RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
KERUSUHAN DI KOTA RAJA


__ADS_3

...***...


Putri Agniasari Ariani ia telah menemukan, seorang guru yang dapat mengajarinya. Bukan hanya tentang ilmu beladiri saja, melainkan ilmu agama Islam juga. Dia adalah seorang pendekar wanita yang cantik parasnya, juga cantik hatinya. Namanya Dewi Cantika, ia adalah pendekar wanita golongan putih memeluk agama Islam. Pakaiannya agak sedikit berbeda dengan pendekar wanita lainnya, agak lebih sopan dan tertutup.


"Nimas. Apakah kau yakin ingin memeluk agama Islam?."


Dewi Cantika hanya ingin memastikan keyakinan Putri Agniasari Ariani, bahwa ia sudah siap lahir dan batin masuk agama islam.


"karena-."


Ucap Dewi Cantika sambil tersenyum. Dan ucapan Dewi Cantika, sama dengan ucapan prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Yang kini sedang memberikan penjelasan kepada prajuritnya tentang agama Islam.


"Karena agama islam, bukanlah agama yang memaksa seseorang, untuk mengikuti apa saja yang dilarang ataupun yang disunnahkan." Mereka memberi jeda dari ucapan itu. Senyuman mereka yang begitu ramah, menatap orang-orang sekitarnya.


"Bahkan yang diwajibkan. Agama islam, adalah agama yang membawa perdamaian bagi siapapun, yang meresapi makna kenikmatan-kenikmatan, yang memberikan ketenangan jiwa dan raga seseorang."


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, sedang bersama prajuritnya di halaman istana, ia juga sedang melihat prajuritnya berlatih.


...***...


Kembali ke putri Agniasari Ariani.


"Karena itulah nimas, pikirkan baik-baik. Nimas pelajari terlebih dahulu tentang dasar agama Islam." Ucap Dewi Cantika dengan suara yang sangat lembut.


"Jika nimas sudah mengerti, baru aku akan mengajak nimas, menemui kanda muhammad sabar. Untuk menuntun nimas, mengucap dua kalimat syahadat."


Dewi Cantika hanya tidak ingin, Putri Agniasari Ariani terburu-buru dengan keputusannya, dan akhirnya ia akan menyesalinya.


"Aku memang berniat mempelajarinya terlebih dahulu. Sebab saat berada di istana, aku pernah mendengarkan rayi prabu melantunkan ayat-ayat suci Alquran." Balasnya dengan senyuman ramah.


"Aku sangat senang mendengarnya. Hatiku terasa damai, tenang dan tentram." Ia mengungkapkan apa yang ia rasakan saat itu.


"Karena aku tidak mau mengganggu rayi prabu, makanya aku pergi mencari seseorang yang dapat mengajarkan aku tentang agama islam." Lanjutnya. Itulah alasan mengapa ia sampai rela mengembara jauh, demi mencari seorang guru yang mau mengajarinya tentang agama Islam.


"Jadi keluarga nimas, tidak semuanya beragama islam?." Dewi Cantika sedikit terkejut.


"Benar sekali nini." Jawabnya. Ia tidak menyembunyikan fakta itu. "Karena ayahanda dan ibunda kami, telah menganut agama hindu-budha. Jadi kami anak-anaknya, tentulah mengikutinya juga." Ia mengatakan kenyataannya.


"Lalu bagaimana bisa adik nimas masuk islam?. Jika aku boleh mengetahuinya." Dewi Cantika agak sedikit takut bertanya mengenai masalah itu.


"Aku juga tidak mengetahuinya dengan pasti. Namun ayahanda prabu mendapatkan sebuah wasiat, bahwa untuk mengendalikan kekuatan kutukan yang ada di dalam tubuh rayi prabu. Ia harus masuk agama islam. Karena agama Islam mampu mengendalikan diri seseorang." Putri Agniasari Ariani hanya mendengarkan perkataan ibundanya saja waktu itu.


"Meskipun aku tidak tahu, apakah itu benar atau tidak." Lanjutnya lagi. Karena ia masih ingin mencaritahu kebenarannya.


Dewi Cantika tersenyum kecil menatap Putri Agniasari Ariani. "Semuanya tergantung niatnya saja. Apakah ia benar-benar berniat, ingin merubah dirinya ke arah yang lebih baik, atau ke arah keburukan." Jawabnya.


"Tapi, setidaknya. Agama islam memang agama yang memberikan kedamaian dalam diri seseorang. Tetaplah bersabar di jalan Allah SWT." Dewi Cantika mencoba menjelaskan pada Putri Agniasari Ariani.


