
...***...
Jaya Satria saat ini sedang melakukan pengobatan. Ia salurkan tenaga dalamnya pada tubuh Prabu Maharaja Dewa Negara. Bibirnya tak berhenti membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Untuk mengusir jin yang masih bersarang di dalam tubuh sang Prabu.
Sementara itu, mereka melihat dengan seksama bagaimana pengobatan yang dilakukan oleh Jaya Satria yang hebat. Mereka melihat hawa hitam itu meninggalkan tubuh Prabu Maharaja Dewa Negara.
"Luar biasa sekali. Meskipun dalam keadaan terluka, ia masih bisa mengobati orang lain?." Dalam hati mereka semua mengagumi kekuatan Jaya Satria. Belum pernah mereka melihat orang sehebat itu.
Agak cukup lama, akhirnya Jaya Satria berhasil mengobati Prabu Maharaja Dewa Negara. "Alhamdulillah hirabbli'alamin ya Allah. Terima kasih atas kesembuhan yang engkau berikan pada kami." Jaya Satria merasa sangat bersyukur, karena ia berhasil menyembuhkan Prabu Maharaja Dewa Negara.
"Bagaimana gusti prabu?. Apakah sudah selesai?." Prabu Lingga Dewa penasaran.
"Semuanya sudah diatasi gusti prabu. Semoga saja dalam waktu yang dekat ini, ayahanda gusti prabu bisa kembali pulih." Jawabnya.
"Oh, demi dewata yang agung. Terima kasih banyak gusti prabu. Begitu banyak kebaikan yang gusti prabu berikan pada saya." Prabu Lingga Dewa sangat senang, dan bahagia mendengarnya. "Harus dengan cara apa yang saya membalaskan kebaikan gusti prabu yang sangat luar biasa ini." Prabu Lingga Dewa merasa berhutang budi.
"Uhuk." Jaya Satria sedikit terbatuk, karena dadanya masih sesak setelah bertarung tadi.
"Gusti prabu." Raden Jatiya Dewa, Raden Antajaya Dewa, Prabu Lingga Dewa dan yang lainnya begitu khawatir dengan keadaan Jaya Satria.
"Kalian berdua. Bawa gusti prabu ke ruang pengobatan. Biar aku yang menjaga ayahanda prabu." Perintah Prabu Lingga Dewa.
"Baiklah ayahanda prabu." Raden Jatiya Dewa mengangguk mengerti. "Mari gusti prabu." Raden Jatiya Dewa dan Raden Antajaya Dewa membimbing Jaya Satria menuju ruang pengobatan.
"Kalian semua kembalilah duluan. Aku ingin menjaga ayahanda prabu sampai beliau bangun." Ia menatap mereka semua. "Terima kasih karena kalian telah datang hari ini." Lanjutnya.
"Sandika gusti prabu." Mereka semua memberi hormat pada Sang Prabu. Setelah itu mereka meninggalkan tempat, untuk kembali ke rumah masing-masing.
Prabu Lingga Dewa mendekati ayahandanya. Ia menatap wajah ayahandanya yang terlihat sedikit berbeda dari yang sebelumnya. "Ayahanda Prabu, maafkan atas kesalahan yang telah aku perbuat." Penyesalan kini telah datang. Iya menyesal telah melakukan perbuatan yang salah.
...***...
__ADS_1
Di Istana Kerajaan Suka Damai. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana baru saja keluar dari ruang pribadi Raja. Meskipun tubuhnya masih terasa sakit setelah pertarungan tadi, namun ia berusaha untuk menyembunyikan sakit itu agar mereka semua tidak khawatir dengan keadaannya.
Saat ini mereka semua berkumpul di ruang keluarga. Karena ada hal penting yang ingin disampaikan oleh Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara pada mereka semua.
"Rayi prabu. Duduklah, ada kabar penting yang ingin disampaikan yunda ratu pada kita semua." Putri Andhini Andita malah terlihat bahagia?.
Namun mereka semua hanya tertawa kecil, memaklumi bagaimana sikap dari Putri Andhini Andita.
"Maaf telah membuat yunda ratu menunggu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana duduk di kursinya.
"Ada sedikit permasalahan yang harus aku kerjakan tadi yunda ratu." Lanjutnya.
"Tidak apa-apa rayi prabu. Kami semua memaklumi apa yang sedang rayi prabu kerjakan." Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara tersenyum kecil.
"Apakah masalahnya sudah selesai nak?. Apa yang rakamu katakan?." Ratu Dewi Anindyaswari terlihat khawatir.
"Raka baik-baik saja ibunda. Alhamdulillah hirabbli'alamin, saat ini raka sedang beristirahat." Jawab Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Lalu kapan rakamu akan kembali nak?. Apakah masih lama berada di sana?." Kali ini Ratu Gendhis Cendrawati yang bertanya.
