
...***...
Dua hari telah berlalu. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana beserta keluarga pamit, untuk kembali ke istana Kerajaan Suka Damai. Mereka tidak ingin berlama-lama meninggalkan Jaya Satria, meskipun ada Syekh Asmawan Mulia dan Paman Perapian Suramuara yang menemaninya.
"Kami pamit ayahanda prabu. Maaf, karena tidak bisa berlama-lama berada di istana ini."
"Tidak apa-apa putraku. Tapi hanya satu yang aku inginkan darimu. Jagalah putriku selama berada di sana."
"Tentu saja ayahanda prabu."
"Saya akan aman bersama kanda hadyan hastanta." Putri Bestari Dhatu meyakinkan ayahandanya. "Tapi raka kawindra jangan melihat kanda hadyan hastanta seperti itu. Raka terlihat menyeramkan."
Mereka semua tertawa kecil mendengarkan apa yang diucapkan oleh Putri Bestari Dhatu. Ya, meskipun di acara pernikahan, kakaknya itu sibuk menyambut tamu terhormat dari kerajaan lain. Karena itulah ia tidak terlihat berkeliaran di ruangan balai istana. Ia ditugaskan oleh ayahandanya menyambut Raja dari kerajaan lain. Ayahandanya tidak mau diganggu ketika bersama Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Aku hanya ingin memastikan, jika rayi hadyan hastanta selalu bersamamu rayi bestari dhatu."
"Tentu saja raka. Aku akan selalu bersama dinda bestari dhatu."
"Raden jangan khawatir, jika raka hadyan hastanta membuat yunda bestari dhatu menangis. Maka kami yang akan menghukumnya."
"Benar itu raden. Jadi raden tenang saja, yunda bestari dhatu akan aman bersama kami."
"Terima kasih, karena putri andhini andita, juga putri agniasari mau menjaga rayi bestari dhatu."
Ada canda tawa sebelum mereka pamit. Mereka tidak terlalu kaku lagi, karena mereka telah terbiasa dengan suasana kekeluargaan yang baru.
"Semoga kalian selamat sampai tujuan. Kami tidak bisa mengantarnya sampai ke sana."
"Tidak apa-apa paman prabu. Kami akan selalu waspada selama di perjalanan. Semoga paman prabu beserta keluarga sehat selalu."
Setelah itu mereka pamit menuju Istana Kerajaan Suka Damai. Karena mereka juga harus mempersiapkan sesuatu untuk menyambut kedatangan Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara.
...***...
Sementara itu di Istana Kerajaan Suka. Jaya Satria masih bersama Syekh Asmawan Mulia, dan Paman Perapian Suramuara.
"Gusti prabu telah meninggalkan istana kerajaan angin selatan. Mungkin dua hari akan sampai."
"Jadi begitu?. Semoga saja nanda prabu juga rombongan baik-baik saja."
"Semoga saja syekh guru." Jaya Satria hanya berharap, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana baik-baik saja selama diperjalanan. Karena ia sangat khawatir dengan keadaan Sang Prabu, ibunda, dan kakaknya.
__ADS_1
"Alhamdulillah hirobbil'alamin, jika memang gusti prabu kembali ke istana kerajaan suka damai." Dalam hati Jaya Satria mencoba untuk berinteraksi dengan Prabu Asmalaraya Arya Ragnala.
"Alhamdulillah hirobbil'alamin jaya satria. Semuanya telah selesai." Sang Prabu tentunya dapat merasakan bagaimana, dan apa saja yang dirasakan oleh Jaya Satria. "Tapi maafkan aku jaya satria. Karena kau tidak bisa hadir diantara kami saat ini."
"Tidak apa-apa gusti prabu. Dengan adanya gusti prabu di sana. Itu telah mewakili diri hamba."
"Ya, itu mungkin saja benar. Tapi rasanya aku tidak enak hati padamu jaya satria."
"Bagi hamba, apa yang gusti prabu lihat dan gusti prabu, itu akan sampai pada hamba. Begitu juga dengan apa yang rasakan."
"Baiklah kalau begitu jaya satria. Tetaplah berada di istana untuk sementara waktu ini. Tetap jaga istana sampai aku datang kembali."
"Sandika gusti prabu. Akan hamba lakukan, atas izin Allah SWT."
Setelah itu keduanya mencoba untuk fokus dengan pandangan masing-masing. Karena ikatan batin yang begitu kuat, keduanya mencoba untuk tetap seimbang.
"Untuk sementara waktu ini, syekh guru serta paman perapian suramuara tetap lah berada di istana. Karena gusti prabu akan mengadakan acara syukuran."
"Baiklah kalau begitu. Tapi nanti ada yang ingin stekh guru sampaikan pada nanda prabu."
"Acara syukuran?. Apakah aku yang sudah tua ini masih pantas untuk menghadiri acara seperti itu?."
