RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
PENCARIAN


__ADS_3

Putri Andhini Andita yang melihat itu selalu bertanya, siapakah sosok itu?. Dulu sosok misterius itu juga pernah menolongnya beberapa kali.


"Sebenarnya siapa orang itu?. Mengapa ia bersama dengan rayi prabu?. Bahkan ia dulu juga pernah bersama ayahanda prabu." Dalam hati putri Andhini Andita bertanya-tanya.


"Aku akan mencaritahu jawabannya, aku sangat penasaran dengan orang itu"


Rasa penasaran yang menyelimuti hatinya. Membuat ia mengamati adiknya juga orang bertopeng itu.


Sementara itu.


"Hamba mohon pamit gusti prabu. Sebab hamba ingin menyelidiki sejauh mana kelompok sengkar iblis berkeliaran di wilayah kerajaan suka damai"


"Baiklah jaya satria. Aku harap kau berhati-hati dalam bertindak?"


"Sandika gusti prabu."


"kalau begitu berhati-hatilah. Tapi ingat!. Jagalah amarahmu jangan sampai kau melepaskan amarahmu."


Pesan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana pada Jaya Satria agar terus berhati-hati.


"Sandika gusti prabu. Akan hamba ingat selalu pesan gusti prabu. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh"


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana melihat kepergian Jaya Satria.


"Ya Allah. Lindungilah ia dari marabahaya yang selalu mengancam keselamatannya. Hanya kepada-Mu lah hamba berserah diri. Aamiin, aamiin ya Rabbal 'alamin"


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana selalu mendoakan keselamatan Jaya Satria. Ia tidak mau terjadi sesuatu padanya. Hatinya sangat cemas bila Jaya Satria pergi menjauh darinya.


Sementara itu, Putri Andhini yang melihat serta mendengarkan apa yang dikatakan oleh adiknya. Seketika ia teringat dengan apa yang dikatakan oleh ayahandanya kepada orang misterius itu.


...***...


Kembali ke masa ketika prabu Kawiswara Arya Ragnala masih hidup. Ini adalah ingatannya tentang hari itu. Ketika ayahandanya berkata sama persis dengan adiknya.


"Hormat hamba Gusti Prabu."


Jaya Satria memberi hormat pada prabu Kawiswara Arya Ragnala. Rasa hormatnya begitu tulus pada sang prabu.


"Aku terima hormatmu jaya satria." Balas sang Prabu sambil tersenyum kecil.


Sementara itu disisi lain ada putri Andhini yang sedang melihat ayahandanya bersama sosok misterius bertopeng. Ia begitu penasaran dengan sosok yang berkali-kali bersama ayahandanya.


"Apa yang ingin kau katakan padaku jaya satria."


Tentulah ada hal penting yang ingin disampaikan oleh Jaya Satria hingga ia menemuinya.


"Mohon ampun gusti prabu. Sepertinya ada kerusuhan di desa lesung batu. Hamba mohon gusti prabu mengutus hamba ke sana untuk mereda kerusuhan tersebut." Jaya Satria telah mengatakan kepada sang Prabu apa tujuannya menemuinya.


Sang Prabu nampak sedikit berpikir. Apakah ia akan mengizinkan kepergian Jaya Satria?.


"Hamba mohon gusti mempertimbangkannya, karena hanya hamba yang bisa ke sana."


"Tapi jaya satria."


"para Senopati, juga putra mahkota sedang tidak ada di istana. Dan tidak mungkin gusti prabu meninggalkan istana. Jadi hamba mohon pertimbangkan kembali. Hamba takut para perusuh itu membunuh rakyat yang tidak berdosa, gusti prabu." Jaya Satria terus memohon kepada sang Prabu agar segera mengutusnya ke sana. Ia tidak mau terjadi sesuatu di desa itu.


Prabu Kawiswara menghela nafasnya. Agak terasa berat ia memberi izin pada Jaya Satria. Tapi ia tahu bahwa Jaya Satria akan tetap pergi ke sana, karena sesuai nama yang ia berikan padanya, bahwa ia akan membantu siapa saja yang dalam kesulitan. Jiwa Satrianya merasa terpanggil untuk berbuat kebaikan kepada siapapun juga.


"Baiklah!. Kalau begitu pergilah!."


