RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
BERSABAR DALAM KESAKITAN


__ADS_3

...***...


Di Kerajaan Suka Damai.


Perlahan-lahan mata itu mulai terbuka, dan mulai mendapatkan kesadarannya kembali. Ia mencoba untuk duduk, meskipun tubuhnya terasa sakit.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Ia mencoba mengingat mengapa ia tidak sadarkan diri?. Ia menyentuh bahu kanannya, yang merupakan sumber rasa sakit, yang ia rasakan hingga membuatnya pingsan.


"Kau sudah bangun rayi prabu." Raden Hadyan Hastanta ternyata sudah berada di kamar adiknya.


"Raka." Sang prabu melihat kakaknya yang membawakan segelas air, dan memberikannya kepada adiknya.


"Terima kasih raka." ucapnya, dan meminum air itu dengan pelan.


"Apa yang terjadi padamu rayi prabu?. Kenapa kau tiba-tiba pingsan?. Kau membuatku cemas, rayi prabu." Begitu banyak pertanyaan yang terlintas dipikirannya.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terdiam, ia juga bingung mau menjawab apa, dan ia tidak mungkin menjawab dengan jujur bukan?.


"Kepalaku mendadak pusing raka." Ia menyentuh kepalanya, seakan memang terasa pusing. "Aku terus memikirkan keselamatan jaya satria, dan juga yunda andhini andita. Karena aku terlalu mencemaskannya, aku jadi tidak sadarkan diri raka. Maafkan aku telah membuatmu cemas raka." Lanjutnya lagi.


Raden Hadyan Hastanta tersenyum kecil, ia sekarang mengerti. "Kau tidak usah khawatir rayi prabu. Aku yakin mereka baik-baik saja di sana." Ia berusaha membuat adiknya itu tidak memikirkan hal buruk yang terjadi di sana.


"Pantas saja sebelum pingsan, dia menyebut nama jaya satria. karena dia terlalu memikirkan keselamatan bawahannya itu, sungguh mengesankan. Meskipun bawahan, tapi dia begitu peduli sekali." ya, ia mengerti sekarang penyebab adiknya tidak sadarkan diri.


"Semoga saja kau baik-baik saja di sana, jaya satria. Jaga yunda andhini andita dengan baik." Dalam hatinya berharap akan baik-baik saja. "Rasa sakit ini, seperti di tusuk oleh benda tajam. Rasa sakitnya seakan ingin mencabut nyawaku." Ia tidak bisa membayangkan, jika Jaya Satria yang langsung terkena, sementara ia hanya menerima rasa sakitnya. "Ya Allah. Lindungilah ia ya Allah." Dalam hatinya terus berdoa, dan berharap yang terbaik.


...***...


Di istana kerajaan Mekar Jaya


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang sebenarnya jaya Satria saat ini, sedang duduk bersama prabu Rahwana Bimantara, dan mereka sedang berbincang-bincang.


"Jadi nanda prabu masuk agama islam, karena saran ayahandamu?." Ia sedikit penasaran.


"Betul kakek prabu. Ketika itu nanda masih belum bisa mengendalikan diri nanda." Jawab Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil. "Entah itu bentuk amarah ataupun hawa nafsu lainnya yang merugi. Namun setelah nanda masuk agama islam, perlahan-lahan nanda bisa melakukan hal-hal yang baik." Ia dapat merasakan itu semua dari hatinya.


Ya, memang ia pernah mendengarnya, ia juga dapat membedakannya sekarang. Perubahan-perubahan yang terjadi pada Raden Cakara Casugraha baik itu sebelum atau sesudah menjadi raja.


"Lalu apa yang nanda prabu bacakan waktu itu?. Rasanya sangat adem ayem aku mendengarnya. Begitu indah dan merdu. Membuatku ingin terus mendengarnya." Rasa penasarannya juga tertuju pada apa yang dibacakan oleh prabu Asmalaraya Arya Ardhana waktu itu.


"Itu bacaan shalawat badar, kakek prabu." Jawabnya. "Manfaatnya sangat banyak. Selain untuk mentramkan hati untuk yang membaca, ataupun yang mendengarkan. Shalawat badar bisa juga sebagai pelindung dari gangguan jin. Banyak sekali manfaatnya kakek prabu." Ia menjelaskan sedikit manfaat bacaan sholawat badar.


