RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
DIMENSI WAKTU, PEDANG PELEBUR SUKMA


__ADS_3

...****...


Perlahan-lahan sosok itu menghilang dengan senyuman lembut yang menghiasi wajahnya, tidak ad perasaan dendam sedikitpun yang terlihat di wajahnya saat itu.


"Terima kasih anak muda, semoga kau menjadi Raja yang sangat baik, sama seperti Gusti Prabu kawiswara arya ragnala."


"Aamiin, semoga saja kek." Jaya Satria juga tersenyum mendengarnya.


Sosok itu menghilang karena tidak merasakan beban yang ia pikul lagi. "Selama ini ia hanya merindukan keluarga yang ia kasihi." Jaya Satria sangat kagum pada kakek itu.


...***...


Putri Gempita Bhadrika kembali melatih ilmu kanuragannya yang ia miliki, hatinya masih saja belum puas jika tangannya masih diam.


"Kalian berdua akan mendapatkan balasan yang sangat kuat dariku nantinya." Dalam hatinya yang semakin membara. "Aku tidak takut lagi dengan keris terkutuk itu, karena sebelum kalian melakukan itu? Aku terlebih dahulu menghabisi kalian dengan jurus serap jiwa kegelapan ini."


"Kekuatan kadigdayaan yang ia miliki semakin kuat." Dalam hati Aki Petapa Sepi, ia memperhatikan dengan sangat jelas bagaimana kekuatan yang dimiliki Putri Gempita Bhadrika. "Aku tidak mengeri dendam seperti apa yang ia rasakan pada dua orang itu." Ia masih ingat dengan cerita gadis muda itu mengenai musuh yang telah membunuh Prabu Wajendra Bhadrika. "Tapi aku tidak ingin terlalu ikut campur dengan urusannya, aku hanya mengajari ilmu kanuraganku padanya, supaya tidak terbuang sia-sia ketika aku pergi meninggalkan dunia ini." Ia kembali menghela nafasnya.


...***...


Saat ini di Istana Kerajaan Suka Damai.


Jaya Satria telah kembali ke istana Kerajaan Suka Damai, karena ia merasakan ada gejolak kegelisahan yang tidak biasa ada dirinya.


"Apakah gusti prabu juga merasakannya?." Jaya Satria saat ini berada di ruang pribadi Raja, bersama sang Prabu. "Tiba-tiba saja hamba merasakan ada pancaran gelombang kegelapan yang mengerikan di dalam tubuh hamba."


"Ya, aku dapat merasakannya jaya satria." Begitu juga dengan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Jika pedang pelebur sukma sedang bergemuruh didalam tubuhku? Namun aku tidak tahu apa penyebab ia bergetar ingin keluar dari tubuh kita?." Setidaknya itulah yang dirasakan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Pada hal hamba telah berusaha menekan hawa murni hamba, namun gejolak pedang itu malah semakin besar."


Keduanya sangat heran dengan keadaan pedang pelebur sukma yang tidak biasanya memberikan tekanan kegelapan yang aneh seperti itu.


"Kalau begitu, kita bersemedi saja? Mungkin ia ingin mengatakan sesuatu pada kita."


"Kau benar jaya satria, mMari kita lakukan."


Keduanya duduk dengan tenang, memusatkan pikiran mereka. Mengatur hawa murni mereka yang sedikit kacau. Setelah itu memejamkan mata mereka dengan pelan.


...***...


Putri Andhini Andita tampak bolak balik di depan halaman ruangan pribadi Raja, entah kenapa ia terlihat sangat gelisah.


"Ada apa rayi?." Raden Hadyan Hastanta kebetulan melihat gelagat aneh pada adiknya.


"Raka?."


"Ada apa rayi? Apakah kau ingin menemui rayi prabu tentang protesmu mengenai jaya satria?."


"Raka jangan curiga ke arah sana dulu."


"Biasanya memang seperti itu."


