
...***...
Ratu Gendhis Cendrawati saat ini sedang berada di bilik anaknya. Hatinya sangat sedih. Karena anaknya memutuskan untuk melakukan pengembaraan. Ia tidak menyangka, jika anaknya akan memutuskan untuk mengembara?.
"Apakah begitu berat perasaan yang kau rasakan nak. Sehingga kau memutuskan untuk pergi dari istana ini?." Hatinya sangat berat untuk melepaskan anaknya. Tapi itu telah menjadi keputusan yang sangat luar bisa dari anaknya yang selama ini tidak pernah meminta apapun padanya selama ini. "Ibunda hanya berharap kau akan baik-baik saja nak. Semoga kau tidak menyesali semua keputusan yang telah kau putuskan nak." Ratu Gendhis Cendrawati merasa sedih.
Kembali ke hari itu.
Setelah selesai sholat Zuhur berjamaah di mushola.
"Ibunda." Putri Andhini Andita memeluk ibundanya. Terlihat raut wajahnya sangat sedih. Sehingga yang lainnya juga melihat ke arahnya.
"Ada apa nak?." Ratu Gendhis Cendrawati mengusap sayang kepala anaknya. "Katakan pada ibunda apa yang terjadi. Katakan pada ibunda apa yang kau rasakan saat ini nak."
Putri Andhini Andita melepaskan pelukannya, dan ia menatap ibundanya dengan perasaan sedih. "Ada hal yang ingin ananda sampaikan pada ibunda, juga semuanya." Ia juga melihat ke arah Ratu Dewi Anindyaswari, adiknya putri Agniasari Ariani, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Kakaknya Raden Hadyan Hastanta, dan juga Raden Rajaswa Pranawa.
"Apa yang ingin ananda sampaikan pada kami semua?. Sehingga ananda terlihat sedih seperti itu?." Ratu Gendhis Cendrawati merasa gelisah.
"Ananda ingin mengembara ibunda." Dengan segenap hati ia mengatakannya, sehingga mereka yang mendengarkan itu terkejut.
"Apa yang ananda katakan?." Ratu Gendhis Cendrawati dan Ratu Dewi Anindyaswari bersamaan bertanya.
__ADS_1
"Ananda telah memutuskan untuk mengembara. Mencari ketenangan batin, sambil terus belajar. Memaknai arti kehidupan ini di luar sana." Putri Andhini Andita menatap adiknya dengan senyuman lembut.
"Tapi nak?. Di luar sangat bahaya, ibunda tidak mau kau mengalami ha yang sangat membahayakan dirimu nak." Ratu Gendhis Cendrawati merasa keberatandnen apa yang dikatakan anaknya.
"Itu benar nak. Kenapa ananda ingin melakukan pengembaraan?. Apakah ananda tidak lagi merasakan kerasan di isgan ini?." Ratu Dewi Anindyaswari terlihat sangat cemas.
Putri Andhini Andita tersenyum kecil. "Bukan seperti itu ibunda. Tentunya ananda merasa kerasan tinggal di istana ini." Ia menatap Ratu Dewi Anindyaswari dengan senyuman lembut. "Jika masalah bahaya tentunya akan ada ibunda." Kali ini ia menatap ratu Gendhis terlihat, ibunda kandungnya. "Bukankah rayi dua kali melakukan pengembaraan?. Keadaannya baik-baik saja. Dan bahkan menemukan seseorang yang mencintainya dengan sangat tulus." Lanjut Putri Andhini Andita sambil menatap ke arah adiknya.
"Jadi kau ingin melakukan hal yang sama untuk melupakan perasanku pada rayi prabu?. Apakah seperti itu, rayi andhini andita?." Raden Hadyan Hastanta hanya ingin memastikan jika itu alasan adiknya itu ingin melakukan pengembaraan?.