"Sungguh luar biasa sekali. Rasanya kakek prabu ingin mendengarnya nanda prabu." Ia tersenyum kecil. "Bolehkan?. Nanda prabu membacakannya sekali lagi untukku? " prabu Rahwana Bimantara meminta pada prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Baiklah kakek prabu." Rasanya sangat senang dan ia tidak bisa menolaknya. Prabu Asmalaraya Arya membacakan Sholawat badar dengan suara yang indah. bukan hanya prabu Rahwana Bimantara saja yang terpaku dengan suara itu, dayang dan prajurit yang berada di sana juga merasakan ketentraman saat mendengarkannya.


...****...


Sementara itu.


Ratu Ardiningrum Bintari, Raden Ganendra Garjitha dan Raden Gentala Giandra. Mereka masih tidak menerima sikap Prabu Rahwana Bimantara yang berubah dan malah membela prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Ini sangat gawat sekali ibunda. Apa yang harus kita lakukan, jika kakek prabu juga berhasil di dukun oleh rayi prabu?." Raden Ganendra Garjitha tampak gelisah, dan rasa takut telah menghantui pikirannya.


"Ada kemunginan terburuknya, kita akan diusir dari istana ini ibunda." Raden Gentala Giandra malah membuat ibundanya takut.


"Jangan sampai itu terjadi nak. Ibunda tidak rela, jika ayahanda prabu melakukan itu pada kita semua." Ratu Ardiningrum Bintari takut membayangkan itu terjadi menimpa dirinya.


"Kita harus membujuk kakek prabu, dan menyadarkannya." Raden Gentala Giandra memberikan pendapat untuk berbuat sesuatu


Ya mereka harus melakukannya. Agar Prabu Rahwana Bimantara tidak mengusir mereka.

__ADS_1


Di sisi lain.


Di kamar Putri Ambarsari.


"Bukan aku bermaksud untuk mempengaruhi mu yunda." Saat ini putri Andhini Andita saat ini berada di kamar Putri Ambarsari.


"Aku menyadari kesalahanku, ketika aku mendengarkan kata-kata jaya satria." Awalnya ia menduga bahwa, Jaya Satria hanya akan meracuni pikirannya. Justru Jaya Satria menyadarkan dirinya, tentang apa yang telah ia lakukan.


"Itu karena kau jatuh cinta pada orang bertopeng itu rayi." Ia masih belum mengerti juga.


"Bukan seperti itu yunda." Ia tersenyum memakluminya. "Dari perjalanan yang kita lakukan, bersama rayi prabu menuju istana ini. Tidakkah yunda merasa ada hal yang menarik?." Putri Andhini Andita memberikan pandangan atau sedikit gambaran tentang perjalanan mereka saat itu.


"Yunda. Kita ini sudah dewasa, bukan anak-anak yang hanya memikirkan kesenangan saja. Tapi pikirkan akibat kedepannya nanti, hubungan kita di masa depan sebagai apa. Apakah kita akan terus bermusuhan, atau masih tetap sebagai saudara dari satu ayah?. Yaitunya ayahanda prabu kawiswara arya ragnala. Atau hanya sebagai orang-orang yang kebetulan berkumpul, hanya karena satu ayah, yang kemudian terpisah karena beda ibu." putri Andhini Andita menatap sedih ke arah kakaknya, senyuman itu menyimpan rasa sakit yang mendalam.


"Pikirkan saja dengan pelan. Tidak perlu dipaksakan. Hati yang menilai, pikiran yang membayangkan." Lanjutnya. "Kalau begitu aku pergi dulu. Aku ingin melihat keadaan adikku gusti prabu cakara casugraha. Aku rasa ia sedang memutuskan untuk berdamai dengan kakek prabu." Ucapnya dengan yakin.


"Yunda. Kau adalah kakakku. Dan aku akan terus menjadi adikmu. Bahkan ketika kau mengatakan benci atau ingin membunuhku. Takdir itu tidak bisa kita ubah, selama kita memiliki darah ayahanda prabu kawiswara arya ragnala." Hatinya terasa perih. Namun ia juga tidak bisa memaksa kakaknya, untuk membenarkan apa yang ia katakan.


"Sampurasun." Putri Andhini Andita pergi meninggalkan kamar itu. Dan ia ingin melihat adiknya, apakah masih mengobrol dengan prabu Rahwana Bimantara.


"Rayi." Hatinya terasa sedih, dan ia menangis?. Kata-kata adiknya begitu menusuk hingga sampai ke ulu hatinya. "Rayi andhini andita." Ia memang menyadarinya. Bagaimana selama ini ia begitu dekat dengan adiknya. Namun saat ini, ia melihat perubahan sikap adiknya, yang ia anggap itu karena disantet prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Namun dari sikap dan cara ia berbicara sangat lembut. Dan ia juga dapat merasakan ketulusan dari ucapan itu.


