
...***...
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana semakin tidak tenang saat memikirkan keselamatan kedua ibundanya.
"Yunda! Raka! Aku harap yunda dan raka masuk ke istana! Selamatkan ibunda!." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memberi perintah pada kedua kakaknya.
"Tapi rayi?-."
"Cepat laksanakan perintahku! Aku tidak suka dibantah!" Bentak Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dengan penuh kemarahan.
Deg!.
Putri Andhini Andita dan Raden Hadyan Hastanta sangat terkejut melihat kemarahan sang Prabu. Apa lagi ketika melihat hawa merah yang menyelimuti tubuh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, itu memang tanda bahwa sang Prabu memang sangat marah.
"Sandika rayi Prabu." Putri Andhini Andita dan Raden Hadyan Hastanta memberi hormat.
Tidak ada bantahan lagi, keduanya meninggalkan tempat untuk masuk menuju istana. Mereka hanya percaya dengan apa yang akan dilakukan oleh sang prabu adalah demi kebaikan bersama. Mereka juga tidak ingin membuat Prabu Asmalaraya Arya Ardhana semakin marah jika membantah apa yang dikatakan. Karena itulah mereka memilih untuk melakukannya, untuk menghindari perselisihan diantara mereka.
"Apa yang kau rencanakan hingga menyuruh kedua saudaramu masuk ke istana?." Ratu Gempita Bhadrika sebenarnya ingin mencegat kepergian mereka berdua, tapi ia juga malas melakukan itu. "Apakah kau ingin mati di sini tanpa disaksikan oleh kedua saudaramu?."
"Jaya Satria?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memanggil Jaya Satria. Ia tidak menggubris pertanyaan itu, rasanya tidak ada gunanya menanggapinya.
"Sandika Gusti Prabu." Jaya Satria melompat mendekati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, ia mengabaikan Renjana Kala yang terlihat masih ingin bertarung dengannya.
Namun ketika Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria berdekatan, pedang pelebur Sukma seakan membelah diri, menjadi dua bagian?. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi?.
"Tidak mungkin pedang terkutuk itu menjadi dua?! Ini sanga gawat!." Ratu Gempita Bhadrika tidak percaya itu.
"Ada apa Gusti Ratu?." Renjana Kala mendekati Ratu Gempita Bhadrika. "Apakah gusti ratu mengenali pedang itu?." Ia sedikit heran dengan raut wajah Ratu Gempita Bhadrika yang tampak ragu-ragu. "Sepertinya pedang itu sangat berbahaya."
"Bukan hanya kau saja yang memiliki jurus serap jiwa kegelapan." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengayun pelan pedang itu. "Namun pedang pelebur Sukma ini juga memiliki kekuatan yang hampir sama dengan jurus yang kau banggakan itu! Pedang ini juga memiliki kemampuan menyerap hawa kegelapan musuh." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum lebar sambil menunjukkan pedang digenggaman tangannya.
"Mari kita selesaikan dengan cepat! Jurus serap jiwa kegelapan siapa? Yang paling kuat diantara kita?." Jaya Satria melepaskan topeng yang menutupi wajahnya?. "Jangan sampai kalian melarikan diri ya?."
Deg!.
Ratu Gempita Bhadrika dan Renjana Kala terkejut melihat wajah yang sama?.
"Bedebah, jangan bilang kau adalah raja yang sebenarnya bersembunyi?-." Belum sempat ia melanjutkan kata-katanya?.
Jaya Satria telah menyerangnya dengan menggunakan pedang pelebur Sukma. Tentunya Ratu Gempita Bhadrika segera menghindari serangan itu dari pada ia terkena tusukan pedang itu.
"Gusti Ratu!." Ia hendak mengejar.
"Mau ke mana kau? Lawan mu adalah aku!." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menantang Renjana Kala.
"Sepertinya, kau adalah seorang raja dengan segudang rahasia?." Ia tersenyum kecil. "Meskipun aku tidak tahu apa hubunganmu dengan jaya satria? Tapi sepertinya kau memiliki hubungan yang sangat dekat, atau jangan-jangan kau adalah kembarannya?." Renjana Kala mencoba menebak setelah melihat wajah yang sama dari dua orang yang berbeda?.
