RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
RENCANA DAN INGATAN


__ADS_3

......****......


Dua orang yang menolong putri Gempita Bhadrika telah sampai di lembah kegelapan setan kesurupan. Lembah itu memang sangat gelap, dan tidak sembarangan orang atau golongan jin bisa masuk ke kawasan terlarang itu.


"Jadi dia adalah putri gempita bhadrika, putri gusti prabu wajendra bhadrika? Apakah kau tidak salah?." Ia meneliti dengan seksama wanita muda yang tidak sadarkan diri itu.


"Itu benar, dia adalah anak junjungan kita, gusti Prabu wajendra bhadrika." Entah kenapa ia terlihat kesal. "Kita harus segera menyelamatkannya! Jangan banyak bertanya lagi!."


"Apa yang terjadi padanya? Kenapa ia bisa terluka parah? Di mana junjungan kita gusti prabu wajendra bhadrika?." Tentu saja ia kebingungan dengan kondisi Putri Gempita Bhadrika.


"Junjungan kita gusti prabu wajendra bhadrika telah tewas ditangan pendekar bertopeng itu!." Kemarahan itu sangat kental. "Dan tuan putri terkena sambaran pusaka kembar keris naga penyegel sukma, karena itulah kondisinya seperti ini."


"Apa kau bilang? Keris kembar terkutuk itu?." Ia sangat terkejut. "Bagaimana bisa ada orang yang mengetahui kelemahan kita?."


"Aku tidak mengetahuinya, namun yang pasti kau harus segera menyembuhkannya." Jawabnya semakin kesal.


"Ya, ya, ya, aku mengerti."


"Kau harus bisa menyembuhkan tuan putri, setelah itu kita akan sama-sama membalaskan dendam atas kematian junjungan kita, juga dendam lama yang aku pendam selama ini."


Hatinya sangat marah, kesal dan tidak terima atas kekalahan di masa lalunya. Dendam pada orang bertopeng itu sangat besar, sehingga sulit untuk dilupakan begitu saja.


Kembali ke masa itu.


Dimana Setan Gelap urat dan Setan Gelap Nadi merupakan sepasang jin yang suka mengganggu manusia. Mereka selalu datang menghampiri penduduk desa untuk dijadikan santapan mereka. Selain itu juga untuk menambah kekuatan mereka.


Masih di kawasan kerajaan Suka Damai. Tepatnya di desa Damai Ramah. Desa yang lumayan banyak penduduknya. Hari itu, hari yang tidak bisa dilupakan oleh penduduk desa Damai Ramah.


Dalam kepanikan, mereka berlari ke sana kemari menyelamatkan diri. Bumi sekitar berguncang hebat karena dua raksasa itu berjalan dengan langkah dentuman yang sangat tidak nyaman bagi manusia.


"Huwahahaha! Kalian tidak perlu lari, jadilah mangsa yang penurut!." Setan Gelap Urat berkata dengan suara yang keras, membuat telinga mereka sakit. "Aku jamin kalian tidak perlu merasakan penderitaan dunia lagi, hahaha!." Dengan suasana hati yang sangat luar biasa senangnya ia berkata seperti itu.


"Hentikan!." Ada suara seseorang yang menegur mereka. "Kalian para jin yang tidak berhak untuk memangsa kami!." Ada beberapa pendekar di desa itu merasa terganggu dengan jin itu.


Namun apa yang terjadi?. Para pendekar tersebut malah diserang oleh Setan Gelap Nadi. Mereka tidak bisa menghadang jin tersebut, karena mereka kalah ukuran, serta kalah kekuatan.


"Tidak usah melawan! Pada akhirnya kalian akan menjadi santapan kami!."


"Kau itu sangat lemah, jadi kau tidak usah melawan kami."


Kedua jin itu tertawa keras, merasa senang dengan apa yang mereka lakukan.


"Hentikan!."


Tiba-tiba saja suara keras berasal dari belakang mereka, dan mereka membalikkan badan, ada seseorang yang mengenakan topeng penutup wajah.


"Apakah kau datang untuk menjadi mangsa kami, hah?."


