RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
KEBAHAGIAAN DAN KESEDIHAN SEBELUM LEBARAN


__ADS_3

...***...


Satu hari sebelum lebaran.


Di sebuah lapangan yang sangat luas. Prajurit saat ini sedang membuat tenda dan alas untuk sholat idul Fitri. Merdeka dibantu rakyat sekitar membuat tenda. Mereka semua melakukannya dengan hati yang dipenuhi oleh kebahagiaan. Karena ini adalah perayaan hari kenangan pertama yang mereka rasakan.


Sementara itu di Istana. Prajurit lainnya sedang berbenah di halaman istana. Mereka melakukannya dengan baik. "Alhamdulillah hirobbil'alamin. Ini adalah lebaran pertama kita yunda." Ratu Dewi Anindyaswari melihat mereka semua melakukan persiapan.


"Alhamdulillah hirobbil'alamin rayi dewi. Rasanya aku sangat bahagia sekali. Karena kita bisa merasakan hari kemenangan bersama-sama." Ratu Gendhis Cendrawati juga merasakan kebahagiaan itu.


"Alhamdulillah hirobbil'alamin ibunda. Rasanya tidak ada lagi kekurangan satu apapun." Putri Agniasari Ariani ikut hadir bersama kedua ibundanya.


"Alhamdulillah hirobbil'alamin gusti ratu. Rasanya memang sangat membahagiakan. Setelah tiga puluh hari kita berpuasa, dan besok kita merayakan hari kemenangan." Raden Rajaswa Pranawa juga hadir di sana.


Mereka semua telah merasakan nikmatnya berpuasa. Jadi besok adalah hari mereka mengundangkan takbir sebagai ungkapan kebahagiaan mereka.


"Tapi dimana yundamu ananda andhini andita nak?. Mengapa ia tidak terlihat?." Ratu Dewi Anindyaswari tidak melihat Putri Andhini Andita.


"Benar. Dimana yundamu nak?. Kenapa ia belum juga kembali. Apakah terjadi sesuatu padanya?." Ratu Gendhis terlihat sangat mencemaskan anaknya. Karena beberapa hari ini ia jarang melihat anaknya keluar.


"Maaf ibunda. Ananda juga tidak tahu, mengapa yunda andhini andita belum keluar juga dari bilik nya. Mungkin yunda andhini andita mengalami sesuatu." Putri Agniasari Ariani juga tidak mengerti. "Tidak biasanya yunda seperti ini." Putri Agniasari Ariani mencemaskan keadaan yundanya.


"Oh putriku. Kau telah melewati hari yang sangat berat nak. Kau harus berjuang dengan sabar, dan kau harus bisa memendam perasaan cintamu pada saudaramu nak." Dalam hati Ratu Gendhis Cendrawati merasa gelisah.


"Apa yang harus kita lakukan ibunda?. Apakah kita hanya diam saja?." Putri Agniasari Ariani ingin mendengarkan apa yang akan mereka lakukan untuk putri Andhini Andita.

__ADS_1


"Semuanya tergantung yundamu nak. Karena ia yang merasakan semuanya." Ratu Dewi Anindyaswari merasa gelisah. "Perasaan cinta yang datang sesuka hati. Membawa luka dalam jika cinta itu tidak bisa disampaikan pada orang yang kita cintai. Apalagi mencintai orang yang sedarah dengan itu memang sangat menyakitkan." Ratu Dewi Anindyaswari tidak bisa membayangkan seperti apa dan sebesar apa perasaan yang dirasakan Putri Andhini Andita pada adiknya.


"Kita hanya berdoa saja. Semoga saja ananda putri andhini andita bisa melangkah dengan baik." Sebagai seorang ibu, Ratu Gendhis Cendrawati hanya bisa berharap jika anaknya akan tabah dan kuat menghadapi hidup ini.


...***...


Sementara itu. Putri Bestari Dhatu saat ini sedang diperiksa oleh nyi Ulis. Kandungannya sudah memasuki bulan ke sembilan. Hanya menghitung hari saja. Kemungkinan setelah lebaran akan lahir.


Nyai Ulis tersenyum kecil setelah memeriksa keadaan kandungan Putri Bestari Dhatu. Tentunya membuat Raden Hadyan Hastanta bertanya-tanya karena ia merasa penasaran. "Bagaimana nyi?. Apakah kandungan dinda bestari dhatu aman?." Raden Hadyan Hastanta membantu istirnya untuk duduk.


"Keadaan kandungan gusti putri baik-baik saja raden. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Semuanya aman, dan bayinya sehat." Senyuman sumringah terlihat jelas di wajah wanita setengah tua itu.


"Alhamdulillah hirobbil'alamin ya Allah." Keduanya sangat bersyukur karena semuanya baik-baik saja.


