RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
TALI GAIB PENGIKAT JIWA


__ADS_3

...***...


Jaya Satria menjelaskan kepada mereka semua bagaimana keadaan Desa Mata Air Dewa, terutama di Sumber Mata Air Dewa itu. "Dari sekian tempat yang pernah saya lalui saat mengembara. Sudah dua kali saya mengalami hal yang gaib. Namun maaf gusti prabu lingga dewa. Tempat desa sumber mata air dewa sangat tidak baik untuk ditinggali sekarang."


"Apa maksud gusti prabu mengatakan seperti itu?. Tolong jelaskan kepada kami semua agar tidak terjadi kesalahpahaman." Prabu Lingga Dewa ingin mengetahui semuanya. Termasuk mereka yang hadir di sana, mereka ingin mendengarkan penjelasan dari Jaya Satria.


"Sebelum saya menjawab, apakah saya boleh bertanya gusti prabu?."


"Silahkan. Tanyakan saja gusti prabu. Semoga saya bisa menjawabnya." Ada perasaan waspada dari dirinya.


"Apakah gusti prabu pernah melakukan sajen di sana?." Agak hati-hati Jaya Satria bertanya. Karena takut menyinggung perasaan Prabu Lingga Dewa.


"Saya pernah beberapa kali melakukan sajen di sana. Tapi mengapa gusti prabu bertanya seperti itu?." Prabu Lingga Dewa balik bertanya.


"Karena saat saya melaksanakan sholat di istana ini. Ada kekuatan gaib yang menyerang saya. Selain itu, saat pertama kali saya masuk ke gerbang istana. Saya melihat ada tali gaib yang mengikat seseorang di istana ini. Dan tali gaib itu terhubung jauh sampai ke sumber mata air. Maaf, bukan saya bermaksud untuk ikut campur. Jika tali gaib itu tidak segera diputuskan, saya takut nyawa seseorang yang terhubung dengan tali gaib tersebut tidak bisa diselamatkan lagi."


"Apa?. Jadi ayahanda prabu dalam keadaan bahaya?." Prabu Lingga Dewa sangat terkejut dengan apa yang dikatakan Jaya Satria. Sehingga ia bangkit dari tempat duduknya, ia mendekati Jaya Satria. "Benarkah yang gusti prabu katakan itu?. Apakah gusti prabu bisa memutuskan tali gaib itu?." Perasaan sang Prabu saat ini bercampur aduk. Karena ia tidak menyangka akan terjadi seperti itu.


"Itu semua tergantung pada gusti prabu. Apakah mau segera diselesaikan atau hanya kematian menyiksa yang akan beliau terima."


"Baiklah gusti prabu. Kalau begitu mohon ikut dengan saya." Prabu Lingga Dewa mempersilahkan Jaya Satria mengikutinya. Sementara itu Raden Jatiya Dewa dan Raden Antajaya Dewa juga ikut, karena mereka ingin melihat keadaan kakek prabu mereka yang bernama Maharaja Dewa Negara. Mereka yang hadir di sana juga ingin melihatnya, sehingga banyak orang yang datang ke sana.


Begitu mereka sampai di depan sebuah bangunan yang cukup besar. Langkah mereka terhenti, karena Jaya Satria memberikan kode pada mereka semua.


"Ada gusti prabu?. Kenapa kita berhenti di sini?. Apakah ada sesuatu?." Prabu Lingga Dewa merasa heran, kenapa mereka semua berhenti di sini.


"Tali gaib itu telah beraksi. Saat ini, ada makhluk gaib yang sedang menjaga di dalam-." Jaya Satria tidak sempat menjelaskan alasan mengapa ia menghentikan langkah mereka. Tiba-tiba saja pintu ruangan besar itu terbuka lebar, dan dari dalam ruangan itu terlihat hawa hitam yang begitu pekat. Bukan hanya sampai disitu saja, mereka semua dikejutkan oleh terpaan angin yang sangat kuat dari dalam ruangan itu. Membuat mereka semua mundur beberapa langkah, karena tidak bisa menahan terpaan angin tersebut.

__ADS_1


Jaya Satria mengatur hawa murninya, menguatkan tenaga dalamnya agar bisa menahan terpaan angin tersebut, dan ia berhasil melakukan itu. "Hai!. Iblis yang ada di dalam sana!. Atas nama Allah SWT, aku perintahkan kau untuk meninggalkan tempat itu. Jangan kau sakiti manusia yang tidak berdosa di dalam!. Atau aku akan membunuhmu!. Atas izin Allah SWT."


Setelah berkata seperti itu, terdengar tawa yang mengerikan dari dalam. Tawa yang berbeda dari manusia biasa, dan sosok itu berdiri di depan pintu. Sosok yang mengubah dirinya menjadi lebih besar lagi. Mereka semua sangat takut melihat itu, sehingga semakin mundur.


"Demi dewata yang agung. Makhluk mengerikan apa yang berada di ruangan ayahanda prabu maharaja dewa negara." Prabu Lingga Dewa tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.


