RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
MENCARI PETUNJUK YANG MEMBINGUNGKAN


__ADS_3

...***...


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa dituntun oleh seseorang menuju sebuah tempat, sehingga ia berhenti di sebuah bangunan candi tua yang sudah lama tidak digunakan lagi. Tapi rasanya tempat ini tidak asing baginya. Rasanya ia pernah ke tempat ini meskipun hanya sekali.


"Sampurasun." Ada suara yang menyapa dirinya.


"Rampes." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menjawab salam itu. Namun ia tidak melihat wujud dari orang yang mengucapkan salam itu siapa. "Siapakah kisanak?. Apakah kisanak bisa menunjukkan siapakah kisanak ini sebenarnya?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa bingung dengan suara itu, namun tidak bisa melihat siapa yang menyapa dirinya.


Tak lama kemudian, tiba-tiba sang Prabu merasakan ada hawa yang sedikit panas dihadapannya. Membuat sang Prabu melindungi wajahnya dengan menggunakan lengannya. Hawa ini pernah ia rasakan sebelumnya. Namun perlahan-lahan hawa api itu mulai mereda, sehingga ia bisa melihat sosok. Ah tidak, ada dua sosok makhluk hidup dihadapannya saat ini.


"Mohon ampun gusti prabu. Kiranya hamba datang menemui gusti prabu."


"Sudah lama rasanya tidak bertemu gusti prabu."


"Naga kembar?." Sang Prabu sama sekali tidak menyangka jika ia melihat naga kembar di depannya saat ini.


"Kami adalah naga kembar yang juga bersemayam di dalam tubuh gusti prabu."


"Jika gusti prabu tidak lupa, kami adalah keris kembar naga penyegel sukma dari gunung menahan bumi."


"Oh, iya. Aku baru ingat. Tentu saja aku tidak lupa dengan kalian. Karena kalian adalah sukma naga kembar yang mengisi keris pusaka kembar" Sang Prabu mengeluarkan dua keris kembar itu. Memang keris kembar itu diisi oleh sukma naga kembar api. Sepertinya masih ada rahasia tentang sang Prabu yang belum diketahui. "Lalu apa yang membuat kalian berdua ingin bertemu denganku?. Apakah ada yang ingin kalian sampaikan padaku?." Tentunya menjadi pertanyaan bagi sang Prabu, mengapa mereka sampai menemuinya.


"Mohon ampun gusti prabu. Sepertinya akan ada masalah yang akan melibatkan kami, juga gusti prabu."


"Selain itu. Ada kekuatan naga dari jurus cakar naga cakar petir, yang gusti prabu pelajari di hutan ranting pohon panjang yang akan membantu gusti prabu."


Sukma naga kembar itu menjelaskan pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Bahwa akan ada masalah rumit yang tidak akan bisa diselesaikan dengan satu jurus saja, tetapi harus menggabungkan jurus lainnya.


"Rasanya aku juga pernah bertemu dengan sukma naga dari jurus cakar naga cakar petir. Sebelum aku pingsan, dan ia selalu mengarahkan aku untuk memainkan jurus yang ia miliki." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba mengingat bagaimana bentuk dari Sukma naga cakar naga cakar petir.


"Gusti prabu harus melakukan semedi, atau tapa puasa. Karena menurut hamba, masalah yang akan gusti prabu hadapi berbeda. Karena kami memiliki kekuatan yang berbeda, gusti prabu harus bisa menyatukan kami bertiga dalam satu kekuatan."


"Kami harap gusti prabu bisa melakukannya. Kami tidak mau melukai tubuh gusti prabu, jika gusti prabu tidak bisa menguasai kami bertiga nantinya. Mohon gusti prabu pertimbangkan masalah ini. Kami hanya tidak mau gusti prabu celaka nantinya."


Setelah kalimat itu berakhir, naga kembar itu menghilang entah kemana. Dan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terbangun dari tidurnya. Ia sangat terkejut dengan apa yang ia alami tadi. "Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Kali ini mimpi aneh yang ia alami. Mimpi yang mengatakan jika dirinya harus melakukan semedi atau tapa puasa?. "Ya Allah. Hamba memohon pada-Mu. Berikan hamba petunjuk, apakah hamba harus melakukan itu?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa heran dengan mimpi yang ia alami. Ia sama sekali tidak mengerti. "Ya. Pusaka keris kembar itu memang diisi naga kembar. Tapi mengapa tiba-tiba memberikan mimpi seperti itu?. Ya Allah. Hamba hanya memohon padamu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana hanya tidak ingin melakukan kesalahan, hanya mengikuti mimpinya itu.


...***...


Di Desa Mata Air Dewa. Banyak pendekar yang masuk ke hutan larangan itu. Hutan yang saat ini sedang dihuni oleh roh jahat yang haus akan darah. Mereka ke hutan larangan itu karena mengikuti sayembara yang diadakan oleh Kerajaan Buana Dewa. Mereka semua tergiur dengan hadiah yang akan mereka dapatkan jika mereka mampu mengalahkan sosok jahat itu.