Dengan berat hati ia mengizinkannya. Memang saat ini keadaan negerinya sedang kacau. Para Senopati sedang berperang melawan keberutalan kerajaan-kerajaan tetangga yang ingin memperluas wilayah kekuasaan mereka, juga putra-putranya sedang tidak ada di istana karena berguru ilmu Kanuragan di luar sana, jadi hanya Jaya Satria yang dapat melakukan tugas ini.


"Terima kasih, gusti prabu."


"Tapi ingatlah!. Jaga amarahmu!. Jangan sampai kau melepaskan amarahmu. Itu sangat berbahaya. Bukan hanya untukmu saja tetapi untuk mereka yang berada disekitarmu."


Itulah pesan sang prabu pada jaya Satria sebelum pemuda itu pergi. Ia hanya tidak ingin terjadi sesuatu pada Jaya Satria.


"Sandika gusti prabu. Akan hamba ingat pesan gusti Prabu dengan baik." Jaya Satria memahami apa yang dikatakan prabu Kawiswara Arya Ragnala.


"Kalau begitu hamba pamit gusti prabu."


"Berhati-hatilah. Aku harap kau bisa menjaga dirimu dengan baik."


"*sampurasun."


"Rampes*."


Ia hanya berharap Jaya Satria mampu mengatasi masalah yang terjadi dengan baik. Ia selalu berdoa Jaya Satria mampu mengendalikan amarahnya.

__ADS_1


Kembali ke masa ini.


...*****...


Di raung pengobatan Istana.


Ratu Gendhis Cendrawati sangat panik ketika mendengar kabar bahwa anaknya Raden Hadyan Hastanta pulang dalam keadaan terluka. Ia segera menemui putranya.


"Oh putraku. Apa yang terjadi padamu nak?." Ratu Gendhis Cendrawati begitu mencemaskan keadaan anaknya. Namun saat ini anaknya sedang terbaring di tempat tidur, mata anaknya terpejam seperti sedang tidur?.


"Tabib. Apa yang terjadi pada putraku?."


Namun sebelum tabib itu menjawab, prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Ratu Dewi Anindyaswari masuk ke dalam.


"Yunda gendhis cendrawati. Bagaimana keadaan nanda hadyan hastanta?. Apakah baik-baik saja?." Tanya Ratu Dewi Anindyaswari.


"Aku juga tidak tahu rayi. Tabib belum menjelaskan kondusi putraku kenapa seperti ini." Ratu Gendhis terlihat sedikit marah.


"Tabib. Apa yang terjadi pada raka hadyan hastanta?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang bertanya mengapa itu bisa terjadi.


"Mohon ampun gusti prabu, gusti ratu." Tabib Istana memberi hormat pada mereka bertiga. "Raden Hadyan Hastanta terkena jarum beracun." Jawaban dari tabib istana membuat Ratu Gendhis Cendrawati dan Ratu Dewi Anindyaswari terkejut.


"Lalu bagaimana keadaan putraku sekarang?. Apakah tidak bisa disembuhkan?."


Saking terkejutnya, ia refleks mendekati putranya yang sedang terbaring di tempat tidur, ia mendekap kepala putranya.


"Oh putraku. Malang sekali nasibmu nak." Ratu Gendhis Cendrawati merintih sedih karena kondisi anaknya.


"Yunda. Aku harap yunda bersabar. Semoga saja dewata agung menyelamatkan putra kita." Ratu Dewi Anindyaswari mencoba untuk menghibur Ratu Gendhis Cendrawati.


"Gusti ratu tenang saja. Keadaan raden hadyan hastanta sudah baikan. Hanya butuh waktu untuk istirahat sejenak saja." Jawab tabib istana tersenyum kecil, agar mereka tidak terlalu cemas dengan kondisi Raden Hadyan Hastanta.


"Sepertinya ada orang yang membantu raden hadyan hastanta dengan cara menotok aliran darahnya sehingga racunnya tidak menyebar ke tubuhnya. Jadi raden hadyan hastanta bisa dapat diselamatkan gusti ratu."


Penjelasan dari tabib istana membuat Ratu Gendhis Cendrawati dan Ratu Dewi Anindyaswari merasa lega.


"Syukurlah putraku baik-baik saja."


Ratu Gendhis Cendrawati merasa lega mendengarnya. Ia mencium kening putranya dengan penuh kasih sayang


"Syukurlah yunda. Putramu baik-baik saja." Ratu Dewi Anindyaswari juga merasa lega mendengarnya.


