
...***...
Syekh Asmawan Mulia dan Aki Jarah Setandan telah sampai di Istana. Mereka langsung memeriksa keadaan Prabu Bahuwirya Cakara Casugraha. Kondisinya belum bisa pulih sepenuhnya. Karena ada satu hal yang belum mereka ketahui. Sementara itu Putri Bestari Dhatu masih bertapa di kamarnya.
"Sampurasun."
"Rampes."
"Hamba adalah jarah setandan gusti ratu. Hamba adalah guru dari nanda cakara casugraha."
"Terima kasih karena telah datang kemari aki jarah setandan. Maaf jika kami merepotkan aki."
"Tidak apa-apa gusti ratu. Sebagai guru dari nanda cakara casugraha. Hamba merasa sedih mendengar kabar tentang nanda cakara casugraha yang sedang sakit."
"syukurlah adi telah kembali. Kami sangat khawatir sekali."
"Maaf agak lama kakang perapian suramuara. Tapi telah berusaha agar cepat sampai."
"Maaf ibunda, paman perapian suramuara. Jika nanda menyela pembicaraan. Mengapa yunda bestari dhatu lama sekali?."
"Gusti putri benar. Sebenarnya apa yang terjadi pada gusti putri bestari dhatu, sehingga lama sekali melakukan tapa."
"Bagaimana nak?. Apakah nanda putri bestari dhatu telah selesai melakukan tapanya?."
"Benar nak. Kita harus segera mengobati nanda prabu."
"Maaf ibunda. Mungkin sebentar lagi dinda bestari dhatu akan selesai melakukan tapanya."
"Tenanglah ibunda. Kita semua sangat mengkhawatirkan keadaan rayi prabu. Tapi nanda mohon ibunda agar bersabar."
"Benar ibunda. Mungkin rayi bestari dhatu membutuhkan waktu sedikit lagi."
"Ibunda hanya tidak tahan nak. Rayimu selalu saja sakit demi melindungi kita semua."
"Ibunda juga sudah tidak sabar lagi nak. Kasihan nanda prabu, jika terlalu lama tertidur dalam keadaan seperti itu."
Ratu Dewi Anindyaswari dan Ratu Gendhis Cendrawati sangat mencemaskan keadaan Prabu Bahuwirya Cakara Casugraha. Mereka belum bisa tenang, jika keadaan putra mereka masih seperti itu. Tak lama kemudian, Putri Bestari Dhatu datang. Mereka semua telah menunggunya.
"Maafkan nanda, jika nanda agak lama."
"Bagaimana caranya nak?. Katakan pada kami."
"Sesuai petunjuk dari ayahanda prabu kawiswara arya ragnala, selain dari bantuan dua pendekar yang menciptakan mustika naga merah delima itu. Kita harus menyatukan dengan batu nirwana dewa."
"Batu nirwana dewa?."
Mereka semua bertanya-tanya, Batu Nirwana Dewa?. Sebenarnya Batu apa itu?. Sehingga dapat membantu menyembuhkan seseorang?.
"Memang tidak salah, jika batu itu dapat menyembuhkan seseorang, tetapi aku tidak tahu apakah itu memang ada." Paman Perapian Suramuara sedikit ragu.
__ADS_1
"Memangnya nanda putri mengetahui tentang batu nirwana dewa dari mana nak?."
"Katakan pada kami semua dinda."
"Dinda bertemu dengan ayahanda prabu saat bertapa?."
"Benar kanda. Ayahanda prabu yang memberikan petunjuk seperti itu. Karena rayi cakara casugraha di masa kecil juga sedang sakit. Kalau tidak salah, itu karena racun yang ada diminuman."
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Ratu Dewi Anindyaswari teringat sesuatu.
"Ada apa ibunda?. Apakah ibunda ingat sesuatu?." Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara sedikit heran.
"Nanda cakara casugraha keracunan setelah makan buah yang dibawa emban. Sehingga emban tersebut dihukum oleh kanda prabu, karena mencoba untuk membunuh putra mahkota."
"Lalu bagaimana selanjutnya yunda bestari dhatu?. Apa yang harus kita lakukan untuk menyembuhkan rayi prabu?." Putri Andhini Andita sangat cemas akan keselamatan adiknya.
"Kita harus mencari dua pendekar yang telah membuat mustika naga merah delima itu. Serta batu nirwana dewa, agar rayi prabu bisa diselamatkan."
"Tapi siapa yang membuat mustika naga merah delima itu dinda?."
"Benar nak?. Siapa yang membuatnya?."
Ratu Dewi Anindyaswari, Ratu Gendhis Cendrawati, dan yang lainnya merasa cemas, karena mereka sama sekali tidak mengetahui siapa yang telah membuat Mustika Naga Merah Delima itu. Namun saat itu, mereka memiliki harapan untuk menyembuhkan Prabu Bahuwirya Cakara Casugraha.
"Mohon ampun gusti ratu. Hamba serta kakang jarah setandan adalah orang yang membuat mustika itu gusti ratu."
"Benarkah itu syekh?."
"Alhamdulillah hirobbil'alamin, jika memang seperti itu. Terima kasih syekh, terima kasih aki jarah setandan." Ratu Dewi Anindyaswari merasa bersyukur, jika kedua gurunya adalah pembuat Mustika Naga Merah Delima.
"Tapi ibunda. Kita tidak mengetahui dimana batu nirwana dewa."
"Benar ibunda. Apa yang harus kita lakukan?."