"Mari kita masuk ke sana. Kita ringkus roh jahat itu bersama-sama!."


"Mari kita masuk!."


Namun belum tujuh langkah mereka masuk ke dalam hutan itu. Mereka melihat cahaya merah yang sangat mengerikan mendekati mereka semua.


"Wah!. Itu dia yang kita cari!."

__ADS_1


"Kita hadang saja dia!."


"Mari!."


Mereka semua mengelilingi sosok merah yang sedang melayang itu. Mereka tidak takut sama sekali dengan apa yang akan mereka hadapi. Tanpa perasaan takut, mereka mencoba untuk menyerang sosok cahaya merah menyala seperti api itu.


"Darah!. Aku sangat ingin makan darah!. Aku menginginkan kekuatan yang lebih!." Sosok cahaya merah itu langsung menyerang mereka satu persatu. Cahaya merah itu masuk ke dalam tubuh salah satu dari mereka, hingga terdengar teriakan kesakitan. Teriakan yang begitu memilukan. Membuat mereka semua ngeri mendengar dan juga melihat keadaan orang itu.


"Setan!. Tidak salah lagi!. Jika sosok itu adalah setan!."


"Kita tidak boleh takut. Kita hadang saja dia!."


Mereka semua mencoba mencari cara untuk mengalahkan sosok merah itu. Namum hasilnya sia-sia. Karena mereka pun juga ikut menjadi korban dari keganasan roh jahat itu.


"Darah!. Aku ingin lebih darah!. Supaya aku bisa menambah kekuatanku!." Sosok merah itu semakin membara, karena ia ingin darah?. Ia semakin ganas karena telah banyak memakan darah manusia. Siapakah yang bisa mengalahkannya?. Tidak ada yang mengetahuinya. Q


...***...


Sementara itu. Pemuda yang itu melanjutkan semedinya. Ia mencoba berjalan menuju gunung menahan bumi. Gunung yang menurut eyang guru Rengka Wana. Dengan berjalan menggunakan Sukma, ia mencoba untuk memasuki daerah gunung menahan bumi. Saat itu ia melihat seorang penjaga gerbang menuju gunung menahan bumi. Karena ada hal yang ingin ia pastikan saat berada di sana.


"Sampurasun." Ucapnya saat ia melihat sosok itu.


"Rampes." Balasnya.


"Bolehkan saya masuk atau bertanya pada tuan?." Pemuda itu terlihat sangat ramah, dan mencoba meminta izin.


"Saya ingin mencari keris pusaka kembar naga penyegel sukma. Apakah benar keris pusaka kembar itu masih ada di gunung ini?." Itulah tujuannya datang ke sini. "Saya ingin memastikan jika keris pusaka kembar itu berada di hutan gunung menahan bumi." Ucapnya lagi.


"Maaf. Pusaka keris kembar telah diambil seseorang dan tidak berada di gunung ini lagi." Jawabnya sambil menatap lurus ke depan. Ia tidak menyangka jika itu tujuan pemuda itu masuk ke alam sukma menuju gunung menahan bumi.


"Tidak ada?. Katakan pada saya dengan jujur. Jangan membohongi saya!." Rasanya ia tidak percaya dengan ucapan sosok itu. Ada perasaan kesal dihatinya karena saking tidak percayanya ia pada sosok itu.


"Aku berkata yang sejujurnya." Mata penjaga gerbang gunung menahan bumi itu terlihat memerah. Karena ia tidak suka diragukan oleh orang lain.


"Jika berkenan. Katakan pada saya, siapa yang mengambil pusaka keris kembar itu." Pemuda itu menuntut jawaban. "Karena keris pusaka kembar itu sangat berguna bagi saya saat ini. Saya mohon katakan pada saya." Pemuda itu terkesan memaksa sosok itu untuk mengatakan padanya.


Penjaga gerbang itu menunjuk jauh ke depannya. "Dia adalah seorang raja muda. Seorang mualaf, dan dia lah yang berhak memegang pusaka keris kembar itu." Setelah itu ia melirik pemuda itu dengan tatapan kosong.


"Katakan pada saya, siapa nama raja muda itu!." Pemuda itu belum puas sebelum ia memastikan siapa yang memegang keris pusaka itu.


Sayangnya, Pemuda itu terhempas oleh terpaan angin yang sangat kencang. Sehingga ia kembali dengan paksa ke raganya. Ketika ia kembali ke alam nyata, tubuhnya telah dibasahi oleh banyak keringat.


"Apakah sudah mendapatkan petunjuk?." Rengka Wana menghampiri pemuda itu, yang tak lain adalah Putra Mahkota dari Kerajaan Buana Dewa, Prabu Lingga Dewa. Namanya Jatiya Dewa, anak bungsu sang Prabu.


"Masih belum jelas eyang guru. Apakah saya masih melanjutkan semedi?." Pemuda itu tidak puas sebelum menemukan jawabannya dengan sangat jelas. Ia merasa kesal, jika waktunya hanya terbuang karena semedi saja. Sedangkan sosok jahat itu telah meminta banyak korban.


