RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
TULUS DAN KESUNGGUHAN


__ADS_3

...***...


Mereka semua terdiam mendengarkan apa yang dikatakan ratu Dewi Anindyaswari.


"Saya mohon pada kalian semua. Tetaplah tenang. Jangan sampai kalian mencelakai orang lain, juga mencelakai diri sendiri hanya karena informasi yang kita dapatkan." Ratu Dewi Anindyaswari benar-benar mencoba untuk menjelaskan kepada mereka dengan baik-baik. Agar mereka semua mengerti apa yang akan ia sampaikan.


"Apakah kalian masih meragukan raja kalian?. Apakah kalian tidak memiliki nurani, sehingga kalian menggunakan kekerasan di atas segalanya?." Ratu Dewi Anindyaswari bertanya, karena mereka sangat rusuh.


"Di dunia ini. Ada rahasia yang harus disimpan oleh seorang raja dari siapapun. Bahkan dari orang terdekatnya." Ucap Ratu Dewi Anindyaswari menatap mereka semua.


"Dulu, bahkan mendiang ayahanda says, juga memiliki seorang abdi, yang ia percayai untuk melindungi rakyatnya. Tidak pernah ia katakan pada siapapun, bahkan termasuk saya." Ratu Dewi Anindyaswari masih mengingat itu.


"Kami semua mengetahui jika ia adalah abdinya, setelah ayahanda prabu meninggal." Lanjutnya lagi.


"Saya percaya, jika abdi yang bekerja dibawah perintah mereka. Itu adalah orang-orang yang sangat mereka percayai." Ratu Dewi Anindyaswari mengatakan semuanya. "Termasuk nanda prabu. Saya percaya, jika apa yang dilakukan nanda prabu adalah demi melindungi kita semua."


Mereka semua menyimak, dan memikirkan apa yang dikatakan oleh ratu Dewi Anindyaswari.


"Terima kasih karena ibunda telah menjelaskan kepada mereka semua." Dalam hati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa bersyukur.


"Ratu dewi anindyaswari memang luar biasa. Auranya memancarkan kasih sayang, jadi wajar saja putranya seperti itu."


Syekh Asmawan Mulia kagum dengan apa yang dilakukan oleh ratu Dewi Anindyaswari.


"Jangankan seorang raja. Kita orang biasa saja, tentunya memiliki rahasia pribadi, yang tidak bisa dikatakan pada siapapun, bukan?." Ratu Dewi Anindyaswari bertanya kepada mereka semua. Sedangkan mereka hanya menganggukkan kepala mereka tanda benar apa yang dikatakan oleh Ratu Dewi Anindyaswari.


"Entah itu rahasia baik atau buruk. Namun rahasia tetaplah rahasia." Lanjutnya. "Jadi saya mohon jangan sampai terjadi kesalahpahaman. Cerna dulu masalahnya. Jangan sampai terjadi perpecahan diantara kita, hanya karena kabar yang tidak bisa dipertanggungjawabkan itu." Rasanya sangat miris karena masalah ini. Ratu Dewi Anindyaswari hanya ingin mereka mengerti dalam bertindak.


"Untuk sekarang. Jika terjadi sesuatu, atau apapun yang mengenai istana ini. Saya mohon kalian melalui adipati, atau orang yang memimpin kalian untuk datang kepadaku baik-baik. Maka aku akan mendengarkannya." Kali ini sang prabu yang berbicara.


"Allah SWT maha mendengar. Allah SWT mendengar apa saja yang ada didalam hati atau bahkan lisan hambanya." Ucap Sang Prabu. "Sedangkan saya seorang raja, yang kecil kekuasaannya dari Allah SWT. Tidak mungkin saya tidak mendengarkan keluhan kalian selama ini."


"Jika kalian datang dengan baik-baik. kami akan menanggapinya dengan baik-baik pula." Sang prabu menatap mereka dengan tatapan yang sangat teduh.


