
..."*"...
Mereka semua penasaran dengan sosok Jaya Satria. Kenapa ia bisa menggunakan Keris pusaka Keris kembar Naga Penyegel Sukma?. Namun saat itu, tidak ada yang menduga, bahwa Putri Hapsari Iswara (Episode utusan kerajaan.) Ia bersama beberapa penggawa Istana kerajaan Teluk Mutiara.
"Maaf gusti prabu. Jika kedatangan hamba tidak tepat waktu." Putri Hapsari Iswara memberi hormat pada Prabu Lingga Dewa.
"Tidak apa-apa tuan putri. Silahkan duduk." Prabu Lingga Dewa mempersilahkan Putri Hapsari Iswara.
Tapi ada hal yang mengejutkan, ketika Putri Hapsari Iswara melewati Jaya Satria. Ia menatap Jaya Satria agak lama, karena ia pernah bertemu dengan seseorang yang seperti itu sebelumnya.
"Oh. Hormat hamba gusti Prabu." Ia memberi hormat pada Jaya Satria. "Maaf, jika hamba tidak mengenali gusti prabu, karena penampilan gusti prabu. Rasanya hamba tidak percaya bisa bertemu gusti prabu di sini."
Mereka semua tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Putri Hapsari Iswara. Bahkan Prabu Lingga Dewa terkejut, langsung turun dari singgasananya untuk mendekati mereka.
"Apa maksud tuan putri?. Apakah tuan putri mengenali orang bertopeng ini?."
Putri Hapsari menatap Jaya Satria, setelah itu ia tersenyum kecil. "Jadi gusti prabu menyamar lagi, dengan menggunakan nama jaya satria?."
"Gusti prabu?." Prabu Lingga Dewa masih tidak mengerti apa yang terjadi.
"Ayahanda prabu. Pendekar jaya satria sebenarnya adalah gusti Prabu asmalaraya arya ardhana. Itulah alasan mengapa beliau bisa menggunakan keris pusaka kembar keris naga penyegel sukma. Beliau adalah gusti prabu asmalaraya arya ardhana ayahanda prabu." Raden Jatiya Dewa menjelaskan kepada ayahandanya.
"Benarkah itu?. Benarkah engkau adalah prabu asmalaraya arya ardhana?."
Jaya Satria membuka topeng yang menutupi wajahnya itu. Sehingga mereka semua bisa melihat wajah menawan itu.
"Tidak salah lagi. Gusti prabu, hamba masih mengenali aura gusti prabu. Wajah yang tampan, baik hati. Tapi selalu disembunyikan dibalik topeng itu."
"Gusti putri terlalu memuji saya. Tapi saya bersyukur melihat gusti putri di sini. Artinya gusti putri bisa keluar dari lingkaran itu."
__ADS_1
"Itu semua karena bantuan gusti prabu. Dan panggil saja saya hapsari iswara. Rasanya derajat saya terlalu tinggi dipanggil seperti itu oleh gusti prabu."
"Saya tetap menghormati gusti putri sebagaimana saya menghormati yunda saya."
"Jadi begitu. Terima kasih gusti putri."
"Maaf menyela pembicaraan kalian. Apakah tuan putri mengenali mengenali beliau?."
"Meskipun saya sekali bertemu dengan gusti prabu asmalaraya arya ardhana sebagai raden cakara casugraha. Saat itu, beliau datang untuk mengobati ayahanda saya."
"Jadi ayahanda tuan putri, gusti prabu maheswara jumanta telah sembuh?."
"Benar sekali. Beliau lah yang mengobati ayahanda saya."
"Maafkan saya gusti prabu asmalaraya arya ardhana. Maafkan sikap kurang ajar saya yang meragukan kemampuan gusti Prabu." Prabu Lingga Dewa menyesal atas sikapnya. Dengan kerendahan hati ia menghormati Jaya Satria.
"Tidak apa-apa gusti prabu. Bagi saya, saat mengembara. Itu adalah hal yang wajar jika tidak ada yang mengenali saya."
"Topeng ini adalah pemberian dari ayahanda saya. Saya sebenarnya bukanlah orang yang sabaran. Namun dengan topeng ini, ayahanda saya berharap. Saya bisa mengendalikan kemarahan yang saya miliki."
