
...***...
Istana Kerajaan Suka Damai.
Putri Andhini Andita menangis melihat keadaan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria yang masih belum juga pulih, hatinya sangat gelisah.
"Mengapa kalian selalu saja membahayakan diri hanya untuk menyelamatkan kami rayi?." Ia mengusap lengan adiknya yang diperban, karena bekas luka yang cukup parah. "Kenapa aku bisa menangis melihat kalian yang seperti ini?." Hatinya tidak dapat lagi menyembunyikan kesedihan itu.
"Gusti Putri, Gusti Prabu."
Emban dan Prajurit yang melihat itu ikut sedih dengan apa yang telah diucapkan Putri Andhini Andita. Tentu saja mereka semua dapat merasakan kebaikan dari Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang selalu memperhatikan mereka semua.
"Rasanya aku sebagai kakak sangat tidak berguna." Hatinya sangat sedih karena tidak bisa membantu sama sekali. "Kau mengatakan padaku jika kita ini keluarga? Tapi kenapa hanya kau saja yang menanggung rasa sakit rayi Prabu? Apakah kau tidak percaya dengan kekuatan yang aku miliki?." Putri Andhini Andita mengeluarkan semua yang ia rasakan. Hatinya benar sedih, tidak tau tahu harus berbuat apa.
"Sampurasun."
Syekh Asmawan Mulia baru saja datang bersama Raden Hadyan Hastanta.
"Rampes." Putri Andhini Andita spontan berdiri, melihat siapa yang datang, dan ia segera menghapus air matanya. "Oh? Syukurlah raka sudah datang bersama syekh asmawan mulia." Putri Andhini Andita merasa lega.
"Gusti Putri." Syekh Asmawan Mulia memberi hormat.
"Syekh? Tolong sembuhkan rayi Prabu dan jaya satria, aku mohon syekh." Dari sorot matanya terlihat sangat jelas, bahwa ia sangat menginginkan kesembuhan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria.
"Baiklah Gusti Putri, hamba akan mencobanya." Syekh Asmawan Mulia segera memeriksa keadaan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Raka? Terima kasih karena telah membawa syekh asmawan mulia." Putri Andhini Andita mendekati kakaknya.
"Tentu saja rayi, kita sama-sama tidak mau rayi prabu, juga jaya satria mengalami hal yang buruk." Balasnya. Hatinya dipenuhi kegelisahan, tidak karuan saat menjemput Syekh Asmawan Mulia.
"Aku sangat mencemaskan keadaan rayi Prabu, juga jaya satria, aku takut terjadi sesuatu pada mereka." Putri Andhini Andita berusaha untuk menahan tangisnya. Ia mencoba menenangkan dirinya, menghapus air matanya.
"Tenanglah rayi, semoga rayi prabu, jaya satria baik-baik saja." Raden Hadyan Hastanta memperhatikan Syekh Asmawan Mulia yang sedang memeriksa keadaan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria.
...***...
Di tempat pengungsian sementara.
Ratu Dewi Anindyaswari dari tadi masih saja gelisah, mondar-mandir berjalan, dan sesekali duduk.
"Ya Allah? Apa yang terjadi pada putra hamba? Apakah ia baik-baik saja?." Dalam hatinya masih gelisah.
"Rayi dewi?." Suara Ratu Gendhis Cendrawati menyapanya.
"Yunda?."
"Tenanglah rayi."
"Bagaimana mungkin aku bisa tenang yunda? Putra putri kita juga belum datang untuk menjemput kita? Apakah yunda tidak cemas?."
"Mungkin ada hal penting yang harus mereka lakukan sebelum menjemput kita, tenanglah rayi dewi."
Ratu Dewi Anindyaswari tampak berpikir sejenak, malam ini ia tidak bisa bertemu dengan anaknya.
"Dua malam, rasanya sangat lama aku tidak bertemu dengan putraku, apakah ia akan baik-baik saja?." Perasaan cemas itu rasanya sangat membuncah.