Kita tinggalkan dulu rasa penasaran dari Renjana Kala. Mari kita lihat dulu keadaan dalam istana yang agak sedikit kacau?.
"Ibunda?!." Putri Andhini Andita dan Raden Hadyan Hastanta melihat Ratu Dewi Anindyaswari dan Ratu Gendhis Cendrawati yang terlihat lemah tak berdaya.
"Ibunda?! Bangunlah ibunda!." Putri Andhini Andita berusaha untuk membangunkan ibundanya, Ratu Gendhis Cendrawati. Ia sangat mencemaskan keadaan ibundanya yang melemah.
"Ibunda?!." Raden Hadyan Hastanta mencoba untuk menyalurkan tenaga dalamnya pada Ratu Dewi Anindyaswari. "Aku mohon bertahanlah ibunda!." Keduanya berusaha menyalurkan tenaga dalam mereka untuk membantu menguatkan kedua ibunda mereka.
"Pantas saja rayi prabu begitu terlihat marah? Mungkin karena mencemaskan keadaan ibunda." Dalam hati Putri Andhini Andita terasa sangat sesak, dan hampir saja membantah perintah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, karena tidak ingin meninggalkan adiknya. "Ternyata perasaan rayi prabu lebih kuat dibandingkan aku mengenai keselamatan ibunda? Maafkan aku ibunda." Tanpa sadar ia menangis, merasa bersalah dengan kelemahan yang ia miliki.
"Rayi andhini andita menangis?." Dalam hati Raden Hadyan Hastanta bertanya-tanya apa yang membuat adiknya menangis?. "Rayi? Kuatkan dirimu rayi." Hanya itu yang bisa ia katakan pada adiknya.
Tak lama kemudian, dengan tenaga dalam yang mereka salurkan, kedua ratu Kerajaan Suka Damai berhasil diselamatkan. Perlahan-lahan keduanya bisa merasakan kembali diri mereka, yang sebelumnya merasakan kesakitan.
"Putriku?." Ratu Gendhis Cendrawati memeluk erat putrinya. "Oh? Ananda putri?." Tadinya Ratu Gendhis Cendrawati sangat takut karena tiba-tiba tubuhnya yang melemah tanpa alasan. "Aku pikir tadi itu adalah akhir dari hidupku." Dalam hatinya merasa lega karena masih bisa bernafas dengan sangat baik.
"Ibunda." Putri Andhini Andita membalas pelukan ibundanya sambil menahan tangisnya. "Andai saja aku tadi tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh rayi Prabu? Mungkin saja aku tidak bisa lagi memeluk ibundaku seperti ini." Ia sangat ketakutan ketika masuk ke dalam Istana, melihat ibunda dalam keadaan lemah tak berdaya?.
"Apakah ibunda baik-baik saja? Katakan padaku jika ibunda masih sakit." Raden Hadyan Hastanta begitu mencemaskan keadaan Ratu Dewi Anindyaswari.
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin, ibunda sudah baikan nak." Ratu Dewi Anindyaswari merasa bersyukur, ia masih bisa selamat?. "Meskipun tubuh ibunda masih melemah."
"Rayi Prabu memang sangat memperhatikan ibunda ratu dewi anindyaswari, juga ibunda gendhis cendrawati, mungkin karena itulah ia menyuruh kami masuk ke istana untuk membantu ibunda?." Hati Raden Hadyan Hastanta berdebar-debar dipenuhi oleh kegelisahan. "Apa jadinya jika tadinya aku tidak masuk memeriksa keadaan ibunda? Apakah masih bisa masih bersama ibunda saat ini? Cukup! Cukup ayahanda saja yang pergi meninggalkan kami, jangan terjadi pada ibunda?." Suasana hatinya sangat bergemuruh karena membayangkan hal terburuk yang akan terjadi jika ia tidak melakukan perintah itu dengan cepat. Tapi setidaknya ia bersyukur jika kedua ibundanya masih bisa diselamatkan.