"Kami juga manusia yang punya salah. Jadi saya mohon pada kalian semua, jangan gegabah dalam bertindak. Saya tidak ingin menimbulkan perpecahan, di kerajaan suka damai, yang telah kita bangun dengan susah payah." prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba tersenyum ramah, senyuman yang menawan.


Mereka semua memikirkan apa yang dikatakan oleh sang Prabu. Benar yang dikatakan oleh sang Prabu. Selama beliau memerintah, bahkan sehari beliau memerintah, ia selalu memperhatikan rakyatnya. Menanyakan kekurangan rakyatnya, apa saja yang dibutuhkan oleh rakyatnya.


Mereka semua menyadarinya, memohon ampun pada sang prabu, bersujud dihadapan rajanya.


"Kalian semua berdirilah. Hanya kepada Allah SWT yang patut kalian sembah. Allah maha besar, kebesarannya tidak ada yang bisa mengukurnya."


Masalah yang dihadapi oleh prabu Asmalaraya Arya Ardhana akhirnya selesai dengan damai.


Namun Raden Ganendra Garjitha dan saudara-saudaranya yang lainnya tidak terima. Mereka tidak menyangka bahwa adiknya mendapatkan kepercayaan lagi dimata rakyatnya.


"Sia-sia saja yang kita lakukan."


Raden Ganendra Garjitha mengutuk dalam hatinya, ia sudah kehilangan ide saat mereka semua pergi meninggalkan istana. "Lain kali, akan aku lakukan dengan cara yang berbeda." Hatinya bergemuruh dipenuhi kedengkian yang luar biasa.


"Kenapa malah jadi seperti ini?." Raden Gentala Giandra tidak percaya mereka menurut begitu saja pada rajanya?.


"Aku harus melakukan cara lain." putri Andhini Andita masih penasaran ingin membongkar identitas Jaya Satria.


Raden Ganendra Garjitha dan saudara-saudaranya yang lainnya terpaksa meninggalkan tempat itu juga dari pada dicurigai.


"Ibunda." prabu Asmalaraya Arya Ardhana mendekati ibundanya. "Terima kasih, karena telah membantu nanda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memeluk ibundanya.


"Sama-sama nak. Ibunda tadi sangat mencemaskan keadaanmu." Ratu Dewi Anindyaswari mengusap punggung putranya dengan sayang.


"Kalau begitu kita kembali ke dalam istana."


Pedanda dan bawahannya termasuk senopati kembali ke dalam istana, termasuk Syekh Asmawan Mulia dan istrinya. Mereka cukup terkesan dengan apa yang telah dilakukan oleh Ratu Dewi Anindyaswari dalam membantu anaknya menyelesaikan masalah yang terjadi.


"Ibunda juga ayo masuk!." Prabu Asmalaraya Arya mempersilahkan ibunda masuk.


"Ibunda akan masuk bersama kalian nak." Ratu Dewi Anindyaswari menatap keduanya. Membuat keduanya sedikit bingung. Apa maksud ucapan dari Ratu Dewi Anindyaswari?.


"Tapi sebelum itu, mari kita keruang pengobatan. Biarkan ibunda obati luka ditangan kalian nak."


Rasanya Ratu Dewi Anindyaswari tidak dapat menyembunyikan kesedihannya, ia menarik pelan tangan kiri Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria. Entah mengapa keduanya gugup dengan apa yang dilakukan oleh Ratu Dewi Anindyaswari.

__ADS_1


"Jadi ibunda menyadarinya?." Perasaan was-was menghampirinya. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedikit khawatir.


"Ya Allah. Kuatkan hati hamba." perasan gugup karena mendapatkan perhatian seorang ibu, membuat Jaya Satria merasa canggung.


"Ibunda tidak tahu apa yang terjadi. Tapi hati ibunda mengatakan, ingin melindungi kalian berdua nak." Sang ratu memeluk keduanya. Sehingga menangis adalah ungkapan perasaannya saat ini.


"Ibunda. Pada saatnya nanti, nanda akan menceritakannya pada ibunda. Percayalah dengan apa yang nanda ucapkan."