"Rayi. Aku ingin kita berbaikan seperti sebelumnya. Aku dan kau yang selalu bercerita tentang apa saja." Hatinya tidak dapat berbohong, untuk menutupi betapa ia sangat merindukan adik perempuannya itu.


Bukan hanya sebagai teman untuk ia bercerita. Namun juga sebagai tempat berbagi pengalaman hidup. Pikirannya terbayang bagaimana, ketika itu ia masih dekat dengan adiknya. Namun sekarang mereka bersebrangan dan hampir saling membunuh?.


"Oh dewata yang agung. Apa yang harus aku lakukan?." Ia menangisi hatinya yang terasa lemah tak berdaya. Bisakah ia memutar waktu yang telah terjadi, dan memperbaiki hal yang seharusnya tidak ia inginkan sama sekali?. Semuanya akan ia pikirkan kembali, dan ia ingin memperbaiki hubungan yang sudah terlanjur retak di antara mereka.


...****...


Empat hari berlalu.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Putri Andhini telah sampai di istana kerajaan Suka Damai. Mereka disambut oleh Jaya Satria dan Raden Hadyan Hastanta.


"Alhamdulillah hirobbil 'alamin. Meskipun sempat ada masalah, Alhamdulillah hirobbil 'alamin kakek prabu menyatakan damai dengan kita." prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga bersyukur akan hal itu.


"Kalau begitu mari masuk. Pasti rayi prabu, rayi andhini andita lelah selama di perjalanan." Raden hadyan hastanta mengajak mereka semua masuk, ia mengambil barang bawaan dari adiknya.


"Terima kasih raka." Putri Andhini Andita merasa terbantu, dan ia mengikuti kakaknya dan prabu Asmalaraya Arya Ardhana masuk ke istana.


Namun Jaya Satria masih tinggal di sana, karena ia merasakan kehadiran seseorang. Ia menunggu hingga orang itu menampakkan dirinya.


Saat itu matanya menangkap sosok seorang wanita muda yang mengenakan pakaian sederhana, akan tetapi indah untuk dipandang mata.


"Yunda." Tanpa sadar ia memanggil wanita muda itu dengan sebutan yunda?.


"Yunda. Kau sudah kembali." Rasa rindu yang begitu dalam, membuat kakinya seakan terhipnotis untuk mendekati wanita itu.


"Siapa kau?." Tentunya wanita itu bertanya, karena ia sama sekali tidak mengenali orang bertopeng itu.


Jaya Satria menyadari sesuatu. "Ah maafkan hamba." Ia menyadari jika penampilannya saat ini adalah jaya satria, bukan sebagai adiknya.


"Apakah nimas adalah-." Belum sempat ia melanjutkan ucapannya, ia malah diserang oleh wanita itu.


"Penyusup!." Wanita itu mengarahkan pukulannya ke dada Jaya Satria. Ia ingin menghajar orang asing menurutnya itu.


Jaya Satria masih sempat menghindari pukulan itu, ia mundur karena menghindari serangan itu. Akan tetapi wanita itu tidak akan menghajarnya.


"Tenang dulu nimas." Jaya Satria berusaha untuk menangkan wanita itu.


Tapi sepertinya wanita itu tidak mendengarkannya, ia tetap menyerangnya.

__ADS_1


"Hyaaaa." Wanita itu mengarahkan pukulan yang telah ia salurkan tenaga dalam. Pukulan itu hampir saja mengenai Jaya Satria, jika saja Putri Andhini Andita tidak menghalanginya.


"Rayi. Kenapa kau menyerangnya." Begitu ia berhasil memukul mundur wanita itu, yang tak lain adalah putri Agniasari Ariani.


"Yunda?." Ia heran melihat kakaknya?.


"Yunda agniasari ariani." Dari arah sampingnya ia begitu mengenali suara itu, hingga ia refleks melihat ke arah suara itu.


Hatinya begitu berdebar-debar melihat sosok yang sangat ia rindukan. Ia segera menghampirinya, ia menatap lekat sosok itu, hingga tanpa sadar air matanya menetes di pipinya.


"Rayi prabu." Ia langsung memeluk erat adik yang sangat ia rindukan.


"Yunda." prabu Asmalaraya Arya Ardhana membalas pelukan kakaknya, ia juga merindukan kakaknya.