"Sebaiknya kita menjauh dari sekitar sini, akan berbahaya jika kita terkena jurus serap jiwa kegelapan." Putri Andhini Andita mengingatkan mereka semua, agar tidak berlama-lama berada di Istana untuk saat ini.
"Kau kau benar rayi, mari kita bawa ibunda ke tempat yang aman." Raden Hadyan Hastanta sangat setuju.
"Tapi dimana nanda Prabu? Mengapa ibunda tidak melihat rayi kalian nak? Ke mana rayi kalian?." Dalam kecemasannya, hatinya tidak pernah melupakan keberadaan anaknya itu. Ratu Dewi Anindyaswari sangat cemas dengan keselamatan anaknya.
"Maaf ibunda? Rayi Prabu saat ini sedang berhadapan dengan Ratu kegelapan, kami diperintahkan rayi Prabu untuk menyelamatkan ibunda, rayi Prabu sangat mengkhawatirkan keselamatan ibunda." Jawab Raden Hadyan Hastanta.
__ADS_1
"Nanti saja bertanya ibunda." Putri Andhini Andita terlihat sangat cemas. "Ananda mohon agar segera mencari tempat yang aman, jangan sia-siakan waktu yang diberikan oleh rayi Prabu mengulur waktu untuk kita keluar dari istana ini." Putri Andhini Andita membantu ibundanya Ratu Gendhis Cendrawati berdiri, ia menopang tubuh ibundanya dengan sangat hati-hati.
"Tapi Putriku?-." Masih berat baginya, namun.
"Nanda rasa benar apa yang dikatakan oleh rayi andhini andita." Raden Hadyan Hastanta juga membantu Ratu Dewi Anindyaswari untuk berdiri. "Mari ibunda! Jangan sampai kami melakukan kesalahan! Dan justru malah membuat Rayi prabu murka pada kami ibunda! Keselamatan ibunda berdua adalah prioritas utama bagi kami!." Raden Hadyan Hastanta membantu Ratu Dewi Anindyaswari berdiri, dan menopang tubuhnya, membantunya berjalan meninggalkan istana untuk mencari tempat yang aman.
"Putraku cakara casugraha? Putraku jaya satria? Semoga kalian baik-baik saja nak, ibunda akan selalu mendoakan keselamatan kalian nak." Dalam hati Ratu Dewi Anindyaswari begitu mencemaskan kedua anaknya.
Air mata kesedihan telah mengisi relung hatinya. Lagi-lagi merasakan bagaimana kepahitan yang akan dirasakan dari sebuah pertarungan hidup dan mati mengenai putranya. Hatinya sangat berat untuk meninggalkan putranya. Namun, ini semua juga atas perintah putranya. Hingga hatinya benar-benar dipenuhi oleh kegelisahan yang mendalam.
"Kami janji akan menemuimu setelah kami berhasil mengamankan ibunda, jika kau dan jaya satria tidak bisa mengalahkan mereka? Setidaknya aku mohon kalian bertahan sampai kami datang." Dalam hati Putri Andhini Andita sangat berharap bahwa adiknya, juga Jaya Satria mampu mengatasi musuh yang menyerang Kerajaan Suka Damai dengan menggunakan kekuatan kegelapan. Bukanlah kekuatan yang bisa dianggap enteng seperti kebanyakan musuh lainnya.
"Rayi prabu? Jaya satria? Aku harap kalian dapat mengalahkan mereka, sementara kami membawa ibunda ke tempat aman seperti yang kau inginkan." Dalam hati Raden Hadyan Hastanta juga mencemaskan adiknya, dan Jaya Satria. Namun apa daya, menyelamatkan kedua ibundanya juga sangat penting.
...***...
Kerajaan Mekar Jaya.
Malam telah larut, namun saat itu matanya masih belum mau terlelap.
"Ada apa ini? Kenapa aku merasakan kegelisahan yang tidak biasa?." Dalam hati Putri Ambarsari merasakan ada yang tidak wajar dengan apa yang ia rasakan saat itu.
Putri Ambarsari mencoba berjalan mengelilingi kaputren, hingga saat itu ia melihat ibundanya yang masih duduk termenung di pandopo?.
