RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
PANGGILAN SUARA


__ADS_3

"Ibunda takut terjadi sesuatu pada nanda prabu. Ibunda sangat mencemaskannya." Kegelisahan yang ia rasakan, adalah kegelisahan seorang ibu yang selalu memikirkan anaknya.


"Tenanglah ibunda. Mungkin rayi prabu sedang, mengerjakan sesuatu yang sangat penting. Sehingga ia belum juga keluar dari ruangannya." Putri Andhini Andita berusaha menenangkan Ratu Dewi Anindyaswari.


"Tenanglah ibunda. Nanda yakin, nanda prabu sebentar lagi akan keluar." Begitu juga dengan Raden Hadyan Hastanta.


"Ya Allah. Apa yang terjadi pada putra hamba." Kecemasan yang ia rasakan beberapa hari ini, membuatnya sangat gelisah.


"Prajurit." Putri Andhini Andita memanggil dua orang prajurit yang berjaga di depan ruangan itu.


"Hamba gusti putri." Keduanya memberi hormat pada Putri Andhini Andita, Raden Hadyan Hastanta, dan Ratu Dewi Anindyaswari.


"Apa yang dikatakan oleh gusti prabu, sebelum ia memasuki ruangan pribadinya?." Putri Andhini Andita bertanya.


Kedua prajurit itu saling berpandangan satu sama lain. Apakah mereka akan menjawabnya?.


"Katakan prajurit. Apakah putraku, nanda prabu mengatakan sesuatu pada kalian?." Ratu Dewi Anindyaswari mendesak kedua prajurit itu untuk menjawab pertanyaannya.


"Mohon ampun gusti putri, gusti ratu. Gusti prabu mengatakan, jika beliau mau melakukan sesuatu. Jadi larang siapa saja yang masuk ke ruangan pribadi raja. Jika ada keperluan, tunggulah sampai sholat ashar masuk."


"Begitulah pesan gusti prabu, sebelum beliau masuk ke ruangan pribadi raja. Mohon ampun gusti ratu, gusti ratu."


Kedua prajurit itu telah menjelaskan kepada Ratu Dewi Anindyaswari, Putri Andhini Andita dan Raden Hadyan Hastanta.


"Terima kasih prajurit. Jika memang itu yang dikatakan oleh putraku, nanda prabu. Kami tidak akan mengganggunya, hingga masuk ashar nanti." Ratu Dewi Anindyaswari mencoba untuk memahami apa yang dilakukan oleh putranya.


"Kalau begitu, lanjutkan tugas kalian. Tetaplah berjaga-jaga." Putri Andhini Andita memerintahkan kedua prajurit itu untuk kembali ke tempat mereka.


"Sandika gusti putri." Setelah memberi hormat pada Ratu Dewi Anindyaswari, Putri Andhini Andita, dan Raden Hadyan Hastanta. Kedua prajurit itu kembali ke tempat semula. Sesuai dengan perintah Raja mereka, agar terus berjaga-jaga di sekitar ruang pribadinya.


"Lalu apa yang akan kita lakukan ibunda?. Saat ini rayi prabu tidak ingin diganggu." Putri Andhini Andita sedikit bingung.

__ADS_1


"Jika memang itu yang diinginkan oleh nanda prabu, kita harus bersabar menunggunya. Semoga saja nanda prabu baik-baik saja." Itulah harapan dari seorang ibu pada anaknya.


"Kalau begitu, kita menemui ibunda gendhis cendrawati saja. Karena ibunda sudah menyiapkan hadiah untuk lamaran nanti." Ucap Raden Hadyan Hastanta.


"Baiklah kalau begitu. Mari kita bersama-sama ke sana." Ratu Dewi Anindyaswari mencoba untuk tersenyum, ia tidak boleh mengabaikan perasaan lain yang mencoba akrab dengan dirinya.


"Mari ibunda." Dengan sopannya Raden Hadyan Hastanta mempersilahkan Ratu Dewi Anindyaswari berjalan duluan di depannya.


Untuk sementara ini, mereka mencoba memahami apa yang diinginkan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Mungkin mereka nanti akan bertanya, mengapa tidak boleh ada yang masuk ke sana. Mau tau jawabannya?. Baca terus ceritanya.


...***...


Di dalam ruang pribadi Raja.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana berusaha menahan kantuknya. Akan tetapi rasa kantuk itu semakin menjadi-jadi, sehingga ia tidak lagi dapat menahannya, dan berakhir tidur dengan posisi duduk.


Di saat yang bersamaan. Di kaki Gunung Menawan Batin. Aki Jarah Setandan melihat Jaya Satria yang sedang tertidur pulas sambil menyandar di kursi yang ada di pondok itu.