"Benar rayi prabu. Kapan rayi jaya satria akan kembali?. Lalu bagaimana dengan puasanya?. Apakah lancar?." Putri Andhini Andita yang bertanya.
Mereka semua terpaksa membedakan Jaya Satria dan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dengan panggil seperti itu. Supaya Raden Rajaswa Pranawa dan Raden Muhammad Yunus tidak merasa bingung.
"Raka prabu akan kembali satu atau dua hari lagi. Karena masih ada masalah yang benar-benar harus diselesaikan ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menjawab pertanyaan dari Ratu Gendhis Cendrawati. "Jika masalah puasa. Raka prabu masih aman yunda." Ia tersenyum kecil menatap kakaknya Putri Andhini Andita. "Lalu. Apa yang akan yunda ratu sampaikan?. Katakan saja yunda ratu. Semoga yunda ratu menyampaikan kabar bahagia pada kita semua." Lanjutnya.
Mereka semua menunggu dengan perasaan yang tidak sabar apa yang akan disampaikan Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara.
"Sebenarnya raden muhammad yunus telah melamar saya di istana kerajaan mekar." Ratu Agung Bahuwirya sedikit ragu. Tapi berbeda dengan reaksi mereka yang bahagia luar biasa.
"Benarkah itu yunda ratu?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, dan sampai Raden Hadyan Hastanta yang dari tadi menyimak apa yang mereka katakan, dan kini langsung bertanya?. Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari hanya mengangguk dengan malu.
__ADS_1
"Tapi mengapa tidak dikatakan dengan cepat kabar bahagia ini nak?." Ratu Dewi Anindyaswari hampir saja tidak percaya.
"Benar nanda ratu. Kami selalu menunggu kabar dari nanda ratu dari istana kerajaan mekar jaya." Ratu Gendhis Cendrawati merasa bimbang.
"Kenapa yunda ratu tidak menyampaikan kabar bahagia ini melalui surat?. Kami sangat cemas dengan keadaan yunda ratu selama di istana kerajaan mekar jaya." Putri Agniasari Ariani terlihat cemberut.
"Benar yunda ratu. Jika memang yunda ratu telah dilamar oleh raden muhammad yunus. Mengapa tidak segera mengabari kami?." Putri Andhini Andita juga.
"Lalu bagaimana dengan kekasih yunda yang sebelumnya?. Apakah tidak memiliki masalah?." Raden Hadyan Hastanta sedikit menyinggung perasaan kakaknya.
"Maafkan saya, karena tidak memberi kabar bahagia ini." Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara sedikit kaku. "Untuk dia. Dia yang telah berkhianat padaku rayi hadyan hastanta. Dia telah menikah dengan wanita pilihannya. Ia merasa bercabang hatinya." Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari terlihat sedih.
"Kalau begitu yunda ratu juga berhak mendapatkan orang yang baik." Putri Andhini Andita tersenyum manis. "Kami akan selalu mendukung yunda ratu. Bukankah begitu raka, rayi, yunda, ibunda."
Mereka semua mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Putri Andhini Andita. Ratu Agung Bahuwirya yang merasa terharu dengan ketulusan mereka padanya.
"Jadi raden muhammad yunus telah yakin akan menikah dengan yunda saya?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana hanya ingin memastikan kesungguhan dari Raden Muhammad Yunus terhadap kakaknya.
"Insyaallah. Hamba siap lahir dan batin menikahi gusti ratu agung. Hamba akan berusaha membantu gusti ratu agung untuk menjalankan tahta pemerintah kerajaan mekar jaya gusti prabu." Jawab Raden Muhammad Yunus dengan sangat yakin.
"Alhamdulillah hirabbli'alamin, jika memang raden berkata seperti itu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum lembut. "Meskipun kami terpisah karena jarak. Walau bagaimanapun, yunda ratu tetaplah saudara kami. Saya akan menuntut raden, jika raden mengkhianati cinta yunda saya." Lanjutnya.
"Hamba tidak akan melakukan hal buruk seperti itu gusti prabu. Hanya kepada Allah SWT hamba takut untuk melakukan hal yang buruk." Balas Raden Muhammad Yunus.
"Lalu kapan pernikahan itu dilaksanakan nak?. Dan dimana nanda ratu akan menikah nantinya?." Ratu Dewi Anindyaswari yang bertanya.
"Benar nak. Kapan hari baik itu akan diadakan?. Katakan pada kami semua. Semoga saja kami bisa hadir di acara penting itu nak." Ratu Gendhis Cendrawati juga ingin mengetahuinya.
"Benar yunda ratu. Katakan pada kami." Putri Andhini Andita, Putri Agniasari Ariani, Putri Bestari Dhatu dan Raden Hadyan Hastanta juga ingin mengetahuinya.
Bagaimana jawaban dari Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...***...