"Mangsa kami?." Raksasa besar itu memperhatikan dengan seksama pemuda bertopeng itu. "Tapi kau terlihat sangat kecil, dan kurus, memakan mu tidak akan menambah kenyang, memakan mu, sama dengan mengunyah semut. Malah semakin lapar." Nada suaranya sangat meremehkan.


"Yah, kau benar." Temannya juga mengamatinya. "Sekali telan tidak terasa kenyangnya, malahan semakin lapar, hahaha!."


Keduanya malah tertawa keras, seakan mengejek orang bertopeng itu. Meremehkan badan kecil Jaya Satria?. Apakah mereka tidak mengetahui siapa Jaya Satria?. Oh tentu saja mereka belum mengetahuinya, karena mereka baru saja bertemu.


"Kita harus pergi dari sini."


Para pendekar yang tadinya mencoba mengusir kedua raksasa itu malah menyingkir karena mereka terluka parah setelag pertarungan itu.


CTAK! CTAK!.


"Akh!" keduanya meringis sakit.


Tanpa disadari, mereka malah terkena serangan yang tidak diduga sama sekali. Kepala mereka terkena hantaman batu kecil, namun dilambari dengan tenaga dalam, sehingga sakitnya terasa sampai menjalar ke tubuh mereka. Serangan cepat itu berasal dari Jaya Satria, serangan batu yang ia sentil ke arah kepala kedua jin itu.


"Berani sekali kalian menghinaku?! Kalian pikir kalian bisa mengunyah ku begitu saja?." Aura merah menyelimuti tubuhnya, nampaknya orang Jaya Satria sedang marah. "Akan aku tunjukkan pada kalian, bagaimana seekor semut marah, jika diganggu oleh jin seperti kalian."


"Kurang ajar! Berani sekali kau menyakitiku!." Setan gelap urat maju, ia menyerang orang bertopeng itu dengan tenaga dalamnya.


Dengan tangannya yang super besar, ia arahkan tangannya ke arah orang bertopeng itu. Namun berhasil dihindarkan dengan melompat kebelakang, setan Gelap urat hanya seperti menyerang udara saja.


Jaya Satria menghindar ke belakang, namun posisi tubuhnya menghadap ke tangan besar itu. Dalam keadaanya yang berada di udara, ia memanfaatkan angin sekitarnya, membuat jarum tajam dengan memadatkan angin menjadi senjatanya untuk menyerang setan Gelap Urat.


"Ghakh!."


Setan Gelap Urat terkejut mendapatkan serangan yang seperti itu. Tangannya terasa keram dan sakit, hingga ia mundur. Sedangkan Setan Gelap Nadi terkejut melihat kembarannya itu kesakitan. Ia juga menyerang orang bertopeng itu dengan cepat.


Orang bertopeng itu tidak sempat menapakkan kakinya karena Setan Gelap Nadi menyerangnya dengan menggunakan tenaga dalam.


"Kegh!."


Ia meringis kesakitan, ia merasa kesal karena mendapatkan serangan yang tidak ia duga sama sekali.


"Benar-benar kurang ajar!." Jaya Satria sangat marah. Aura kemerahan semakin menyelimuti tubuhnya. aura sekitar terasa menyeramkan. "Kalian harus segera segera aku singkirkan." Jaya Satria merasa kesal. "Aku tidak akan pernah mengampuni kalian, karena kalian telah membuatku marah!." Suara itu juga terdengar berbeda dari yang sebelumnya.


"Maju saja kalau kau memang marah!."


"Ya, hadapi kami kalau kau memang marah!."


Jaya Satria merasa tertantang, ia mengatur tanaga dalamnya, dan ia hentakkan kakinya tiga kali ke tanah. Yang terjadi adalah, tanah disekitar berguncang keras, membuat dua raksasa itu terkejut.

__ADS_1


"Siapa kau sebenarnya? Kekuatan apa yang kau miliki?."


"Sepertinya kekuatannya meningkatkan aura negatif terhadap angin."


Mereka mulai panik, karena sengatan listrik yang mereka rasakan saat angin disekitar mereka berubah.


