
...***...
Syekh Asmawan Mulia, Putri Cahya Candrakanti dan Raden Harjita Jatiadi baru saja sampai di Istana Kerajaan Suka Damai.
"Syekh guru? Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh." Ia mencium tangan syekh Asmawan Mulia.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh, nanda jaya satria?." Mengusap kepala muridnya.
"Jaya satria?."
"Gusti putri cahya candrakanti? assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh." Entah kenapa saat itu perasaannya sangat senang melihat Jaya Satria, ada perasaan berdebar-debar ia rasakan ketika melihat Jaya Satria?.
"Kau mengenali orang bertopeng ini rayi?." Raden Harjita Jatiadi heran melihat sikap adiknya.
"Dia yang saya ceritakan waktu itu raka." Jawabnya dengan malu-malu.
"0h? yang waktu itu ya?." Ia ingat itu. "Tapi kenapa sikapnya malu-malu seperti itu?." Dalam hatinya sangat heran melihat adiknya. "Jangan-jangan rayi cahya candrakanti menyukai pemuda bertopeng itu?." Entah kenapa dalam hatinya malah mengarahkan pikirannya ke sana.
"Mari silahkan masuk syekh guru, gusti putri, Raden."
"Terima kasih jaya satria."
Setelah itu mereka semua masuk ke dalam istana.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, nanda prabu."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh, syekh guru."
"Hormat hamba, Gusti Prabu rahwana bimantara." Lanjutnya.
"Silahkan duduk, syekh guru beserta rombongan."
"Terima kasih nanda prabu."
"Terima kasih Gusti prabu."
Mereka duduk ditempat yang telah disediakan. Sepertinya akan ada pertemuan yang tidak biasa diantara mereka.
"Ada apa syekh guru datang membawa rombongan? Apakah terjadi sesuatu?."
"Mohon ampun nanda prabu." Syekh Asmawan Mulia memberi hormat. "Mereka adalah utusan dari kerajaan telapak tiga, ini adalah putri cahya candrakanti, dan sebelahnya adalah Raden harjita jatiadi."
"Salam hormat kami, gusti prabu." Mereka juga memberi hormat.
"Kami adalah putra putri dari prabu guntur herdian." Raden Harjita Jatiadi menjelaskan. "Kami sebagai utusan untuk menyelesaikan masalah di desa gamang kuasa."
"Jadi begitu? Maaf jika saya kurang sopan dalam penyampaian surat itu pada prabu guntur herdian."
"Tidak apa-apa Gusti prabu." Ia mencoba memahaminya. "Kedatangan kami ke sini karena hanya ingin bertemu dengan gusti prabu saja, sebagai utusan yang dipercayai oleh ayahanda prabu guntur herdian."
"Kalau begitu saya ucapkan selamat datang di kerajaan suka damai, terima kasih karena menyambut baik permintaan saya."
"Sama-sama gusti prabu."
Keduanya tersenyum ramah mendengar itu.
"Ini semua juga karena bantuan syekh asmawan mulia." Ia melihat ke arah Sykeh Asmawan Mulia. "Mungkin tugas yang kami laksanakan tidak akan berjalan lancar."
"Benar gusti prabu." Raden Harjita Jatiadi setuju. "Syekh asmawan mulia yang dengan sabar membimbing saya, adik saya serta warga desa gamang kuasa"
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin, terimakasih syekh guru."
"Sama-sama nanda prabu, hamba akan melakukannya dengan sepenuh hati."
__ADS_1
Mereka semua tersenyum kecil mendengar itu.
"Mohon maaf jika lancang dalam masalah ini? Setelah mendengarkan penjelasan dari putri cahya candrakanti, juga raden harjita jatiadi? Saya memutuskan untuk menjadi perwakilan prabu rahwana bimantara." Ia menjelaskan alasannya ikut bergabung dengan kedua utusan kerajaan Telapak Tiga. "Ampuni hamba jika hamba lancang dalam bertindak, gusti prabu rahwana bimantara." Syekh Asmawan Mulia memberi hormat pada prabu Rahwana Bimantara.
"Mohon ampun nanda prabu? Sungguh aku tidak mengerti masalah apa yang terjadi? Tapi tampaknya ini bukanlah masalah yang dianggap remeh?." Prabu Rahwana Bimantara meminta penjelasan dari prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Ananda juga minta maaf sebelumnya, kakek prabu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memberi hormat pada prabu Rahwana Bimantara. "Karena ini adalah masalah di desa gamang kuasa sudah tidak bisa dibiarkan begitu saja."
