
...***...
Hari ini Jaya Satria, Prabu Maharaja Dewa Negara, Prabu Lingga Dewa, Raden Antajaya Dewa dan Raden Jatiya Dewa berada di sumber mata air dewa. Prabu Maharaja Dewa Negara tidak menyangka akan melihat pemandangan yang mengenaskan dari apa yang ia lihat.
"Seperti inilah pemandangan yang bisa kakek prabu lihat dari pohon itu." Jaya Satria yakin Prabu Maharaja Dewa Negara dapat melihatnya dengan jelas.
"Melihat apa ayahanda prabu?." Prabu Lingga Dewa sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Jaya Satria.
"Apakah mereka adalah jiwa yang tersesat akibat sajen itu?. Sungguh sangat mengerikan sekali." Rasanya ia tidak sanggup melihat pemandangan itu.
"Benar kakek prabu. Alhamdulillah hirabbli'alamin, kakek prabu bisa diselamatkan dari tali gaib itu. Jika tidak, bisa jadi kakek prabu berada dalam kesengsaraan sama seperti mereka." Ucap Jaya Satria.
"Oh dewata yang agung. Ampuni aku." Tanpa sadar ia menangis, membuat Prabu Lingga dan kedua anaknya merasa heran.
"Lantas, bagaimana caranya menyelamatkan mereka semua?. Kasihan sekali mereka nak. Aku tidak tega melihat keadaan mereka seperti ini."
"Satu-satunya cara untuk menyelamatkan mereka adalah kita yang masih hidup ini membacakan yasin, serta mendo'akan mereka semua agar bisa kembali kepada Allah SWT dengan tenang."
"Kalau begitu aku minta tolong pada nanda untuk melakukannya. Tolong selamatkan mereka semuanya nak."
"Insyaallah kakek prabu. Semoga saja saya bisa melakukannya." Jaya Satria maju beberapa langkah. Ia mengamati bagaimana pohon itu mengalirkan hawa gelapnya. "Kakek prabu, paman prabu, raden jatiya dewa juga raden antajaya dewa. Saya harap untuk menjaga jarak dari sini. Karena saya takut mereka akan menyeret siapa saja untuk ikut mereka ke dalam kesengsaraan yang mereka rasakan." Jaya Satria memperingati mereka semua.
"Baiklah nak. Aku harap kau berhati-hati. Rasanya ini akan menanggung resiko yang cukup besar."
"Berhati-hati lah nanda prabu."
"Berhati-hatilah gusti prabu."
__ADS_1
Mereka semua mengkhawatirkan keadaan Jaya Satria yang kali ini lagi-lagi akan berhadapan dengan hal yang gaib?. Jaya Satria mengeluarkan pedang Panggilan Jiwa, pedang Sukma Naga Pembelah Bumi. Pedang yang bisa digunakan untuk membebaskan jiwa-jiwa yang tersesat.
"Ya Allah. Hanya pada-Mu lah kami meminta pertolongan, dan ampunilah dosa-dosa kami." Jaya Satria berdoa, meminta pertolongan Allah SWT. Setelah itu ia membacakan sholawat badar dengan suara lantang.
"Ayahanda prabu. Kenapa ayahanda prabu menangis?." Prabu Lingga Dewa tidak pernah melihat ayahandanya menangis seperti itu.
"Jiwa mereka sangat menderita karena apa yang telah mereka lakukan. Saat ini mereka sedang menjerit ingin minta dibebaskan nak." Prabu Maharaja Dewa Negara menangis sedih melihat raut wajah kesakitan dari roh-roh yang tersesat itu.
"Aku sama sekali tidak mengerti raka." Raden Jatiya Dewa tidak melihat apapun dari pohon itu.
"Aku juga tidak melihat apapun rayi." Raden Antajaya Dewa merasa heran dengan apa yang membuat kakek prabu nya menangis sedih.
Sedangkan Jaya Satria saat ini sedang memainkan jurus pedang Sukma Naga Pembelah Bumi yang dilambari dengan jurus cakar naga cakar petir untuk menyegel mereka yang ingin keluar dari sana.
"Lahaula wala quata illabillahil ayil'azim. Allahuakbar Allahuakbar!." Jaya Satria mengayunkan beberapa kali tebasan pedang ke arah pohon itu. Sehingga terdengar suara teriakan yang sangat memilukan. Suara rintihan, suara jeritan dari mereka yang selama ini menderita terperangkap dalam tali gaib yang menjerat jiwa mereka.