"Hufh!." Putri Andhini Andita tampak menghela nafasnya dengan lelah. "Tadi aku tidak sengaja mendengarkan pembicaraan mereka yang sedang terburu-buru raka."


"Kau menguping lagi?." Raden Hadyan Hastanta sangat terkejut. "Kebiasaanmu ini sangat aneh sekali rayi!." Ia terbawa suasana karena sikap adiknya.


"Raka jangan berpikiran buruk padaku, aku tadi melihat keduanya sangat gelisah, membahas masalah gejolak kegelapan."

__ADS_1


"Sudahlah rayi, lebih baik biarkan saja rayi Prabu bekerja dengan baik, jangan sampai ia merasa terganggu karena sikapmu itu."


"Baiklah raka, aku mengerti." Kali ini ia mengalah. "Percuma saja aku berdebat panjang dengan raka di sini." Dalam hatinya sangat kesal. "Pada hal aku itu hanya cemas dengan keselamatan rayi Prabu, juga satria." Dalam hatinya.


Sementara itu di dalam ruangan pribadi Raja.


Agak cukup lama mereka terhubung dengan pedang itu. Pedang pelebur sukma milik pendekar pembunuh bayaran milik Langitya Sukmana yang memiliki kegelapan yang sangat pekat diantara senjata lainnya yang ada di dalam tubuh keduanya.


"Mengapa pedang ini memancarkan aura yang sangat gelap? Apa yang terjadi padanya?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana heran melihat pedang itu.


"Gusti prabu benar, kegelap ini seperti ia serap dari sekitarnya." Jaya Satria dapat merasakan aura hitam masuk ke dalam pedang itu. "Apakah ada musuh yang berniat jahat pada kerajaan ini? Sehingga pedang pelebur sukma dapat menangkap kegelapan itu?."


"Bisa jadi seperti itu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat waspada. "Sebab, dahulu pendekar itu mengatakan, selain untuk membunuh? Pedang ini juga dapat menyerap aura gelap seseorang." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat ingat itu. "Pedang ini juga dapat digunakan untuk melindungi diri dari serangan kegelapan, meskipun kita tidak pernah menggunakannya untuk itu."


"Pedang yang sangat luar biasa dalam menangkap kegelapan musuh." Jaya Satria heran dengan kekuatan pedang pelebur sukma. "Kalau begitu hamba akan berjaga-jaga di dalam istana, hamba takut akan ada serangan musuh."


"Baiklah-."


Deg!.


Keduanya sangat terkejut ketika merasakan ada sesuatu yang seakan-akan menghantam tubuh, sehingga menimbulkan rasa sakit yang tidak biasa.


"Kegh! Apa yang terjadi pada kita Gusti Prabu?."


"Aku tidak tahu jaya satria!."


Keduanya seperti sedang berada di tempat kegelapan yang sangat tidak biasa.


"Kegh! Ke mana pedang pelebur sukma akan membawa kita?."


"Entahlah! Tapi kegelapan ini rasanya sangat membuat hamba tidak nyaman, sangat sesak."


Keduanya berteriak kesakitan, tubuh mereka dipaksa untuk melintasi waktu yang tidak mereka ketahui akan dibawa kemana.


...***...


Deg!.


Ratu Dewi Anindyaswari yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya, namun ada perasaan yang tidak enak menyenggol hatinya.


"Putraku nanda cakara casugraha." Dalam hatinya sangat cemas pada anaknya. "Apa yang terjadi pada anakku? Apakah anakku baik-baik saja?." Perasaan cemas itulah yang membuatnya merasa tidak nyaman sama sekali. "Aku harus menemui nanda prabu, semoga saja mereka baik-baik saja." Ratu Dewi Anindyaswari segera melangkah menuju ruang Pribadi Raja, hanya untuk memastikan jika anaknya baik-baik saja.


Sementara itu di bawah alam sadar Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria.


