
...***...
Prabu Guntur Herdian dan Jaya Satria kembali ke ruang keluarga istana.
"Bagaimana kanda prabu?. Apakah telah selesai?."
"Iya dinda. Kanda telah menyampaikan semuanya pada nanda prabu." Ia tersenyum kecil menatap Jaya Satria yang kembali mengenakan topeng. Katanya biar keluarga Prabu Guntur Herdian tidak kebingungan.
"Karena tujuannya telah sampai, kami pamit dulu rayi dewi."
"Apakah raka prabu sedang buru-buru?."
"Ada hal lain yang harus diurus. Maaf karena tidak bisa lama-lama di sini rayi dewi."
"Padahal enak sekali berbincang-bincang dengan yunda cahya bhanurasmi. Sayang sekali jika raka prabu memang ada urusan yang penting."
"Benarkah itu dinda?."
"Kami hanya berbincang-bincang beberapa hal kanda. Membahas tentang anak-anak, serta apa saja yang kami lakukan jika waktu senggang di istana. Besama rayi dewi, juga rayi gendhis cendrawati yang ingin belajar tentang agama islam."
"Mungkin lain kali kami akan berkunjung lagi rayi dewi, rayi gendhis cendrawati. Sekali lagi maafkan saya."
"Tidak apa-apa raka prabu. Kami akan selalu menunggu kedatangan raka prabu di istana ini."
"Saya juga ingin belajar banyak hal bersama yunda cahya bhaburasmi. Sangat menyenangkan sekali mendengarkan apa yang dijelaskan oleh yunda tadi. Iya kan rayi dewi?."
"Benar itu yunda. Kadang kami tertawa, kadang kami hampir saja menangis mendengarkan kisah-kisah yang diceritakan yunda cahya bhanurasmi."
"Mungkin lain kali kita akan berbincang-bincang lagi rayi. Maaf jika kami sedang buru-buru."
"Tidak apa-apa yunda. Kami memakluminya."
"Kami pamit dulu."
"Kalau begitu akan kami antar sampai depan gerbang."
Setelah itu mereka menuju gerbang Istana. Ratu Cahya Bhanurasmi, Putri Cahya Candrakanti dan Raden Harjita Jatiadi naik duluan ke Bedati. Sedangkan Prabu Guntur Herdian pamitan, perwakilan mereka semua.
"Semoga suatu hari nanti kita bisa bertemu dalam ikatan yang baik, jaya satria." Dalam hatinya merasakan perasaan yang dalam pada Jaya Satria. Hingga matanya tidak bisa lepas dari Jaya Satria sebelum ia memasuki Bedati itu.
"Mengapa matanya terus memperhatikan jaya satria?. Apa yang ia inginkan sebenarnya ke sini?. Jika itu berhubungan dengan jaya satria. Aku tidak akan mengampunimu putri cahya candrakanti. Aku tidak akan membiarkanmu memiliki jaya satria, hanya karena kau meminta bantuan dari ayahandamu untuk bersama jaya satria. Sementara aku lebih dekat dengan adikku cakara casugraha jika kau tidak lupa dengan itu." Hatinya tidak bisa menerima jika memang itu tujuan mereka datang ke Istana ini. "Nanti akan aku tanyai pada jaya satria mengenai pembicaraan tadi." Dalam hatinya merasa penasaran dengan apa yang disampaikan oleh prabu Guntur Herdian pada Jaya Satria.
__ADS_1
"Berhati-hatilah raka prabu selama diperjalanan. Semoga raka prabu sampai tujuan dengan selamat."
"Terima kasih rayi dewi. Meskipun sudah lama tidak bertemu, rayi dewi masih terlihat anggun."
Ratu Dewi Anindyaswari hanya tersenyum kecil mendengarkan apa yang dikatakan Prabu Guntur Herdian. Sementara itu mereka juga hanya diam saja. Karena mereka tidak mau berpikiran buruk mengenai kedekatan masa lalu antara Ratu Dewi Anindyaswari dengan Prabu Guntur Herdian.
"Saya pamit dulu nanda prabu."
"Berhati-hatilah gusti prabu. Saya tidak bisa berjanji, keputusan ada padanya."
"Terima kasih karena nanda prabu telah berkenan menyambut saya. Maaf jika saya membuat nanda terkejut."
"Tidak apa-apa gusti prabu. Memang ini sangat mengejutkan sekali untuk saya."
"Kalau begitu saya pamit dulu nanda prabu, gusti ratu dewi anindyaswari, syekh asmawan mulia. Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh."
