RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
MEMAAFKAN DAN KEBAIKAN


__ADS_3

...***...


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana membacakan ayat kursi, surat alfatihah, surat Al-Ikhlas, alfalah, dan surat An-Nas. Setelah membacakan ayat-ayat tersebut, terlihat cahaya merah keluar dari tubuh prabu Rahwana Bimantara, dan cahaya merah itu pergi meninggalkan meninggalkan istana kerajaan Mekar Jaya.


Pergi ke tempat tuan yang mengirimnya. Kemana?


Dooor


Suara ledakan keras begitu cahaya itu sampai ke tuannya, Yaitunya Nini  Kabut Bidadari. Ia terkejut dengan ledakan itu, ia juga mengalami luka akibat ledakan itu


"Nini." Mayang Sari dan Semara Layana terkejut melihat keadaan ketua mereka.


"Ukhuk." Ia terbatuk karena dadanya yang terasa sesak.


"Ada apa nini?. Mengapa kau terlihat kesakitan?." Mayang Sari begitu khawatir.


"Kurang ajar!. Bahkan jin yang aku kirim pada prabu rahwana bimantara, telah berhasil dikalahkan seseorang." Ia marah karena itu. Tidak menyangka, jika ada orang yang mampu menangkal ilmu sihirnya.


Mayang Sari dan Semara Layana saling berpandangan satu sama lain. Jadi ada yang bisa menandingi ilmu dukun yang Nini Kabut Bidadari?.


"Apa yang akan aku katakan pada gusti prabu nantinya?." Sudah dua kali ia gagal melakukan tugasnya. Pasti junjungannnya itu sangat marah padanya.


...***...


Sementara itu di istana kerajaan Mekar Jaya.


Prabu Rahwana Bimantara berhasil dihentikan. Ia tidak lagi mengamuk, dan ia dibaringkan kembali ke kamarnya. Namun keadaannya belum pulih. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memperhatikannya. Dan ia memejamkan matanya, sambil membacakan doa meminta keselamatan sambil menyentuh dahi prabu Rahwana Bimantara.


"Kali ini apalagi yang akan ia lakukan?." Mereka semua memperhatikan, apa yang dilakukan oleh prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


Sedangkan di alam bawah sadar prabu Rahwana Bimantara. Ia sedang terikat di sebuah tempat yang sangat menyeramkan. Hingga ia berotak ingin keluar dari sana. Ia terkejut ketika melihat kedatangan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Tenanglah kakek prabu. Nanda datang untuk membebaskan kakek prabu. Karena itulah kakek prabu tidak perlu khawatir lagi." Ia tersenyum kecil. Ia tidak mau Prabu Rahwana Bimantara marah padanya.


"Nanda prabu, tolong aku. Aku tidak tahan lagi berada di sini. Tolong aku nanda prabu." Ia sudah tidak berdaya lagi. Dan ia tidak punya pilihan, selain meminta tolong pada prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Baiklah kakek prabu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menganggukkan kepalanya. Dan ia bersiap-siap untuk membebaskan prabu Rahwana Bimantara dari jeratan itu.


"Aku telah bebas." Ia merasa bahagia, karena telah bebas dari jeratan itu. Ia tidak lagi kesakitan?. Ya, ia tidak lagi merasakan sakit yang menyesakkan.


"Alhamdulillah hirobbil 'alamin. Allah SWT masih menyayangi kita semua." prabu Asmalaraya Arya Ardhana senang melihat itu. "Alhamdulillah hirobbil 'alamin. Kakek prabu telah bebas sekarang." Lanjutnya lagi.


"Orang yang aku benci, justru telah membebaskan aku. Tapi orang yang aku sayangi tidak bisa berbuat apa-apa." Dalam hatinya merasa sedih karena menerima kenyataan itu


"Kalau begitu, ayo kita kembali kakek prabu. Kita pulihkan tenaga dalam kakek prabu." Suara itu terdengar ramah, perhatian yang dihiasi kasih sayang yang tulus.


Entah mengapa, prabu Rahwana merasa terharu. Ia seakan ingin menangis karena menahan perasaan bersalahnya padanya.


"Nanda prabu." Ia mendekati prabu Asmalaraya Arya Ardhana, dan ia memeluknya dengan begitu erat.


"Kakek prabu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedikit terkejut mendapatkan pelukan itu.


Begitu juga saat di dunia nyata?.


Ratu Ardiningrum Bintari dan yang lainnya tidak menyangka, akan melihat pemandangan yang sangat langka ini. Begitu Prabu Rahwana Bimantara tadi terbangun, ia langsung memeluk Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang sedang mengobatinya.