Tapi Putri Andhini Andita hanya tertawa kecil di hadapan mereka semua. "Setiap orang memiliki alasan yang kuat untuk melakukan pengembaraan. Bukankah kau juga merasakan itu, rayi prabu, rayi agniasari ariani." Jawabnya dengan pelan. "Kalian yang telah melakukan pengembaraan tentunya mengetahui dengan pasti bagaimana perasaan melewati alam bebas dengan kaki kalian sendiri bukan?." Ia bertanya pada kedua adiknya.
"Yunda benar. Perasaan ingin melepaskan beberapa perasaan yang selama ini menekan dengan melakukan perjalanan itu sangat berbeda." Jawab Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Tapi apakah itu sudah menjadi keputusan yang tepat untuk yunda saat ini?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana balik bertanya pada kakaknya itu.
"Tentu saja aku telah menetapkan dengan segenap hatiku rayi. Bismillahirrahmanirrahim, aku telah melangkah pergi mengembara karena Allah SWT." Balas Putri Andhini Andita dengan sangat yakin. "Karena itulah ibunda. Berikan ananda izin untuk melakukan perjalanan, yang akan membuat nanda bisa belajar dengan baik."
"Oh putriku." Ratu Gendhis Cendrawati memeluk anaknya. Kuat kah ia melepaskan kepergian anaknya?.
Kembali ke masa ini.
"Semoga kau bisa melakukannya dengan baik nak. Ibunda akan selalu mengiringi langkah ananda dengan doa. Semoga Allah SWT selalu melindungi ananda dimana pun ananda melangkah." Itulah harapan dari Ratu Gendhis Cendrawati sebagai ibundanya.
__ADS_1
...***...
Sementara itu, Putri Andhini Andita berada di desa damai abdi. Perjalanannya lumayan jauh, karena ia benar-benar berjalan kaki. Dan penampilannya benar-benar sangat berubah. Supaya tidak ada yang mengenali dirinya saat mengembara. Pakaian sederhana layaknya seorang pendekar wanita pada umunya dengan buntalan kecil yang ia bawa sebagai tepat ia menyimpan beberapa barang yang ia bawa. Termasuk pedang kecil yang ia sandang di punggungnya.
Matanya mulai memperhatikan apa saja yang dilakukan oleh rakyat kerajaan suka damai. Mereka ada yang bahagia, ada juga yang menangis. Namun itulah kehidupan yang mereka lalui. Tidak semua yang ia lalui berjalan lurus, dan sesekali ada batu kerikil yang mesti mereka injak. Sehingga kaki mereka terasa sakit.
"Aku yang selama ini hanya menikmati apa yang telah tersedia di istana. Sementara mereka harus bekerja dahulu untuk mendapatkannya." Hatinya merasa iba membayangkan dirinya yang dulu suka membentak emban hanya untuk mengungkapkan rasa tidak suka atas apa yang telah dilakukan para emban yang telah bersedia untuk melayaninya dengan baik, hanya karena ia adakah anak dari seorang raja.
"Ya Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Kuatkan lah kami untuk menjalani kehidupan ini dengan baik ya Allah." Dalam hatinya merasakan perasaan yang gundah liar biasa. Perasaan simpati pada mereka semua. Apakah ia akan berbalik arah?. Apakah ia akan kuat menyaksikan itu semua selama diperjalanan?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya.
...***...
Di Padepokan Al-Ikhlas. Raden Jatiya Dewa baru saja selesai membersihkan halaman belakang, ia dan ketiga temannya langsung beristirahat di pondok kecil di sana.
"Maaf raden. Jika kami lancang. Kami hanya ingin memastikan apa yang kami lihat saat berada di istana waktu itu." Mulni memberanikan dirinya untuk mengeluarkan apa yang mereka pikirkan.
"Memangnya apa yang kalian lihat?." Raden Jatiya Dewa sedikit waspada terhadap ketiga temannya.
Sedangkan mereka bertiga malah saling bertatapan satu sama lain, dan setelah itu mereka bertiga malah tertawa cekikikan. Membuat Raden Jatiya Dewa merasa curiga dengan sikap ketiga temannya.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Apakah yang mereka katakan, dan yang mereka lihat?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...***...