RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
MENEKAN PERASAAN SESAK.


__ADS_3

...****...


Raden Hadyan Hastanta dan Putri Ambarsari masuk ke dalam istana, sementara itu tujuh pendekar yang tersisa mengikuti mereka dari belakang. Lalu bagaimana dengan prajurit istana?. Mereka juga sedang berjuang melawan pendekar golongan hitam lainnya yang berusaha memasuki Istana Kerajaan Mekar Jaya. Akan tetapi kembali fokus pada Putri Ambarsari dan Raden Hadyan Hastanta yang terkejut melihat keadaan Prabu Rahwana Bimantara yang terkulai lemah di pangkuan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Ra-rayi prabu. Apa yang terjadi?. Apa yang terjadi pada kakek prabu?."


"Rayi prabu. Kakek prabu, kakek prabu kenapa rayi?."


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menatap kedua kakaknya dengan tatapan sedih yang mendalam. "Bagaimana caranya aku mengatakannya yunda, raka. Aku-." Bibir itu bergetar mengucapkan kalimat yang keluar dari hatinya. "Aku tidak kuasa mengatakannya yunda. Jika kakek prabu, tidur?. Tapi hatiku terasa sakit yunda. Karena tidurnya, tidur untuk selamanya yunda."


"Kau jangan bercanda rayi prabu!." Putri Ambarsari melihat sebuah keris yang menancap di perut Prabu Rahwana Bimantara. "Katakan pada saya siapa yang yang melakukannya rayi prabu!."


Prabu Asmalaraya semakin menangis sedih, begitu juga dengan Putri Ambarsari. Hatinya sangat sakit melihat, orang yang disayanginya meninggal?.


"Katakan rayi prabu!. Katakan pada kami. Biar kita selesaikan masalah ini." Raden Hadyan Hastanta merasa sakit, meskipun tidak terlalu dekat dengan Prabu Rahwana Bimantara, namun ia tetap menganggap sang Prabu adalah keluarganya, karena ayahandanya adalah menantu dari kerajaan Mekar Jaya.


"Rayi prabu. Saya mohon katakan sesuatu." Tangisan itu begitu pilu, karena ingin mengetahui siapa yang telah berbuat kejam pada prabu Rahwana Bimantara.


Sementara itu, mereka hanya melihat bagaimana ketiga anak dari mendiang prabu Kawiswara Arya Ragnala, yang sedang meratapi kematian Prabu Rahwana Bimantara.


"Ibunda. Ibunda yang telah melakukannya yunda. Aku melihat dengan mataku, bagaimana ibunda telah menikam kakek prabu." Dengan susah payah ia mengatakan pada kakaknya, siapa yang melakukannya. "Maafkan aku tidak bisa melindungi kakek prabu yunda. Maafkan aku karena terlalu fokus bertarung hingga melupakan keselamatan kakek prabu." Tangisan itu begitu menyayat hati. Hingga menusuk ke sukma.


Sedangkan Putri Ambarsari merasakan emosi yang memuncak luar biasa.


"Sudahlah!. Kalian tidak usah menangisi kakek tua itu. Kalian harus menyerahkan diri!."


"Ya, itu benar. Tapi kalian masih pilihan yang bagus. Terutama kau!. Cakara casugraha!. Kau pilih kembali ke istanamu, atau kau ingin kami hukum mati bersama mereka?."


"Sudahlah nanda prabu ganendra garjitha. Tidak usah nanda prabu beri ampun pada mereka, bunuh saja ketiga orang itu. Agar tidak mengganggu kekuasaan nanda prabu nantinya."

__ADS_1


"Oh. Ibundanya sangat cerdas sekali. Aku akan mencoba melakukannya ibunda."


"Benar yang dikatakan ibunda. Raka prabu, jangan beri mereka kesempatan untuk melarikan diri dari kita."


Sementara itu, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, Putri Ambarsari, dan Raden Hadyan Hastanta merasa geram mendengarkan apa yang mereka katakan.


"Rayi prabu. Apakah saya akan berdosa, jika saya membunuh saudara sendiri?."


"Aku rasa tidak yunda. Mereka telah membunuh kakek prabu. Maka nyawa harus dibayar dengan nyawa. Bukankah begitu rayi prabu?."


"Raka benar. Jika nyawa harus dibayar dengan nyawa." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menatap tajam kedua kakaknya. "Tapi sebelum itu, kita harus menangkap mereka. Karena tidak mudah membawa mereka ke tiang gantung yunda, raka."