"A-a-aku sama sekali tidak mengerti rayi." Raden Antajaya Dewa juga merasakan hal yang mistis disekitarnya.
Sedangkan Prabu Lingga berusaha menekan hawa yang tiba-tiba berubah menjadi lebih berat dari yang sebelumnya.
"Itu adalah dampak dari apa yang telah dilakukan oleh nanda prabu asmalaraya arya ardhana. Saat ini ia berusaha untuk membebaskan jiwa-jiwa malang itu." Prabu Maharaja Dewa Negara melihat keadaan anaknya. "Atur saja tenaga dalammu, agar tidak terbawa arus." Lanjutnya.
"Baiklah ayahanda prabu." Prabu Lingga Dewa melakukan apa yang katakan ayahandanya.
Kembali pada Jaya Satria. Setelah ia menegaskan pedang Sukma naga pembelah bumi, ia kembali berdoa kepada Allah SWT. Agar dimudahkan bagi mereka menuju tempat seharusnya mereka berada. "Ya Allah. Tiada tempat yang layak kembali kecuali padamu ya rob." Setelah itu Jaya Satria mengeluarkan salah satu keris kembar yang ada di dalam tubuhnya. Jaya Satria melangkah mendekati pohon itu, dan ia tancapkan keris itu di batang pohon itu. Sehingga hawa yang ada di pohon itu perlahan-lahan mulai menghilang. Begitu juga dengan kegelapan yang ada di sumber mata air dewa.
"Sepertinya nanda prabu asmalaraya arya ardhana telah berhasil melakukannya dengan baik." Ucap Prabu Maharaja Dewa Negara dengan penuh bangga. Ia juga dapat melihat, hawa di sana benar-benar bersih dari hawa hitam yang tadinya menyelimuti tempat itu.
__ADS_1
"Benarkah itu ayahanda prabu?." Prabu Lingga Dewa juga tidak merasakan hawa yang berusaha menekan sekitarnya. Lebih ringan dari yang sebelumnya.
"Luar biasa sekali." Raden Jatiya Dewa dan Raden Antajaya Dewa tidak melihat apapun, namun entah mengapa keduanya hanya merasa saja.
Jaya Satria mendekati mereka semua dengan langkah yang lebih ringan. Senyumannya terlihat begitu menawan tanpa topeng yang menutupi wajahnya.
"Kau telah melakukannya dengan baik raja muda yang baik." Ada suara dari arah belakangnya. Sehingga Jaya Satria membalikkan badannya. Melihat kakek tua yang selama ini menjaga tempat itu. Begitu juga dengan yang lainnya dapat melihat kakek tua itu.
Mereka semua melihat kakek tua penjaga tempat itu tersenyum dengan lebarnya. "Tempat ini telah kembali pulih berkat dirimu. Jin yang menguasai tempat ini telah musnah. Dan aku juga bisa kembali dengan tenang." Raut wajahnya terlihat sangat bahagia.
"Alhamdulillah hirabbli'alamin jika memang seperti itu eyang. Semoga saja eyang dan yang lainnya tenang di alam sana." Jaya Satria tersenyum kecil.
Sedangkan Prabu Maharaja Dewa Negara, Prabu Lingga Dewa, Raden Jatiya Dewa, dan Raden Antajaya Dewa mendekati Jaya Satria untuk melihat dengan jelas, bahwa kakek tua yang kini sedang berbicara dengan Jaya Satria adalah orang yang selama ini menjaga tempat ini.
"Katakan pada mereka. Jangan melakukan sajen lagi di tempat ini. Karena itu hanya mengundang jin jahat untuk menguasai seseorang. Dan larang lah siapa saja untuk mendekati tempat ini, apapun alasannya." Itulah pesan dari kakek tua itu.
"Baiklah eyang. Akan kami lakukan sesuai dengan keinginan eyang."
"Terima kasih raja muda yang baik. Semoga kelak kau mendapatkan kebahagiaan, serta negeri yang kau pimpin akan damai seperti namanya."
"Aamiin ya rabb."
"Aku pamit dulu. Sampurasun."
"Rampes."
Kakek tua itu menghilang dari hadapan mereka semua. Tempat itu terasa begitu tenang dan menenangkan. Tempat itu kembali seperti semula tanpa adanya noda-noda yang mengotorinya. Apakah yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...***...