RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
TIDAK TERIMA, PROTES?.


__ADS_3

...***...


Mereka semua ingin mengetahui, bagaimana ceritanya Raden Cakara Casugraha memiliki kekasih?. Mereka tidak menyangka jika apa yang dikatakan oleh Raden Cakara Casugraha pada saat itu sungguh-sungguh. Mereka pikir, itu hanya alasan saja untuk menghindari perjodohan dengan putri Cahya Candrakanti. Tapi ternyata memang ia memiliki seorang kekasih yang berpisah untuk sementara waktu karena keadaan?. Dan takdir kini telah mempertemukan mereka?.


"Coba jelaskan pada ibunda nak. Apakah kalian saling jatuh cinta?. Tapi kenapa kalian berpisah begitu lama?. Apakah tidak khawatir akan terjadi sesuatu pada kalian suatu hari nanti?." Ratu Dewi Anindyaswari mengeluarkan pertanyaan beruntun pada anaknya.


"Benar nanda prabu. Ini sangat mengejutkan kami semua. Apakah nanda prabu bisa menjelaskan pada kami semua mengenai itu?." Ratu Gendhis Cendrawati juga merasa penasaran akan kisah asmara yang dialami anaknya itu.


"Apakah rayi prabu telah membuat janji setelah berpisah dengan nini cahaya mutiara?. Tapi kenapa rayi tidak menceritakan pada kami?."


"Katakan pada kami nanda prabu. Rasanya ini kabar yang sangat mengejutkan."


"Benar rayi prabu, katakan pada kami yang sebenarnya."


Hanya Raden Rajaswa Pranawa saja yang tidak bertanya. Karena ia memang tidak mengetahui masalah ataupun mengetahui jika raja muda itu telah memiliki kekasih. Rasanya Jaya Satria ataupun Prabu Asmalaraya Arya Ardhana hampir saja menyerah menghadapi pertanyaan mereka semua yang menyerbu dirinya. Menuntut jawaban darinya.


"Maaf sebelumnya ibunda, yunda, juga syekh guru. Memang nanda belum menceritakan masalah ini ibunda, yunda, syekh guru."


"Benar ibunda, yunda, juga syekh guru."


"Tapi kenapa rayi prabu?."


"Itu karena aku belum yakin."


"Belum yakin?." Secara bersamaan mereka bertanya seperti itu. Rasanya sangat aneh.


"Apa yang membuat rayi prabu tidak yakin?. Apakah rayi masih memiliki tambatan hati yang lain?." Putri Andhini Andita hampir saja tidak percaya jika adiknya memiliki keraguan dihatinya?.


"Bu-bukan seperti itu yunda." Jaya Satria terkejut mendengarnya. "Karena kami telah berjanji. Jika kami berpisah karena Allah. Perasaan yang tumbuh dihati kami juga karena Allah. Jika suatu hari nanti kita bertemu lagi, itu artinya kita dijodohkan karena Allah SWT. Sama seperti yunda agniasari ariani, juga raden rajaswa." Ia berusaha untuk menjelaskan pada kakaknya mengenai alasan yang sebenarnya.


"Lalu apakah nanda prabu akan menikah dengan nini cahaya mutiara?. Apakah itu yang ingin nanda katakan pada kami?." Ratu Dewi Anindyaswari hanya ingin memastikan apa yang diinginkan anaknya setelah bertemu dengan kekasihnya itu?.


Jaya Satria melirik ke arah Nini Cahaya Mutiara. "Itu semua tergantung pada nini cahaya mutiara. Apakah bersedia mau menjadi permaisuri nanda, atau menolaknya. Nanda tidak bisa memaksanya." Jaya Satria dan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil menatap Nini Cahaya Mutiara.


"Suatu kehormatan bagi hamba gusti prabu." Ia memberi hormat pada Raden Cakara Casugraha. "Hamba tidak menyangka, jika jaya satria adalah raja agung kerajaan suka damai. Rasanya hamba sangat tersanjung sekali menerima lamaran ini." Ada rona kebahagiaan yang terpancar diraut wajah Nini Cahaya Mutiara.