"Mari masuk rayi dewi, angin malam tidak baik untuk kesehatan kita."Ratu Gendhis Cendrawati mencoba untuk membujuk Ratu Dewi Anindyaswari. "Mereka pasti akan datang menjemput kita, tidak mungkin mereka melupakan ibunda yang sangat mereka cintai."
"Ya, yunda benar."
"Kalau begitu mari kita masuk."
"Mari yunda."
Ratu Dewi Anindyaswari dan Ratu Gendhis Cendrawati masuk ke dalam rumah kecil itu, hatinya hanya mencemaskan keadaan anaknya saja.
...***...
Kerajaan Mekar Jaya.
__ADS_1
Putri Ambarsari saat itu sedang berbincang-bincang dengan Prabu Rahwana Bimantara.
"Apa yang akan kita lakukan pada ibunda? Sepertinya ibunda sama sekali tidak mau mendengarkan apapun ucapan saya."
"Aku juga bingung dengan perangainya yang seperti itu." Prabu Rahwana Bimantara terlihat menghela nafasnya dengan pelan. "Bagaimana mungkin sikapnya bisa berubah seperti itu?."
"Mohon ampun kakek Prabu? Apakah dahulunya ibunda adalah anak yang baik?."
"Sangat baik, satu-satunya putri yang sangat aku cintai." Dengan senyuman yang lembut Prabu Rahwana Bimantara menjelaskannya. "Sifatnya yang baik itulah yang membuat aku menjodohkannya dengan ayahandamu, Raden bahuwirya dihyan darya." Ingatan sang Prabu tidak akan pernah lupa pada saat kejadian hari itu. "Ayahandamu saat itu memimpin kerajaan suka damai dengan sangat bijaksana, dan aku sangat terkesan padanya, hingga akhirnya aku menjodohkan ibundamu dengan ayahandamu."
"Ayahanda menerima perjodohan itu?."
"Tentu saja ia menerimanya, karena aku sangat dekat mendiang ayahandanya Gusti Prabu guindara arya jiwatrisna."
"Sungguh gelar yang sangat bagus sekali." Putri Ambarsari sangat kagum dengan gelar itu.
"Keturunan bahuwirya memang memiliki gelar yang sangat bagus untuk memimpin, termasuk rayimu nanda cakara casugraha yang memiliki gelar yang sangat bagus."
"Ya, kakek prabu benar, asmalaraya arya ardhana." Putri Ambarsari tersenyum lembut. "Seorang laki-laki bangsawan yang membawa perdamaian, itulah arti nama gelar yang didapatkan rayi cakara casugraha."
Malam itu Putri Ambarsari dan Prabu Rahwana Bimantara banyak bercerita tentang masalah keluarga, banyak hal yang telah terjadi hingga sampai pada titik keluarga mereka yang terpecah belah karena menginginkan taha.
...****...
Istana Kerajaan Suka Damai.
Sepertinya keadaan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria tidak sebaik yang mereka harapkan. Kabar buruk yang disampaikan oleh Syekh Asmawan Mulia.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Syekh Asmawan Mulia sangat terkejut setelah memeriksa kondisi keduanya.
"Apa yang terjadi syekh? Apa yang terjadi pada rayi Prabu? Apa yang terjadi pada jaya Satria?." Putri Andhini Andita semakin panik.
"Syekh? Katakan pada kami apa yang terjadi pada rayi prabu juga jaya satria?."
"Mohon ampun Gusti Putri, Raden." Syekh Asmawan Mulia memberi hormat pada keduanya. "Keadaan nanda prabu dan nanda jaya satria sangat tidak baik, karena sukma mereka terjebak didalam jurus serap jiwa kegelapan pedang pelebur Sukma."
Deg!.
"Oh? Dewata yang agung! Apa yang akan aku katakan pada ibunda dewi anindyaswari mengenai rayi Prabu?." Putri Andhini Andita kembali menangis terisak. "Kenapa kondisinya separah itu?." Ia mendekati adiknya yang masih terbaring di tempat tidur. "Rayi Prabu? Aku mohon bangun lah!." Ia kembali menangis, ia tidak berdaya sama sekali untuk membantu adiknya. "Rayi Prabu! Kenapa bisa terjadi seperti ini?!." Putri Andhini Andita mengusap kepala adiknya. Rasanya sangat tidak tega menerima kenyataan pahit ini.