"Begitu banyak beban yang engkau tanggung, membuat engkau menjadi pribadi yang berbeda dari yang lainnya." Rasa simpati itu, selalu ada di dalam hatinya.


"Bahkan kau masih menanggung beban ketika tidur nak. Sungguh aku tidak tega melihat keadaanmu yang seperti ini." Aki Jarah Setandan hendak memindahkan Jaya Satria menuju bilik kecil, yang ada di dalam pondoknya. Ia tidak tega melihat Jaya Satria yang tertidur dengan posisi seperti itu.


"Mungkin engkau lelah, karena menempuh perjalanan yang sangat jauh." Lanjutnya lagi. Ia hampir saja menggendong Jaya Satria.


Namun apa yang terjadi ketika ia hendak memindahkan Jaya Satria atau nama aslinya Raden Cakara Casugraha?. Entahlah siapa yang tahu, Jaya Satria itu siapa. Karena belum ada penjelasan yang pasti mengenai dirinya saat ini. Akan tetapi yang pasti saat ini adalah.


DEG


Aki Jarah Setandan terkejut, ketika hendak memindahkan Jaya Satria. Tangannya terasa tersentrum sesuatu yang menyengat. Membuatnya terkejut, hingga ia tidak jadi menyentuh tubuh Jaya Satria yang sedang tertidur.


"Demi dewata yang agung. Sepertinya, tombak pusaka terkutuk itu mencoba mengambil alih tubuh jaya satria dengan memasuki alam mimpinya." Raut wajahnya begitu ketakutan.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan untuk membantunya." Aki Jarah Setandan harus memikirkan cara membangunkan Jaya Satria, sementara ia tidak bisa menyentuh muridnya itu.


Di alam bawah sadar Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria. Keduanya berjalan jauh, sangat jauh ke dalaman hutan.


"Berjalanlah terus, jangan berhenti." Suara seseorang seakan menuntun mereka agar mencari sumber suara itu.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria saling bertatapan satu sama lain. Sebenarnya mereka tidak mau mengikuti suara itu, akan tetapi tubuh mereka yang bergerak begitu saja. Karena itulah mereka tidak bisa berhenti, meskipun hati mereka mengatakan agar tidak ke sana.


Setelah berjalan agak lama, keduanya berhenti di sebuah batu besar, dimana tertancap sebuah tombak.


"Tidak salah lagi. Itu adalah tombak pusaka kelana jaya."


"Ya. Gusti prabu benar. Tapi mengapa ia menuntut kita kemari?."


"Aku yang memanggil kalian." Tiba-tiba saja tombak pusaka itu berubah menjadi sosok manusia. Sosok itu sepertinya orang dewasa, yang sangat gagah, kuat dan perkasa. Sayangnya, wajahnya terlihat sangat gahar, tidak bersahabat sama sekali.


Membuat keduanya merasakan hawa yang tidak menyenangkan sama sekali. Seperti ada hawa permusuhan, yang sedang ditebarkan oleh orang itu terdapat keduanya.


"Sampurasun." Keduanya memberi hormat pada orang itu. Berharap akan ada kata baik yang akan mereka dapatkan ketika bersikap ramah padanya.


Belum ada jawaban. Orang itu masih meneliti keduanya, dengan raut wajah yang kusut. Ia terlihat mendalami apa yang ia lihat pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria.


"Rampes." Setelah agak lama, akhirnya ia menjawab salam dari keduanya. Namun siapa sangka, raut wajah itu perlahan-lahan berubah menjadi lebih ramah, dari yang sebelumnya.


Tentunya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria terlihat heran. Apakah ada orang yang mengalami perubahan raut wajah begitu cepat, setelah seseorang mengucapkan salam padanya?. Entahlah, tidak ada yang tahu dengan itu.


"Mohon maaf kisanak. Jika kami boleh tahu, siapakah kisanak ini?. Mengapa memanggil kami untuk datang ke sini?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana ingin mengetahui alasannya.


Tapi apakah jawaban dari Pria gagah itu?. Temukan jawabannya. Jangan lupa berikan komentar.


Pertanyaannya. Apakah ia seorang pangeran juga?. Atau seorang Raja?. Atau seorang kesatria?. Jawab di kolom komentar. Jangan lupa like, tambahkan favorit jika belum, dan jangan lupa vote. Juga penilaian cerita. Agar author yang tidak berwujud ini semangat lanjutin lagi. Salam cinta untuk pembaca tercinta.

__ADS_1


__ADS_2