"Masalah apa yang terjadi di sana nanda prabu? Tolong jelaskan padaku?."
"Nanda akan menjelaskan pada kakek prabu, semoga kakek prabu tidak marah pada ananda karena telah lancang ikut campur masalah di desa gamang kuasa." Sang prabu mecoba untuk bersikap tenang. "Ini bermula ketika jaya satria pulang dari kerajaan telapak tiga, setelah mengantar tuan putri cahya candrakanti karena suatu masalah." Ia masih ingat dengan itu. "Saat jaya satria melewati desa itu, jaya satria melihat ada seorang pemuda yang kesurupan, menurut infomasi yang kaya satria terima, penyebabnya adalah karena pemuda itu belajar ilmu dukun, tubuhnya tidak sanggup menerima tenaga gaib yang terlalu besar merasuki tubuhnya sehingga ia menjadi liar." Sang prabu menatap mereka semua yang ikut dalam pertemuan itu.
"Bukan hanya ilmu dukun saja yang mereka pelajari, melainkan menyembah pohon, menyembah kuburan, menyembah benda- keramat, rasanya itu sangat memperihatinkan, tidak pantas untuk diteruskan." Hatinya merasa sedih karena itu semua, berlawanan dengan ajaran agama islam.
"Jadi ananda minta bantuan pada kerajaan telapak tiga untuk mengatasinya sementara waktu? Karena pada saat itu kakek prabu sedang sakit, nanda tidak mau membebankan pikiran kakek prabu, apa lagi kakek prabu sedang dalam keadaan berkabung." Tatapan itu begitu sedih menatap Prabu Rahwana Bimantara
"Rasanya tidak tega anada menyampaikannya pada kakek prabu, namun ananda akan mengatakannya pada kakek prabu setelah masalah di kerajaan kakek prabu berhasil diselesaikan. maafkan ananda, kakek prabu." Sang prabu juga menatap dua utusan kerajaan Telapak Tiga yang ikut bersama Syekh Asmawan Mulia.
"Oh? Nanda prabu sangat baik sekali, memikirkan suasana hatiku yang sedang bersedih." Prabu Rahwana Bimantara merasa terharu dengan apa yang dilakukan oleh prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Ia tidak menyangka jika masih ada yang memikirkan perasaannya, membantunya menyelesaikan masalah yang ia hadapi.
"Alasan mengapa ananda tidak bisa mengutus jaya Satria ke sana? Karena ananda menyuruhnya menjemput nyai bestari dhatu." Kali ini ia melihat ke arah Jaya Satria.
"Karena keselamatan kakek prabu sangatlah penting, nanda tidak akan membiarkan kakek prabu bernasib sama seperti mendiang ayahanda prabu, meninggal karena menahan luka."
Ia berusaha untuk menguatkan hatinya.
"Oh? Dewata yang agung, betapa mulianya hati nanda prabu, ia memang memikirkan keselamatan hamba, sementara darah daging hamba malah menikam hamba, mencelakai hamba?." Dalam hati Prabu Rahwana Bimantara merasa tersentuh dengan apa yang ia dengar langsung dari prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Nanda tidak bisa mengutus yunda agniasari ariani meskipun yunda agniasari memiliki dasar tentang agama islam, namun ananda hanya menghindari kesalahpahaman karena terlalu ikut campur dengan wilayah kerajaan lain." Pandangannya kali ini tertuju pada putri Agniasari Ariani.
"Mohon maaf jika ananda lancang karena masalah di sana, karena mereka telah melakukan perbuatan yang sesat, dengan belajar ilmu dukun? Memuja pohon? Menyembah kuburan? Masih banyak lagi kesalahan yang mereka lakukan, kakek prabu."
Mereka semua mendengarkan penjelasan dari sang prabu dengan baik.
"Memang kita memiliki pandangan yang berbeda tentang masalah agama, kakek prabu? Namun ketika ayahanda kawiswara arya ragnala masih hidup? Ayahanda tidak pernah mengajari nanda untuk melakukan hal-hal aneh seperti itu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana masih ingat denan itu, masih mengingat apa saja yang diajarkan oleh mendiang ayahandanya.
"Justru aku berterima kasih padamu nanda prabu." Prabu Rahwana Bimantara tersenyum kecil. "Bukan hanya merawatku saja? Namun nanda prabu membantuku untuk menyelesaikan masalah yang ada di wilayah gamang kuasa." Ia tersenyum kecil.