Seorang laki-laki mengenakan topeng hitam, menggunakan pakaian serba hitam. Sedang bertarung dengan beberapa orang petinggi kerajaan. Gerakan mereka sangat cepat, hampir tidak bisa dibaca oleh mata biasa, sehingga musuhnya kewalahan menghadapi pendekar itu.


Dentingan senjata yang mereka gunakan beradu dengan kuatnya. Keinginan untuk mengalahkan, atau dikalahkan sangat besar terpancar dari sorot mata mereka.


"Bedebah busuk! Jangan-jangan kau adalah pendekar pembunuh bayaran yang dibicarakan oleh semua orang?!." Amarahnya sangat kuat. "Baik dari golongan putih maupun golongan hitam." Dharmapati Jenar Sengat mengingat selebaran lukisan tentang pendekar yang sedang ia dan dua temannya hadapi saat ini.


"Benarkah itu?!." Ia sangat terkejut mendengarnya. "Jadi kita berhadapan dengan pendekar pembunuh bayaran itu?!." Bayangkari Yudha Sana tidak percaya.


"Tapi mengapa kau mengincar kami bertiga?!." Senopati Jengkal Larang bertanya-tanya. "Siapa yang telah mengirimu kepada kami?! Katakan!." Bentaknya.


Angin apa yang membuat mereka hari ini berhadapan dengan pendekar pembunuh bayaran yang terkenal dengan jurus pedang pelebur sukma.


"Tentu saja aku ingin membunuh kalian!." Balasnya. "Aku datang untuk membunuh kalian!."

__ADS_1


"Jahanam! Jumawa sekali kau ingin membunuh kami bertiga?." Dharmapati Jenar Sengat sangat murka. "Kepandaian apa yang kau miliki sehingga kau berani berhadapan dengan kami bertiga?!."


"Banyak." Balasnya dengan pelan.


Tentu saja mereka sambil bertarung dengan habis-habisan, mereka sangat cepat dalam bertarung karena menyangkut masalah nyawa yang harus mereka pertahankan.


"Aku pasti akan mengalahkan kalian bertiga." Ia terus menghadapi ketiganya dengan kepandaian yang ia miliki.


"Kau pikir bisa mengalahkan kami bertiga?! Kami bukanlah sembarangan orang yang dengan mudahnya kau bunuh." Bayangkari Yudha Sana juga murka, ia merasa sangat direndahkan. "Kau salah dalam memilih target!." Ia juga berusaha untuk menyerang musuhnya. Namun saat itu amarahnya sedang menguasai dirinya, sehingga serangan yang ia lancarkan agak tidak terarah.


"Kau yang akan mati ditangan kami! Karena telah kurang ajarnya mengincar nyawa kami tanpa berpikir dahulu berhadapan dengan siapa." Di dalam pertarungan yang sangat keras itu ia mencoba untuk mencuri kesempatan untuk menyerang musuhnya. "Heh! Sungguh malang sekali nasibmu akan mati ditangan kami hari ini juga!." Senopati Jengkal Larang mendengus kesal. Kesal karena musuhnya sangat lincah dalam menyerang dan bertahan. Serangannya seakan sia-sia, begitu juga dengan tenaganya yang terbuang percuma menghadapi musuh seperti itu.


"Ya, malang sekali nasibmu karena harus mati ditangan kami! Tapi kalau kau masih sayang dengan nyawamu? Sebaiknya kau segera pergi! Sebelum kerisku ini menghisap darahmu yang kotor itu!." Dharmapati Jenar Sengat mengeluarkan keris andalannya yang memiliki kesaktian yang lebih kuat dari keris siapapun juga.


"Cepat pergi! Karena aku masih berbaik hati mengampuni kelancangan mu! Sebelum aku berubah pikiran, tinggalkan tempat ini! Atau kau benar-benar mati diujung tombak kencana dewa ini." Bayangkari Yudha Sana malah memamerkan tombak kebanggaannya.


