
...***...
Malam harinya.
"Malam hari ini terasa sangat ramai sekali ya?." Putri Andhini Andita memperhatikan siapa saja yang berkumpul di dalam ruangan itu.
"Rayi benar." Putri Ambarsari sangat setuju.
"Apakah kami tidak boleh ikut yunda?." Putri Agniasari Ariani menempel pada Nyai Bestari Dhatu yang tampak canggung dengan suasana itu.
"Tentu saja boleh rayi." Putri Andhini Andita tertawa kecil. "Oh iya yunda? Nyai bestari dhatu adalah kenalan rayi Prabu."
"Benarkah?."
"Benar sekali Gusti Putri, hamba sudah sangat lama kenal dengan Gusti Prabu." Nyai Bestari Dhatu sangat canggung menjawabnya.
"Rayi Prabu sangat luar biasa sekali bisa kenalan dengan wanita cantik seperti nyai, memangnya ada masalah apa pada saat itu? Sehingga nyai terlibat dengan rayi cakara casugraha?." Putri Andhini Andita seperti seorang kakak yang sedang menginterogasi calon adik iparnya.
"Walah? Kenapa aku seperti sedang diselidiki secara mendalam karena kedekatan ku dengan Raden cakara casugraha?." Dalam hati Nyai Bestari Dhatu sangat tidak enak sama sekali.
"Yunda andhini andita? Jangan bertanya seperti itu, nanti nyai bestari dhatu tidak nyaman loh?." Putri Agniasari Ariani merasa tidak enak.
"Saya tahu rayi sedang memastikan hubungan kedekatan nyai bestari dhatu dengan rayi prabu? Saya harap itu bukan bentuk penyelidikan, karena merasa cemburu melihat kedekatan kekasihnya dengan wanita lain rayi." Putri Ambarsari juga merasa tidak enak.
"Hmph!." Putri Andhini Andita memalingkan wajahnya karena merasa sangat kesal.
"Hamba hanya teman biasa saja dengan Gusti Prabu, ataupun jaya satria." Nyai Bestari Dhatu tentunya sangat memahami itu.
"Benarkah?." Dengan sangat cepat Putri Andhini Andita bertanya seperti itu.
"Tentu saja, Gusti Putri tidak perlu cemas masalah hubungan hamba dengan jaya satria, karena kami memang dari awal berteman dengan sangat baik." Jawabnya.
"Syukurlah kalau begitu." Putri Andhini Andita terlihat lega. "Aku tidak akan membiarkan siapa saja mengambil jaya satria dariku!." Terlihat ia berapi-api ketika mengatakan bahwa Jaya Satria adalah miliknya.
Putri Ambarsari, Putri Agniasari Ariani, dan Nyai Bestari Dhatu hanya tertawa kecil melihat itu, mereka tidak mengerti seberapa besar rasa cinta Putri Andhini Andita terhadap Jaya Satria.
...***...
Di Istana Kerajaan Suka Damai.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedang berkomunikasi dengan salah satu penghuni istana yang dulunya merupakan penggawa setia mendiang ayahandanya.
"Mohon maaf paman? Apa yang paman lakukan di sini? Kenapa paman masih saja berkeliaran di istana ini?." Perasaan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat tidak enak mengenai kehadiran sosok itu.
"Siapa kah Gusti ini? Apakah saya tidak salah memasuki istana kerajaan suka damai?." Ia terlihat kebingungan.
"Ini memang istana kerajaan suka damai paman, lantas kenapa paman masih berjalan di sini? Dalam keadaan seperti ini?." Rasanya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak tega melihat sosok itu terluka parah.
"Aku hanya ingin bertemu dengan Gusti Prabu kawiswara arya ragnala, ada hal penting yang ingin aku sampaikan padanya." Jawabnya.
"Hal penting apa yang akan paman sampaikan pada ayahanda Prabu? Tapi ayahanda Prabu sudah tidak ada di dunia ini lagi."
"Tidak ada di dunia ini lagi?." Sorot mata putih itu terlihat semakin sedih.
"Kembali lah paman, paman harus tenang berada di pangkuannya."
"Tapi aku ingin menyampaikan pada Gusti Prabu kawiswara arya ragnala, jika raja kegelapan akan membunuhnya."
Deg!.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat terkejut mendengar itu, begitu juga Jaya Satria yang telah terhubung dengan sang Prabu.
"Aku dibunuh raja kegelapan karena berusaha melawan, aku tidak mau raja kegelapan itu mencelakai Gusti Prabu kawiswara arya ragnala junjunganku." Ucapan itu semakin lirih, ia seperti menangis karena penyesalan?.
"Paman, kembalilah! Ayahanda Prabu telah tiada!."
"Hwah!." Sosok itu berteriak kesakitan ketika Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memaksanya untuk pergi dengan menggunakan tenaga dalamnya.