"Baiklah kalau begitu rayi prabu. Mari kita bertiga ringkus mereka. Setelah itu kita seret ke tiang gantung untuk satu nyawa yang tidak berdosa dilakukan oleh ibunda ratu ardiningrum bintari."


"Bagaimana yunda?. Apakah yunda tidak keberatan?."


"Saya sudah siap rayi prabu. Saya tidak akan goyah lagi."


"Mari rayi."


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, dan Raden Hadyan Hastanta menggendong Prabu Rahwana Bimantara untuk menepi sementara waktu. Karena mereka khawatir dengan keadaan Prabu Rahwana Bimantara selama mereka bertarung.


"Sebaiknya kau menyerah ambarsari. Karena kau akan celaka jika kau masih ingin bermusuhan dengan kami."


"Benar!. Kau bisa melihat bagaimana pendekar pilihan ini. Mereka memiliki kekuatan yang luar biasa."


"Jika kau mau bergabung lagi dengan kami, maka kau akan mendapatkan jabatan sebagai mentri wanita pertama di kerajaan ini."


"Kau tidak usah banyak berpikir lagi. Mumpung kami masih berbaik hati menganggap kau."

__ADS_1


"Rayi prabu, rayi hadyan hastanta. Apakah rayi berdua mengerti apa yang mereka katakan?. Rasanya ada nyamuk yang terbang di kupingku, tetapi begitu mendengar suaranya berdenging, sungguh tidak enak untuk didengar. Sehingga aku ingin membunuhnya, karena muak dengan suaranya itu."


"Entahlah yunda. Tapi aku rasa, mereka masih saja berkhayal tentang istana ini menjadi miliki mereka. Juga yunda jangan sampai terpengaruh dengan ucapan busuk mereka."


"Abaikan saja yunda. Mereka tadi mengatakan jika yunda bersedia ikut dengan mereka, maka yunda akan selamat. Tetapi jika yunda tidak mau ikut dengan mereka. Maka, jangan salahkan kami, jika yunda malah menjadi musuh kami."


"Heh!. Memangnya saya sudi mengikuti orang-orang yang tidak waras seperti mereka rayi prabu?."


"Ya, jika mereka waras, maka tidak akan melakukan hal yang keji rayi, yunda."


"Tidak bisakah kalian menjaga ucapan kalian hah?!."


"Jadi kau memilih menjadi musuh kami ambarsari!. Kalau begitu, jangan salahkan aku jika kau akan mati ditangan ku ambarsari."


"Kau jangan sampai memelas lagi pada kami ambarsari. Aku tidak peduli jika kau ikut terbunuh juga, atau kau mati karena menghadapi mereka semua." Kata-kata itu sangat menyakitkan untuk didengar. Mereka semua tidak menyangka akan mendengarkan ucapan seorang Ratu terhormat.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat marah, sehingga ia maju beberapa langkah, mendekati mereka. Setelah mendekati mereka dalam yang lumayan dekat, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana berkata pada mereka.


"Berani sekali kalian mengancam yundaku!. Apakah kalian sudah bosan hidup?. Atau kalian pura-pura lupa dengan apa yang telah berlalu, jika diriku ini dimasa lalu bagaimana?."


"Kau tidak usah banyak bicara cakara casugraha!. Tunjukkan saja kemampuan yang kita miliki, jika kau masih sayang dengan nyawamu."


"Aku dari dulu tidak pernah takut pada kalian!." Sepertinya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedang menahan amarahnya yang luar biasa. "Kalian pikir akan bisa melarikan diri dari hukuman yang akan kalian terima?."


"Kau tidak usah mengancam kami cakara casugraha!. Sebaiknya serahkan diri kau dengan baik-baik, atau aku yang akan menangkapmu."


"Yunda. Kita harus membantu rayi prabu. Agar apa yang ia lakukan lebih mudah. Aku takut, para pendekar itu malah ikut campur dengan masalah pribadi keluarga istana ini."


"Saya setuju rayi. Jangan beri ampun pada mereka. Kerajaan ini akan sengsara jika mereka masih berkeliaran di kerajaan ini. Saya juga takut terjadi sesuatu pada rayi prabu."

__ADS_1


Putri Ambarsari dan Raden Hadyan Hastanta segera mendekati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Namun apa yang terjadi saat ia mendekat?. Temukan jawabannya. Mohon dukungannya ya pembaca tercinta. Agar author yang tidak berwujud ini semangat lanjutin ceritanya.


...***...


__ADS_2