RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
KEMARAHAN ITU


__ADS_3

...***...


Jaya Satria menatap tajam ke beberapa orang yang mengepungnya. Begitu juga Prabu Bumi Jaya dan Raden Bumi Putra. Rasa amarah telah menguasai diri mereka masing-masing.


"Kalian semua!." Ada seorang laki-laki berbadan tegap memberi mereka kode, hingga keluarlah hujan panah yang menyerbu mereka semua. Sungguh luar biasa sekali menderu mereka semua. "Habisi mereka tanpa ampun. Dan jangan biarkan ada yang tersisa."


"Kurang ajar!. Mereka hanya berani bermain-main seperti ini?." Prabu Bumi Jaya sedikit gentar, karena anak panah itu sangat banyak menghujani mereka semua. Tidak terhitung lagi berapa banyak anak panah yang mengarah ke arah mereka. Apakah mereka akan berakhir di sini?. Apakah mereka akan terbunuh di sini sama seperti yang lainnya?.


"Berhati-hatilah ayahanda prabu." Raden Bumi Putra mulai waspada. Ia memainkan jurus angin sejagat, jurus yang ia anggap dapat menghalau semua serangan anak panah yang hendak menembus tubuh mereka. "Kurang ajar!. Jadi ini yang membuat rayi raksa wardhana juga ibunda ratna wardhani tewas?. Sungguh serangan yang tidak manusia. Serangan yang digunakan untuk perang besar." Dalam hati Raden Bumi Putra waspada dengan setiap panah yang sepertinya hendak mengarah ke tubuhnya.


Sedangkan Jaya Satria mengeluarkan panah dari dalam tubuhnya. Ia menggunakan panah Semara Naga. Prabu Bumi Jaya sedikit terkejut, karena hawa dari panah itu sedang bergejolak.


"Bismillahirrahmanirrahim." Jaya Satria membalikkan serangan panah dengan serangan panah angin?. Sehingga anak panah yang mereka keluarkan malah berbalik ke arah mereka?. Dan terdengar suara teriakan yang sangat keras dari mereka yang terkena anak panah tersebut.


"Kurang ajar!." Mereka semua tidak menyangka, jika panah yang dilepaskan oleh pemuda bertopeng itu telah membalikkan anak panah mereka semua, seperti sedang dirasuki oleh anak panah yang dilepaskan oleh Jaya Satria.


"Luar biasa sekali." Prabu Bumi Jaya merasa heran dengan apa yang dilakukan oleh Jaya Satria. "Siapa dia sebenarnya?. Kenapa ia memiliki benda pusaka yang hebat seperti itu?." Dalam hati Prabu Bumi Jaya merasa sangat kagum, dan ia tidak bisa membayangkan jika tidak ada kekuatan yang luar biasa itu, panah yang mereka luncurkan mengarah pada mereka semua.

__ADS_1


"Kau?!. Siapa kau sebenarnya?!." Mereka semua turun, setidaknya ada lima orang yang tersisa termasuk dari ketua yang masih bertahan.


"Aku cakara casugraha. Putra dari prabu kawiswara arya ragnala." Jaya Satria terpaksa menyebutkan nama aslinya dihadapan mereka semua.


"Raden cakara casugraha?. Ada keperluan apa sehingga putra mahkota dari kerajaan tetangga datang kemari?." Tentunya mereka bertanya-tanya. "Kita tidak ada urusan apapun, bahkan dengan raja sebelumnya, juga raja sekarang prabu asmalaraya arya ardhana. Tapi kenapa kau malah datang ke sini membuat permusuhan?." Suta Sena, sebagai ketua dari mereka tentunya penasaran, kenapa putra mahkota terhormat malah melintasi daerah larangan ini?.


"Ada!. Tentu saja ada!. Jika tidak, mana mungkin aku datang ke sini?!." Jaya Satria masih mencoba untuk menahan segala gejolak amarah yang ada di dalam hatinya saat ini. "Kalian telah membunuh raden raksa wardhana tempo hari yang lalu!." Rasa dendam yang kembali ia rasakan mengingat bagaimana hujan panah itu mengenai tubuh mereka semua. "Kalian pikir aku akan membiarkan begitu saja apa yang telah kalian lakukan, hah?!." Rasanya ia tidak bisa menahan dirinya lagi, ingin ia lampiaskan semuanya saat ini.