"Kenapa? Kenapa harus teringat itu lagi?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat sedih.
"Kenapa dia datang setelah kepergian ayahanda Prabu? Rasanya sangat menyakitkan sekali." Jaya Satria juga menangis.
__ADS_1
Hati keduanya sangat sakit mendengarkan rintihan sosok yang ingin menyampaikan pesan itu pada Prabu Kawiswara Arya Ragnala?. Bahwa ia akan dibunuh oleh Raja kegelapan, siapa lagi kalau bukan Prabu Wajendra Bhadrika.
Apakah yang akan mereka lakukan untuk menyimpan kesedihan itu?. Simak dengan baik bagaimana kisahnya.
...***...
Dua hari telah berlalu.
Sejak mulai masuknya Kerajaan Mekar Jaya hingga menuju Istana. Prabu Rahwana Bimantara telah disambut oleh rakyatnya. Mengeluh-eluhkan nama sang prabu, sambil menabur bunga yang indah.
"Rasanya sangat bahagia sekali, pulang seperti ini ke rumah sendiri." Dalam hatinya merasakan kebahagiaan yang luar biasa.
"Hidup Gusti Prabu rahwana bimantara!."
Dalam perjalanannya menuju Istana, ia mendengarkan rakyatnya dengan suara lantang berkata seperti itu.
"Jayalah kerjaan mekar jaya!."
Hatinya benar-benar terasa hangat, jiwanya bergetar, rasa haru dan bangga menjadi satu padu. Ia membuka tirai Bedati itu, melihat rakyatnya dengan wajah penuh kebanggaan.
Begitu sampai di gerbang Istana. Ia disambut putri ambarsari dan yang lainnya.
"Selamat datang kembali kakek Prabu."
Prabu Rahwana Bimantara memeluk cucunya. Rasanya sangat bahagia melihat cucunya Putri Ambarsari baik-baik saja.
"Terima kasih aku ucapkan padamu cucuku ambarsari." Senyuman dan tatapan mata itu begitu teduh, sangat tulus dari hatinya.
"Selamat datang kembali kakek prabu, kami aturkan sembah salam sejahtera untuk kakek Prabu." Raden Hadyan Hastanta, Putri Andhini Andita, juga Putri Agniasari Ariani menyambut kedatangan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Aku juga mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya pada kalian semua, tanpa bantuan dari kalian? Aku tidak akan bisa kembali ke istana ini." Prabu Rahwana Bimantara menatap mereka semuanya dengan tatapan lembut.
"Alangkah baiknya kita semua masuk, pasti gusti prabu masih letih setelah melakukan perjalanan yang sangat jauh."
Prabu Rahwana Bimantara melihat kearah Jaya Satria. Pemuda kepercayaan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana masih mengenakan topeng?. Ya, walaupun rasanya kurang enak untuk dilihat dalam acara penyambutan ini, namun rasanya ia tidak bisa menyalahkan pemuda itu karena itu adalah perintah dari junjungannya. Jadi ia tidak bisa menyalahkan pemuda itu?.
Mereka semua masuk ke dalam istana. Saat berada didalam Istana, ternyata Prabu Rahwana Bimantara juga telah disambut oleh prajurit, penggawa istana, serta petinggi istana lainnya.
"Semoga dewata yang agung membalas semua kebaikan kalian semua." Prabu Rahwana Bimantara menatap mereka semua dengan perasaan bangga.
Ucap mereka semua secara bersamaan, hingga terdengar gema suara itu memenuhi Istana Mekar Jaya.
"Aku tidaklah tahu harus berkata apa untuk mengungkapkan rasa bahagiaku ini?." Dengan perasaan haru sang Prabu menatap mereka semua "Kalian semua berjuang untuk mempertahankan istana ini! Menyelamatkan kerajaan ini dari orang-orang berhati tamak akan kekuasaan! Serta menyelamatkan rakyat dari sikap kejam mereka!."
Mereka semua merasakannya. Entah itu ucapan, atau ingatan mereka dengan apa yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Mereka semua menderita atas apa yang telah dilakukan Raden Ganendra Garjitha dan Raden Gentala Giandra.
"Aku akan memberikan penghargaan kepada siapapun yang telah berjasa kepada kerjaan ini! Rasa terima kasihku kepada orang-orang yang berjasa menyelamatkan istana ini." Sang Prabu menyampaikan semua yang ia rasakan dalam acara penyambutannya itu. Hingga acara selesai, dan mereka semua meninggalkan balai agung itu.
Akan tetapi, mereka yang masih tinggal di sana?. Tentu saja orang-orang yang telah membantu Prabu Rahwana Bimantara dari awal?.
