
...***...
Dua hari menjelang hari raya idul fitri, malamnya. Jaya Satria saat ini ditemani beberapa pendekar berada di depan gerbang desa gaib itu. Jaya Satria ingin segera menyelesaikan masalah yang ada di sana. Ia tidak nyaman sekali dengan keberadaan desa gaib di wilayah kerajaan suka damai.
"Aku akan masuk ke dalam sana. Sementara itu kalian aku harap berjaga di depan sini. Terus bacakan ayat suci Alquran untuk mencegah mereka semua keluar." Jaya Satria meminta tolong pada mereka semua.
"Baiklah jaya satria. Tapi apakah kau yakin kau akan masuk sendirian ke sana?." Kumbar sedikit mencemaskan keadaan Jaya Satria, jika ia pergi sendirian ke dalam sana.
"Benar itu pendekar jaya satria. Sepertinya tempat itu sangat berbahaya sekali." Durka juga mengkhawatirkan keadaan Jaya Satria.
"Kalian tenang saja. Aku akan baik-baik saja. Asalkan kalian membantu aku dari sini dengan membacakan ayat Alquran." Balas Jaya Satria.
"Baiklah, kami mengerti. Tapi kami harap kau baik-baik saja selama di dalam." Tidak ada lagi bantahan dari mereka. Namun harapan mereka semua hanyalah keselamatan Jaya Satria.
"Bismillahirrahmanirrahim." Jaya mengatur tenaga dalamnya, setelah itu ia mengeluarkan Panah Semara Naga. Membuat mereka semua terkejut. Bagaimana mungkin bawahan seorang raja memiliki kekuatan seperti itu?. Memiliki benda pusaka yang sangat kuat seperti itu. Sukma naga angin yang menguar dari panah Semara Naga yang menyatu dengan tenaga dalam Jaya Satria.
Sementara itu di istana Kerajaan Suka Damai. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga dapat merasakannya. Bagaimana Jaya Satria menarik kuat panah itu. "Jangan lupa berdoa sebelum kau melepaskan panah itu, raka prabu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengingatkan Jaya Satria.
"Tentu saja rayi prabu. Aku harap rayi prabu juga mendo'akan aku supaya aku bisa masuk dengan aman." Jaya Satria fokus membidikkan ke arah titik terlemah dari gerbang gaib yang memagari tempat itu.
__ADS_1
"Hati-hati raka prabu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana melihat juga didik lemah itu melalui mata Jaya Satria. Setelah itu ia merasakan jika Jaya Satria melepaskan panah itu, sehingga terdengar deru anak panah dengan kecepatan tinggi, serta auman naga angin yang menyertainya.
CTAK!
Panah itu menabrak dinding pagar gaib itu, namun anak panah itu sepertinya tidak bisa bergerak. Mereka semua menunggu dengan sabar sambil berdoa. Hingga akhirnya panah itu mampu menembus pagar gaib itu dan membentuk sebuah lorong untuk masuk ke dalam sana.
"Bismillahirrahmanirrahim." Jaya Satria melangkah masuk ke dalam lorong itu. Akan tetapi sepertinya karena getaran dari senjata panah semara Naga. Makhluk gaib yang menghuni desa gaib merasa tidak nyaman sama sekali. Mereka semua mendatangi sumber getaran itu.
Sedangkan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana hanya berdoa saja. "Semoga raka prabu bisa mengatasi masalah di sana." Perasaan gelisah yang tidak bisa ia sembunyikan. "Ya Allah. Lindungilah raka prabu dari marabahaya makhluk ciptaan mu ya robb." Itulah doa Prabu Asmalaraya Arya Ardhana untuk Jaya Satria.
Sementara itu, Jaya Satria telah memasuki desa gaib. Suasana di dalam desa itu benar-benar gelap, dan tidak bersahabat sama sekali. Desa yang benar-benar telah dijadikan sebagai tempat sarangnya roh-roh gentayangan yang selama ini terseret di dalam tempat itu. Jaya Satria tidak bisa membayangkan jika penghuni desa ini menderita karena tempat ini.
"Gusti prabu. Berhati-hatilah, hamba merasakan hawa jahat akan mendekat ke arah kita gusti prabu." Sukma naga angin yang ada di dalam panah itu keluar setengah badan. Ia mengendus bau makhluk gaib yang akan mendekati Jaya Satria. Di alam gaib ini, wujud sukma naga angin bisa terlihat dengan jelas dibandingkan dengan alam manusia biasa. Karena itulah ia bisa berkomunikasi dengan Jaya Satria lebih leluasa lagi.