Apakah Putri Agniasari Ariani akan masuk agama Islam?. Temukan jawabannya.


...****...


Kita lihat sang prabu yang masih memberikan penjelasan, tentang agama islam kepada prajuritnya.


"Jika memang kalian ingin masuk agama Islam. Itu hal yang baik." Sang prabu tersenyum kecil menatap mereka semua.


"Nanti akan saya carikan guru, yang dapat membimbing kalian semua, masuk agama islam."


Ya, ia akan meminta izin kepada gurunya Syekh Asmawan Mulia, agar membimbing prajuritnya yang ingin masuk agama Islam. Namun ia juga meminta izin pada gurunya, Ki Jarah Setandan. Agar membawa Syekh Asmawan Mulia ke istana. Ia takut terjadi kesalahpahaman antara mereka nantinya.


"Kita ini harus seimbang. Bukan hanya memikirkan dunia saja." Lanjutnya.


"kita juga harus memikirkan akhirat." Ia sedikit memberikan jeda dari ucapannya saat ia melihat ekspresi raut wajah mereka yang penuh tanda tanya.


"kenapa?. Itulah pertanyaan yang terlintas di dalam hati kita masing-masing bukan?." Sang prabu bertanya pada semua prajurit yang ikut latihan hari itu.


"Benar gusti prabu." Balas mereka semua dengan serantaknya.


"karena kita ini seperti seekor burung yang sedang terbang."

__ADS_1


Sang Prabu melihat ke arah prajuritnya, mereka semua menyimak apa yang dikatakan oleh junjungan mereka.


"Jika salah satu sayangnya patah, atau terluka. Maka ia tidak dapat terbang dengan seimbang." Sang prabu menjelaskan kepada mereka semua.


"Begitu juga dengan kita manusia. Harus ada keseimbangan yang kuat dalam hidup ini. Dunia dan akhirat. Jadi kita harus menjaga keduanya dengan baik."


prabu Asmalaraya Arya Ardhana memberikan masukan kepada mereka semua. "Aku tidak memaksa kalian untuk masuk Islam. Tapi pikirkan baik-baik." Hanya itu yang diinginkan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, terhadap prajurit istana.


Dari kejauhan, Ratu Dewi Anindyaswari memperhatikan bagaimana anaknya, yang saat ini sedang berinteraksi dengan prajurit yang ia pimpin langsung.


"Nanda sangat luar biasa sekali."


Ratu Dewi Cantika sangat mengagumi putranya. Ia juga merasakan kedamaian dalam hatinya, setiap ia mendengar putra melantunkan ayat suci Alquran.


"Mungkin ibunda akan belajar bersamamu, tentang agama islam."


Sepertinya ratu Dewi Anindyaswari juga ingin masuk islam. Sama seperti putra dan putrinya. Ia akan mencari waktu yang tepat untuk berbicara dengan putranya.


...***...


Di luar Istana Kerajaan Suka Damai.


Nini Kabut Bidadari, Putri Gempita Bhadrika, Semara Layana dan juga Mayang Sari saat ini berada di kota raja kerajaan Suka Damai. Saat ini mereka sedang berbaur dengan penduduk kota raja, mereka menyamar menjadi rakyat biasa.


"Apa yang akan kita lakukan setelah ini nini?."


putri Gempita Bhadrika bertanya pada Nini kabut Bidadari, ia yakin wanita yang memiliki segudang pengalaman itu tahu apa yang akan ia lakukan untuk menyapa prabu baru.


"Tuan putri bisa mengamati sekitar. Bukalah matamu, amati sekitar, manfaatkan pikiran pintarmu. Jika kau merasa tertarik maka lakukan." Balas Nini kabut Bidadari tersenyum lebar.


Ia seakan membiarkan Putri Gempita berpikir ide apa, atau hal apa yang membuatnya merasa tertarik dengan sekitarnya. Jangan buat otak beku hanya tidak tahu, mau melakukan apa. Atau meminta pendapat orang ingin melakukan sesuatu. 


Mayang Sari dan Semara Layana tanpa sadar juga mengamati sekitar, hal apa yang membuat mereka merasa tertarik untuk melakukan sesuatu?.


"Sepertinya aku menemukan sesuatu yang menarik, untuk membuat keributan di sini nini." Putri Gempita sepertinya sudah tahu, apa yang akan ia lakukan. Setelah ia mendengarkan, apa yang dikatakan oleh Nini Kabut Bidadari tadi.