Meskipun bukan anak kandungnya, tapi tetap saja Raden Hadyan Hastanta adalah anak dari Prabu Kawiswara Arya Ragnala. Itu artinya putranya juga. Walaupun mereka tidak terlalu dekat. Apalagi setelah putranya Cakara Casugraha menjadi raja. Hubungan mereka semakin memiliki jarak pemisah yang jauh.


Batin prabu Asmalaraya Arya Ardhana bersyukur kepada Allah karena masih menyelamatkan saudara-saudaranya dari ancaman bahaya racun.


...*******...


Di istana Kegelapan.


Putri Gempita Bhadrika sangat marah. Ia menghajar tabib istana yang belum juga berhasil menyembuhkan ayahandanya.


"Ampun tuan putri. Hamba sudah berusaha untuk mengobati gusti prabu, namun tubuhnya menolak ketika hamba obati."


Dalam keadaan terluka parah tabib tersebut minta pengampunan kepada putri Gempita Bhadrika agar tidak membunuhnya.


"Apa maksud perkataanmu itu?. Kenapa bisa ayahandaku menolak semua ramuan obat yang kau berikan."


putri Gempita Bhadrika sangat murka mendengarkan apa yang dikatakan tabib istana. Ia tidak mengerti sama sekali, bagaimana mungkin itu terjadi?.


"Ampun tuan putri. Memang itulah yang terjadi."


Dalam keadaan takut, tabib menjelaskan pada putri Gempita Bhadrika agar tidak salah faham padanya.


"Lalu bagaimana keadaan ayahandaku jika tidak bisa diobati?. Apakah ayahandaku akan mati jika tidak bisa diobati?."


Bentak Putri Gempita, ia sangat murka pada tabib Istana. Artinya kondisi ayahandanya sangat gawat?.


"Untuk saat ini keadaannya baik-baik saja. Meskipun tidak diobati tubuhnya masih aman untuk saat ini. Hamba juga tidak mengerti apa yang terjadi, tapi itulah yang terjadi."


Tabib Istana memang tidak mengerti mengapa junjungannya prabu Wajendra Bhadrika seperti itu.


"Katakan dengan jelas!. Bagaimana aku bisa tenang jika ayahandaku belum juga bisa membuka matanya!." Bentaknya dengan suara keras.


"Mohon ampun tuan putri. Gusti prabu wajendra bhadrika saat ini seperti mati suri. Tapi kita masih bisa membangunkannya dengan air telaga warna yang berada di telaga bidadari yang dijaga oleh Nini kabut bidadari."


Tabib istana menjelaskan bagaimana caranya agar membangunkan prabu Wajendra Bhadrika. Putri Gempita Bhadrika nampak berpikir sejenak. Apakah benar yang dikatakan tabib istana mengenai cara menyelamatkan ayahandanya?.


"Apa kau yakin?. Kau tidak mencoba menipuku, kan?." Putri Gempita Bhadrika menatap tajam ke arah tabib istana yang terlihat ketakutan.

__ADS_1


"Tidak tuan putri. Hamba tidak mungkin berbohong pada tuan putri."


Mana mungkin ia berani berbohong pada tuan putrinya. Bisa-bisa ia kena hukuman pancung jika berani membohongi anak junjungannya itu.


"Baiklah!. Kalau begitu aku sendiri yang akan menuju ke sana. Dan kau!. Jaga ayahandaku sampai aku kembali ke istana ini."


"Sandika tuan putri. Akan hamba lakukan sesuai dengan perintah gusti putri."


Apakah Putri Gempita Bhadrika bisa mendapatkan air telaga warna bidadari itu?. Apakah Prabu Wajendra Bhadrika bisa diselamatkan?.


...******...


Di Telaga Warna Bidadari.


Dua orang pendekar sedang bertarung, mengadu ilmu Kanuragan yang mereka miliki. Kekuatan yang mereka miliki seimbang. Gerakan mereka sungguh cepat, hampir tidak dapat ditangkap mata biasa.


"Hentikan nini!."


Suara lelaki itu terdengar sangat keras, ia menghentikan jurusnya. Mencegah pertarungan lebih lama lagi.


"Ada apa kakang?. Apa kau sudah mulai merasa tua hingga tidak mau bertarung denganku lagi?."


Seorang wanita empat puluh tahunan, namun wajahnya masih cantik, anggun, memikat siapa saja yang melihatnya termasuk Ki Dharma Seta.