"Aku juga merasakannya, karena udara sekitar terasa aneh. Udara sekitar lebih berat dari yang sebelumnya." Jaya Satria yang pada dasar memiliki kekuatan angin tentunya menyadari perubahan itu. Ditambah lagi dengan matanya yang memang bisa melihat hal yang baik tanpa memasuki alam sukma.
"Mereka semakin mendekat gusti prabu." Sukma naga angin melihat makhluk yang mengerikan mendekati mereka dengan menggunakan tenaga dalam langsung menyerang Jaya Satria. Tentunya Jaya Satria langsung menghindarinya. Serangan itu mengandung racun kegelapan yang sangat berbahaya.
Sekitar lima makhluk gaib menyeramkan menyerang Jaya Satria. Mereka sama sekali tidak bersahabat, bahkan cenderung agresif menyerang Jaya Satria. Namun Sukma Naga angin tidak hanya berdiam diri saja. Mumpung berada di alam gaib, ia bisa membentuk dirinya menjadi sosok manusia untuk membantu Jaya Satria menghadapi mereka semua yang mencoba untuk mencelakai Jaya Satria.
__ADS_1
"Alhamdulillah hirobbil'alamin, kau sangat membantu sekali sukma naga angin." Jaya Satria tersenyum kecil melihat sosok manusia yang sebenarnya adalah Sukma naga angin.
"Hamba tidak akan membiarkan mereka mengeroyok gusti prabu. Hamba akan membantu gusti prabu untuk mengalahkan mereka semua." Balas Sukma Naga angin dengan senang hati membantu Jaya Satria.
Saat ini Jaya Satria sedang berhadapan dengan dua makhluk gaib yang terus menyerangnya. "Siapa kau?!. Kenapa bisa memasuki desa gaib ini?!. Kau tidak akan keluar dengan selamat!. Kau akan menjadi tumbal yang paling sempurna untuk desa gaib ini!." Sepertinya salah satu makhluk gaib itu terlihat marah pada Jaya Satria. Meskipun marah, ia masih bisa menyerang Jaya Satria. Tapi ada hal yang tak terduga saat itu terjadi. Sukma Naga kegelapan dari pedang pelebur Sukma keluar, dan menerjang tubuh makhluk gaib yang tadinya bertarung dengan Jaya Satria.
Makhluk gaib itu terpental hingga menubruk temannya. Sementara itu, awalnya memang hanya terlihat Sukma naga hitam atau Kegelapan. Akan tetapi siapa sangka malah berubah menjadi bentuk manusia. Laki-laki yang sangat gagah dengan kekuatan yang luar biasa. "Berani sekali kalian mengancam junjunaganku." Sorot mata itu sangat tajam, dan hawanya memang menunjukkan ia adalah Sukma naga kegelapan. "Kau yang akan kami musnahkan. Karena aku sangat benci tempat gelap yang diisi makhluk busuk seperti kalian!." Meskipun sama-sama makhluk gaib dari kegelapan, namun Sukma naga Kegelapan tidak suka malah memakan kegelapan itu sendiri.
"Subhanallah. Ternyata hamba tidak sendirian bertarung di desa gaib ini." Jaya Satria merasa sangat bersyukur, karena ia dibantu oleh Sukma naga angin dan Sukma naga Kegelapan.
Sedangkan di Istana Kerajaan Suka Damai. Ratu Dewi Anindyaswari sedang merasa gelisah. Setelah melaksanakan sholat tarwih berjamaah tadi, ia melihat anaknya keluar dari istana ini. Ia mencari putranya ke ruang pribadi raja.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, nanda prabu. Apakah ibunda boleh masuk nak?." Dengan perasaan gelisah, Ratu Dewi Anindyaswari meminta izin pada anaknya.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh ibunda. Silahkan masuk ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mempersilahkan ibundanya untuk masuk ke dalam ruang pribadi raja. "Ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mendekati ibundanya, salim dan mencium tangan ibundanya.
Apakah yang akan dikatakan oleh Ratu Dewi Anindyaswari pada anaknya?. Temukan jawabannya.
...***...
__ADS_1