"Bukankah kalian yang ingin merasakan jurusku? Jurus angin gempar menerjang hutan kesunyian." Jaya Satria yang saat itu memperhatikan mereka yang telah meninggalkan area itu. "Akan aku lebur tubuh kalian menjadi abu, hingga kalian tidak akan bisa melihat dunia ini lagi dan kembali ke asal kalian, yaitunya dasar neraka." Ia bisa menggunakan jurus berbahaya untuk mengalahkan kedua raksasa itu.


Aura sekitar semakin tidak nyaman, mereka merasakan ketakutan menghadapi jurus berbahaya dari seorang manusia yang tidak sama sekali mereka duga memiliki ilmu kanuragan yang sangat tinggi.


Jaya satria memainkan jurusnya dengan sangat lihainya, ia arahkan dua pukulan pada kedua jin itu. Namun mereka masih sempat menghindar, tapi masih terkena sapuan dari jurus itu, hingga membuta keduanya meringis kesakitan.


"Kurang ajar! Tanganku terasa keram."


"Ya, selain itu rasanya tenaga dalamku mulai berkurang karena tekanan angin ini."


"Kalau begitu kita mundur saja, aku masih mau hidup, menyantap manusia."


"Ya, kita pergi dari sini."


Kedua jin itu pergi meninggalkan tempat, mereka tidak ingin mati sia-sia ditangan orang misterius itu.


Kembali ke masa ini.


"Ya, tidak salah lagi, dia orang yang mengalahkan kita waktu itu."


"Aura kemarahan itu tidak akan pernah aku lupakan begitu saja."


Setan Gelap Urat dan Setan Gelap Nadi masih ingat dengan jelas, bagaimana pertarungan itu terjadi.


Sambil bercerita tentang dendam mereka pada orang yang dilawan pada saat itu, Setan Kesurupan sedang berusaha mengobati putri gempita bhadrika.


"Kita sudah meningkatkan kemampuan, dan pada saatnya akan kita balas kekalahan kita pada saat itu."


"Ya, itu benar."


Rencana apa yang akan mereka lakukan?. Temukan jawabannya.


...***...


Di Istana Kerajaan Suka Damai.


"Bagaimana keadaan nanda prabu? Apakah nanda prabu sudah baik-baik saja? Maaf ibunda baru sempat mengunjungi nanda prabu." Ratu Gendhis Cendrawati memperhatikan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang saat itu masih berada di biliknya.


"Tidak apa-apa ibunda, nanda sudah agak baikan, terima kasih atas perhatiannya ibunda." Senyumannya terlihat sangat menyakinkan akan kondisinya saat itu.


"Syukurlah, ibunda sangat enang mendengarnya, ibunda khawatir dengan keadaan nanda prabu." Ratu Gendhis Cendrawati sangat lega mendengarnya.


"Sebagai seorang ibu, aku merasa khawatir pada anaknya, aku datang ke sini sebagai seorang ibu yang ingin melihat keadaan anaknya." Kali ini tatapannya terlihat sangat menggambarkan bagaimana kasih sayang seorang ibu pada anaknya.


Senyuman itu sudah berubah, ia tidak lagi menyimpan dendam lagi. Kini yang ada senyuman ramah nan tulus, saat ia bersama siapa saja, termasuk ketika bersama Ratu Dewi Anindyaswari dan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Alhamdulillah, rasanya nanda sangat terharu mendengarnya ibunda, rasanya sangat bahagia memiliki dua ibunda yang perhatian pada nanda, terima kasih ibunda Ratu gendhis cendrawati." Itulah yang dirasakan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Nanda prabu jangan berkata seperti itu, bagaimanapun juga kita adalah keluarga, nanda juga adalah putra ibunda." Ratu Gendhis Cendrawati mencoba untuk menghilangkan semua perasaan dendam di masa lalu.


Rasa kebahagiaan menyelimuti mereka, setelah apa yang mereka rasakan selama ini. Bentuk kebencian akibat dari kata. Kata dan perbuatan di masa lalu yang sangat tidak untuk diingat. Namun kini telah berubah menjadi kasih sayang, cinta dan saling membutuhkan satu sama lain.