"Rasanya aku ingin menangis. Padahal kita tidak memiliki hubungan darah apapun. Akan tetapi, entah pun engkau ataupun gusti prabu. Itu sama baiknya, sejak pertama kali kita bertemu."
"Bersaudara itu tidak harus memiliki hubungan darah paman. Kita semua ini adalah bersaudara, jadi paman jangan merasa sungkan."
"Terima kasih nanda jaya satria, juga nanda prabu."
"Nanda prabu, juga nanda jaya satria adalah anak yang baik. Hanya keadaan yang membuat mereka menjadi pemarah. Apalagi kekuatan kutukan itu, sangat mengerikan jika mereka marah." Dalam Syekh Asmawan mengingat cerita dari mendiang Prabu Kawiswara Arya Ragnala tentang putranya. "Semoga saja nanda berdua selalu dilindungi oleh Allah SWT." Itulah harapan dari Syekh Asmawan Mulia. Ia hanya menginginkan yang terbaik untuk muridnya itu.
...***...
Sedangkan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang sedang beristirahat bersama keluarganya. Ia sedang berbincang-bincang bersama keluarganya.
"Ibunda dewi. Bagaimana ceritanya rayi agniasari ariani dijodohkan dengan raden rajaswa pranawa? Kenapa ibunda dewi tidak menceritakannya pada kami?." Putri Andhini Andita masih penasaran dengan kisah perjodohan itu.
"Dijodohkan?." Tentunya Prabu Asmalaraya Arya dan yang lainnya terkejut mendengarkan kata jodoh, dari mulut Putri Andhini Andita.
"Yunda. Jangan bahas masalah itu sekarang. Nanti saja, jangan katakan pada yang lain dulu."
"Ayolah rayi. Aku yakin mereka semua penasaran."
__ADS_1
"Dinda dewi menjodohkan nanda putri agniasari ariani?. Kapan dinda dewi melakukan itu?."
"Benar ibunda. Nanda tidak pernah mendengarkannya. Dengan siapa yunda agniasari ariani hendak dijodohkan?."
"Jadi rayi agniasari ariani juga akan menikah?."
"Tentu saja belum raka. Kami bahkan tidak mengetahui sama sekali masalah perjodohan itu."
"Tenanglah putriku. Kami juga tidak memaksa. Lagi pula kalian masih muda. Ibunda rasa kalian masih butuh waktu untuk saling mengenal."
"Itu semua karena yunda andhini andita. Mengapa malah menyinggung masalah itu."
Mereka tertawa geli melihat raut wajah Putri Agniasari Ariani yang terlihat cemberut. Ia juga terlihat panik seketika, saat kakaknya itu menyinggung Raden Rajaswa Pranawa.
"Bagaimana ceritanya dinda dewi. Apakah kami boleh mendengarnya?."
"Katakan saja ibunda dewi."
Ratu Dewi Anindyaswari melihat ke arah anaknya, ia hanya tersenyum kecil. Ia tahu anaknya terlihat berat, memohon padanya untuk tidak menceritakannya.
"Tidak apa-apa rayi. Itu hanya cerita saja. Apakah rayi tidak penasaran dengan cerita dari ibunda ratu dewi?."
Putri Agniasari Ariani terlihat berpikir. Ia melihat ke arah Putri Bestari Dhatu yang berkata padanya.
"Baiklah. Coba ceritakan ibunda. Rasanya nanda juga penasaran."
Mereka kembali tertawa geli melihat tingkah Putri Agniasari Ariani yang cemberut malu.
"Dulu, ketika kalian masih kecil. Dinda prabu nitisara pranawa sering berkunjung ke istana. Dinda prabu sering membawa nanda rajaswa ke istana. Entah mengapa kanda prabu menjodohkan nanda putri agniasari, karena umur mereka hanya beda satu tahun."
"Tapi mengapa tidak dipertemukan sejak kecil saja ibunda?."
"Benar ibunda. Kami juga penasaran dengan cerita itu."
"Kanda prabu yang memintanya. Kanda prabu mengatakan, jika ucapan hanyalah doa. Jika memang mereka memang berjodoh, maka mereka akan bertemu dengan sendirinya. Akan tetapi jika tidak bertemu, maka akan dipertemukan disaat waktu yang tepat. Disaat mereka sudah cukup umur untuk menikah. Begitu yang dikatakan oleh kanda prabu saat itu."
Mereka semua hampir tidak percaya dengan cerita itu. Mereka seperti mendengarkan cerita dongeng pertemuan tuan putri dan seorang pangeran yang telah ditakdirkan hidup bersama dalam tali ikatan pernikahan.
Bagaimana ceritanya?. Temukan jawabannya. Jangan lupa komentarnya.
...***...
__ADS_1