RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
PENJELASAN DAN SITUASI


__ADS_3

...***...


Malam itu, keluarga istana berkumpul. Mereka makan malam bersama. Mereka menikmati kebersamaan malam itu dengan santainya. Setelah selesai makan malam, mereka berbincang-bincang. Dalam perbincangan itu, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana bertanya pada Ratu Gendhis Cendrawati, Raden Hadyan Hastanta, Putri Andhini Andita, Putri Bestari Dhatu, dan Raden Rajaswa Pranawa.


"Sebentar lagi akan memasuki bulan ramadhan, bulan puasa. Bagaimana keputusan ibunda, raka, yunda, serta raden rajasawa?. Apakah sudah bulat tekad untuk memeluk agama islam?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memastikan bahwa mereka tidak akan berubah pikiran lagi.


"Ibunda sudah siap nak. Ibunda sudah yakin akan memeluk agama Islam." Jawab Ratu Gendhis Cendrawati.


"Begitu juga denganku rayi prabu. Aku sudah sangat yakin ingin masuk islam." Jawab Putri Andhini Andita dengan senyuman yang manis luar biasa bahagianya.


"Aku juga sudah sangat yakin rayi prabu. Tidak ada keraguan lagi." Raden Hadyan Hastanta juga sangat yakin.


"Aku juga ingin memeluk agama islam, agama yang baik seperti mu rayi prabu." Putri Bestari Dhatu juga ingin memeluk agama Islam yang baik dan benar.


"Begitu juga dengan hamba gusti prabu. Sejak mengetahui jika nimas agniasari ariani memeluk agama Islam, rasanya hamba juga ingin merasakan agama yang baik itu gusti prabu." Raden Rajaswa Pranawa telah menetapkan hatinya untuk masuk agama islam. Namun bukan hanya karena ingin menikah dengan Putri Agniasari Ariani. Melainkan datang dari dirinya sendiri.


"Alhamdulillah hirabbli'alamin, jika memang sudah yakin." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat senang mendengarnya.


"Alhamdulillah hirabbli'alamin, jika memang ingin masuk agama islam dengan penuh keyakinan." Ratu Dewi Anindyaswari juga senang mendengarkannya. Senyuman mengembang di wajahnya yang sangat cantik itu.


"Alhamdulillah hirabbli'alamin. Kami sangat senang mendengarnya yunda, juga nanda semua yang telah menetapkan diri untuk masuk agama islam." Putri Agniasari Ariani juga merasakan kebahagiaan itu.


"Alhamdulillah hirabbli'alamin. Semakin baik jika telah memutuskan dengan hati yang baik." Syekh Asmawan Mulia juga turut merasakan kebahagiaan keluarga Istana Kerajaan Suka Damai, yang telah sangat yakin akan memeluk agama Islam dari lubuk hati mereka masing-masing. Mereka semua merasa bersyukur akan hal baik tersebut. Namun sepertinya hanya Aki Jarah Setandan yang tidak bersuara. Ia menyimak mendengarkan apa yang mereka katakan.


"Sepertinya, keputusan nanda prabu masuk agama islam adalah hal yang baik. Sebagai seorang guru aku merasa bangga." Aki Jarah Setandan akhirnya mengungkapkan apa yang ia rasakan.


"Terima kasih guru. Guru adalah orang yang saya hormati. Jika tidak ada guru, mungkin saya masih belum bisa mengendalikan diri ini ke arah yang lebih baik." Balas Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Guru adalah orang tua yang telah mendidik saya dengan baik." Begitu besar rasa hormatnya pada Aki Jarah Setandan, membuat laki-laki yang sudah berumur itu merasa sangat terharu.


"Sebenarnya itu hanya tergantung pada diri sendiri. Tapi setidaknya nanda prabu telah berusaha dengan baik." Senyuman menawan masih mengembang di wajahnya yang sudah mulai terlihat mengeriput.

__ADS_1


"Kita ini adalah guru yang akan selalu membimbing muridnya kakang. Semoga apa yang kita ajarkan kepada mereka sangat bermanfaat." Syekh Asmawan Mulia merasakan bagaimana dirinya menjadi seorang guru. Terutama menjadi guru dari seorang pangeran yang sedang mencari jati dirinya ini sebagai apa.


"Adi benar. Kita adalah tauladan, jadi berikan yang baik, agar tauladan yang kita sampaikan pada mereka, bisa tersampaikan dengan baik pada mereka sampai mereka bisa menentukan ke arah mana masa depan mereka." Aki Jarah Setandan sangat setuju dengan apa yang dikatakan oleh Syekh Asmawan Mulia.


Malam itu juga mereka membahas masalah puasa yang akan mereka lakukan. Puasa yang bukan hanya menahan haus dan lapar saja, namun ada tata cara, syarat dan rukun puasa yang harus diperhatikan.


"Dalam satu hal, ada yang harus kita fahami bersama saat melakukan puasa." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menjelaskan pada mereka semua. "Bahwa salah satu syarat berpuasa itu adalah bagi yang mampu. Namun berbeda dengan yunda bestari dhatu saat ini."


Mereka semua masih menyimak apa yang dikatakan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Karena kondisi yunda bestari dhatu yang sedang hamil, maka tidak dianjurkan untuk melakukan puasa." Lanjut sang Prabu, membuat mereka semua bersuara bersamaan.


