
...***...
Putri Andhini Andita telah sampai di Istana Kerajaan Suka Damai. Rasanya ada perasaan rindu yang ingin ia sampaikan pada rumahnya. Saat itu matanya melihat sosok wanita yang sangat ingin ia lihat setelah pengembaraan yang ia lakukan. Dengan menguatkan segenap hati, langkah, serta perasaannya. Ia mendekati wanita agung itu dengan hati-hati.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh, ibunda." Dengan senyuman yang sangat manis ia mencoba menyebut salam, juga memanggil wanita agung itu.
Ratu Gendhis Cendrawati membalikkan tubuhnya, jantungnya berdegup kencang, saat mengenali suara itu. Suara yang ingin ia dengar selama beberapa bulan ini, dan perasaan rindunya. Dengan cepat ia memeluk anaknya itu, sambil menahan kesedihan yang ia rasakan selama ini.
"Walaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh, nak." sangat erat ia memeluk anaknya itu, sembari menahan isak tangisnya. Pelukan rindu seorang ibu pada anaknya setelah sekian lama tidak bertemu?.
"Nanda sangat merindukan ibunda. Sangat rindu sekali ibunda." Putri Andhini Andita juga menahan tangisnya.
"Jika nanda rindu pada ibunda, tapi kenapa nanda tidak segera kembali nak?." Ia melepaskan pelukannya. Menatap wajah Putri yang ia rindukan.
"Maafkan nanda ibunda. Karena nanda baru bisa pulang. Nanda telah belajar banyak hal selama diperjalanan ibunda." Putri Andhini Andita tersenyum kecil. Raut wajah bahagia ketika ia kembali dari perjalanan jauh.
"Kalau begitu mari kita masuk nak. Ibunda yakin, mereka semua juga sangat merindukan mu nak." Ratu Gendhis Cendrawati mengajak anaknya untuk masuk. Banyak hal yang ingin ia dengar dari anaknya ini. Apa saja yang telah ia lalui selama diperjalanan yang ia lakukan. Bagaimana kisah serunya?. Simak terus kisahnya.
...***...
Kerajaan Restu Agung.
Raden Raksa Wardhana pergi Ke Istana Kerajaan Suka Damai bersama ibundanya. Karena ini hanya acara kunjungan, serta meminta restu dari keluarga Kerajaan Istana saja. Bahwa mereka akan melamar Putri Andhini Andita, seorang putri yang kiranya berasal dari kerajaan besar. Raden Raksa Wardhana sama sekali tidak menduganya.
"Maafkan kanda. Karena kanda tidak bisa menemani dinda, serta putra kita untuk menuju istana kerajaan suka damai." Prabu Bumi Jaya saat ini membantu istri selirnya masuk ke dalam bedati.
"Tidak apa-apa kanda prabu. Lagi pula. Ini hanyalah kunjungan untuk meminta restu meminang saja. Kapan kita bisa melamar seorang putri dari raja terhormat." Selir Ratna Wardhani mencoba memahami, jika suaminya saat ini sangat sibuk dengan beberapa laporan yang terjadi. "Dinda saja sudah cukup untuk mewakili kita semua kanda prabu." Senyuman yang sangat meyakinkan sekali.
"Kalau begitu berhati-hatilah dinda. Kanda hanya bisa beroda untuk keselamatan dinda selama diperjalanan." Prabu Bumi Jaya tersenyum kecil. Setelah itu ia melihat ke arah anaknya yang telah duluan masuk ke bedati. "Semoga keinginan nanda tercapai dengan baik. Maafkan ayahanda, karena untuk saat ini ayahanda belum bisa menemani nanda." Dengan perasaan bersalah, ia meminta maaf pada anaknya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa ayahanda." Raden Raksa Wardhana memakluminya. "Ini hanyalah kunjungan. Tapi nanda harap, saat acara lamaran nanti ayahanda akan hadir. Jika nanda diterima sebagai menantu dari kerajaan suka damai." Raden Raksa Wardhana hanya memaklumi apa yang dikatakan oleh ayahandanya.
"Tentu saja ayahanda akan hadir. Ayahanda selalu mendoakan yang terbaik untukmu." Prabu Bumi Jaya tersenyum lembut. Tentu saja ia akan hadir di hari bahagia anaknya.
"Terima kasih ayahanda prabu." Sebagai seorang anak, tentu saja ada kebahagiaan yang luar biasa yang ia rasakan saat mendengarkan ucapan ayahandanya yang memberikan doa kebahagiaan untuknya.
"Kalau begitu kami pamit dulu kanda prabu, sampurasun." Selir Ratna Wardhani memberi hormat pada suaminya.
"Nanda juga pamit ayahanda prabu, sampurasun." Raden Raksa Wardhana juga memberi hormat pada ayahandanya.
"Rampes." Prabu Bumi Jaya melepaskan kepergian anak dan istrinya menuju istana Kerajaan Suka Damai. Dalam hatinya ia sangat berharap, jika anak dan istrinya akan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Perasaan bersalah yang telah ia lakukan pada mereka, karena telah mengabaikan mereka selama ini. Semoga saja tergantikan dengan kebahagiaan yang luar biasa ketika sampai ke istana Kerajaan Suka Damai. Apakah mereka akan mendapatkan yang mereka inginkan?. Simak terus ceritanya.