"Rayi andhini andita." Bahkan Raden Hadyan Hastanta tidak bisa menenangkan adiknya yang menangis seperti itu.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Syekh Asmawan Mulia juga ikut sedih melihat keadaan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria.
"Lalu apa yang harus kita lakukan Syekh? Bagaimana caranya menyelamatkan rayi Prabu, juga jaya satria? Tolong selamatkan mereka syekh!."
"Mohon ampun Raden? Hamba juga tidak tahu harus berbuat apa?." Terlihat ia menghela nafasnya. "Sebab sukma yang terjebak didalam jurus serap jiwa kegelapan, akan sulit untuk diselamatkan." Sorot matanya terlihat sangat sedih.
"Rayi Prabu? Jaya satria?." Putri Andhini Andita menangis terisak. "Mengapa aku sangat tidak berguna untuk kalian saat ini?." Rasa sedih yang ia rasakan sangat dalam. Hatinya sangat sakit, pedih, dan tak berdaya.
"Bukan hanya itu saja sebenarnya yang membuat nanda Prabu, juga nanda jaya satria tidak sadarkan diri." Dalam hati Syekh Asmawan Mulia sangat cemas. "Melainkan mustika naga merah delima yang ada didalam tubuh keduanya telah ternodai oleh kegelapan, sehingga keduanya tidak dapat mengambil alih tubuh mereka." Dalam hati Syekh Asmawan Mulia merasa cemas. "Jika ini terus dibiarkan? Itu akan membahayakan tubuhnya." Ia tidak bisa mengatakan pada Putri Andhini Andita dan Raden Hadyan Hastanta mengenai itu.
Bisa gawat jika rahasia yang disimpan oleh sang Prabu diketahui oleh kedua kakaknya? Akan gawat jika masalah itu sampai diketahui.
"Mohon ampun Gusti Putri? Raden? Hamba kira sebaiknya memanggil nyai bestari dhatu, semoga saja beliau dapat membantu menyembuhkan nanda Prabu, juga nanda jaya Satria untuk sembuh." Syekh Asmawan Mulia memberi saran pada mereka berdua.
"Ya, itu adalah pilihan yang sangat tepat Syekh!." Raden Hadyan Hastanta baru ingat dengan tabib wanita itu. "Aku yakin nyai bestari dhatu akan membantu rayi Prabu dan jaya satria."
"Kalau begitu kita harus segera menjemputnya! Lebih cepat lebih baik, mengingat kondisi rayi Prabu, juga jaya satria yang seperti ini." Putri Andhini Andita menghapus air matanya.
"Kalau begitu? Aku yang akan menjemput nyai bestari dhatu ke pantai selatan malam ini juga." Raden Hadyan Hastanta menawarkan diri untuk menjemput Nyai Bestari Dhatu.
"Berhati-hatilah raka, aku mohon agar cepat kembali, kita tidak memiliki waktu yang banyak."
"Baiklah rayi, aku akan segera berangkat malam ini, tapi aku mohon tetaplah berada didekat rayi prabu." Raden Hadyan Hastanta menyanggupi permintaan adiknya.
"Tentu saja raka." Ia mencoba bersikap tenang. "Terima kasih raka, aku harap raka baik-baik saja selama diperjalanan menuju pantai selatan." Putri Andhini Andita merasa bersyukur karena kakaknya bisa melakukannya malam ini juga.
"Ya, semoga saja rayi." Raden Hadyan Hastanta memahami ucapan adiknya. "Syekh Asmawan Mulia? Aku harap Syekh bisa menjemput ibunda Ratu yang berada di desa damai abdi." Tentu saja ia masih ingat dengan keadaan ibundanya. "Kami membawa ibunda ke sana ketika situasi istana sedang kacau." Lanjutnya. "Aku mohon jelaskan seadanya saja jika ibunda bertanya kenapa Syekh yang menjemput ibunda?."