"Apakah itu makhluk jin yang kita lihat saat semedi waktu itu gusti prabu asmalaraya arya ardhana?." Raden Jatiya Dewa mengingat jin yang ia lihat di dalam semedinya waktu itu.


"Saya harap gusti prabu, juga yang lainnya untuk saat ini menjauh dari tempat ini. Karena saya takut kita semua akan celaka karena jin itu." Jaya Satria segera menahan serangan jin yang mengarah pada mereka semua. "Saya mohon agar gusti prabu, juga yang lainnya segera menjauh!."


Mereka semua menjauh dari sana, hanya Jaya Satria yang menghadapi jin itu. Disaat yang bersamaan, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang berada di istana Kerajaan Suka Damai sedang bersemedi. Ia ingin membantu Jaya Satria yang saat ini sedang bertarung dengan jin itu.


Mereka semua melihat Jaya Satria tiba-tiba menggunakan jurus belah raga?. Entahlah, mereka semua tidak mengerti sama sekali apa yang dilakukan Jaya Satria.


"Terima kasih gusti prabu telah datang."


"Sama-sama jaya satria. Kita harus segera membunuh jin itu, karena seseorang yang berada di dalam sana sedang kesakitan."


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana saat ini juga menggunakan pakaian yang sama dengan Jaya Satria, sehingga mereka yang melihat itu mengira bahwa Jaya Satria ada dua. Meskipun itu memang kenyataannya.


Karena kasus kali ini berbeda, maka mereka juga melakukan hal yang berbeda untuk mengatasi jin tersebut. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana berada di belakang jin itu, ia arahkan ujung Keris Kembar Naga Penyegel Sukma. Begitu juga dengan Jaya Satria, dan setelah itu keluar cahaya yang menyilaukan.


"Ayahanda prabu. Kita harus menjauh dari sini. Karena jurus cakar naga cakar petir. Jurus yang sangat berbahaya ayahanda."


"Semuanya!. Kita menjauh dari sini." Perintah Prabu Lingga Dewa pada mereka semua.


Sedangkan Jaya Satria dan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sama-sama memainkan jurus Cakar naga cakar petir, disalurkan kekuatan tersebut ke dalam keris Pusaka Kembar keris naga penyegel sukma.

__ADS_1


"Kalian berdua tidak akan mudah mengalahkan aku!. Aku ini adalah jin abadi." Jin itu berusaha untuk melawan, mengarahkan serangan ke arah Jaya Satria yang berada di depannya. Namun ia tidak bisa menghindari serangan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang berada di belakangnya. Jurus cakar naga cakar petir mengikatnya dari belakang, membuat Jin itu berteriak kesakitan.


Jaya Satria mengambil kesempatan, ia arahkan keris pusaka kembar keris naga penyegel sukma ke arah tubuh Jin itu, sehingga ia semakin kesakitan dan tidak bisa bergerak lagi, karena gerakannya terkunci oleh lilitan tiga Sukma naga.


"Demi dewata agung, baru kali ini aku melihat jurus yang dahsyat seperti ini." Prabu Lingga Dewa menyaksikan sendiri, melihat bagaimana sambaran kilat dan api yang disatukan. Sehingga suasana begitu mencekam. Apalagi teriakan Jin itu membuat bulu kuduk merinding.


"Aku tidak akan mudah kalian kalahkan. Sudah banyak manusia yang berwujud dan menyembah padaku!. Kalian akan aku bunuh!." Lolongan Jin itu membuat mereka ketakutan. Namun tidak bagi Jaya Satria dan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Keduanya membacakan beberapa ayat yang dapat melemahkan kekuatan Jin yang mencoba untuk berontak itu.


Al Baqarah 22


الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ فِرَاشًا وَّالسَّمَاۤءَ بِنَاۤءً ۖوَّاَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَاَخْرَجَ بِهٖ مِنَ الثَّمَرٰتِ رِزْقًا لَّكُمْ ۚ فَلَا تَجْعَلُوْا لِلّٰهِ اَنْدَادًا وَّاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ


Annisa 87


اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ لَيَجْمَعَنَّكُمْ اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِ لَا رَيْبَ فِيْهِ ۗ وَمَنْ اَصْدَقُ مِنَ اللّٰهِ حَدِيْثًا


Surat Sad Ayat 41


رَبَّهٗۤ اَنِّیْ مَسَّنِیَ الشَّیْطٰنُ بِنُصْبٍ وَّ عَذَابٍؕ



Surat Al-Mu’minun Ayat 97-98


رَّبِّ اَعُوْذُ بِكَ مِنْ هَمَزٰتِ الشَّیٰطِیْنِۙ وَ اَعُوْذُ بِكَ رَبِّ اَنْ یَّحْضُرُوْنِ.


__ADS_1


Jin tersebut semakin berteriak kesakitan, karena ayat-ayat tersebut memang membuktikan bahwa bersekutu dengan jin atau iblis itu salah. Hanya Allah SWT maha pemilik kekuasaan tertinggi. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Bisakah Jaya Satria memutuskan tali gaib itu?. Temukan jawabannya.


...***...


__ADS_2