...***...
Kembali ke Istana Kerajaan Suka Damai.
"Le-lepaskhan rayi. Kau ini melepas rindu atau melepaskan dendam padaku." Putri Andhini Andita terus mencoba berontak, saking kuatnya pelukan adiknya itu. Sungguh ia merasakan sesak yang membuatnya sakit, apakah adiknya ini memang mau balas dendam padanya?.
"Aku melepaskan keduanya yunda. Itu karena yunda lama sekali kembalinya." Dengan perasaan yang sangat kesal, ia tidak mau melepaskan pelukannya itu. "Salahkan rindu ini yang menyiksa diri." Lanjutnya lagi dengan penuh sandiwara yang sangat mengejutkan untuk ukuran seorang putri Raja.
Sedangkan mereka yang melihat itu malah tertawa cekikikan. Sungguh, mereka semua merindukan suasana yang seperti itu. Canda tawa dari dua kakak adik yang menimbulkan gelak tawa bagi mereka semua.
"Ayolah rayi agniasari ariani. Raka mu ini juga merindukan rayi andhini andita. Jangan diamankan sendiri saja. Biarkan raka mu ini memeluk rayi andhini andita." Raden Hadyan Hastanta malah ikutan mendramatisir keadaan. Membuat mereka semua tidak dapat menahan tawa.
"Oh, rasanya aku ingin pergi lagi jika aku diserbu seperti ini." Rasanya Putri Andhini Andita gerah dengan sikap mereka yang terlalu berlebihan pada dirinya?.
"Ahaha. Itu semua karena kami sangat merindukanmu nak. Ibunda juga ingin memelukmu." Ratu Dewi Anindyaswari dari samping memeluk Putri Andhini Andita.
"Aku juga merindukanmu rayi andhini andita." Putri Bestari Dhatu juga, dan mereka semua yang hadir si ruangan itu sangat merindukan putri Andhini Andita.
__ADS_1
"Wah. Anak bayinya telah lahir?." Putri Andhini Andita berusaha lepas dari pelukan mereka. Ia baru menyadari jika ada bayi kecil yang lucu, ia segera mendekati Putri Bestari Dhatu yang sedang memangku anaknya.
"Lucu sekali." Rasanya ia sangat bahagia melihat bayi kecil yang lucu. Namum anehnya, putra kecil Raden Hadyan Hastanta itu meminta diambil oleh Putri Andhini Andita, membuat mereka semua merasa heran sekaligus terkejut.
"Wah, baru bertemu sudah kenal dengan bibinya." Putri Bestari Dhatu menyerahkan bayinya untuk digendong oleh adik iparnya itu.
"Wah, sangat lucu sekali. Siapa namanya." Putri Andhini Andita merasa berdebar-debar, karena ini pertama kali baginya. Tapi siapa sangka, Raden Sahardaya Raksa kecil ingin bersama bibinya Putri Andhini Andita. Rasanya ini adalah sebuah keajaiban.
Meskipun kebahagiaan yang ia rasakan saat itu sangat lengkap, namun ia belum melihat kehadiran adiknya yang saat ini sedang sibuk berada di ruang pribadi Raja. Mungkin nanti ia akan menemui adiknya itu. Apakah perasaanya akan hilang, atau masih tetap sama?. Hanya waktu yang akan menjawabnya.
...***...
Di kerajaan Buana Dewa.
Raden Jatiya Dewa, dan Prabu Lingga Dewa juga sedang bersiap-siap menuju istana Kerajaan Suka Damai. Mereka juga ingin melalukan pertemuan, serta rundingan. Kapan bisa mengadakan acara lamaran ke istana Kerajaan Suka Damai.
"Berhati-hatilah nak. Semoga saja apa yang kalian inginkan tercapai." Maharaja Dewa Negara mendoakan anak serta cucunya.
"Terima kasih ayahanda prabu. Tapi yang akan menghantarkan lamaran itu putra nanda raden jatiya dewa, bukan nanda ayahanda." Dengan perasaan aneh ia berkata seperti itu. Sehingga menimbulkan gelak tawa bagi mereka.
"Kau ini ada-ada saja nak." Maharaja Dewa Negara tertawa geli melihat raut wajah anaknya itu. Padahal ia tadi hanya bercanda saja.
"Kalau begitu berhati-hatilah rayi. Semoga kau bisa membawakan kebahagiaan ke istana ini." Putri Dewi Anjarwati tersenyum kecil.
"Semoga saja yunda." Raden Jatiya Dewa juga sangat berharap, jika lamarannya nantinya akan diterima oleh Putri Andhini Andita.
Apakah ia akan mendapatkan kabar yang paling membahagiakan nantinya?. Hanya waktu yang akan menjawabnya. Jangan lupa dukungannya ya pembaca tercinta.
...***...
__ADS_1