"Ibunda? Apa yang sedang ibunda pikirkan?." Ia mendekati ibundanya yang masih duduk di sana dengan sorot mata kosong.
"Tentu saja aku sedang memikirkan nasib buruk yang menimpa kedua anakku atas apa yang telah kau lakukan pada mereka." Ucapnya seakan-akan sedang menahan perasaan sakit yang sangat luar biasa.
"Hufh!." Putri Ambarsari menghela nafasnya dengan lelahnya. "Jangan menyiksa diri dengan pikiran seperti itu ibunda." Setelah itu ia pergi meninggalkan ibundanya karena ia tidak ingin berdebat panjang dengan ibundanya.
Deg!.
Namun saat itu ia terkejut karena ada sesuatu yang menabrak tubuhnya.
"Mohon maaf gusti Putri, hamba tidak bermaksud mengejutkan Gusti Putri, hanya saja perasaan ini sangat tidak biasa." Sukma Dewi Darmani atau lebih tepatnya pedang panggilan jiwa pedang Batari Saka merasa bersalah karena tanpa sadar menarik Putri Ambarsari ke dalam alam bawah sadarnya.
"Apa yang terjadi sebenarnya? Apakah ada sesuatu yang sangat mencemaskan?."
"Sepertinya pedang panggilan jiwa pedang sukma naga pembelah bumi dalam keadaan bahaya, itulah alasan kenapa pedang panggilan jiwa pedang batari saka bergetar sangat hebat."
"Lantas? Apa yang harus saya lakukan untuk menenangkannya? Katakan pada saya bagaimana caranya?." Putri Ambarsari terlihat sangat cemas.
"Sangat disayangkan sekali Gusti Putri, kita tidak bisa terhubung dengan pedang sukma naga pembelah bumi karena ada kegelapan yang menyelimutinya, sehingga kita tidak bisa membantunya."
"Mohon maaf Gusti Putri, hamba tidak bisa membantu sama sekali." Ada perasaan bersalah yang ditunjukkan oleh Sukma Dewi Darmani.
"Saya lah yang salah, karena tidak bisa mengasah kemampuan pedang batari saka dengan baik, saya akan berlatih dengan sungguh-sungguh." Tekadnya dengan sangat kuat. "Saya harus lebih kuat lagi agar saya bisa melindungi keluarga saya dengan lenih baik lagi."
Deg!.
Sukma Dewi Darmani sangat terkejut ketika melihat bagaimana semangat itu, keinginan yang sangat kuat untuk melindungi orang yang sangat ia cintai, namun malah berakhir dengan pengkhianatan yang sangat menyakitkan.
Kembali ke masa itu.
Di sebuah kerajaan yang sangat besar.
Saat itu kebetulan ada sayembara yang sangat berbeda dari sayembara lainnya. Di mana seorang wanita yang memperebutkan seorang pangeran kerajaan untuk dijadikan suaminya. Tentu saja itu adalah sayembara yang tidak biasa, dan pesertanya juga tidak biasa. Bukan hanya dari kalangan pendar cantik saja yang ikut, namun ada juga putri Raja yang merasa memiliki kemampuan yang sangat hebat ikut serta dalam sayembara itu.
Saat itu ada seorang Putri Raja yang sangat kuat ikut dalam pertarungan itu, ia tidak terkalahkan sama sekali. Tentu saja ia menjadi sorotan saat itu, karena ia telah berhasil mengalahkan lima orang pendekar pilih tanding, dan tiga orang putri dari kerajaan lainnya.
"Sungguh sangat luar biasa sekali Gusti Putri dewi darmani, kekuatannya tidak ada tandingannya." Dengan penuh semangat Warjana yang memandu acara sayembara berkata seperti itu. "Nah? Hadirin sekalian? Apakah masih ada tuan-tuan putri yang ingin berhadapan dengan Gusti putri dewi darmani?."
Namun tidak ada tanggapan sama sekali dari mereka yang hadir di sana, seolah-olah mereka semua takut untuk berhadapan dengan Putri Dewi Darmani yang sangat tangguh. Akan tetapi saat itu Putri Asriwati Wastina mendekati kakaknya dengan senyuman lembut.