"Itu semua karena gusti putri meminum ramuan yang hamba berikan, serta menjaga dengan baik kandungannya. Gusti putri memang calon ibu yang hebat." Nyi Ulis mengacungkan jempolnya ke arah Putri Bestari Dhatu.


"Ini semua juga karena kanda yang selalu menyemangati dan menjagaku dengan baik. Terima kasih kanda. Dinda sangat bahagia sekali." Tanpa sadar Putri Bestari Dhatu malah meneteskan air matanya dan menangis terharu.


"Oh dinda." Raden Hadyan Hastanta mengusap pelan air mata istrinya. Keduanya sedang berbahagia, karena menantikan kelahiran anak pertama mereka. Semoga saja kebahagiaan selalu bersama mereka.


...***...


Disisi lain. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria saat ini sedang berada di ruang pribadi raja.


"Alhamdulillah hirobbil'alamin, besok kita akan merayakan hari kemenangan pertama kita." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil.

__ADS_1


"Alhamdulillah hirobbil'alamin. Rasanya sangat bahagia sekali karena kita dapat merasakannya bersama-sama." Jaya Satria merasakan kebahagiaan yang luar biasa.


"Malam nanti kita akan mengundangkan takbir bersama rakyat. Aku hanya berharap pada malam ini dan beberapa hari ke depan. Kerajaan suka damai aman. Semoga saja lancar dalam melaksanakan takbir malam nanti." Itulah harapan dari Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Aamiin ya Allah. Semoga saja bisa mengamankan takbir malam nanti." Jaya Satria juga sangat berharap. "Mungkin kita akan memasang pagar pelindung, supaya hawa-hawa jahat, atau pendekar jahat yang berniat buruk tidak bisa masuk ke wilayah kerajaan suka damai." Jaya Satria memberi ide pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Semua terjadi karena Allah SWT. Bahkan ayahanda prabu selalu berkata seperti itu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba untuk tenang. Tapi karena kita akan melaksanakan sholat id bersama. Penjagaan setiap desa dan perbatasan akan longgar. Kali ini aku setuju dengan apa yang raka prabu cemaskan. Ini semua demi keamanan kita semua." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menghela nafasnya dengan pelan. "Namun kita harus tetap percaya bahwa Allah SWT maha pelindung dan tempat untuk memohon segala apa yang kita butuhkan." Lanjutnya lagi.


"Ya, rayi prabu benar. Kita serahkan semuanya kepada Allah SWT." Jaya Satria bukan bermaksud untuk tidak percaya. Tapi takdir siapa yang bisa menebak. Terkadang cobaan hidup ini tidak ada yang mengetahuinya sama sekali.


...***...


Di bilik Putri Andhini Andita. Saat ini ia sedang berjuang untuk bertarung dengan dirinya sendiri. Dalam sholat duha yang ia kerjakan ia berharap mendapatkan ketenangan batin, dan berdoa agar ia bisa menjalani semua ini dengan baik.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh." Setelah melaksanakan dua raka'at sholat duha. Ia berzikir dan berdoa kepada Allah SWT.


"Ya Allah, yang maha pengasih lagi maha penyayang. Ampunilah dosa hamba. Dosa ayahanda prabu, dosa ibunda, dosa raka, yunda serta rayi hamba. Juga dosa orang-orang muslim. Hanya pada-Mu lah hamba meminta pertolongan dan hanya padamu lah hamba meminta perlindungan. Ya Allah, berikan hamba kekuatan iman. Berikan hamba kekuatan hati untuk menentukan pilihan yang terbaik. Jangan biarkan hati hamba melemah. Jauhilah hamba dari sikap yang merugi. Hanya pada-Mu lah hamba berserah diri ya Allah. Aamiin ya rabbal aalaamiin." Putri Andhini Andita telah selesai melaksanakan sholat duha.


"Kau tidak hanya cukup berdoa saja andhini andita. Kau harus segera meninggalkan istana ini, dan kau harus bisa mengendalikan perasaan yang kau miliki." Sukma Dewi Suarabumi seakan terus membayangi dirinya. Terus mengingatkan dirinya tanpa bosan.


"Ayahanda percaya kau bisa melakukan semua ini putriku andhini andita." Suara itu. Putri Andhini Andita melihat ayahandanya yang kini sedang berdiri dihadapannya.


"Terima kasih ayahanda prabu." Putri Andhini Andita menangis terisak. Dan ia tidak kuasa menahan air mata kesedihan itu.


Apakah Putri Andhini Andita masih mampu mengendalikan dirinya?. Apakah yang akan ia lakukan setelah ini?. Temukan jawabannya. Mohon dukungannya ya. Rasanya gak kuat lagi untuk lanjut. Sedih banget rasanya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2