"Mohon ampun kakek prabu? Saya rasa, lebih baik yunda ambarsari untuk sementara waktu tetaplah berada di istana ini, untuk membantu kakek prabu menata kembali tatanan yang sempat kacau." Putri Andhini Andita memberikan sebuah saran.
"Saya setuju dengan apa yang dikatakan oleh yunda andhini andita kakek prabu." Putri Agniasari Ariani juga sangat setuju. "Saya sangat yakin yunda ambarsari bisa diberi amanah."
"Rayi agniasari ariani?." Dalam hatinya sangat tidak menduga jika Putri Agniasari Ariani mendukungnya?.
"Saya juga setuju, kakek prabu, karena yunda ambarsari memiliki jiwa pemimpin yang tidak diragukan lagi." Raden Hadyan Hastanta juga setuju dengan ucapan kedua adiknya.
"Kalian jangan melebihkan kemampuan saya didepan kakek Prabu, saya belum pantas untuk itu." Putri Ambarsari tersipu malu.
Mereka semua tersenyum kecil, memaklumi sifat canggung yang dimilikinya.
"Tentu saja, aku akan membimbing putri ambarsari untuk memimpin istana ini." Dengan senyuman ramah Prabu Rahwana Bimantara berkata seperti itu. "Dan ada kemungkinan aku angkat putri ambarsari menjadi Ratu istana ini untuk memimpin sementara hingga benar-benar sanggup menjalani tahta pemerintahan kerajaan mekar jaya dengan baik."
"Kakek Prabu?." Putri Ambarsari terkejut mendengarnya.
"Itu keputusan yang tepat kakek Prabu." Putri Andhini Andita, Putri Agniasari Ariani dan Raden Hadyan Hastanta sangat setuju.
Mereka semua merasa bahagia mendengarkan apa yang diucapkan oleh sang prabu. Mereka sangat mendukung keputusan itu.
"Hormat hamba gusti Ratu ambarsari." Ucap Putri Andhini Andita sambil memberi hormat pada kakaknya itu.
__ADS_1
"Rayi andhini andita? Saya belum menjadi Ratu, jangan membuat saya malu." Ingin rasanya Putri Ambarsari kabur karena sikap adiknya yang seperti itu.
Mereka yang melihat itu malah tertawa cekikikan, siapa yang tahan melihat itu?. Namun itu menandakan bahwa Putri Andhini Andita dan Putri Ambarsari sangat dekat, walaupun sempat berlawanan jalan karena masalah yang terjadi di istana kerajaan Suka Damai.
"Lalu bagaimana denganmu syekh asmawan mulia? Apakah tidak bisa mengabdi di istana ini? Begitu banyak jasa yang telah syekh lakukan padaku."
"Mohon ampun gusti Prabu, bukan hamba bermaksud untuk menolak kebaikan yang gusti prabu berikan." Syekh Asmawan Mulia memberi hormat. "Namun hamba telah berjanji pada nanda prabu asmalaraya arya ardhana, bukan hanya sebagai rakyat? Namun juga sebagai gurunya? Hamba akan terus mengikutinya, menjalankan perintahnya untuk tetap menyebarkan agama islam dibawah kepemimpinannya, mohon ampun gusti prabu." Itulah alasan kenapa Syekh Asmawan Mulia tidak bisa tinggal di istana kerajaan Mekar Jaya.
"Baiklah syekh, aku juga tidak bisa memaksamu." Prabu Rahwana Bimantara mencoba untuk memahaminya. "Karena aku yakin, nanda prabu asmalaraya arya ardhana jauh lebih membutuhkanmu syekh."
"Terima kasih atas pengertiannya gusti Prabu." Syekh Asmawan Mulia kembali memberi hormat. "Hamba akan selalu mendoakan kesejahteraan, keselamatan untuk gusti prabu serta rakyat mekar jaya."
"Terima kasih kembali syekh." Prabu Rahwana Bimantara sangat senang mendengarnya. "Jika diperbolehkan? Nanti aku akan minta izin pada nanda prabu, agar syekh bisa menyebarkan agama islam di kerajaan ini juga."
...***...
Di kerajaan Suka Damai.
"Nanda Prabu?." Ratu Dewi Anindyaswari melihat anaknya yang sedang duduk di taman istana. "Ada apa nak? Kenapa nanda terlihat bersedih?." Ratu Dewi Anindyaswari duduk di samping anaknya.
"Nanda hanya mengingat masa kecil nanda yang penuh kebahagiaan di sini bersama ibunda, yunda, juga ayahanda Prabu." Jawab Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dengan senyuman lembut. "Rasanya nanda sangat rindu dengan masa itu ibunda."