Mereka semua terdiam. Karena memang tidak mengetahuinya, akan tetapi.
"Jika aku tidak salah. Nanda jaya satria pernah mengatakan. Saat ia berhadapan dengan dua pendekar pemburu benda pusaka. Benda pusaka tersebut masuk ke dalam tubuhnya. Salah satunya adalah batu nirwana dewa."
"Benarkah itu aki?. Apakah aki tidak salah?."
"Hamba tidak salah gusti ratu. Karena terakhir hamba bertemu dengan nanda jaya satria adalah ketika beliau sedang menangani masalah tombak pusaka kelana jaya yang menggerogoti mimpi buruknya."
"Syukurlah jika seperti itu kakang. Kami sangat senang mendengarnya. Semoga kakang juga adi asmawan mulia bisa mengobati nanda cakara casugraha."
"Ya Allah. Putraku cakara casugraha. Berat sekali masalah yang nanda hadapi nak." Dalam hati Ratu Dewi Anindyaswari merasa sedih dengan kondisi anaknya.
"Kalau begitu, segera saja obati rayi prabu. Karena akan berbahaya jika terlalu lama."
"Benar apa yang dikatakan yunda andhini andita. Syekh asmawan mulai, aki jarah setandan, yunda bestari dhatu. Kami mohon sembuhkan rayi cakara casugraha."
__ADS_1
"Kami akan berusaha sebaik-baiknya gusti ratu, gusti putri."
"Kakang perapian suramuara. Tolong berjaga di luar. Kami akan berusaha mengobati nanda cakara casugraha."
"Baiklah adi. Semoga saja berhasil, kasihan nanda cakara casugraha bila terlalu lama tertidur."
"Kami akan berusaha sebaik-baiknya kakang perapian suramuara."
Setelah itu, Putri Bestari Dhatu, Syekh Asmawan Mulia dan Aki Jarah Setandan masuk ke dalam bilik Prabu Bahuwirya Cakara Casugraha. Sementara itu, Ratu Dewi Anindyaswari dan yang lainnya menunggu di luar.
"Mohon bantuannya syekh, aki. Saya akan menyalurkan tenaga dalam saya, untuk menarik batu nirwana dewa agar menyatu dengan mustika naga merah delima."
"Baiklah kalau begitu. Kami akan memulihkan mustika naga merah delima itu, agar cepat menyatu dengan batu nirwana dewa."
Mereka berusaha untuk menyembuhkan keadaan Raden Cakara Casugraha yang saat ini masih tidak sadarkan diri. Mereka dengan sekuat tenaga mencoba untuk melakukan yang terbaik.
Apakah mereka akan berhasil menyembuhkan sang Prabu?. Temukan jawabannya.
...***...
Sementara itu, Raden Cakara Casugraha di bawah alam sadarnya berjalan memasuki istana Kerajaan Suka Damai. Ia seperti dituntun memasuki istana, seperti dipanggil oleh seseorang.
"Selamat datang kembali putraku jaya satria." Dari arah belakangnya, suara Ayahandanya menyambut kedatangannya.
"Selamat datang kembali nak."
"Ayahanda prabu."
Raden Cakara Casugraha berlari mendekati ayahandanya. Ia memeluk erat ayahandanya. Rasa rindu pada orang yang ia cintai.
"Rasanya nanda sudah lama sekali tidak kembali ke istana ini ayahanda prabu. Rasanya nanda sangat merindukan ayahanda prabu, ibunda, juga yunda agniasari ariani."
"Nanda memang sudah lama tidak kembali nak. Ayahanda juga sangat merindukan nanda." Prabu Kawiswara Arya Ragnala mengelus puncak kepala anaknya, serta memberikan kecupan sayang dipuncak kepala anaknya. "Nanda terlalu lama mengembara. Apakah ada sesuatu yang menarik di luar sana, sehingga nanda tidak pulang nak?."
Raden Cakara Casugraha merasa kebingungan. Ia sama sekali tidak mengerti mengapa ayahandanya berkata seperti itu. Apakah selama itu ia pergi, sehingga ia sama sekali tidak bisa merasakannya.
"Maafkan nanda ayahanda prabu. Nanda hanya mengikuti kata hati nanda saja. Maaf jika membuat ayahanda bersedih. Hanya saja nanda tidak mau bermanja, karena nanda sedang dihukum buang."
"Nanda bisa mengubah hukum buang itu, dengan cara yang lain."
"Apa maksud ayahanda prabu?. Nanda sama sekali tidak mengerti."
"Nanda bisa mengenakan topeng ini, selama nanda berada di istana ini. Ayahanda mohon, nanda jangan pergi lagi. Bantulah ayahanda menyelesaikan masalah yang ada di negeri ini nak. Jangan tinggalkan ayahanda sendirian. Hanya nanda yang ayahanda harapkan."
"Baiklah ayahanda prabu. Nanda akan melakukan apapun yang ayahanda prabu inginkan."
"Oh putraku nanda cakara casugraha. Terima kasih atas kebaikan nanda."
Prabu Kawiswara Arya Ragnala kembali memeluk anaknya. Ini adalah kembali ke ingatan Raden Cakara Casugraha sebelum ia menjadi Raja, dan saat ia kembali lagi ke istana setelah sekian lama menjalani hukuman buang.
__ADS_1
Apakah yang akan terjadi?. Mengapa dalam keadaan tidak sadarkan diri, Raden Cakara Casugraha atau prabu Bahuwirya Cakara Casugraha justru kembali ke masa lalunya?. Temukan jawabannya.
...***...