Akan tetapi, mereka semua terkejut karena suara Putri Andhini Andita yang sangat menentang perjodohan Raden Cakara Casugraha adiknya dengan wanita yang baru saja mereka kenal?. "Aku, tidak terima begitu saja!." Hatinya merasa sakit karena membayangkan adiknya akhirnya bersama wanita lain?.


"Yunda?."


"Nanda andhini andita?."


"Rayi andhini andita?."


"Aku tidak akan menerimanya!." Perasaan Putri Andhini Andita saat ini bercampur aduk. Ia sangat tidak terima, ia pergi dari sana, karena ia tidak tahan dengan kondisi seperti itu.

__ADS_1


"Yunda." Jaya Satria hendak mengejar Putri Andhini Andita, namun ditahan oleh Ratu Gendhis Cendrawati.


"Tidak apa-apa nanda prabu. Biarkan ibunda yang berbicara dengannya. Nanda tetaplah di sini." Ratu Gendhis Cendrawati mencoba untuk tersenyum. Rasa malu menyelimuti dirinya sendiri karena sikap anaknya.


"Maafkan nanda ibunda." Raden Cakara Casugraha atau Jaya Satria merasa bersalah. Karena telah membuat kakaknya pergi dalam keadaan marah.


"Tidak apa-apa nak." Ratu Gendhis Cendrawati mencoba untuk memahami situasinya, karena memang sulit untuk dikendalikan.


"Maaf, jika kedatangan hamba tidak tepat waktu."


"Tidak apa-apa nini. Terima kasih telah datang. Jika tidak, kami akan kehilangan rayi prabu. Mungkin juga kau tidak akan pernah bertemu lagi dengan jaya satria adikku."


"Kalau begitu beristirahat lah nak. Kalian semua pasti lelah setelah kembali dari alam sukma."


"Baiklah ibunda. Setelah ini akan nanda ceritakan semuanya."


"Kalau begitu kami pamit dulu nada prabu."


"Terima kasih syekh guru mau datang ke istana."


"Tentu saja nanda prabu masih tanggung jawab hamba. Semoga nanda lekas sembuh."


"Lalu bagaimana dengan nini cahaya mutiara?. Apakah masih mau bersama rayi prabu?. Atau mau beristirahat di wisma tamu?."


"Baiklah kalau begitu. Ikutlah denganku."


"Terima kasih atas kebaikan gusti Putri."


"Kalau begitu kami pamit dulu rayi prabu, jaya satria. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh."


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh."


"Sampurasun."


"Rampes."


Mereka semua telah meninggalkan bilik Raden Cakara Casugraha. Mereka membiarkan Raden Cakara Casugraha memberikan waktu untuk beristirahat setelah diobati.


"Apakah kita perlu belah raga seperti awal?."


"Yang berhak memegang tahta, tentunya yang asli. Jadi aku akan kembali ke dalam dirimu. Kita bisa berpisah ataupun bersama."


"Baiklah, jika memang itu permintaan gusti prabu." Jaya Satria mengangguk setuju. Toh, baik dirinya ataupun Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, tetaplah satu orang. Raden Cakara Casugraha yang tidak bisa tergantikan.


...****...

__ADS_1


Sementara itu, para sepuh istana saat ini sedang rapat. Mereka telah mendengarkan kabar buruk tentang Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang saat ini masih sakit?.


"Kabar yang beredar, ternyata nanda prabu memiliki dua raga. Jaya satria adalah raga asli dari raden cakara casugraha. Sementara itu, yang memimpin tahta selama ini adalah raga kedua dari raden cakara casugraha. Lalu bagaimana dengan pendapat kalian semua?."


"Tapi itu adalah permintaan dari mendiang gusti prabu kawiswara arya ragnala. Lagipula, baik raga kedua atau raga yang asli, tetaplah keduanya raden cakara casugraha. Lalu apa yang harus dipermasalahkan?."


"Itu benar. Raden cakara casugraha melakukan sesuai dengan perintah dari ayahandanya. Jika kalian berada diposisi beliau, kalian juga tidak akan sanggup menolak permintaan ayahanda kalian bukan?."