Bisik prabu Asmalaraya Arya Ardhana membuat Ratu Dewi Anindyaswari semakin menangis.


keduanya memeluk erat Ratu Dewi Anindyaswari dengan penuh kasih sayang.


Meskipun ia tidak mengerti apa yang terjadi. Tapi ia percaya bahwa putranya melakukan yang terbaik, sama seperti mendiang suaminya dulu.


...***...


Setelah seminggu berada di telaga warna bidadari, putri Gempita Bhadrika kembali ke istana. Ia ingin memastikan bahwa ayahandanya sudah baikan. Ia memeriksa kamar, namun ia tidak menemukan ayahandanya?.


"Ayahanda?."


Ia memeriksa istana dan mencari keberadaan ayahandanya. Namun saat di belakang Istana ia melihat ayahandanya sedang duduk?.


"Ayahanda!." Ia tidak percaya jika ayahandanya berada di sini?.


"Putriku. Kau sudah kembali."


Senyuman prabu Wajendra Bhadrika sangat sumringah, melihat putri yang ia cintai kembali dari luar?.


"Ayahanda. Aku sangat merindukan ayahanda."


Rasa rindu itu tidak bisa ia tahan lagi, dengan eratnya ia memeluk ayahandanya.


"Kau kemana saja putriku?. Ayahanda juga merindukanmu." Begitu ia melepaskan pelukannya, ia bertanya kepada putrinya.


"Maafkan aku ayahanda. Aku sedang keluar istana untuk menghilangkan kegelisahanku, karena ayahanda belum kunjung bangun."


Mereka duduk di kuris taman istana, sambil mengobrol sebagai ayah dan anak.


"Tentu saja ayahanda. Aku akan melakukan apa saja demi ayahanda prabu." putri Gempita Bhadrika sangat senang, begitu juga dengan prabu Wajendra Bhadrika.


"Ayahanda. Saat aku mengambil air telaga warna bidadari, aku tidak menyangka bahwa nini kabut bidadari adalah abdi ayahanda. Dan aku belajar ilmu kanuragan darinya." putri Gempita Bhadrika menceritakan semua yang ia alami selama belakangan ini.


"Nini kabut bidadari?." Prabu Wajendra Bhadrika nampak berpikir, ia pernah mendengar nama itu.


"Oh ya. Dia adalah seorang pendekar dengan jurus kabut beracun yang mematikan." Ia baru ingat dengan apa yang dikatakan oleh anaknya.


"Dulu memang wanita itu adalah abdi ayahanda. Lalu bagaimana dengan keadaannya?. Sudah lama sekali ayahanda tidak mendengar kabarnya." Ia tidak akan pernah melupakan itu. Wanita yang berjasa di dalam hidupnya di masa lalu.


"Keadaannya baik-baik saja ayahanda. Aku senang berlatih dengan orang cerdas seperti nini kabut bidadari." Senyuman itu menunjukkan suasana hatinya yang bahagia. Begitu juga dengan prabu Wajendra Bhadrika.


"Tapi ayahanda!." Raut wajah itu berubah lagi. Kali ini terlihat sangat sedih.


"Ada apa putriku?. Apa yang terjadi selama ayahanda tertidur?." Sang prabu ingin mengetahuinya.


"Aku mendapatkan kabar, bahwa prabu Kawiswara Arya Ragnala telah meninggal. Setelah bertarung dengan ayahanda." Ia mengatakan kepada ayahandanya dengan wajah bahagia?.


"Benarkah?. Benarkah yang kau katakan itu putriku." Ia tidak salah dengar?.


"Benar ayahanda. Anak buahnya nini kabut bidadari yang mengatakan itu " ia berkata dengan sungguh-sungguh.


"Jadi?. Itu artinya istana kerajaan suka damai dalam keadaan kosong?." Hatinya merasa bangga?. Dapat mengalahkan raja agung itu?.