"Maafkan aku nanda Prabu. Maafkan kesalahanku, yang terlalu terburu-buru dalam bertindak." Ucapnya penuh dengan penyesalan.


Mereka semakin terkejut mendengar itu. Prabu Rahwana Bimantara meminta maaf pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana?.


"Rasanya itu mustahil dilakukan oleh ayahanda prabu." Dalam hati ayahandanya. Kata maaf yang tidak akan mungkin keluar dari mulutnya.


Raden Ganendra Garjitha sangat geram melihat itu, ia sangat geram, dan tidak bisa menguasai lagi kemarahannya. Hingga tanpa sadar ia mencabut keris yang terselip di punggungnya, ia tusuk keris itu ke punggung kanan prabu Asmalaraya Arya Ardhana,


cheeek

__ADS_1


"Eqhaaaaak." Teriakan keras terdengar dari mulut prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Membuat Prabu Rahwana Bimantara terkejut, begitu juga dengan putri Andhini Andita.


"Apa yang telah kau lakukan pada rayiku!." Putri Andhini Andita langsung menyerang Raden Ganendra Garjitha dengan penuh amarah. "Kurang ajar!. Beraninya kau menyerang rayi prabu!." putri Andhini Andita menyerang Raden Ganendra Garjitha, hingga terjadi pertarungan diantara keduanya.


"Nanda prabu" Prabu Rahwana Bimantara bangkit dari tempat duduknya, ia membantu Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang sedang kesakitan.


"Kakek prabu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merintih sakit, sambil menyentuh bahunya yang mengalir darah.


Di saat yang bersamaan.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang berada di istana kerajaan Suka juga berteriak kesakitan.


"Rayi prabu." Raden Hadyan Hastanta yang saat ini bersama adiknya terkejut, saat mereka sedang menikmati makan bersama, tiba-tiba adiknya berteriak kesakitan?.


"Ada apa rayi prabu?." Raden Hadyan Hastanta segera menopang tubuh adiknya yang hampir limbung, ia tidak mengerti ada apa dengan adiknya.


"Rayi prabu. Sadarlah rayi prabu." Ia berusaha untuk membangunkan adiknya. Namun mata adiknya terlihat sayup-sayup, seperti ingin terlelap tidur.


"Jaya,,, Satria." Setelah mengucapkan nama itu, ia tidak sadarkan diri. Tentunya membuat Raden Hadyan Hastanta panik, ia berusaha mengguncang tubuh itu agar adiknya bangun, namun tetap saja tidak ada respon.


"Rayi prabu!." Raden Hadyan Hastanta menggendong adiknya. Ia tidak mau terjadi sesuatu pada adiknya. Namun yang bisa ia tangkap tadi, bahwa adiknya menyebut nama Jaya Satria.


Apakah terjadi sesuatu pada Jaya Satria?. Tapi apa hubungannya dengan adiknya?. Apakah ada sesuatu yang tidak ia ketahui hubungan keduanya?. Jika tidak, tidak mungkin adiknya pingsan tanpa alasan. Dan ia akan mencari tahu kebenaran ini nantinya.


Yang pasti saat ini ia harus memeriksa keadaan adiknya,  memastikan  keselamatan adiknya itu lebih penting dari pada memikirkan yang lain.


...***...


kembali ke istana Mekar Jaya.


Sementara itu Ratu Ardiningrum Bintari, Raden Gentala Giandra dan Putri Ambarsari, melihat betapa perhatiannya Prabu Rahwana Bimantara pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang sedang terluka.


Prabu Rahwana Bimantara menggendongnya ke tempat tidurnya. Dengan raut wajah yang cemas, ia mencoba menyalurkan tenaga dalamnya. Ia menghentikan darah yang mengalir di punggung kanan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Bertahanlah nanda prabu." Ia tampak cemas dengan keselamatan cucunya itu. Ia takut terjadi sesuatu pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Kenapa kau menyerang rayi prabu!. Apa salahnya!. Rayi prabu telah mengobati kakek prabu. Tapi kenapa kau malah menyakitinya." Dalam kesakitan yang ia rasakan, masih ada kemarahan. Serta kesedihan dengan apa yang dilakukan oleh Raden Ganendra Garjitha.


