
...***...
...***...
...****...
Raden Cakara Casugraha terkejut mendengarkan suara bentakan ayahandanya.
"Mohon ampun ayahanda prabu. Maafkan nanda jika nanda bersikap kurang ajar." Raden Cakara Casugraha berlutut dihadapan ayahandanya. Meskipun amarah itu masih belum bisa ia kendalikan. Namun dihadapan ayahandanya, ia mencoba untuk menekan perasaan kemarahan yang masih menyelimuti hatinya yang panas.
"Lihatlah kanda prabu. Nanda cakara casugraha tidak pernah menghormati dinda sebagai ibundanya. Bagaimana hati dinda tidak merasa sedih." Ratu Gendhis Cendrawati menangis terisak. Ia memperlihatkan bagaimana iba hatinya karena sikap Raden Cakara Casugraha.
"Bukan hanya pada ibunda ratu saja ayahanda prabu. Bahakan pada kami sebagai kakaknya pun, rayi cakara casugraha tidak pernah bersikap sopan ayahanda prabu." Putri Ambarsari juga mengadu pada ayahandanya.
"Itu benar ayahanda prabu. Rayi cakara casugraha sangat tidak sopan. Bahkan selalu saja mengancam akan membunuh kami." Bahkan Putri Andhini Andita juga mengadu. Air mata kesedihan yang ia tunjukan pada ayahandanya, sengaja ia lakukan demi mendapatkan perhatian dari Prabu Kawiswara Arya Ragnala.
"Mohon ampun ayahanda prabu. Ananda tidak akan berlaku kurang ajar. Jika mereka semua, tidak menghina ibunda ratu dewi anindyaswari." Raden Cakara Casugraha membela dirinya. "Nanda tidak terima dengan ucapan mereka, yang seakan membuat ananda adalah orang jahat ayahanda prabu."
Prabu Kawiswara Arya Ragnala menghela nafasnya dengan pelan. Kepalanya terasa sakit, ia masih memikirkan hawa kemerahan yang menyelimuti tubuh anak bungsunya itu.
"Nanda tetap bersalah. Nanda akan mendapatkan hukuman dari ayahanda." Memang berat apa yang ia ucapkan. Namun ia tidak mau membuat mereka semua kecewa, setelah apa yang dilakukan oleh Raden Cakara Casugraha.
"Hukum seberat-beratnya kanda prabu. Bagaimanapun juga, nanda cakara casugraha telah mengancam keselamatan seorang ratu. Dan hukuman itu harus ditentukan secepatnya kanda prabu."
"Nanda putri setuju dengan apa yang dikatakan oleh ibunda ratu gendhis cendrawati. Rayi cakara casugraha berniat membunuh ibunda ratu ardiningrum bintari ayahanda prabu. Nanda putri tidak terima dengan apa yang telah ia lakukan pada ibunda nanda." Putri Ambarsari malah menangis semakin keras. Ia merasa sedih, karena ibundanya dihajar hingga pingsan. "Nanda putri menuntut keadilan ayahanda prabu."
"Yunda. Aku bersama yunda untuk menuntut rayi cakara casugraha untuk bertanggungjawab atas apa yang telah ia perbuat selama ini." Putri Andhini Andita mencoba menenangkan kakaknya. Ia menatap tajam ke arah Raden Cakara Casugraha yang masih berlutut dihadapan ayahandanya.
Disaat yang bersamaan Putri Agniasari Ariani keluar dari kaputren. Ia sangat terkejut melihat kondisi yang agak kacau.
"Rayi. Apa yang terjadi rayi?. Mengapa kau berlutut seperti itu rayi?. Katakan pada yunda."
"Tidak apa-apa yunda. Ini sudah biasa terjadi."
"Agniasari Ariani!. Katakan pada adikmu itu, jangan berbuat ulah lagi. Dan dia harus bertanggungjawab atas apa yang telah ia perbuat." Putri Andhini Andita dengan perasaan sakit hati mengatakan itu pada Putri Agniasari Ariani.
__ADS_1
"Adikmu telah membuat ibunda ku terluka-."
"Jangan dengarkan apa yang mereka katakan yunda." Dengan cepat, Raden Cakara Casugraha menutupi kedua telinga kakaknya dengan tangannya. Agar tidak mendengarkan apa yang mereka katakan.
"Rayi." Putri Agniasari Ariani terkejut dengan apa yang dilakukan oleh adiknya, begitu juga dengan Prabu Kawiswara Arya Ragnala yang melihat itu.
"Tidak usah kalian berkata yang tidak-tidak pada yundaku. Telinga yundaku tidak pantas mendengarkan perkataan dari orang pembohong seperti kalian." Raden Cakara Casugraha menatap tajam ke arah Putri Ambarsari dan Putri Andhini Andita.
"Berani sekali kau berkata kami pembohong!."
"Kau lah pembohong cakara casugraha!. Jangan kau membalikkan kenyataan itu!."
"Kau masih saja berkilah nanda cakara casugraha. Apakah kau tidak melihat bagaimana putraku kau hajar sampai seperti ini?."
"Sudahlah rayi cakara casugraha. Akui saja perbuatan yang telah kau lakukan dihadapan ayahanda prabu." Raden Hadyan Hastanta masih merasakan sakit. Ia mencoba untuk bangkit dengan bantuan ibundanya.