"Tidak ayahanda!. Raja baru kerjaan kerajaan suka damai sekarang bernama prabu asmalaraya arya ardhana. Dia adalah putra bungsunya, dia yang menggantikannya." Putri Gempita Bhadrika mengatakan informasi yang ia dapatkan semuanya.


"Raja baru kah?." Ia mengepalkan kuat tangannya. Hatinya telah dipenuhi oleh rasa geram yang membuncah.


"Aku pikir aku akan berhasil menaklukkan kerajaan suka damai dengan sempurna. Tapi siapa sangka masih ada yang bisa menjadi raja?. Jadi singgasana itu menerima salah satu anak dari raja busuk itu?." Ia tidak menyangka itu bisa terjadi.


"Tapi aku tidak perlu khawatir. Dia hanyalah anak ingusan. Jadi akan mudah bagiku untuk mengambil kerajaan itu darinya. Hanya sekali sentil sudah tumbang dia." Begitu rendahnya pandangannya terhadap raja baru


"Tidak semudah itu ayahanda." Putrinya langsung membantah anggapan ayahandanya.

__ADS_1


"Apa maksudmu, putriku?." Raut wajah itu mengernyit heran.


"Saat aku, nini kabut bidadari dan anak buahnya, mencoba untuk membuat kekacauan di sana sembari menunggu ayahanda sembuh. Kami bertarung dengan salah satu bawahannya, tapi kami tidak mengetahui siapa dia." Putri Gempita Bhadrika sangat ingat dengan sosok itu.


"Dia menggunakan topeng penutup wajah, ilmu Kanuragan sangat tinggi. Dia menggunakan jurus petir menutup aliran darah ayahanda." Ia masih merasakan betapa ngerinya jurus itu.


"Andai saja aku tidak ditolong oleh nini kabut bidadari. Mungkin aku tidak bisa kembali ke istana ini dengan selamat ayahanda." Ia tidak akan mengingat kejadian buruk yang menimpanya.


"Apa?. jurus petir menutup aliran darah?." Prabu Wajendra Bhadrika tidak menyangka, akan mendengarkan nama salah satu jurus yang sangat berbahaya itu.


"Kau terkena jurus berbahaya itu putriku?." ia memastikannya


"Ia ayahanda. Aku memang terkena jurus itu." Ia tidak berbohong sama sekali.


"Aku kira aku akan mati. Tubuhku mati rasa. Aku tidak dapat bergerak karena pengaruh jurus itu." Ia menceritakan apa yang ia rasakan setelah merasakannya sendiri.


"Jurus itu memang jurus yang mematikan. Bagaimana mungkin bawahan raja baru itu memiliki jurus itu?." Rasanya tidak percaya, hingga ia terbawa emosi.


"Bukan hanya jurus itu saja ayahanda. Konon menurut nini kabut bidadari, kekasihnya aki dharma seta, juga tewas ditangan orang itu dengan jurus cakar naga cakar petir." Putri Gempita Bhadrika menceritakan tentang Nini Kabut Bidadari yang kehilangan orang yang dicintainya.


Prabu Wajendra Bhadrika melotot tidak percaya. "Aki dharma seta yang terkenal dengan jurus pukulan telapak tangan dewa kematian terbunuh ditangan orang itu?. Ini benar-benar mustahil." Tidak!. Ia tidak percaya sama sekali.


"Tapi itulah yang terjadi ayahanda. Kita harus memikirkan matang-matang, jika ingin menyerang raja baru itu." Putri Gempita tidak mungkin salah dalam berbicara.


"Ini adalah musibah." Dalam hatinya mengutuk orang yang telah membunuh Ki Dharma Seta. "Tapi aku tidak akan diam saja. Kerajaan itu tetap akan aku kuasai." Ya, tekadnya dari awal sudah bulat, bahwa ia tidak akan merubah keinginannya.


"Kalau begitu kita akan menghubungi raja-raja jin, serta raja-raja kegelapan lainnya untuk bergabung dengan kita, untuk menyerang kerajaan suka damai." Ya, itulah satu-satunya cara yang terpikirkan saat ini. Suasana hatinya sedang kacau saat ini.