Putri Gempita melangkah pergi meninggalkan mereka. Dan ia mengeluarkan sekantong uang, yang ia simpan di kantong bajunya. setelah itu ia mengeraskan suaranya sambil berkata


Tentunya orang-orang yang merasa tertarik, dengan apa yang ia ucapkan, langsung mengerubunginya, seperti kawanan semut yang melihat ada makanan lezat.


"Sepertinya dia tuan putri yang cukup pintar, untuk bertualang di dunia luar."


Nini Kabut Bidadari cukup terkesan, dengan apa yang dilakukan oleh Putri Gempita Bhadrika, dalam melakukan hal yang menurutnya akan menyenangkan hatinya.


"Kalian berdua, perhatikan baik-baik. Apa yang akan ia lakukan, sebagai seorang putri raja kegelapan. Yang memiliki ide-ide cemerlang, untuk membuat kerusuhan di suatu tempat."


Nini Kabut Bidadari menyuruh Mayang Sari dan Semara Layana, untuk memperhatikan apa yang dilakukan oleh Putri Gempita Bhadrika.


"Aku juga ingin melihat, apa yang bisa dilakukan oleh seorang putri raja. Yang katanya hanya bisa bermanja-manja pada ayahandanya atau ibundanya."


Mayang Sari juga penasaran apa yang akan dilakukan, oleh Putri Gempita Bhadrika dengan cara menarik perhatian mereka semua?.


"Hal menarik apa yang akan dilakukan tuan putri, aku tidak sabar ingin melihatnya."


Semara Layana juga penasaran, bisakah tuan putri Gempita Bhadrika melakukannya?.


Temukan jawabannya.


...***...


Di dalam istana.


Mereka masih belum menerima kenyataan, bahwa Prabu Asmalaraya Arya Ardhana telah kembali ke Istana Kerajaan Suka Damai dengan keadaan selamat, tanpa kekurangan apapun.


"Jangan-jangan rayi prabu, juga ditolong oleh orang misterius itu." Ucap Putri Andhini Andita kepada saudara-saudaranya.


"Orang misterius?. Maksudmu orang bertopeng?." Raden Hadyan Hastanta memastikan apa yang dikatakan oleh adiknya.


"Benar raka. Penampilannya sama persis, dengan orang yang menyelamatkan Raka waktu itu." Putri Andhini Andita sangat yakin itu.

__ADS_1


"Jadi maksudmu, rayi prabu juga diselamatkan oleh orang bertopeng itu juga?."


"Bisa jadi seperti itu raka. Mengingat beberapa kali ia pernah menyelamatkan keluarga istana. Ada kemungkinan seperti itu itu yang terjadi." Jawab putri Andhini Andita. "Apalagi, aku pernah melihat orang bertopeng itu, beberapakali bersama ayahanda. Bisa jadi dia adalah orang kepercayaan ayahanda prabu." Lanjutnya.


"Aku tidak pernah melihatnya, atau mendengar bahwa, mendiang prabu bekerjasama dengan sosok asing." Raden Gentala Giandra merasa heran mendengarnya.


"Kapan kau melihatnya rayi?. Meskipun kau juga pernah menceritakannya padaku." putri Ambarsari ingin mendengar kembali cerita adiknya itu.


"Katakan saja rayi. Kami ingin mendengarkan apa yang saja yang kau lihat." Raden Hadyan Hastanta juga penasaran, dengan cerita adiknya tentang sosok misterius itu.


"Dulu aku pernah melihat sosok itu, bersama ayahanda dalam membereskan para pemberontak kerajaan. Dan setelah itu aku melihatnya, beberapa kali dia bersama rayi prabu." Putri Andhini Andita mencoba menjelaskan sambil mengingat apa saja yang pernah ia lihat.


"Apakah raka ingat?. Ketika raka dibawa orang asing itu ke istana?. Apakah raka masih ingat, jika orang itu menggunakan topeng penutup wajah?." Tanya Putri Andhini Andita pada kakaknya. Raden Hadyan Hastanta sedang mengingatnya.


"Ya, benar. Lalu kenapa?." Raden Hadyan Hastanta balik bertanya kepada adiknya.


"Aku melihat rayi prabu, berbicara dengan orang itu. Dan dia menyebutkan nama jaya satria pada orang itu. Nama yang sama ketika ayahanda masih hidup." Putri Andhini Andita sangat ingat dengan hari itu, ketika ia mengintip beberapa kali.


"Jaya satria?." Mereka semua tidak percaya, dengan apa yang dikatakan oleh putri Andhini Andita.


"Aku baru mengetahui itu." Raden Ganendra Garjitha tidak menyangka, prabu Asmalaraya Arya Ardhana memiliki rahasia seperti itu?.