"Aku datang kemari bukan untuk bertarung denganmu nini." Ki Dharma Seta mencoba menenangkan dirinya. Ia sedang tidak ingin bertarung dengan wanita itu.


"Lalu ada keperluan apa kakang kemari?." Nini kabut Bidadari mendekati Ki Dharma Seta yang terlihat gelisah.


"Aku ingin meminta bantuan darimu nini." Ki Dharma Seta mengatakan apa tujuannya datang menemui pendekar wanita pemikat itu.


"Hooo suatu kebanggaan bagiku dapat membantumu kakang."


Nini kabut Bidadari tersenyum lebar mendengar itu. Kali ini bantuan apalagi yang diinginkan oleh laki-laki yang ia kagumi itu?.


"Kalau begitu ayo masuk ke pondokku. Aku rasa mengobrol di sana lebih nyaman kakang."


Nini kabut Bidadari mempersilahkan Ki Dharma Seta mampir ke pondoknya. Rasanya sudah lama ia tidak menyambut kedatangan lelaki itu.


"Terima kasih nini." Ki Dharma Seta merasa lega karena Nini Kabut Bidadari masih mau menerima kedatangannya.


"Tidak perlu sungkan kakang." Balasnya dengan senyuman ramah.


Saat berada di dalam pondok.


"Salah satu anak buahku tertangkap oleh orang yang tidak aku ketahui dia siapa."


Raut wajah cemas yang belum pernah dilihat oleh Nini kabut Bidadari, membuat wanita itu penasaran.


"Lalu apa yang harus aku lakukan kakang?. Tidak biasanya kau tidak dapat melakukan penerawangan. Apakah ilmu kanuraganmu sudah mulai pudar, karena uban yang sudah mulai tumbuh dirambutmu kakang?."


Nini kabut bidadari masih sempat bercanda di saat seperti ini?. Jika saja Nini kabut Bidadari bukan wanita yang ia sukainya, pastilah Ki Dharma Seta telah menghajarnya karena lancang berkata seperti itu padanya.


"Aku sedang berbicara serius nini. Jika aku mampu melakukannya, maka aku tidak akan datang menemuimu."


Ki Dharma Seta nampaknya kesal, ia membuang muka. Tidak ingin menatap mata Nini kabut Bidadari.


"Hehehe maafkan aku kakang. Aku hanya bercanda."


Nini Kabut Bidadari tertawa kecil, ia suka sekali menjahili Ki Dharma Seta. Sudah lama juga ia tidak melihat lelaki ini. Laki-laki yang datang ketika keperluan mendesak.


Namun Ki Dharma hanya diam saja, ia tidak menanggapinya. Ia tidak menyangka bahwa Nini Kabut Bidadari masih memiliki jiwa jahil. Masih seperti dulu, suka mengerjainya. Kadang hatinya yang keras bertanya bagaimana bisa diluluhkan oleh wanita pemikat ini?.


"Kalau begitu ayo kita ke telaga warna bidadari. Aku akan melakukan penerawangan di sana."


Tanpa membuang waktu Nini Kabut Bidadari langsung mengajak Ki Dharma Seta menuju Telaga Warna Bidadari. Ia ingin melihat penerawangan di sana.


Saat mereka sampai di sana, Nini Kabut Bidadari langsung berdiri di atas air telaga itu. Sementara itu Ki Dharma Seta berdiri di pinggir telaga tersebut.


"Katakan padaku bagaimana ciri-ciri orang itu, agar aku bisa menerawangnya mudah melakukan pencarian, kakang"


"kalau tidak salah, dia menggunakan topeng penutup wajah. Menggunakan pakaian serba hitam." Ki Dharma Seta nampak berpikir.


"Apakah hanya itu saja?."


"Hanya itu saja yang aku ketahui dari anak buahku." Balas Ki Dharma Seta.


Ia tidak mengetahui dengan pasti, karena ia memang tidak bisa melakukan penerawangan dengan jelas.


"Akan aku coba kakang. Semoga saja aku bisa menemukannya meskipun keterangannya agak sulit."

__ADS_1


Nini Kabut Bidadari mencoba melakukannya. Meskipun ciri yang disebut oleh Ki Dharma Seta banyak pendekar di luar sana yang bisa saja memiliki ciri yang seperti itu. Tapi dengan penerawangan di air Telaga Warna Bidadari ia bisa menemukan orang itu. Bisakah ia melakukannya?.


Next halaman.


__ADS_2