"Memang dari dulu wilayah itu tidak pernah disentuh oleh dua kerajaan besar, kerajaan mekar jaya ataupun kerajaan telapak tiga." Putri Cahya Candrakanti merasa heran. "Namun siapa sangka saat jaya satria melewati desa itu malah menemukan hal yang seperti itu? Memang sangat meresahkan jika dipikirkan dengan hati yang masih jernih." Ia tidak bisa membayangkan wilayah yang terabaikan itu ternyata malah memiliki ajaran yang seperti itu?.
"Sekali lagi aku ucapkan terima kasih pada nanda prabu, juga utusan kerajaan telapak tiga yang mau membantuku."
"Sandika gusti prabu."
Putri Cahya Candrakanti dan Raden Harjita Jatiadi memberi hormat pada prabu Rahwana Bimantara.
"Tapi anada sangat berterima kasih pada syekh guru karena membantu utusan prabu guntur herdian sebagai utusan kakek prabu, nanda tidak menyangka jika syekh kebetulan bertemu dengan utusan prabu guntur herdian. terima kasih syekh guru." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat bersyukur akan hal itu.
"Aku juga mengucapkan terima kasih yang sangat dalam pada syekh asmawan mulia karena berkenan menjadi utusanku." Prabu Rahwana Bimantara juga mengucapkan rasa terima kasihnya pada Syekh Asmawan Mulia.
"Sama-sama nanda prabu, sama-sama gusti prabu rahwana bimantara." Ia merasa lega karena kedua raja besar itu tidak marah padanya karena ia langsung bertindak tanpa izin.
"Lalu bagaimana keadaan di sana sekarang kalau aku boleh mengetahuinya syekh?."
"Alhamdulillah hirobbil alamiin gusti prabu, keadaan di sana sudah mulai membaik karena mereka mau mendengarkan, mempelajari, serta menerima apa yang kami berikan pada mereka." Ia tersenyum ramah, ada kepuasan tergambar di wajahnya.
"Perlahan-lahan mereka telah membuka hati untuk menerima ajaran yang baik dan benar, serta melupakan kebiasaan mereka yang sebelumnya."
"Syukurlah, aku sangat senang mendengarnya." Perasaan lega dalam hatinya. "Terimakasih atas apa yang syekh, serta utusan kerajaan telapak tiga lakukan? Aku sangat merasa terbantu sekali." Hatinya merasa tenang mendengarkan semua yang mereka katakan padanya.
"Tapi sebelumnya hamba minta maaf pada gusti prabu rahwana bimantara? Karena ada suatu masalah yang hendak kami sampaikan, hingga kami berada di sini"
Tentunya ucapan syekh Asmawan Mulia menjadi tanda tanya bagi mereka.
"Masalah apa yang syekh ingin sampaikan kepadaku?." Hatinya berdebar-debar, merasa tidak nyaman.
__ADS_1
"Mohon ampun Gusti Prabu? Masalah tersebut adalah? Rakyat kota raja mekar jaya yang melarikan diri karena tidak tahan dengan perlakuan ra, ah! Ra-." Ia agak ragu mengatakannya.
"Maksud syekh? Perlakuan cucuku raden ganendra garjitha yang mengaku menjadi Raja?." Geram, itulah yang ia rasakan.
"Jadi gusti prabu telah mengetahui masalah itu?."
"Ya, begitulah syekh."
Mereka semua merasa miris mendengar kabar buruk itu.
"Sebelum syekh guru datang? Senopati mandaka sakuta juga melaporkan kejadian yang sama, kami tidak menyangka jika rakyat kota raja mekar jaya juga melarikan diri ke desa gamang kuasa untuk mencari perlindungan."
"Mereka sangat keterlaluan! Sampai hati mereka menyiksa rakyat, hingga mereka melarikan diri dari tanah kelahiran mereka untuk mencari perlindungan! Hatiku sangat hancur sekali."
"Ananda mohon, kakek prabu jangan menangis, jika kakek Prabu memperkenankan ananda ikut membantu? Kami akan menyelesaikan masalah ini dengan baik, percayalah pada kami kakek Prabu."