"Kau tidak apa-apa jaya satria." Putri Andhini Andita mencemaskan keadaan jaya Satria, ia takut tadi adiknya itu menghajarnya.


"Hamba baik-baik saja, gusti putri." Jawabnya. Ia hanya tersenyum kecil, agar tidak membuat putri Andhini Andita tidak khawatir padanya.


"Rasanya aku sekarang mengerti, bagaimana menahan perasaan rindu pada orang yang kita cintai dibalik topeng ini." Jaya Satria yang sebenarnya adalah prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengerti bagaimana rasa rindu yang tak bisa ia ungkapkan.


"Rayi agniasari ariani." Raden Hadyan Hastanta juga mendekati mereka semua. "Selamat datang kembali rayi." Lanjutnya.


Putri Agniasari Ariani melepaskan pelukannya, ia melihat ke arah kakaknya Raden Hadyan Hastanta.


"Raka." Ia sedikit melihat perbedaan dari kakaknya itu. Entah dari segi penampilan, atau senyumannya yang ramah?.


"Rayi. Kau tidak perlu heran seperti itu." Putri Andhini Andita dan Jaya Satria bergabung dengan mereka.


"Aah, maafkan aku yunda. Aku hanya-." Ia tidak mengerti apa yang terjadi ketika ia meninggalkan istana.


"Tidak apa-apa rayi, aku mengerti." Ia memakluminya.


"Terima kasih yunda." Ia merasa bersalah karena berpikiran tidak-tidak pada mereka.


"Oh iya. Dia bukan lah orang jahat rayi." Ia tersenyum kecil. "Namanya adalah jaya satria. Dia adalah bawahan rayi prabu." Ia memperkenalkan Jaya Satria pada adiknya.


"Bawahannya rayi prabu?." Dalam hatinya bertanya-tanya. "Kenapa orang ini mengenakan penutup wajah?." Ia merasa bingung.


"Ada beberapa hal, yang membuatnya harus mengenakan penutup wajah yunda. Nanti lebih aku jelaskan lebih lanjut." prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengerti bahwa ini memang pertama kalinya kakaknya melihat Jaya Satria.


"Sebenarnya, yang berada di balik topeng itu adalah rayi prabu asmalaraya arya ardhana yang asli. Yang kalian lihat sekarang adalah jaya satria. Mereka sedang bertukar tempat." Raden Hadyan Hastanta dalam hatinya berkata seperti itu, ia tidak mau membuat kedua adiknya bingung.


"Kalau begitu ayo kita semua masuk." Raden Hadyan Hastanta mempersilahkan kedua adiknya berjalan duluan.


"Mari rayi." Putri Andhini Andita mengajak adiknya untuk masuk.


"Kalian segeralah bertukar tempat. Agar tidak terjadi kesalahpahaman nantinya." Raden Hadyan Hastanta memperingati keduanya.


"Baiklah Raka." Balas Jaya Satria.


"Maafkan aku. Kau harus merasakan perasaan yang tidak mengenakkan." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terlihat sedih.


"Tidak apa-apa. Dengan begini aku merasakan, perasaan yang kau rasakan, selama ini bersembunyi di balik topeng ini." Ia mengelus wajahnya yang sekarang ditutupi oleh topeng.


"Tidak. Kau tidak boleh merasakan perasaan itu. Cukup amarahmu saja, yang bersembunyi dibalik topeng itu." Ia tidak akan membiarkan itu terjadi.


"Biarkan amarahmu. Dan perasaan marahmu tersegel di sana. Kau jangan sampai berpikir untuk membuka topeng itu pada amarahmu. Atau sampai memperlihatkan pada mereka." Lanjutnya lagi.


"Ini semua sudah takdir. Yang harus kita jalani, seperti yang dikatakan oleh ayahanda prabu." Ya, ia tidak akan pernah melupakan, apa yang menjadi pesan prabu Kawiswara Arya Ragnala.


"Baiklah. Aku mengerti. Tapi aku harap, suatu hari nanti. Kita bisa beriringan, tanpa menahan perasaan apapun." Ia berharap tidak ada perbedaan yang membuat perasaan iri diantara keduanya. Ia hanya ingin keduanya mendapatkan apa yang mereka inginkan.

__ADS_1


"Tapi aku juga berharap, ini tetap lah menjadi rahasia. Tidak baik, kalau kita hadir dalam waktu bersamaan dalam keadaan normal." Sangat berat untuk dihadapi.


...***...


__ADS_2