__ADS_1
"Baiklah Raden, akan hamba kerjakan sesuai perintah Raden.
"Kalau begitu aku berangkat dulu." Ia tersenyum lega. "Rayi andhini andita? Jaga dirimu baik-baik di istana selama kami belum kembali, nanti jika ibunda kembali? Jelaskan dengan tenang pada ibunda, agar tidak mencemaskan keadaan rayi Prabu juga jaya satria." Ia berpesan pada adiknya.
"Baiklah raka, berhati-hatilah raka, semoga raka selamat sampai tujuan." Hatinya sangat cemas. Namun ia berharap kakaknya akan baik-baik saja.
"Sampurasun." Raden Hadyan Hastanta meninggalkan bilik adiknya. Ia tidak mau membuang waktu lagi. Karena itulah ia harus segera berangkat malam ini juga.
"Rampes." Balasnya.
"Rampes." Syekh Asmawan Mulia juga berdoa didalam hatinya. "Semoga saja Raden hadyan hastanta tidak mengalami hambatan untuk menjemput nyai bestari dhatu ya Allah." Itulah harapan Syekh Asmawan Mulia.
"Syekh? Aku harap Syekh untuk saat ini tetap berada di istana." Putri Andhini Andita menatap dengan sedih. "Besok pagi saja ke desa damai abdi, aku sangat mencemaskan keadaan mereka berdua Syekh." Putri Andhini Andita sangat khawatir. "Aku takut tidak bisa mengatasinya sendirian jika terjadi sesuatu pada mereka."
"Sandika gusti putri." Syekh Asmawan Mulia sangat mengerti bagaimana suasana hati Putri Andhini Andita saat ini.
...***...
Sementara itu Di kerajaan Telapak Tiga.
Putri Cahya Candrakanti belum juga bisa memejamkan matanya, pikirannya masih saja tertuju pada Jaya Satria yang telah berhasil mencuri hatinya.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Dalam hatinya mencoba untuk menenangkan dirinya agar tidak terbawa suasana. "Bagaimana mungkin aku bisa bersikap seperti ini? Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta?." Jantungnya berdebar-debar tidak karuan ketika membayangkan hal aneh yang bersarang di hatinya saat ini. "Bagaimana mungkin aku bisa jatuh cinta pada orang yang tidak aku kenal sama sekali?." Dalam hatinya kembali bertanya-tanya.
Namun dalam perasaan aneh itu?. Tiba-tiba saja ia teringat dengan satu orang wanita yang rasanya akan menjadi penghalangnya untuk mendapatkan Jaya Satria?.
"Putri andhini andita? Aku rasa dia juga memiliki perasaan pada jaya satria." Hatinya merasakan sesak yang aneh. "Apakah jaya satria juga menyukainya? Aku rasa jaya satria tidak akan berani mencintai yunda dari junjungannya." Dalam hatinya memikirkan kemungkinan itu terjadi. "Aku harus percaya diri, jika jaya satria akan menjadi milikku." Dalam hatinya mencoba menyemangati dirinya agar semangat untuk memiliki Jaya Satria. Apakah bisa?.
Sedangkan Prabu Guntur Herdian dan Ratu Cahya Bhanurasmi malam itu sedang berbincang-bincang mengenai Putri Cahya Candrakanti.
"Apakah dinda tidak merasakan perubahan sikap yang ditunjukkan putri kita setelah kembali dari desa gamang kuasa? Rasanya ia mengalami perubahan yang aneh."
Ratu Cahya Bhanurasmi tertawa kecil melihat raut wajah Prabu Guntur Herdian yang sangat panik mengenai putrinya.
"Apakah ada seseorang yang telah memikat hatinya? Sehingga putriku yang selama ini sangat polos mulai menunjukkan tanda-tanda bahwa ia sedang jatuh cinta pada seorang pemuda?."
"Tenanglah kanda, jangan panik seperti itu." Ratu Cahya Bhanurasmi semakin tertawa melihat sang Prabu yang seakan-akan tidak rela melihat perubahan sikap anaknya. "Artinya putri kita telah beranjak dewasa, ia telah merasakan mencintai seseorang yang sangat istimewa di hatinya."