"Kau benar-benar keterlaluan!. Aku tidak akan mengampunimu!. Kau telah mencelakai rayi prabu!." putri Andhini Andita tidak dapat lagi menahan kesedihannya


"Diam kau andhini andita!. Aku menyerangnya, karena dia telah membuat kakek prabu menurut padanya!. Setelah ia berhasil meneluhnya!." Amarah Raden Ganendra Garjitha begitu besar, ia tidak bisa menerima kenyataan yang lihat?.


BRUKH


Putri Andhini Andita menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Rasanya tenaganya mendadak habis karena mendengarkan ucapan itu.


"Rayi prabu. Harusnya kau tidak datang ke sini." Putri Andhini Andita menangis terisak-isak. Ia menyesali kedatangan adiknya ke istana ini, jika ini yang terjadi. "Mereka semuanya bukanlah manusia. Mereka semuanya batu. Hingga mereka tidak bisa merasakan perasaan apapun lagi. Harusnya kita biarkan saja mereka mati membusuk dihajar jin itu rayi." Ia menangis sedih, menyesal.


"Tenanglah cucuku andhini andita. Nanda prabu tidak apa-apa. Lukanya berhasil aku hentikan." prabu Rahwana Bimantara melihat ke arah Putri Andhini Andita.


"Kakek prabu." Seakan ada sedikit tenaga yang mengalir di dalam tubuhnya. Ia segera bangkit dan mendekati adiknya yang tidak sadarkan diri. "Rayi prabu." Rasanya sangat sedih melihat adiknya yang seperti ini, dan ia tidak sampai hati melihatnya. "Rayi prabu. Maafkan aku, yang tidak bisa melindungimu." Ia mengusap kepala adiknya dengan sayang, ia cium puncak kepala adiknya.


"Aku harap kau baik-baik saja rayi prabu." Ia berusaha menahan isak tangisnya, hatinya terasa hancur melihat noda darah yang membasahi tubuh sebelah kanan adiknya.


"Apa yang kau lakukan pada adikmu, raden ganendra garjitha!." Prabu Rahwana Bimantara marah pada cucunya itu.


"Kakek prabu. Apa yang kakek prabu katakan?." Raden Ganendra Garjitha tidak percaya, begitu juga dengan Ratu Ardiningrum Bintari dan anak-anaknya yang lain.


"Apakah kau tidak bisa mendengarkan, apa yang aku katakan?." Suara itu jelas sekali mengeluarkan amarahnya.


"Ayahanda prabu. Ayahanda prabu kenapa marah pada putraku?. Apakah ayahanda prabu telah disantet ananda prabu, hingga marah seperti ini?." Ratu Ardiningrum Bintari tidak terima anaknya dibentak oleh ayahandanya.


"Apa yang kau katakan putriku ardiningrum bintari. Aku sama sekali tidak kena dukun apapun. Aku masih sehat, setelah nanda prabu asmalaraya arya ardhana menyelamatkan aku, dari kurungan dukun teluh. Dan kau mengatakan aku dipengaruhi oleh nanda prabu karena dukunnya?." Ia marah karena dituduh kena dukun dari prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Kakek prabu. Apakah kakek tidak menyadarinya?. Perubahan sikap kakek prabu. Harusnya kakek prabu tidak memarahi ibunda." Putri Ambarsari membela ibundanya.

__ADS_1


"Betul kakek prabu. Rayi prabu itu tukang dukun!. Dia pasti telah mendukun kakek prabu." Raden Gentala Giandra juga angkat bicara.


"Diam kalian!." Suara itu jelas-jelas suara kemarahan yang luar biasa. "Kalian ini memang tidak bisa diajak bicara!." Lanjutnya lagi. "jika terjadi sesuatu pada nanda prabu wsmalaraya arya ardhana!. Akan aku hukum kau, GANENDRA GARJITHA!." Ia mengancam Raden Ganendra Garjitha, ia sudah tidak tahan lagi dengan sifat keras kepala mereka yang tidak mau menerima perkataan orang lain.


...***...


Di istana kerajaan Kegelapan.


"Mohon ampun sekali lagi gusti prabu. Kali ini yang menggagalkan rencana hamba adalah prabu asmalaraya arya ardhana." Nini Kabut Bidadari melaporkan apa yang ia alami.


"Kurang ajar!. Jadi bukan hanya anak buahnya saja, yang dukun teluh berbahaya?. Namun juga prabu-nya?!." Prabu Wajendra Bhadrika sangat marah.


"Bukan, itu bukan ilmu dukun gusti prabu." Nini Kabut Bidadari sedikit membantah, apa yang dikatakan oleh junjungannya.


"Apalagi kalau bukan dukun!. Jelas-jelas dia membacakan mantram aneh!. Telingaku hampir pecah mendengarkan apa yang dia bacakan." Rasa marah masih menguasai tubuhnya.