"Memangnya apa yang kau dapatkan dari semedi tadi cucuku." Rengka Wana bertanya pada muridnya itu.

__ADS_1


"Penjaga gerbang gunung menahan bumi mengatakan, jika pusaka keris kembar itu telah diambil oleh seseorang." Jawabnya dengan nada penuh kekecewaan yang luar biasa.


"Diambil oleh siapa?." Rengka Wana terkejut dengan apa yang dikatakan oleh muridnya itu.


"Penjaga gerbang itu berkata. Jika yang mengambil pusaka keris kembar itu adalah seorang raja muda, seorang mualaf. Apa artinya itu eyang guru." Pemuda itu tidak mengerti sama sekali. Apakah ia bisa memecahkan masalah itu?.


"Mualaf?." Rengka Wana bangkit dari duduknya. Ia memikirkan sesuatu, dari kata mualaf. "Kalau tidak salah, itu artinya pindah agama atau keyakinan." Ia mengingat apa maksud dari kata mualaf.


"Memangnya eyang guru mengetahui siapa raja muda yang mualaf itu siapa?." Pemuda itu penasaran. Apakah gurunya memang mengetahui maksud perkataan itu.


"Jika tidak salah. Dia adalah prabu asmalaraya arya ardhana. Putra dari prabu kawiswara arya ragnala. Hanya dia yang aku dengar raja mualaf yang masih muda." Jawabnya. "Tapi aku tidak yakin, apakah informasi yang aku dapatkan itu benar atau tidak. Karena hanya dia raja mualaf saat ini yang memegang tahta tertinggi di kerajaan suka damai." Lanjutnya lagi.


"Terima kasih eyang guru. Kali ini eyang guru sangat membantu sekali." Pemuda itu tersenyum lebar. "Itu artinya semedi yang aku lakukan tidaklah sia-sia." Ucapnya dengan perasaan hati yang berbunga-bunga.


"Huh!. Sekarang kau malah berterima kasih padaku. Kemarin kau malah marah-marah padaku. Dasar murid tidak sopan." Rengka Wana mengomel dengan kesalnya.


"Hehehe. Maafkan saya eyang guru." Jatiya Dewa hanya nyengir saja mendengarkan keluhan gurunya itu. "Tapi eyang guru. Jika pusaka keris kembar itu telah menjadi milik seroang raja. Bagaimana caranya saya meminta padanya?."


"Itu urusanmu!. Kau pikirkan sendiri caranya bagaimana. Mungkin saja kau bisa bernegosiasi dengannya. Atau apa saja yang bisa kau lakukan agar raja muda itu memberikan pusaka keris kembar itu padamu. Aku tidak akan mencampuri urusanmu lagi."


Setelah berkata seperti itu, Rengka Wana meninggalkan tempat. Karena ia bosan berada di sana hanya untuk mendengarkan apa yang dikatakan oleh Jatiya Dewa.


"Baiklah. Demi memusnahkan roh itu, aku akan menuju kerajaan suka damai. Meminta pada prabu asmalaraya arya ardhana, untuk memberikan pusaka keris kembar itu padaku." Jatiya Dewa telah membulatkan tekadnya, bahwa ia akan melakukan apapun untuk membantu ayahandanya.


...***...


Kembali ke kerajaan Suka Damai. Saat ini Prabu Asmalaraya Arya Ardhana berada di ruang pribadi Raja. Ia membahas masalah mimpinya malam tadi.


"Bagaimana menurutmu jaya satria?. Apakah kita perlu melakukan tapa puasa?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana bertanya.


"Sebaiknya lakukan saja. Karena kita tidak mau terjadi sesuatu yang akan membuat ibunda bersedih lagi gusti prabu." Jaya Satria hanya tidak mau itu terjadi.


"Baiklah kalau begitu jaya satria. Kita akan mengatakan pada ibunda, juga yang lainnya. Bahwa kita sedang melakukan tapa puasa." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengingatkan Jaya Satria


"Tapi sebelum itu. Kita harus melihat kembali, bagaimana caranya mendekati naga petir itu. Karena kita harus hati-hati saat memainkan jurus itu di alam sukma." Jaya Satria ingat bagaimana ganasnya ketika pertama kali memainkan jurus itu.


"Benar juga. Apakah kita perlu kembali ke hutan ranting pohon panjang itu?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga mengingatnya.


"Mari kita coba. Kita lakukan semedi, setalah kita meminta izin pada ibunda."


"Kalau begitu mari kita temui ibunda, juga yang lainnya."


"Mari."


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana masuk kembali ke dalam tubuh Jaya Satria atau Raden Cakara Casugraha. Namun setelag itu, Raden Cakara Casugraha malah berubah menjadi Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Masalah mimpi ini jangan sampai mengganggu puasa hari pertama. Ini harus segera diselesaikan." Dalam hati sang Prabu berharap, jika puasa pertama akan berjalan dengan lancar. Apakah yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2