"Daerah ini terlarang untuk di lintas siapa saja. Jadi yang berani melintasi daerah larangan ini akan dihujani panah sampai mati." Suta Sena tersenyum mengejek, ia memperlihatkan bagaimana dirinya berkuasa di darah ini pada Jaya Satria.


SRAKH!.


Sementara itu, di Istana Kerajaan Suka Damai. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga merasakan hal yang sama. Di saat ia sedang berada di bilik nya, tubuhnya juga sedang diselimuti oleh hawa merah yang sudah lama tidak ia rasakan. "Raka prabu. Keluarkan saja amarah raka. Aku akan mengimbanginya." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana hanya berharap, jika raga asli Raden Cakara Casugraha tidak kelepasan nantinya.


Kembali pada Jaya Satria.


"Aku tidak akan mengampuni kalian yang telah membuat yundaku menderita dalam kesedihan yang ia rasakan." Kemarahan yang sangat berkobar. "Kalian adalah manusia tanpa perasaan. Membunuh siapa saja yang lewat?. Kalian pikir tanah ini milik kalian?. Sehingga kalian dengan mudahnya membunuh siapa saja." Jaya Satria mengarahkan panah Semara Naga ke arah gerbang masuk ke wilayah kerajaan Tebing Alas. "Bagaimana jika aku arahkan panah ini ke arah sana?. Dan yang menerima serangan panah ini adalah orang-orang yang kalian cintai?." Matanya melotot tajam ke arah mereka semua. "Kalian pikir panah semara naga ini seimbang dengan panah biasa yang kalian miliki." Saat itu juga mereka telah menjadi saksi, bagaimana panah itu mengeluarkan hawa naga angin yang sangat luar biasa.

__ADS_1


"Gila. Ini sangat gila!. Hanya orang-orang yang berilmu tinggi yang mampu mengendalikan kekuatan mistis sebesar itu." Prabu Bumi Jaya tidak menyangka akan melihat itu?.


"Sungguh hebat sekali orang bertopeng itu. Aku penasaran dengan identitas yang ia sembunyikan dibalik topeng itu." Raden Bumi Putra juga merasa kagum dengan apa yang dilakukan oleh Jaya Satria.


"Kau tidak usah mengancam kami. Karena bagi kami yang melewati daerah ini adalah musuh yang harus kami bunuh." Suta Sena merintih setelah mendapatkan serangan tadi. Namun siapa sangka, ia malah mendapatkan sebuah tembakan anak panah yang menembus paha kirinya.


"Kgehakh!." Suta Sena berteriak keras, sehingga membuat anak buahnya terkejut, namun masih belum mengambil tindakan.


"Lancang sekali mulutmu berbicara seperti itu." Amarah Jaya Satria telah memuncak, dan ia sama sekali tidak suka dengan apa yang dikatakan Suta Sena. "Kau telah membuat yundaku menangis. Kau harus membayar semua yang telah kau lakukan!." Jaya Satria hendak menyerang Suta Sena, tapi sepertinya salah satu anak buahnya menyadarinya hingga berbalik menyerang Jaya Satria.


Saat itu juga terjadilah pertarungan antara mereka yang menuntut keadilan untuk hal yang mereka anggap itu adalah sebuah kebenaran. Mereka tidak takut lagi jika nyawa mereka adalah taruhannya. Mereka tetap menyerang satu sama lainnya. Jaya Satria dengan jurus-jurus yang ia miliki, ia menghalau mereka semua yang coba-coba untuk menghentikan langkahnya.


"Kalian harus membayar kematian anak dan istriku!." Prabu Bumi Jaya juga sedang dikuasai oleh amarahnya, hingga tanpa segan-segan lagi ia menyerang mereka semua.


"Kalian harus membayar kematian ibunda, juga adik yang aku sayangi." Raden Bumi Putra juga menyerang mereka semua dengan jurus yang ia pelajari selama ini.


Apakah Raden Cakara Casugraha tidak bisa lagi menggunakan kata-kata yang lebih halus?. Apakah karena mereka telah menyakiti, juga membuat hati kakaknya sedih, sehingga ia melakukan itu?. Temukan jawabannya. Jangan lupa dukungannya ya pembaca tercinta.

__ADS_1


...***1...


__ADS_2