"Tidak dianjurkan untuk melakukan puasa?. Tapi kenapa?." Putri Andhini Andita, Ratu Gendhis Cendrawati, Putri Bestari Dhatu, dan Raden Hadyan Hastanta bertanya dengan bersamaan.


"Syekh guru. Tolong jelaskan kepada mereka, mengapa tidak boleh melakukan puasa disaat sedang hamil." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana meminta bantuan dari Syekh Asmawan Mulia.


"Baiklah nanda prabu." Syekh Asmawan Mulia tersenyum kecil. "Ada beberapa alasan mengapa wanita yang sedang hamil tidak dianjurkan berpuasa. Salah satunya adalah, menjaga kesehatan ibunya, juga bayi yang ada di dalam kandungan."


"Untuk menjaga kesehatan keduanya ya." Raden Rajaswa bergumam sendiri.


"Jadi begitu ya?. Memang agak berat, tapi bagaimana jika tetap ingin berpuasa?."


"Jika masalah itu, mungkin menunggu kandungan tujuh bulan ke atas. Pada saat itu kandungan sudah agak kuat. Tapi tetap saja harus waspada."


"Tenang saja yunda. Jaga saja kesehatan yunda, masalah puasa bisa diganti di hari lain, atau membayar fidyah. Nanti saat lebaran, hari kemenangan kita akan memberikan rezeki pada anak yatim, atau orang miskin."


"Sepertinya itu ide yang bagus rayi prabu."


"Itu benar nak. Kita akan melakukannya bersama-sama."


Mereka membahas masalah puasa, dan juga ketetapan hati mereka untuk masuk agama Islam. Dan saat itu Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga memperkenalkan Nini Cahaya Mutiara pada mereka semua. Nini Cahaya Mutiara yang dari tadi hanya menyimak apa yang mereka bahas dalam masalah tersebut.

__ADS_1


"Ibunda, yunda, raka, syekh guru, guru, juga raden rajaswa. Tabib wanita yang mengobati saya ia adalah kenalan saya. Pada saat saya berhadapan dengan musuh yang kuat, saya terkena serangan dari panah tiga dewa." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana melihat ke arah mereka semua. "Pada saat itu, nini cahaya mutiara yang mengobati dan merawat saya dengan baik." Lanjutnya. "Saat itu, entah mengapa. Untuk pertama kalinya hati saya bergetar. Bukan karena perasaan cinta hanya karena memandang fisik saja. Namun karena lantunan ayat-ayat al-qur'an dari nini cahaya mutiara telah menumbuhkan perasaan cinta dalam diri saya." Sepertinya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menjelaskan semuanya pada mereka, agar tidak terjadi salah faham.


"Begitu dengan hamba yang saat itu memiliki perasaan yang sama dengan gusti prabu. Hamba sangat terpesona dengan suara mengaji gusti prabu." Nini Cahaya Mutiara juga menjelaskan perasaannya pada saat itu. Mereka masih menyimak dengan jelas, apa yang keduanya sampaikan.


"Karena kami tidak mau terlena dalam jeratan duniawi yang menggoda. Setelah itu kami berpisah, dan saling mengucap janji. Jika suatu hari nanti kami bertamu, maka kami percaya itu adalah takdir yang tepat untuk kami bersama."


"Ibunda rasa itu adalah takdir putraku. Meskipun nada dalah anak bungsu. Sebagai seorang raja, sudah sepantasnya seorang raja memiliki permaisuri."


"Permaisuri?." Dalam hati Putri Andhini Andita merasakan perasaan yang tidak nyaman mendengarkan apa yang dikatakan oleh ibundanya.


"Benar apa yang dikatakan oleh gusti ratu. Sebagai seorang raja, sudah seharusnya nanda memiliki permaisuri."


"Tapi semuanya tergantung pada nini cahaya mutiara. Saya tidak bisa memaksanya."


"Mohon ampun gusti prabu. Mungkin dalam waktu dekat ini hamba akan kembali ke padepokan melati putih. Karena hamba ingin bertemu kedua orang tua hamba di sana. Karena sudah lama hamba tidak pulang."


"Sudah lama tidak pulang?." Secara bersamaan mereka bertanya.


"Kenapa kau tidak pulang?. Apa yang membuatmu tidak kembali?. Apakah kau sengaja mencari rayi prabu?."


"Yunda."


"Nanda andhini andita."


Mereka semua heran dengan sikap Putri Andhini Andita yang posesif terhadap Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Mohon ampun gusti putri. Hamba adalah seorang tabib, jadi hamba selalu dipanggil oleh banyak orang untuk mengobati mereka. Jadi hamba tidak sempat untuk pulang. Karena padepokan melati putih, sangat jauh tempatnya. Akan memakan waktu yang lama jika pulang pergi."


"Dinda, memangnya nini cahaya mutiara ini adalah kekasih rayi prabu?." Bisik Raden Hadyan Hastanta.

__ADS_1


"Benar sekali kanda. Tapi sepertinya rayi andhini andita tidak terima. Kanda sendiri mengetahuinya, jika rayi kanda itu menyukai rayi prabu." Balas Putri Bestari Dhatu. Raden Hadyan Hastanta mengerti situasinya. Ia hanya heran saja dengan perasaan adiknya terhadap Raden Cakara Casugraha. Bukankah mereka berdua adalah adiknya?. Bagaimana mungkin ada perasaan cinta itu di dalam hati adiknya?. Sangat heran, dan tidak pernah terjadi di dunia ini. Apakah yang akan terjadi setelah ini?. Temukan jawabannya.


...***...


__ADS_2