"Wa'alikumussalam warohmatullahi wabarokatuh."
"Saya pamit dulu gusti ratu gendhis cendrawati, nanda putri, paman. Sampurasun."
"Rampes."
Putri Andhini Andita mendekati Jaya Satria. Ia tidak dapat lagi menahan dirinya untuk menyimpan pertanyaan yang bersemayam di dalam pikirannya.
"Apa yang dikatakan oleh gusti prabu guntur herdian padamu jaya satria?. Aku ingin mengetahuinya. Katakan padaku semuanya"
Hati Putri Andhini Andita sedang dipenuhi oleh gejolak rasa penasaran yang tinggi, sehingga ia bertanya dengan nada memaksa.
"Ma-maaf gusti putri. Pesan dari gusti prabu guntur herdian, hanya boleh disampaikan pada gusti prabu. Jadi maafkan hamba jika hamba tidak bisa menjawab pertanyaan gusti putri."
"Tapi-."
"Sudahlah yunda. Jangan memaksakan kehendak. Nanti jaya satria bisa dihukum oleh rayi prabu, jika menyampaikan berita penting itu selain padanya. Apakah yunda tidak kasihan, jika jaya satria dihukum rayi prabu?."
"Huffffffh."
"Sudahlah nak. Berita apapun itu, nanti kita tanyakan pada nanda prabu. Jadi bersabarlah."
"Baiklah ibunda. Maafkan aku jaya satria."
Mereka semua memahami perasaan gelisah Putri Andhini Andita. Mereka mengetahui jika Putri Andhini Andita menyukai Jaya Satria. Namun mereka yang mengetahui itu, harusnya mengatakan yang sebenarnya. Tapi disisi lain, rahasia sang Prabu harus tetap dijaga. Mereka serba salah untuk mengatakannya. Semoga saja suatu hari nanti masalah rumit ini bisa diselesaikan dengan baik.
__ADS_1
"Kalau begitu mari masuk yunda, paman perapian suramuara, syekh. nanda putri, nanda jaya satria."
"Mari gusti ratu."
"Mari rayi."
"Mari ibunda."
Namun ketika hendak masuk, Jaya Satria menahan tangan ibundanya. Sehingga menatap wajah anaknya yang sedikit pucat. jaya Satria membuka topengnya, sesuai janjinya pada ibundanya. Jika hanya mereka berdua, maka ia akan melepaskan topeng itu.
"Nanda kenapa nak?. Apa yang dikatakan raka prabu pada nanda, sehingga wajah nanda terlihat pucat." Ratu Dewi Anindyaswari melihat mereka yang telah memasuki istana. "Katakan pada ibunda nak."
"Agak berat nanda mengatakannya ibunda."
"Itu memang sangat berat jaya satria. Bahkan aku sangat terkejut mendengarkannya."
"Lalu apa yang harus kita lakukan gusti prabu?."
"Serahkan semuanya kepada Allah SWT. Untuk saat ini aku serahkan ibunda padamu."
"Sandika gusti prabu." Dalam hati Jaya Satria merasa gelisah dengan apa yang akan ia katakan pada ibundanya.
"Kalau begitu nanda beristirahatlah. Jika nanda siap, nanda bisa temui ibunda kapan saja. Ibunda akan mendengarkan apa yang mengganjal di hati nanda mengenai apa yang dikatakan oleh raka prabu."
"Baiklah ibunda. Maafkan nanda jika nanda telah membuat ibunda merasa cemas."
"Tidak apa-apa nak. Ibunda hanya cemas saja. Itu karena ibunda selalu menyayangimu nak. Tidak akan ibunda biarkan nanda menanggung beban sendirian nak."
"Terima kasih ibunda. Nanda sangat menyayangi ibunda."
"Ibunda juga menyayangi nanda."
Ratu Dewi Anindyaswari memeluk erat anaknya. Ia berusaha menenangkan kegelisahan yang dirasakan oleh anaknya. Ia usap kepala belakang anaknya, dan tak lupa mencium puncak kepala anaknya dengan sayang.
"Mari nak. Mari kita istirahat."
"Mari ibunda."
Setelah itu keduanya masuk ke dalam istana untuk beristirahat. Mereka hanya ingin menenangkan pikiran mereka. Apa yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya. Jangan lupa dukungannya ya. (Untuk kuisnya udah selesai ya. Terima kasih karena selalu hadir, membaca karya ini. Selamat sekali lagi buat pemenang ya 🎉🥳)
...***...
__ADS_1