Mereka semua terkejut, saat melihat hawa merah yang menyelimuti tubuh Jaya Satria. "Saya tidak ingin mencelakai siapapun, hanya karena saya tidak bisa mengendalikan diri saya. Ketika saya marah, dan sebab itulah, saya selalu menggunakan topeng pemberian ayahanda saya." Setelah ia kembali mengenakan topeng hitam itu, hawa merah menghilang dari tubuhnya.
"Maaf, bukan saya bermaksud menyembunyikan diri. Tapi ini harus saya lakukan, agar saya tidak menyakiti siapapun."
"Kami semua mengerti gusti prabu. Maafkan saya sekali lagi." Sekarang Prabu Lingga Dewa mengerti, alasan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menggunakan topeng, dan menggunakan nama Jaya Satria.
"Mari duduk gusti prabu. Mari duduk semuanya." Prabu Lingga Dewa mempersilahkan mereka semua untuk duduk.
"Sebagai rasa ucapan terima kasih saya atas kebaikan gusti prabu asmalaraya arya ardhana, yang telah membatu kamu dengan sukarela. Saya mewakili kerajaan buana dewa mengucapkan banyak terima kasih yang sebesar-besarnya. Maaf karena telah bersikap kurang ajar pada gusti prabu asmalaraya arya ardhana."
__ADS_1
"Saya hanya ingin menyelamatkan pemuda malang itu gusti prabu lingga dewa. Kasihan sekali hidupnya yang terbawa arus kekuatan berlebihan."
Mereka semua melihat ke arah seorang pemuda yang tidak sadarkan diri. Mereka tidak menyangka, jika pemuda itu masih bisa selamat setelah dikuasai roh jahat.
"Maaf sebelumnya gusti prabu. Kenapa gusti prabu menyelamatkan pemuda itu?. Bukankah dia telah melakukan banyak kejahatan?. Banyak sekali dosa yang telah ia lakukan."
"Benar gusti prabu. Apakah dia pantas untuk diselamatkan?. Setelah apa yang telah ia perbuat pada banyak orang."
"Dia harus mempertanggungjawabkan atas apa yang telah ia lakukan pada orang-orang yang telah ia bunuh."
"Bagaimana pendapat gusti prabu?. Apakah gusti prabu memiliki saran?."
"Benar gusti prabu, apakah gusti prabu memiliki alasan. Kenapa orang itu gusti prabu selamatkan."
Jaya Satria hanya tersenyum kecil menatap Raden Jatiya Dewa dan Raden Antajaya Dewa. "Semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Maupun disengaja, ataupun tidak disengaja. Tidak ada manusia di dunia ini merasa benar, ataupun merasa salah. Semuanya tergantung hati nurani dan hawa nafsu." Jaya Satria menatap mereka semua. Jaya Satria membacakan surat Ali Imran ayat 135
"وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
Artinya : dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui."
Mereka semua menyimak apa yang disampaikan oleh Jaya Satria. Mereka sangat terkesan dengan suara merdu Jaya Satria. "Setiap yang berbuat salah, pasti memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri. Allah SWT saja maha pengampunan. Tapi sebagai manusia, mengapa kita tidak memiliki hati nurani memaafkannya, serta mengajaknya untuk memperbaiki diri."
"Baiklah gusti prabu. Namun ia masih harus tetap menjalani hukuman, karena ia telah melakukan kesalahan."
"Apapun hukuman itu, saya serahkan saja pada gusti prabu. Saya telah menutup semua aliran tenaga dalamnya. Karena saya takut, sewaktu-waktu. Ia akan kambuh lagi, dan bisa saja kekuatan roh jahat lain bisa menguasai dirinya."
"Terima kasih saya ucapkan sekali lagi atas kebaikan gusti prabu. Maaf saya ucapkan atas sikap buruk saya gusti prabu."
"Tidak apa-apa gusti prabu."
__ADS_1
Pertemuan hari itu, mereka sama-sama mendapatkan pelajaran berharga. Dalam masalah itu, mereka mulai bercermin. Bahwa kekuatan itu tidak ada yang abadi. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Apakah akan ada hubungan baru antara Jaya Satria dengan Putri Hapsari Iswara?. Temukan jawabannya.
...***...