"Rayi? Apakah kau ingin berhadapan dengan aku?." Dengan hati-hati ia bertanya.
"Itu tidak mungkin yunda, aku hanya ingin memberikan ucapan selamat padamu." Balasnya dengan senyuman manis.
Chekh!.
Deg!.
Putri Dewi Darmani sangat terkejut ketika ia merasakan ada sebuah tusukan benda tajam tepat di bahu kirinya, sebilah pedang yang telah menembus dada kirinya.
Mereka semua juga terkejut melihat pemandangan mengerikan itu, mereka tidak menduga jika Putri Ariswati Wastina dengan sangat teganya melakukan itu?.
"Aku hanya ingin mengucapkan selamat tinggal yunda." Ucapnya tanpa merasakan perasaan bersalah sama sekali. "Kau tidak pantas mendapatkan Raden endaru baskara, kau masih lemah bagiku."
"Kau? Aku selalu membelamu, mendukungmu untuk mendapatkan apa yang kau inginkan, apakah seperti ini balasannya?." Hatinya sangat sakit dengan apa yang telah dilakukan adiknya.
__ADS_1
"Ya, termasuk mendukung aku untuk mendapatkan Raden endaru baskara dengan kematian mu yunda." Balasnya dengan senyuman manis.
"Kegh!." Putri Dewi Darmani meringis sakit karena tenaga dalamnya semakin terkuras habis.
"Apa ini? Kenapa tiba-tiba saja Gusti Putri ariswati wastina malah menyerang Gusti Putri dewi darmani? Apakah ini strategi untuk mengalahkan musuhnya?." Warjana sebagai pemandu acara tersebut malah berpendapat seperti itu.
"Kegh!." Putri Dewi Darmani semakin meringis kesakitan karena pedang itu mengalirkan kekuatan yang menyakiti tubuhnya.
"Nikmatilah kematian mu yunda, aku ucapkan terima kasih karena kau selalu mendukung apapun yang aku lakukan." Ia menyeringai lebar.
"Keghakh!." Putri Dewi Darmani berteriak kesakitan karena kekuatan itu semakin menggerogoti tubuhnya.
Mereka yang melihat itu semakin cemas, namun tidak ada satupun dari mereka yang bergerak untuk menghentikan itu.
"Kau akan mati di sini!." Teriaknya dengan penuh kemenangan.
Duakh!.
"Eagkh!."
Bom!.
Mereka semakin kebingungan ketika melihat tubuh Putri Ariswati Wastina tiba-tiba terlempar dan menabrak dinding pembatas istana?. Mereka hampir tidak bisa mencerna apa yang telah terjadi di hadapan mereka saat itu.
"Kegh!."
Sementara itu mereka juga melihat ada sosok pemuda yang mencoba menenangkan Putri Dewi Darmani yang sedang terluka parah akibat gigitan dari jurus pedang pengikat sukma.
"Uhukh!." Putri Dewi Darmani terbatuk darah setelah ditotok oleh pemuda itu.
"Hei! Siapa kau?!." Warjana sangat terkejut karena pemuda itu ikut campur dengan masalah mereka.
Namun pemuda itu tidak menggubriskan sama sekali dengan ucapan itu. Dengan tenaga dalam yang ia miliki?. Mencoba menenangkan pedang itu, supaya tidak menyakiti Putri Dewi Darmani.
"Kegh!." Ia meringis sakit ketika pemuda itu mencoba mencabuti pedang itu dari tubuhnya.
"Hyah!."
Duakh!.
"Kegkh!." Putri Ariswati Wastina sangat kesal karena ia tidak bisa menyentuh pemuda itu dengan tendangannya, pemuda itu memasang pelindung di sekeliling tubuhnya agar tendangan itu tidak mendarat mengenainya?.
"Kau diam saja di sana! Saudara macam apa kau ini? Tega sekali kau mengkhianati saudaramu sendiri hanya demi ambisi jahat mu itu?."
Deg!.