"Ya, ibunda dapat membayangkannya." Ratu Dewi Anindyaswari tersenyum kecil. "Nanda sangat suka bermain di sini, nanda selalu tertawa dengan sangat lucunya." Ratu Dewi Anindyaswari terkekeh kecil sambil membayangkan betapa cerianya anaknya saat itu. "Tapi setelah itu nanda jarang tertawa, bahkan cenderung pendiam." Kali ini raut wajah Ratu Dewi Anindyaswari terlihat sedih. "Ibunda benar-benar sangat merindukan nanda yang ceria seperti dulu."
"Maaf, jika nanda tidak bisa tertawa polos seperti dulu lagi ibunda." Antara menahan senyum dan sedih di hati, namun ada keinginannya untuk tertawa kembali bersama ibundanya. "Hanya saja nanda belum bisa tertawa polos seperti dulu, suatu saat nanti pasti bisa."
"Ya, ibunda akan menunggu saat waktu itu tiba." Ratu Dewi Anindyaswari tersenyum lebar mendengarnya. "Putra ibunda memang sangat luar biasa."
"Terima kasih ibunda."
...***...
Kerajaan Mekar Jaya.
"Kalau masalah itu? Hamba rasa nanda prabu pasti akan setuju." Syekh Asmawan Mulia sangat yakin.
"Ya, semoga saja." Prabu Rahwana Bimantara hanya berharap. "Lalu bagaimana denganmu, nyai bestari dhatu? Apakah kau bersedia menjadi abdi di istana ini?." Kali ini Prabu Rahwana Bimantara bertanya pada Nyai Bestari Dhatu.
"Hamba Gusti Prabu?." Nyai Bestari Dhatu memberi hormat.
"Rasa terima kasihku, bukan hanya karena kau telah mengobati saja? Namun kau juga ikut dalam menyelamatkan istana kerajaan ini? Sepertinya aku sangat membutuhkan ahli obat sepertimu." Prabu Rahwana Bimantara sangat yakin dengan ucapannya.
"Mohon ampun Gusti Prabu." Nyai Bestari Dhatu kembali memberi hormat. "Hamba tidak bermaksud untuk menolak kebaikan yang Gusti Prabu tawarkan pada hamba." Agak berat ia mengatakan, namun ia tidak boleh lemah hanya karena tawaran kekuasaan ataupun tahta. "Hamba akan kembali ke pantai selatan, mengabdi pada alam, mengabdi pada rakyat yang membutuhkan tenaga hamba dalam ilmu pengobatan, mohon ampun hamba ucapkan pada Gusti Prabu."
Prabu Rahwana Bimantara sedikit menghela nafasnya dengan pelan. Ia juga tidak bisa memaksa Nyai Bestari Dhatu, apa lagi jika seorang ahli obat yang berkata seperti itu.
"Tapi jika gusti prabu membutuhkan bantuan?Hamba akan segera melaksanakan apa yang gusti prabu perintahkan pada hamba." Nyai Bestari Dhatu juga tidak ingin mengecewakan Prabu Rahwana Bimantara.
"Terima kasih aku ucapkan nyai bestari dhatu, sungguh baik sekali hatimu." Ada perasaan lega mendengarkan ucapan itu.
"Suatu kehormatan bagi hamba bisa membantu Gusti Prabu." Balasnya sambil memberi hormat pada sang Prabu.
"Bagaimana dengan putri andhini andita, putri agniasari ariani, raden hadyan hastanta, juga jaya satria? Apakah kalian tidak ingin membantuku mengurus istana ini?."
"Mohon ampun kakek prabu." Putri Andhini Andita memberi hormat. "Saya akan kembali ke istana suka damai, saya tidak bisa berlama-lama di sini, saya percaya jika yunda ambarsari bisa melakukan yang terbaik untuk kakek prabu."
"Benar yang dikatakan yunda andhini andita." Begitu juga dengan Putri Agniasari Ariani. "Lagi pula saya akan mengembara, untuk belajar lebih dalam lagi mengenai ilmu agama islam, maafkan saya kakek Prabu." Ucapnya dengan perasaan bersalah.
"Saya akan membantu rayi Prabu dalam beberapa masalah yang ada di istana." Raden Hadyan Hastanta memberi hormat. "Jadi secepatnya saya juga akan kembali, mohon maaf kakek Prabu."
"Hamba adalah orang kepercayaan gusti prabu untuk urusan luar istana, dan hamba juga akan kembali ke istana secepatnya." Jaya Satria juga memberi hormat. "Mohon ampun Gusti Prabu."
"Ya, aku memakluminya." Meskipun agak kecewa?. "Namun kebaikan yang kalian berikan padaku sangatlah besar, hingga aku tidak tahu harus memberikan apa sebagai imbalannya?."
"Kami sangat tulus membantu gusti prabu, biarlah sang pencipta yang membalasnya."
"Benar yang dikatakan rayi andhini andita."
"Kami akan selalu bersama kakek prabu."
"Terima kasih aku ucapkan pada kalian."
__ADS_1
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Simak terus ceritanya ya?.
...***...