RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
KEMARAHAN DAN BENCI


__ADS_3

...***...


Malam telah menyapa. Malam ini sepertinya Putri Andhini Andita terpaksa tidur di tengah hutan. Karena ia belum menemukan desa terdekat. Ia baru saja selesai melaksanakan sholat isha. Untuk mengusir hawa dingin, ya menyalakan api unggun. Setidaknya ia akan aman sampai pagi. Mungkin, ia akan segera mencari desa terdekat?.


"Apa yang sedang kau pikirkan saat ini andhini andita?. Apakah kau tidak takut malam hari sendirian di sini?." Sukma Dewi Suarabumi masih mengawasi Putri Andhini Andita.


"Setidaknya dengan adanya gusti putri, hamba tidak sendirian." Putri Andhini Andita tersenyum kecil. "Hamba ucapkan terima kasih untuk semuanya gusti Putri." Rasanya tidak rugi juga ia melakukan perjalanan ini.


"Aku tidak berniat menjadi temanmu andhini andita. Karena jiwamu masih lemah. Aku tidak suka karena kau akan berakhir seperti aku. Mati dalam kesakitan menahan perasaan cinta." Matanya seakan menyimpan kesedihan yang sangat mendalam. "Kau akan kecewa andhini andita. Sebaiknya kau jangan terlalu memaksakan diri untuk melakukan hal-hal yang aneh." Sorot matanya mengandung kesedihan yang sangat luar biasa saat ini.


"Dengan melalukan perjalanan ini, hamba harap. Hamba bisa menemukan apa yang hamba butuhkan selama ini gusti putri. Terima kasih karena gusti Putri telah menemani perjalanan hamba." Putri Andhini Andita sangat senang, ia bisa banyak berbicara dengan Sukma Dewi Suarabumi.


"Terserah kau saja andhini andita." Meskipun terdengar cuek, namun ia masih memperlihatkan senyuman ramahnya pada Putri Andhini Andita.


...***...

__ADS_1


Sementara itu, Jaya Satria saat ini berada di dalam istana Kerajaan Utara Bunga. Ia mengitari istana, ingin melihat keadaan istana ini dengan jelas. "Lumayan juga istana ini." Dalam hatinya merasa gelisah. "Lumayan banyak juga penghuninya." Matanya menatap beberapa orang yang memiliki bentuk aneh lalu lalang dari tadi dengan keadaan yang sangat menyeramkan.


Saat itu, matanya menatap seorang wanita yang sedang menatap langit malam dengan raut wajah yang sangat sedih. Raden Cakara Casugraha menghampirinya, karena ia ingin mendengarkan keluhan dari wanita itu. Apa yang membuat ia merasa betah masih berada di sana.


"Sampurasun." Ia mencoba menyapa wanita itu.


Dengan tatapan yang sangat kosong ia melihat ke arah Raden Cakara Casugraha. "Rampes." Balasnya dengan suara yang membuat seseorang merinding. Namun setelah itu ia malah melihat kembali ke arah langit malam.


"Apakah bibi sedang menunggu kepulangan seseorang?." Raden Cakara Casugraha tadi sempat melihat itu dari dalam bayangan matanya yang kosong itu. Wanita itu tersenyum mendengarkan apa yang dikatakan oleh Raden Cakara Casugraha.


"Apa yang kau lakukan di sini cakara casugraha." Tiba-tiba saja suara Raden Cakrawala Dirja dari arah belakang mengejutkan Raden Cakara Casugraha.


"Menghilang?." Raden Cakara Casugraha hanya sebentar saja mengalihkan pandangannya, namun apa yang terjadi?. Sosok wanita itu malah menghilang dari pandangannya. Raden Cakara Casugraha mencoba mencari sosok wanita itu di halaman, namun tidak bisa ia temukan.


"Apa yang kau cari cakara casugraha. Kau jangan coba-coba untuk melakukan sesuatu yang membuat aku marah!." Raden Cakrawala Dirja merasa kesal dengan apa yang dilakukan oleh Raden Cakara Casugraha.