Sepertinya mereka telah mengetahui, jika Raden Cakara Casugraha memiliki dua raga. Mereka ada yang setuju, dan ada yang merasa keberatan.


"Tapi tetap saja. Harusnya menggunakan raga yang asli. Tidak bisa menggunakan raga kedua."


"Apakah ada masalah dengan raga pertama?. Sehingga harus menggunakan raga kedua?. Apakah dia takut tidak diterima oleh singgasana itu, sehingga ia menggunakan raga keduanya?."


"Jaga ucapan kalian. Nanda prabu adalah anak yang baik. Kita memang mengetahui masa lalu nanda prabu itu seperti apa. Tapi kalian jangan berpikiran buruk pada nanda prabu."


"Kalau begitu kita tes sekali lagi. Apakah raga asli dari raden cakara casugraha pantas menduduki tahta atau tidak."


"Ya, lakukan sekali lagi. Buktikan jika raga asli tidak memiliki masalah apa-apa."


"Baiklah. Kalau begitu mari kita sama-sama menghadap nanda prabu. Jika apa yang kalian khawatirkan tidak terbukti. Maka kalian akan mendapatkan hukuman, karena telah berani meragukan tahta sah dari nanda prabu."


"Begitu juga dengan kau!. Jika terbukti apa yang kami katakan. Maka kau duluan yang akan kami hukum."


Ada dua kubu yang saling bermusuhan. Apakah ada jalan penyelesaiannya?. Mereka mempertahankan pendapat mereka masing-masing. Saat ini mereka hendak menuju bilik Raden Cakara Casugraha. Akan tetapi mereka semua tidak sengaja bertemu dengan Raden Hadyan Hastanta dan juga Aki Jarah Setandan.


"Sampurasun. Para sepuh istana."


"Rampes. Raden hadyan hastanta."


"Tidak biasanya para sepuh, serta petinggi istana ramai seperti ini. Memangnya mau kemana?."


"Begini raden. Kami semua telah mengetahui, jika yang memegang tahta kerajaan adalah raga kedua nanda prabu. Mereka ada yang tidak terima raden."


"Benar raden. Bukankah itu tindakan yang curang?. Mengapa tidak raga asli?. Apakah ada masalah dengan raga asli?."


"Mengapa kalian merasa keberatan jika raga kedua adikku yang memegang tahta?. Raga aslinya melindungi istana ini dari luar. Apakah kalian tidak mengetahui betapa beratnya tanggungjawab yang harus dipikul oleh rayi prabu demi menjaga keamanan kerajaan ini?." Raden Cakara Casugraha sangat marah dengan apa yang mereka katakan. "Apakah kalian tidak pernah peduli dengan kesehatan rayi prabu?. Apakah kalian merasa suci?. Sehingga ingin menuntut adikku cakara casugraha?. Apakah kalian selama ini pernah bertanya bagaimana keadaan adikku?. Apakah kalian pernah mencarikan tabib jika adikku sakit?." Begitu banyak pertanyaan beruntun keluar dari mulut Raden Hadyan Hastanta. "Aku sangat tidak suka dengan apa yang kalian lakukan. Sebaiknya kalian jangan menambah beban adikku. Karena saat ini adikku cakara casugraha sedang sakit. Apakah kalian tidak mendengar kabar, bahwa raja kalian sedang sekarat hanya demi kedamaian kerajaan ini?."


Mereka semua terdiam mendengarkan apa yang dikatakan oleh Raden Hadyan Hastanta. Memang mereka akui, tidak melakukan itu. Apakah adil rasanya menuntut sang prabu dalam keadaan sakit?. Saat itu Ratu Dewi Anindyaswari datang, karena prajurit mengatakan, jika Raden Hadyan Hastanta telah datang bersama Aki Jarah Setandan.


"Ada apa ini putraku?. Kenapa nanda terlihat marah nak?. Bukankah nanda baru saja sampai?."


Bagaimana tanggapan Raden Cakara Casugraha?. Temukan jawabannya. Huu lemas bestie, karena tidak disemangati ayang wkwkwkwk kabur, sampai bedug azan magrib. Selamat menunaikan ibadah puasa ya pembaca tercinta.


...***...

__ADS_1


__ADS_2