"Mohon ampun ayahanda prabu. Izinkan nanda membawa yunda pergi dari sini. Karena yunda agniasari ariani tidak pantas mendengarkan apa yang mereka katakan. Ananda pasti akan bertanggungjawab dengan apa yang telah ananda lakukan." Ucap Raden Cakara Casugraha dengan penuh permintaan pada ayahandanya.
"Baiklah putraku. Temui ayahanda di ruang pribadi raja. Tapi sebelum itu, tenangkan dirimu nak. Setelah benar-benar tenang, baru temui ayahanda." Setelah berkata seperti Prabu Kawiswara Arya Ragnala yang meninggalkan tempat itu. Ia tidak mau berdebat panjang dengan mereka.
"Sandika ayahanda prabu." Raden Cakara Casugraha tersenyum puas, karena ayahandanya setuju dengan apa yang ia inginkan.
"Ayahanda prabu."
Ratu Gendhis Cendrawati, Putri Andhini Andita dan Putri Ambarsari tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Prabu Kawiswara Arya Ragnala.
"Maaf saja. Sepertinya ayahanda prabu berpihak padaku." Setelah itu Raden Cakara Casugraha melepaskan tangannya.
"Rayi. Kenapa rayi menutupi telinga yunda?. Ada apa rayi?."
"Yunda tidak pantas mendengarkan kata-kata dusta, yang mereka keluarkan dari mulut busuk mereka." Raden Cakara Casugraha menatap tajam ke arah mereka. "Lebih baik kita menemui ibunda di taman istana. Aku yakin ibunda telah menunggu kita yunda. Kasihan ibunda sendirian di sana." Raden Cakara Casugraha mencoba untuk tersenyum pada kakaknya. Ia juga mencoba untuk meredakan amarahnya. Tentunya ia tidak mau membuat kakaknya merasa takut dengan kemarahan yang amarah menguasai dirinya.
"Baiklah kalau begitu rayi. Mari kita temui ibunda." Putri Agniasari Ariani mengerti dengan ucapan adiknya yang berusaha untuk melindungi dirinya.
"Cakara casugraha!. Mau kemana kau!. Urusan kita belum selesai!." Ratu Gendhis Cendrawati sangat marah, karena ditinggal pergi begitu saja oleh mereka.
__ADS_1
"Jika ibunda ratu masih sayang nyawa, jangan buat kemarahanku bangkit lagi. Atau ibunda memang ingin merasakannya. Dengan senang hati aku akan melakukannya." Senyuman itu sangat mengerikan, sehingga mereka merinding melihat betapa seramnya hawa kemerahan yang menyelimuti tubuhnya Raden Cakara Casugraha.
"Mari yunda. Kita tinggalkan tempat kotor ini yunda." Raden Cakara Casugraha membimbing kakaknya menuju taman Istana. Mungkin ibunda mereka berada di sana.
"Mereka benar-benar kurang ajar!. Tidak ada sopan-sopannya." Ratu Gendhis Cendrawati sangat marah, tidak terima dengan apa yang terjadi.
"Ibunda." Putri Andhini Andita kembali mendekati ibundanya, tubuhnya masih merasakan sakit yang luar biasa. "Mari kita obati raka dulu. Rasanya percuma saja kita marah-marah."
"Rayi andhini andita benar ibunda. Serahkan saja hukuman pada ayahanda prabu. Jika tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, nanti kita bisa protes pada ayahanda prabu." Putri Ambarsari mencoba untuk menenangkan dirinya. "Mari kita lihat keadaan ibunda ratu ardiningrum bintari. Nanda putri sangat mengkhawatirkannya ibunda."
"Baiklah kalau begitu putriku. Mari kita lihat keadaan yunda ardiningrum bintari."
"Mari ibunda, rayi."
Untuk saat ini mereka mengalah, karena mereka juga ingin mengetahui bagaimana keadaan Ratu Ardiningrum Bintari.
"Mari nak. Nanda juga harus segera diobati." Ratu Gendhis Cendrawati membimbing putranya masuk ke dalam kaputren.
Sementara itu. Raden Cakara Casugraha yang hampir sampai di taman Istana.
"Yunda. Temui lah ibunda. Temani ibunda, jangan biarkan ibunda bertemu dengan mereka. Jika mereka mendekati ibunda bawa saja ke tempat aman."
"Memangnya rayi mau kemana?."
"Aku mau menenangkan diri dulu yunda. Jika ibunda bertanya, katakan saja aku sedang berada di kandang kuda bersama aki puasa." Jawabnya dengan lembut.
"Baiklah rayi. Yunda harap rayi lebih bersabar lagi."
"Sampurasun."
"Rampes."
Putri Ambarsari melihat kepergian adiknya yang masih diselimuti hawa kemerahan.
"Meskipun hatinya dipenuhi amarah, namun hatinya sangat baik. Mereka saja yang membuatnya menjadi seperti itu." Tanpa sadar Putri Agniasari Ariani menangis, karena perasaan simpatinya pada adik yang ia sayangi. "Semoga kau bisa menjaga amarahmu dengan baik rayi." Itulah harapan dari putri Agniasari Ariani untuk adiknya.
__ADS_1
Apa yang terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya. Mohon dukungannya ya pembaca tercinta. Maaf jika mengecewakan jalan ceritanya.
...****...