__ADS_1


"Aku bukan kau, yang hanya bisa berbuat tindakan kejahatan." Raden Cakara Casugraha mencoba untuk melihat apa yang terjadi melalui sentuhan tempat yang diduduki oleh wanita itu tadinya. "Dua orang insan yang sedang jatuh cinta. Namun sayangnya malah berakhir kematian." Raden Cakara Casugraha menatap sedih dengan apa yang digambarkan penglihatannya. "Mereka meninggal karena perasaan tersiksa. Sungguh sangat disayangkan sekali." Ingin rasanya Raden Cakara Casugraha menangis karena dapat merasakan kesedihan mereka.


"Kau sebaiknya jangan melakukan hal yang aneh-aneh Cakara casugraha. Karena aku tidak suka ada yang berani ikut campur, atau mengurusi apa yang telah terjadi di lingkungan istana ini." Raden Cakrawala Dirja sangat geram mendengarkan apa yang dijelaskan oleh Raden Cakara Casugraha.


"Aku harap suatu hari nanti mereka tidak menuntut balas atas apa yang kau lakukan hari ini cakrawala dirja." Raden Cakara Casugraha memperingatkan sesuatu pada Raden Cakrawala Dirja.


"Sebaiknya kau tidak mengungkapkan semua yang ada di dalam istana ini cakara casugraha. Aku tidak suka dengan apa yang kau lakukan. Sebaiknya kau berada di wisma tamu saja." Raden Cakrawala Dirja menatap tidak suka ke arah Raden Cakara Casugraha.


"Aku ini bukan tahan cakrawala dirja. Jaga sikapmu itu. Meskipun kau adalah raja di sini. Namun kau jangan seenaknya saja memperlakukan aku seperti aku ini adalah tahanan bagimu." Raden Cakara Casugraha sangat tidak suka dengan sikap Raden Cakrawala Dirja yang seenaknya saja pada dirinya.


"Ahaha!." Raden Cakrawala Dirja malah tertawa keras mendengarkan apa yang dikatakan oleh Raden Cakara Casugraha. "Jadi kau menyadari jika tidak ada raja yang berkuasa saat ini selain aku?. Ahaha!. Kau sangat hebat sekali bisa mengetahuinya." Namun kali ini sorot matanya terlihat lebih serius. "Meskipun aku tidak mengatakannya. Dan sepertinya kekuatanku masih sama seperti waktu itu." Ia masih ingat bagaimana pertemuannya dengan Raden Cakara Casugraha waktu itu. Sungguh ia sangat tidak suka dengan apa yang dilakukan Raden Cakara Casugraha pada waktu itu. "Kali ini aku pasti akan membunuhmu cakara casugraha. Dan aku akan mengirim mayatmu ke istana kerajaan suka damai dengan sangat mewah sekali." Raden Cakrawala Dirja membayangkan dirinya melakukan itu dengan penuh suka cita.


"Hidup dan matinya hanya milik Allah SWT. Jika aku mati di tanganmu, itu sudah menjadi kehendak dari Allah SWT. Dan kau jangan bersikap sombong cakrawala dirja. Kekuatan sejati hanya datang hati yang kuat. Namun yang aku lihat hanyalah dendam yang kosong serta hati yang hampa di dalam dirimu saat ini." Raden Cakara Casugraha tersenyum kecil sambil melihat ke arah Raden Cakrawala Dirja.


"Masih terlalu malam untuk aku menyerangmu cakara casugraha." Raden Cakrawala Dirja merasa gerah dengan apa yang ia dengar. Besok pagi, setelah terbit matahari. Aku telah menyiapkan tempat yang layak untuk kau mati cakara casugraha. Jadi malam ini bertahanlah barang sejenak." Setelah berkata seperti itu, ia pergi meninggalkan taman itu. Ia hanya sedang menahan dirinya agar tidak menyerang Raden Cakara Casugraha. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2