"Maafkan aku di masa lalu nanda prabu, aku lah yang membuatmu menderita di masa lalu." Dalam hati Ratu Gendhis Cendrawati masih merasakan penyesalan yang luar biasa. Meskipun Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, Putri Agniasari Ariani dan Ratu Dewi Anindyaswari telah memaafkan apa yang telah ia lakukan.


Kembali ke masa itu.


"Ampun ibunda, ampun! Sakit!." Raden Cakara Casugraha yang berumur sepuluh tahun menangis kesakitan, dan menangis. Karena telinganya ditarik kuat oleh ratu gendhis cendrawati dengan kuatnya.


"Berani sekali kau membuat putriku menangis? Apakah kau sudah bosan berada di istana ini, hah?." Dengan penuh amarah ia berkata seperti itu.


"Ampun ibunda! Tapi bukan ananda yang membuat yunda andhini andita menangis, tapi raka gentala giandra." Suara tangis Raden Cakara Casugraha sama sekali tidak dihiraukan oleh Ratu Gendhis Cendrawati, dan ia malah semakin menjewer kuat telinga raden cakara casugraha.


"Kurang ajar! Kau masih saja ingin menghindar? Dan kau malah melimpahkan kesalahanmu pada orang lain?." Saat itu amarahnya semakin besar.


"Sakit ibunda, sakit, lepaskan!." Raden Cakara Casugraha menangis tersedu-sedu, rasa sakit di telinganya semakin bertambah.


"Aku tidak akan mengampuni mu karena kau telah berani berbohong padaku!." Amarahnya semakin menjadi-jadi.


"Nanda tidak berbohong ibunda." Raden Cakara Casugraha kecil semakin menangis karena tidak tahan.


"Diam kau!." Bentaknya dengan suara keras.


"Yunda, apa yang yunda lakukan pada putraku?." Ratu Dewi Anindyaswari sangat terkejut melihat anaknya yang menangis kesakitan, dan ia ambil cepat anaknya dari Ratu Gendhis Cendrawati, ia peluk erat anaknya.


"Anakmu telah membuat putriku andhini andita menangis!." Suaranya terdengar keras, membentak Ratu Dewi Anindyaswari.


"Putraku." Ratu Dewi Anindyaswari memeluk anaknya yang sedang menangis sesegukan. "Tenanglah nak, ibunda ada di sini." Ia mencoba untuk menenangkan anaknya yang ketakutan.


"Katakan pada anakmu supaya tidak berbohong, dan menyakiti putriku andhini andita! Katakan padanya supaya tidak mencari masalah denganku!." Ratu Gendhis Cendrawati masih marah.


"Benarkah itu putraku?." Sambil menenangkan anaknya Ratu Dewi Anindyaswari bertanya pada Raden Cakara Casugraha.


"Tidak ibunda." Raden Cakara Casugraha menggelengkan kepalanya. "Nanda tidak melakukannya, tapi raka gentala giandra yang melakukannya ibunda." Ia masih menangis sambil menjelaskan pada ibundanya.

__ADS_1


"Masih saja kau berbohong, cakara casugraha!." Ratu Gendhis Cendrawati tidak terima dengan penjelasan itu.


"Nanda tidak bohong kan nak?." Dengan lembut kasih sayang Ratu Dewi Anindyaswari bertanya pada putranya. "Katakan pada ibunda yang sebenarnya, ya?." Suasana hatinya sangat tidak enak.


"Nanda akan berdosa, jika nanda berbohong, ibunda yang mengatakannya pada nanda." Dengan wajah yang polos dan dipenuhi dengan air mata ia menjawabnya.


"Oh putraku." Ratu Dewi Anindyaswari memeluk kembali putranya. Ia mengusap telinga anaknya yang terlihat memerah. "Nanda adalah anak ibunda yang sangat pintar." Ada kebanggaan dari hatinya mengenai anaknya.


"Jangan coba-coba kau mengabaikan aku rayi dewi anindyaswari! Aku sedang berbicara denganmu!." Ratu Gendhis Cendrawati sangat kesal, karena merasa diabaikan. "Anakmu telah membuat anakku menangis!."