Putri Dewi Darmani dan Putri Ariswati Wastina sangat terkejut mendengarnya, tidak menduga jika ada seseorang yang mengetahui apa yang telah terjadi diantara mereka?.
"Kau hanyalah orang luar saja! Berani sekali kau ikut campur?!." Ia kembali mencoba menyerang pemuda itu, namun sangat disayangkan sekali?. Pemuda itu malah membalikkan serangannya setelah ia berhasil melepaskan pedang pengikat sukma dari tubuh Putri Dewi Darmani.
"Sebaiknya kita tinggalkan saja tempat ini Gusti Putri." Pemuda itu pergi membawa Putri Dewi Darmani dari tempat itu.
"Jangan lari kau!." Teriaknya dengan sangat kuat, akan tetapi ia tidak bisa mengejarnya karena gerakannya di tahan dengan menggunakan pedang miliknya sendiri. "Kurang ajar!." Dalam hatinya mengumpat dengan sangat kuat.
Sementara itu, setelah merasa di tempat yang aman pemuda misterius itu menurunkan Putri Dewi Darmani, menyandarkannya di sebuah pohon yang cukup besar.
"Bersabarlah, aku akan mencoba mengobati mu." Pemuda itu menyalurkan tenaga dalamnya ke luka itu, supaya darah itu berhenti.
"Hentikan saja tuan pendekar." Suara itu terdengar sangat lemah, tenaganya seakan-akan tidak ada lagi. "Tidak ada yang selamat jika terkena pedang terkutuk itu." Suaranya semakin melemah.
"Jangan berkata seperti itu, masih ada harapan, jangan putus asa hanya karena mendapatkan perlakukan buru dari saudara sendiri." Pemuda itu terlihat sangat cemas, ia sangat khawatir dengan keselamatan Putri Dewi Darmani.
"Tidak apa-apa, memang seperti itulah kenyataannya." Ia mencoba untuk menggenggam tangan pemuda itu. "Tanganmu sangat hangat sekali, aku rasa sangat beruntung sekali ada seorang wanita yang dapat menggenggam tangan hangat ini setiap harinya." Tanpa sadar ia menangis membayangkan dirinya mendapatkan cinta yang tulus.
"Gusti Putri jangan berkata seakan-akan ini adalah hari terakhir, masih bisa selamat, hamba mohon-."
"Siapa namamu? Aku ingin mengingatnya sebelum aku pergi." Kesadarannya hampir saja menipis.
"Nama hamba jayantaka byakta."
"Nama yang sangat bagus sekali, akan aku ingat itu dengan baik." Ia tidak dapat menahan air matanya walaupun kesadarannya benar-benar tidak bisa ia kendalikan lagi.
"Kalau begitu beristirahatlah dengan baik Gusti Putri, tolong pinjamkan kekuatan Gusti Putri bagi hamba untuk menjadi salah satu pilar kerajaan yang akan hamba dirikan nantinya."
"Apakah kekuatanku akan berguna banyak untukmu nantinya?." Perasaan sedih menerpa hatinya yang berada diambang batas.
"Tentu saja sangat berguna, karena Gusti Putri memiliki hati yang sangat bersih, menjadi pelindung saudara yang sangat berharga, menjadi pelindung sangat kuat untuk semua orang yang Gusti Putri."
"Jika memang kekuatanku bisa bermanfaat untukmu?." Perlahan-lahan tubuhnya berubah menjadi embun cahaya yang menghangatkan. "Gunakan kekuatanku dengan baik, aku akan menjadi pedang panggilan jiwamu, pedang batari saka." Seutuhnya sukma Dewi Darmani telah berubah menjadi pedang yang sangat indah. "Aku akan lebih tenang seperti ini, aku juga tidak ingin menjadi sosok yang pendendam setelah kematinaku, aku rasa menjadi salah satu pilar pelindungmu itu tidak apa-apa, itu lebih baik." Suara itu terdengar bahagia, tidak ada dendam sedikitpun di dalam hatinya saat itu.
__ADS_1
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Apakah masalah kerajaan Suka Damai telah selesai?. Next.
...***...