Apakah ia bisa menghadapi raja baru dan pengikutnya itu?. Temukan jawabannya.


...***...


Putri Andhini Andita saat ini berada di taman istana. Ia duduk di bawah pohon rindang yang sekitarnya dipagari bunga-bunga cantik. Di tengahnya ada kursi dan meja yang terbuat dari bata?.


Suasana hatinya tidak nyaman, setelah kegagalannya dan juga saudaranya yang lainnya membuat perasaannya gusar.


"Tidak perlu cemberut seperti itu, gusti putri." Tiba-tiba suara seseorang menyapa dirinya. Ia sedikit terkejut, dan mencari sumber suara itu.


Namun ia lebih terkejut lagi, ternyata dia adalah Jaya Satria yang sedang duduk di rerumputan. Menyandarkan tubuhnya ke bunga-bunga yang tingginya sebatas pinggang. Jadi jika dilihat dari jauh, hanya putri Andhini Andita saja yang duduk di sana, karena mereka tidak melihat keberadaan Jaya Satria.


"Tidak baik seorang putri raja merenung jauh. Nanti cepat tumbuh kerutan di wajahnya." Meskipun sebagian wajah itu tertutup oleh topeng, namun masih bisa melihat senyumannya.


"Kau!. Untuk apa kau kemari?." Rasa kesal menyelimuti hatinya.


"Bukankah kau ingin melihatku dari jarak dekat?. Bukankah rasa penasaranmu, membuatmu dan saudara-saudaramu yang lainnya, menyebarkan fitnah tentang prabu asmalaraya arya ardhana?." Ucapan itu sangat tepat mengenai apa yang terjadi.


"Apa maksudmu?. Kau mencoba menuduhku berbuat jahat pada rayi prabu?." Bentaknya dengan suara keras.


"Aku tidak menuduhmu gusti putri. Hanya berkata yang sebenarnya. Bahwa kau berkali-kali mengintip ruang pribadi raja, sehingga rasa penasaran yang timbul dihatimu. Setelah itu, rasa penasaran itu telah berganti dengan kebencian yang membuatmu ingin menjatuhkan adikmu sendiri." Jaya Satria ingin membuat Putri Andhini Andita mengakui perbuatannya.


"Diam!. Tutup mulut kurang ajarmu itu!." Ia bangkit dari duduknya. Ia tidak akan membuka rahasianya, ia tidak akan mengatakannya.


"Sama halnya dengan gusti prabu asmalaraya arya ardhana. Dia memiliki rahasia yang seharusnya ia simpan. Tapi kau malah berusaha mengoreknya, sungguh tindakan lancang terhadap raja." Jaya Satria memancing kemarahan putri Andhini Andita.


"Bedebah!. Kau mencoba mengancam ku?" putri Andhini Andita marah, ia mendekati Jaya Satria. Ia hendak memukul Jaya Satria, namun ia mendengar suara kakaknya Raden Hadyan Hastanta.


"Apa yang sedang kau lakukan di sana rayi?. Kepada siapa kau marah-marah?." Raden Hadyan Hastanta merasa aneh dengan tingkah laku adiknya.


"Aku-," Saat ia melihat ke arah bawah, ia tidak lagi melihat keberadaan Jaya Satria.


"Kurang ajar!. Kapan dia pergi?. Cepat sekali dia menghilang?." Matanya tidak lagi melihat sosok itu.


"Ah tidak raka. Aku tadi sedang kesal karena rencana kita gagal semua." Keluhnya mencoba mencari alasan mengapa ia terlihat marah.


"Aku juga sedang kesal. Bagaimana mungkin rencana kita gagal?." Raden Hadyan Hastanta juga merasakannya.


Namun siapa sangka percakapan itu didengar oleh Jaya Satria, yang masih berada di sekitar mereka. Apakah Jaya Satria akan mengatakannya pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana?. Temukan jawabannya.


Next halaman.


...***...

__ADS_1


__ADS_2