"Cepat pergi! Aku tidak mau melumuri pedang halilintar bencana ini basah karena darahmu! Aku sedang tidak ingin bertarung dengan orang jahat seperti kau, bedebah kurang ajar." Begitu juga dengan senopati jengkal larang.


Sepertinya ketiga pria agung itu sedang mengancam pendekar pembunuh bayaran itu. Menyuruh musuhnya pergi meninggalkan mereka. Namun bagaimana reaksinya?. Ia malah tertawa keras mendengar ketiga pria agung itu berkoar dengan suara yang lantang. Membanggakan senjata yang mereka miliki.


"Kurang ajar!." Bentak ketiganya dengan amarah yang membara.


Lalu bagaimana degan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria yang terseret oleh dimensi waktu?. Keduanya saat ini seakan menjadi saksi apa yang dilakukan oleh pemilik pedang pelebur sukma.


"Bukankah dia itu?." Jaya Satria masih ingat dengan sosok itu.


Akan tetapi kehadiran mereka sama sekali tidak mengganggu mereka. Seakan mereka tidak bisa melihat kehadiran keduanya, karena fokus berhadapan dengan pendekar pembunuh bayaran yang dapat mengancam keselamatan mereka.


"Apa yang kau tertawakan?! Kami sedang tidak memberikan lawakan hingga kau tertawa terpingkal-terpingkal seperti itu!." Dharmapati Jenar Sengat myerasa tersinggung.


"Tawamu sungguh sangat merendahkan kami! Benar-benar kurang ajar." Bayangkari Yudha Sana sangat marah.


"Diam kau bedebah!." Bentak Senopati Jengkal Larang dengan suara yang sangat keras.


"Aku menertawakan kebodohan kalian bertiga! Pria agung yang sebentar lagi yang akan mati diujung pedangku ini." Pendekar pembunuh bayaran itu mengeluarkan pedang pelebur sukma.


Mereka semua terkejut melihat pamor dari pedang itu. Termasuk Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria. pedang itu memancarkan kegelapan yang sangat kental, menyedot hawa kegelapan disekitarnya.


"Tidak salah lagi! itu adalah pedang pelebur sukma."


"Kau benar jaya satria, dia adalah pendekar yang memiliki pedang itu."


Pamor yang ia keluarkan adalah menyerap hawa kegelapan yang cukup menyakitkan. Karena perlahan-lahan pedang itu menyedot hawa kegelapan itu. Hingga membuat ketiga pria agung itu merasakan tenaga dalam mereka seperti terkuras habis.


"Pedang ini belum aku keluarkan dari warangkanya." Ia melihat bagaimana hawa kegelapan itu. "Namun ia sudah menyedot kegelapan hati kalian? Itu buktinya bahwa kalian memang pria agung yang busuk!." Pendekar pembunuh bayaran itu menatap ketiga pria agung itu dengan lekat, meskipun wajahnya ditutupi oleh topeng. "Aku rasa kalian memang tidak pantas untuk hidup hingga nanti malam." Namun ia masih bisa mengamati ekspresi mereka yang mulai takut.


"Aku tidak menduga jika apa yang ia lakukan sangat mirip dengan tujuan kita saat itu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak menduga itu.


"Hanya saja caranya sedikit berbeda, kita kita tidak menggunakan pedang sukma naga pembelah bumi untuk membunuh orang lain, kecuali terdesak." Jaya Satria terpaku di tempat.


"Lantas apa yang akan kita lakukan?."


"Kita lihat saja, kita jua tidak bisa bertindak."


"Sampai kapan ia akan menahan kita?."


"Tenanglah jaya satria, jangan sampai kita terbawa amarah.

__ADS_1


Apa yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya. Jangan lupa dukungannya. Terimakasih untuk pembaca tercinta yang membuat author bisa melangkah sampai sejauh ini.


...***...


__ADS_2