"Yunda." Ratu Dewi Anindyaswari menghela nafas dengan pelan. "Putraku nanda cakara casugraha tidak berbohong sama sekali, yunda hanyalah mencari-cari alasan untuk mengalahkannya, yunda benar-benar keterlaluan." Ratu Dewi Anindyaswari sangat kesal karena Ratu Gendhis Cendrawati mencoba memberikan kesan yang buruk pada anaknya.


"Berani sekali kau berkata seperti itu padaku!." Ratu Gendhis Cendrawati semakin marah-marah, ia sangat kesal dengan ucapan Ratu Dewi Anindyaswari. "Apakah kau tidak betah berada di istana ini? Hah?!."


Namun.


"Hentikan! Apa yang sedang kalian lakukan dengan bertengkar seperti itu?." Prabu Kawiswara Arya Ragnala kebetulan melihat keributan itu. "Kenapa kalian bertengkar dihadapan putraku cakara casugraha yang masih kecil?." Prabu Kawiswara Arya Ragnala sangat marah.


"Kanda prabu?." Kedua Ratu kerajaan Suka Damai memberi hormat pada prabu Kawiswara Arya Ragnala.


"Apa yang kalian ributkan?.Tidakkah kalian kasihan pada putraku cakara casugraha yang menyaksikan pertengkaran kalian?." Matanya memperhatikan anak bungsunya yang menangis. "Apa masalahnya sehingga kalian bersitenggang urat seperti itu di hadapan putraku yang masih polos ini?."


"Maaf kanda prabu." Ratu Dewi Anindyaswari memberi hormat pada Prabu Kawiswara Arya Ragnala. "Dinda hanya tidak terima perlakuanĀ  yang dilakukan oleh yunda gendhis cendrawati pada putra dinda."


"Apa yang dinda gendhis cendrawati lakukan pada putraku cakara casugraha?." Prabu Kawiswara Arya Ragnala kali ini melihat ke arah Ratu Gendhis Cendrawati yang terlihat sedang marah. "Jelaskan pada kanda alasan kenapa dinda memarahi nanda cakara casugraha hingga menjewernya sampai memerah seperti itu?." Prabu Kawiswara Arya Ragnala sangat kesal. "Apakah kanda pernah mengajarkan kalian untuk melakukan kekerasan pada anak-anak kalian jika marah?."


"Maafkan dinda, itu karena dinda sangat kesal pada nanda cakara casugraha." Ratu Gendhis Cendrawati meminta maaf hanya pada Prabu Kawiswara Arya Ragnala saja.


"Yunda menjewer telinga putra dinda hingga memerah, dan memaksa mengakui bahwa putra dinda yang membuat putrinya menangis, kanda prabu." Ratu Dewi Anindyaswari terpaksa mengadu karena tidak tahan. "Kanda Prabu, dinda tidak terima dengan perbuatan yunda gendhis cendrawati seperti itu pada nanda cakara casugraha." Hatinya sangat sakit mengingat itu.


"Dinda juga tidak terima karena cakara casugraha membuat putri dinda menangis! Dinda juga menuntut keadilan!." Ratu Gendhis Cendrawati juga tidak ingin kalah.


"Benarkah nanda melakukan apa yang dikatakan oleh ibunda ratu gendhis cendrawati?." Prabu Kawiswara Arya Ragnala dengan sangat hati-hati bertanya pada putra kecilnya. "Katakan pada ayahanda dengan sejujurnya, dewata yang agung akan memberikan kutukan jika nanda berbohong pada ayahanda." Tangannya mengusap lembut telinga anaknya yang masih tampak memerah.


"Tidak ayahanda prabu." Jawabnya dengan sangat polos. "Nanda tidak mungkin berbohong, apalagi dihadapan ayahanda, nanda pasti akan menjadi anak yang durhaka jika nanda berkata bohong pada ayahanda prabu." Lanjutnya dengan nada yang sangat menggemaskan.


Prabu Kawiswara Arya Ragnala tertawa kecil mendengar jawaban putra kecilnya, dan ia menggendongnya sambil tertawa.