"Menurut salah satu jin yang mengetahui bacaan-bacaan itu. Katanya itu bacaan ayat suci Al-Qur'an. Katanya ayat-ayat itu bisa mengusir serangan makhluk jin dan bangsanya, gusti prabu." Jawabannya.


Prabu Wajendra Bhadrika nampak berpikir, ia baru mendengarkan itu. "Apalagi itu." Ia bertanya karena penasaran.


"Menurut jin itu. Mereka mempelajarinya melalui pedagang-pedagang luar yang membawa agama baru, agama Islam. Dan ternyata prabu asmalaraya arya ardhana adalah seorang muslim. Dan dia telah mengetahui, cara-cara membasmi golongan jin gusti prabu." Jawabnya sedikit takut.


"Bedebah!. Itu tidak bisa aku biarkan!." Spontan ia marah mendengarkan penjelasan itu. Ia tidak akan membiarkan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dengan mudahnya menghancurkan pasukan jin yang ia pimpin.


"Aku harus mengumpulkan jin terkuat yang ada di dunia ini. Dan aku akan menyerang prabu itu sekali lagi. Akan aku hancurkan dia!. Hingga dia berlutut meminta ampun padaku, karena negerinya aku luluh lantakkan dengan angin ****** beliung." Membayangkan rencana itu. Ia tertawa terbahak-bahak. Ia merasa paling memang, dan beruntung memiliki otak cerdas, yang mampu memikirkan ide apa saja untuk bertindak.


...***...


Di kerajaan Mekar Jaya.


Perlahan-lahan matanya mulai terbuka, dan ia telah mendapatkan kembali ingatannya, dan ia mencoba untuk bangun.


"Eqkh." Ia meringis sakit sambil menyentuh bahu kanannya.


"Oh, rayi prabu. Kau sudah bangun." Pputri Andhini Andita sangat senang adiknya sudah sadar.


"Yunda." Ia melihat raut wajah lega kakaknya. "Maafkan aku, yang telah membuatmu cemas yunda." Ada perasaan menyesal karena melihat bekas air mata dipipi kakaknya.


"Rayi prabu." Putri Andhini Andita langsung memeluk adiknya. Ia tidak kuasa menahan perasaanya. "Syukurlah. Kau sudah sadar rayi. Aku sangat mengkhawatirkanmu Rayi." masih terdengar isak tangisnya.


"Kau sudar sadar, nanda prabu." Dari arah luar, prabu Rahwana Bimantara datang, ia mendekati mereka.


"Kakek prabu." putri Andhini Andita melepaskan pelukannya, dan ia melihat ke arah prabu Rahwana Bimantara.


"Kakek prabu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memberi hormat pada prabu Rahwana Bimantara.


"Syukurlah. Kau baik-baik saja, nanda prabu." Ia merasa lega dengan itu, meskipun hatinya merasa iba melihat perban membaluti tubuh prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Alhamdulillah hirobbil 'alamin. Allah SWT masih menyelamatkan nyawa nanda." Senyuman itu. Senyuman yang sangat menyentuh hati. Prabu Rahwana Bimantara seakan terbuai akan ketulusan itu.


"Tidak ada dendam ataupun kemarahan dari sorot matanya." Batin prabu Rahwana Bimantara, ia memeluk sayang prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Maafkan aku yang telah memusuhimu, nanda Prabu." Rasa penyesalan itu sangat besar ia rasakan, hingga rasanya tidak cukup hanya dengan kata-kata.


"Maafkan aku." Ia melepaskan pelukannya, menatap mata prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Apakah kau mau memaafkan kebodohanku, nanda prabu." Ia berharap akan ada kata maaf untuknya.


"Semua orang pernah melakukan kesalahan, kakek prabu." Rasanya ia hampir menangis karena mendengar kata maaf yang diucapkan kakeknya.


"Kita semua pernah berbuat salah. Entah itu disengaja atau tidak. Dan nanda hanyalah manusia biasa. Jadi permintaan maaf tentulah terbuka untuk kakek prabu." Lanjutnya.


"Terima kasih, nanda prabu." Prabu Rahwana Bimantara sangat senang mendengarnya, begitu juga dengan putri Andhini Andita.


Sebagai ungkapan kebahagiaannya, prabu Asmalaraya Arya Ardhana membacakan Sholawat badar, suaranya itu sangat indah, membuat keduanya merasa tentram mendengarnya.


Bagaimana kelanjutannya?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2