"Kita bisa memanfaatkan kesempatan kedekatan rayi prabu, dengan sosok jaya satria, untuk memojokkan rayi prabu dihadapan rakyat. Bahwa dia bekerja sama dengan orang-orang aliran hitam." Putri Andhini Andita memberi saran pada saudara-saudaranya, bagaimana caranya agar menjatuhkan prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


Mereka semua saling berpandangan satu sama lain, memikirkan apa yang dikatakan oleh Putri Andhini Andita, dan setelah itu mereka semua tersenyum lebar.


"Kau memang pintar rayi. Kami tidak menyangka, kau memiliki ide yang begitu cerdas." Putri Ambarsari berbangga hati memiliki adik seperti Putri Andhini Andita.


"Kalau begitu, kita mulai menyusun rencananya." Raden Ganendra Garjitha sepertinya memiliki ide pertama untuk dijalankan.


Apakah yang akan mereka lakukan?. Siasat apa yang akan mereka gunakan, untuk menjatuhkan sang Prabu?. Baca terus ceritanya.


...***...


Kembali pada putri Gempita Bhadrika.


Ternyata suasana kota raja terlihat ramai, ada beberapa orang pemuda yang sedang adu tanding.


"Bertarung lah kalian dengan sepuasnya. Jika kalian menang, maka kalian akan menjadi pengawal ku. Dan aku akan membayar kalian dengan seratus kepeng uang emas."


Putri Gempita Bhadrika menyoraki mereka yang sedang bertarung mati-matian. Mereka yang mendengarkan itu merasa bersemangat, begitu juga yang menontonnya. Menyaksikan ada dua sampai tiga orang pemuda, yang mencoba ilmu kanuragan mereka.


Sementara itu, Nini Kabut Bidadari yang memperhatikan itu tertawa kecil. Ia merasa lucu, dengan apa yang dilakukan oleh Putri Gempita Bhadrika, untuk memancing keributan di kota Raja.


"Aku tidak pernah melihat ide gila seperti ini, dilakukan oleh seorang putri raja."


Nini Kabut Bidadari tidak dapat menyembunyikan tawanya, sedangkan Mayang Sari dan Semara Layana hanya tercengang melihat itu.


Namun ketika mereka sedang bertarung karena upah yang akan mereka terima, prajurit istana datang melerai mereka semua.


"Hentikan!. Tidakkah kalian sadar, bahwa kalian telah membuat keributan. Lihatlah sekitar kalian."


Ucap salah satu prajurit, dengan suara keras. Mereka melihat sekitar, memang parah kerusakan yang ditimbulkan, akibat pertarungan mereka tadi.


"Hei!. Kalian prajurit tidak usah ikut campur!." Bentak Putri Gempita Bhadrika merasa kesal karena kesenangan yang ia lakukan berakhir begitu saja.


"Nyai. Mengapa nyai malah memancing keributan di kota raja?. Ini sangat berbahaya nyai." Prajurit tersebut mencoba untuk memperingati Putri Gempita Bhadrika.


"Kami tidak membuat keributan. Kami hanya ingin adu tanding, saja siapa yang berhak menjadi pengawal ku. Apakah itu salah?" Putri Gempita Bhadrika sangat marah. Begitu juga dengan mereka yang, ikut dalam sayembara mendadak itu?. Bahkan yang menonton juga marah?.


Mereka melempari prajurit, dengan barang-barang yang ada didekat mereka. Prajurit-prajurit itu terkejut, mereka berusaha melindungi diri mereka. Di saat itulah ada sosok bertopeng datang menghalau serangan yang datang ke arah prajurit.


Semara Layana yang mengenali orang itu, langsung menarik Putri Gempita Bhadrika dari sana. Ia tidak mau orang itu mengenali putri Gempita Bhadrika. Semara Layana juga bahkan, menyuruh Nini Kabut Bidadari dan Mayang Sari untuk bersembunyi sementara waktu.


"Hentikan!."


Orang bertopeng itu menyuruh mereka, menghentikan apa yang mereka lakukan. Suaranya terdengar keras, hingga mereka terkejut. Sehingga mereka menghentikan aksi melempari, dan menyakiti prajurit.


Mereka semua memperhatikan orang bertopeng itu, dengan tatapan aneh serta takut. Siapakah orang itu?. Apa hubungannya dengan prajurit istana?.

__ADS_1


Apakah yang akan terjadi berikutnya?. Jangan lupa vote, like, share ceritanya, dan komentarnya. Terima kasih dukungannya kepada pembaca tercinta.


Next halaman.


__ADS_2