"Putra ayahanda sangat pintar, ayahanda bangga padamu nak." Sang prabu malah merasa bangga dengan anaknya. "Kau memang sangat cerdas sekali."


Sedangkan ratu Gendhis Cendrawati merasa kesal melihat itu. "Kenapa kanda prabu malah membela nanda cakara casugraha?. Tadinya aku mau menghukumnya." Dalam hatinya tidak bisa menerima itu.


Kembali ke masa ini.


......***......


Perlahan-lahan kesadarannya kembali, meskipun kepalanya masih terasa sakit. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi, dan yang terakhir ia ingat adalah ia kehilangan Ayahandanya, membuat ia menangis bersedih.


"Ayahanda?." Perasaan sedih masih menyelimuti hatinya. "Ayahanda." Ia menyebut nama ayahandanya berkali-kali dalam tangisnya yang sangat pilu.


"Taun putri tidak perlu menangis, kami akan selalu setia bersama tuan putri."


Ternyata Setan Kesurupan, setan Gelap Urat dan Setan Gelap Nadi berada di sana.


"Siapa kalian? Apakah kalian yang menolongku?." Putri Gempita Bhadrika sangat waspada ketika melihat sosok asing.


"Benar tuan putri, kami yang menolong tuan putri, menyembuhkan tuan putri."


"Kami membantu tuan putri demi kelangsungan kerajaan kegelapan, dan kami memiliki dendam pada orang bertopeng itu, tuan putri."


"Kita akan membangun kembali kerajaan kegelapan, karena itulah tuan putri harus tetap bertahan, dan memimpin kami semua."


Begitu setianya mereka pada raja kegelapan, hingga mereka menghormati anak junjungan mereka.


"Apakah kalian serius dengan ucapan kalian?."


"Tentu saja tuan putri."


"Kami akan melakukan apa saja demi tuan putri."


"Kami menunggu perintah dari tuan putri."


Putri Gempita Bhadrika merasa senang, itu artinya ia tidak sendirian kan?.


"Ya, aku tidak sendirian untuk melakukan balas dendam pada orang bertopeng itu juga raja bedebah itu." Sorotan itu, dipenuhi oleh dendam yang sangat membara. "Aku tidak akan pernah melupakan apa yang terjadi pada hari itu, hari dimana ayahandaku terbunuh di tangan kedua orang itu." Dalam hatinya saat itu menyimpan dendam yang sangat kuat.


"Setelah aku benar-benar pulih kembali, kita akan menyusun rencana untuk membuat kerusuhan di kerajaan suka damai! Akan aku obrak-abrik kerajaan itu! Dan akan aku buat kedua orang itu kedua orang itu kewalahan menghadapi pasukan jin yang menyerang mereka."


"Kami pasti akan membantu, tuan putri."


"Keinginan putri adalah keinginan kami juga, dengan senang hati kami akan melakukannya."


"Tuan putri bisa melakukan apa saja pada kami, dengan senang hati kami akan menurutinya."


"Bagus! Itulah yang aku harapkan dari kalian semua, aku ingin kalian mengikuti perintah dariku." Panas api dendam yang sangat dalam.


Apakah Putri Gempita Bhadrika berhasil membalaskan dendam kematian dari Ayahandanya?. Rasa dendam yang membuncah dadanya, ia tidak bisa menahan sakit yang mendesaknya.


"Aku bersumpah untuk membalaskan kematian ayahandaku pada kalian suatu hari nanti." Dalam hatinya yang dipenuhi oleh dendam membara. "Mereka harus membayar rasa sakit hatiku karena kehilangan ayahanda yang paling aku cintai." Suasana hatinya sangat terluka ketika ia mengingat bagaimana kedua orang itu menyegel ayahandanya dengan menggunakan pusaka kembar keris naga penyegel sukma. "Tunggu saja pembalasan dariku!."

__ADS_1


Itulah tekadnya yang telah ia buat di dalam hatinya. Apakah yang akan terjadi?. Temukan jawabannya. Next.


......***......


__ADS_2