun saat itu, ia tidak menduga ada seorang pemuda yang datang padanya. Pemuda itu tidak terlihat bersahabat sama sekali. Pada saat itu, dihalaman istana.


"Sepertinya aku datang pada orang yang tepat." Ucapnya tanpa basa-basi lagi.


"Apa yang kisanak katakan?." Jaya Satria sedikit kebingungan dengan apa yang diucapkan pemuda asing itu.


"Kau jangan pura-pura lupa padaku raden cakara casugraha." Tatapan itu begitu dingin, dan menusuk sampai ke dalam tubuhnya. "Aku adalah sabisana duryana. Orang yang pernah kau kalahkan beberapa tahun yang lalu di padang bunga petik setangkai." Lanjutnya lagi. Pemuda itu menyebutkan namanya dengan lantangnya.


Perlahan-lahan Jaya Satria dapat mengingat kejadian itu. Dimana ia yang masih dikuasai oleh amarah. Sebelum ia masuk agama islam, ia masih dalam pengembaraan. Dan masa sebelum ia bertemu dengan aki jarah setan yang menjadi gurunya.


"Hooo jadi kau yang merupakan pemuda bengis, ingin merebut kekasih orang lain. Dan kau bahkan sampai tega membunuh gusti putri tanjung raya."


"Bedebah!. Jangan kau ingatkan aku pada kejadian itu." Sabisana Duryana membentak Jaya Satria dengan penuh kemarahan yang luar biasa.

__ADS_1


Namun Jaya Satria malah tertawa?. Tidak ada rasa takut yang ia tunjukan, malah ia bersikap santai seperti itu.


"Kurang ajar. Cecunguk busuk!. Apa yang kau tertawakan bedebah!." Bentaknya lagi.


Jaya Satria menghentikan suara tawanya. Ia mencoba untuk kembali tenang, sembari berkata. "Aku hanya menertawakanmu. Bagaimana sikap busukmu dimasa lalu. Dan mengapa kau malah mencariku?." Jaya Satria balik bertanya. "Apakah kau masih belum terima dengan apa yang terjadi pada saat itu?." Jaya Satria mencoba untuk menerka, apakah itu alasannya?.


"Heh!." Pemuda itu mendengus kesal. "Selain kurang ajar. Ternyata kau masih belum pikun dengan apa yang terjadi dimasa lalu." Sabisana Duryana menyeringai lebar.


Namun, saat itu ada seorang prajurit istana yang datang menghadap. "Mohon ampun raden. Di depan gerbang istana. Ada putri cahya Candrakanti yang ingin bertemu dengan raden." Prajurit itu melapor pada Jaya Satria. Ia mencoba mengabaikan orang asing yang berdiri di hadapan Jaya Satria. "Baiklah prajurit. Katakan pada putri cahya candrakanti. Bahwa aku akan ke sana, setelah aku mengatasi sedikit masalah." Balas Jaya Satria.


"Sandika raden." Setelah memberi hormat pada Jaya Satria. Prajurit tersebut pergi meninggalkan Jaya Satria.


"Hooo,,,, apakah kau sudah memiliki kekasih baru raden cakara casugraha?." Mata itu melirik dengan tajam ke arah Jaya Satria. "Hatimu cepat sekali bercabang. Dasar lelaki tidak punya ketetapan hidup!."


"Diam kau!. Harusnya kau berkaca dahulu sebelum kau mengatakan itu padaku!." Jaya Satria merasa kesal.


Tentu saja suara Jaya Satria membuat Sabisana Duryana terkejut.


"Kau-."


"Jaya satria." Dari arah yang tidak jauh dari mereka. Suara seorang wanita muda menyapa mereka. Sehingga jaya Satria terpaksa mengenakan topeng, menutup wajahnya.


"Dia mengenakan topeng penutup wajah?." Dalam hati Sabisana Duryana terkejut melihat itu.


Apa yang akan terjadi?. Baca terus ceritanya. Tak lima makanya tak follow, tak vote makanya tak follow, tak komentar makanya tak follow, tak kasih hadiah makanya tak follow. Jadi merugilah bagi pembaca gelap.


Jangan lupa tambahkan ke daftar favoritnya, agar dapatkan notif nya. Terima kasih banyak atas dukungannya pembaca tercinta.


...***...

__ADS_1


__ADS_2