"Oh? Nanda prabu? Belum sempat rasanya aku membalas budi baikmu karena telah menyembuhkan aku? Sekarang nanda prabu juga ingin menyelesaikan masalah yang lain? Rasanya aku sangat malu pada diriku yang tua ini." Ia menangis sedih mengingat apa yang terjadi. Apa yang telah ia lakukan pada prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Kakek prabu jangan berkata seperti itu? Nanda yakin yunda ambarsari? Raka hadyan hastanta? Yunda andhini andita? Yunda agniasari ariani? dan jaya satria? Pasti akan ikut membantu kakek prabu dalam menyelesaikan masalah ini."
"Benar yang dikatakan rayi Prabu, kami akan menjadi tameng kakek Prabu." Putri Ambarsari.
"Kami akan melindungi hak kakek prabu yang telah mereka rampas dengan keji! Kami akan berusaha untuk merebutnya kembali!." Raden Hadyan Hastanta.
"Kakek Prabu tidak perlu merasa sendiri, karena kami yang akan bertindak! Untuk sementara waktu kakek prabu tinggallah di sini! Saya berjanji akan menghukum mereka dengan tangan saya sendiri!." Putri Andhini Andita.
"Percayakan masalah di kerajaan mekar jaya kepada kami kakek prabu! Sebagai gantinya? Kami mohon restu dari kakek prabu, agar kami juga direstui oleh Allah SWT untuk menumpas kekejian yang bersarang di kerajaan mekar jaya! Mereka tidak pantas berada di sana! Hanya akan menyengsarakan rakyat yang selama ini mencintai kakek prabu dengan sepenuh jiwa dan raga mereka!." Putri Agniasari Ariani.
"Hamba dengan segenap hati akan membantu, Gusti Prabu." Jaya Satria sangat setuju.
Prabu Rahwana Bimantara sangat terharu dengan kesungguhan hati mereka yang ingin membantunya.
"Mohon restu dari kakek prabu untuk kami menumpas orang-orang yang telah membuat hati kakek prabu terluka, serta menyengsarakan rakyat mekar jaya."
Dengan kompaknya mereka mengatakan kalimat yang sama, dengan suara yang begitu menggetarkan jiwanya.
"Sepertinya mereka semua telah bersatu, namun sayangnya yang akan mereka tumpas adalah saudara mereka juga?." Dalam hati syekh prabu merasa miris melihat itu. Untuk yang kedua kalinya ia akan menyaksikan perang saudara yang dilakukan oleh keturunan Prabu Kawiswara Arya Ragnala.
"Mereka semua sangat luar biasa sekali, meskipun harus berperang dengan saudara mereka?." Dalam hati Putri Cahya Candrakanti merasakan keteguhan mereka dalam menegakkan keadilan.
"Aku seperti melihat pahlawan kebenaran yang sesungguhnya dari mereka, sungguh sangat luar biasa! Walaupun musuh mereka adalah kerabat dekat sang prabu?." Begitu juga dengan Raden Harjita Jatiadi.
"Sepertinya perang memang tidak bisa dicegah, engingat apa saja yang dialami oleh prabu rahwana bimantara, serta rakyat yang dianiaya dengan kejam." Rasanya Nyai Bestari Dhatu ingin menangis, merasakan jeritan pilu mereka semua. Ia harus menahan air mata itu agar tidak menimbulkan tanda tanya bagi mereka dengan apa yang sedang ia rasakan.
"Baiklah! Aku akan merestui kalian semua." Rasanya memang sudah tidak sanggup lagi untuk menyimpannya.
"Terima kasih, kakek prabu."
Mereka semua merasa senang mendengar itu.
"Yunda." Putri Agniasari Ariani memeluk kakaknya dengan erat.
"Syukurlah rayi."
Putri Andhini Andita sampai meneteskan air matanya karena haru.
"Tapi aku mohon! Kalian tetap jaga keselamatan kalian! Aku tidak mau mendengar kabar duka dari kalian semua." Ucap Prabu Rahwana Bimantara
"Karena itulah selesaikan masalah dengan sebaik-baiknya, aku tidak ingin kalian yang celaka." Ia berusaha menahan tangisnya.
"Sandika kakek prabu! Kami akan berhati-hati dalam menyelesaikan masalah! Semoga kami kembali dengan membawa kabar yang membahagiakan untuk kakek prabu!."
Lagi, mereka memperlihatkan kekompakan yang sedang membuncah di dalam hati masing-masing.
"Terima kasih aku ucapkan pada kalian semuanya, tanpa kalian? Aku yang sudah tua ini tidak akan berdaya lagi dalam menyelesaikan masalah."
__ADS_1
Penasaran dengan lanjutannya?. Temukan jawabannya.
...***...