"Tidak! Tidak boleh! Itu terlalu cepat bagiku dinda! Aku tidak mau berpisah dengan putriku terlalu cepat!." Prabu Guntur Herdian semakin panik.
"Hahaha! Kanda ini bicara apa? Jangan kekang putrimu selamanya."
"Dinda ini aneh sekali! Jangan berbicara setenang itu! Apakah dinda tidak takut jika nanti putri kita di bawa dari istana ini oleh suaminya?." Prabu Guntur Herdian terlihat semakin panik, bahkan suaranya terdengar sedang merengek sedih sambil membayangkan anak perempuannya pergi meninggalkannya, pergi meninggalkan istana.
"Kanda tenang saja, putri kita pasti akan memilih jalan yang terbaik, dan kita sebagai orang tuanya? Tentunya kita harus mendukung anaknya, bukankah seperti itu kanda?." Dengan senyuman lembut Ratu Cahya Bhanurasmi mencoba menenangkan Prabu Guntur Herdian.
"Dinda sangat curang sekali, bagaimana mungkin dinda bisa setenang ini?." Prabu Guntur Herdian memeluk Ratu Cahya Bhanurasmi dengan perasaan sedih.
Apakah memang seperti itu yang akan terjadi nantinya?. Simak dengan baik kisahnya.
...***...
Di bawah alam sadar Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria.
"Ada apa jaya satria? Kenapa engkau tersenyum seperti itu?."
"Tidak apa-apa." Jaya Satria terkekeh kecil. "Terkadang aku bertanya pada diriku sendiri, apakah aku mampu mengendalikan sikap terkutuk yang ada di dalam diriku ini atau tidak." Ia menyentuh dadanya dengan pelan. "Tapi saat aku melihat dirimu yang berhasil menjadi Raja? Aku menyadari jika tidak selamanya sikap terkutuk ini menguasai diriku, dengan adanya dirimu itu membuktikan jika cakara casugraha tidak lah sepenuhnya jahat."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria terkekeh kecil, ada perasaan yang aneh menggelitiki hati keduanya hingga tertawa seperti itu.
"Hidup ini memang aneh, dan tidak bisa ditebak dan tidak bisa berjalan dengan apa yang kita inginkan." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menyandar di punggung Jaya Satria. "Hidup ini memang sangat aneh, dan tidak ada yang pasti."
"Ya, Gusti Prabu benar." Jaya Satria juga menyandarkan punggungnya, hingga mereka saling memunggungi satu sama lain. "Tapi keinginan terbesar kita hanya ingin membahagiakan ibunda, membahagiakan yunda, dan tentunya membantu ayahanda Prabu mengatasi setiap masalah yang ada di kerajaan ini." Perasaanya menghangat ketika memikirkan kebahagiaan orang-orang yang sangat dicintai tersenyum bahagia.
"Tapi keadaan kita yang seperti ini? Aku yakin akan membuat ibunda akan sedih." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa sedih. "Meskipun kita memiliki keinginan untuk membuat ibunda selalu tersenyum? Namun tak jarang kita membuat ibunda sering bersedih dengan kondisi kita yang seperti ini."
"Itulah yang dinamakan, tidak semua yang kita inginkan sesuai dengan harapan." Jaya Satria juga merasa sedih. "Hidup ini memang aneh, ada masanya bahagia? Dan ada masanya kita bersedih." Jaya Satria mencoba untuk tetap tegar walaupun sakit. "Sama seperti kita berjalan, tidak semua jalan yang kita lalui itu mulus." Jaya Satria masih ingat bagaimana perjuangannya hingga sampai titik ini. "Dari kita terlahir, hingga sebesar ini? Ada banyak hal baik dan hal buruk yang telah kita lalui."
"Ya, kau benar jaya satria." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil. "Hidup kita yang selama ini ada baik dan buruk, membuat kita terkadang merasa bimbang dengan apa yang akan kita lakukan di hari berikutnya."
__ADS_1
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria hanya sedang mengenang apa yang telah berlalu. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?.
...*** ...