RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
PRABU ASMALARAYA ARYA ARDHANA


__ADS_3

...***...


Di kerajaan Mekar Jaya.


Ratu Ardiningrum Bintari merasa sedih, dengan kepulangan anaknya Raden Ganendra Garjitha dalam keadaan terluka parah.


"Bagaimana keadaan kedua adikmu?. Kenapa kau pulang sendirian nak?." Ia menangis melihat anaknya  yang sedang diobati oleh tabib istana.  "Maafkan aku ibunda. Saat itu aku tidak lagi memikirkan siapa-siapa, karena aku terlanjur marah, atas perbuatan curang dari mereka ibunda." Ia merasa menyesal karena tidak mengetahui keadaan kedua adiknya.


"Oh, anakku gentala giandara, anakku ambarsari." Hatinya begitu pilu, ia hanya berharap bahwa anaknya baik-baik saja.


"Mohon ampun gusti ratu, raden gentala giandra baru saja kembali." Salah satu prajurit istana melapor kepada ratu Ardiningrum Bintari.


"Dimana dia?. katakan padaku!." Ia tidak kuasa menahan perasaannya.


"Berada di depan gerbang istana gusti putri." Ucapnya lagi.


"Oh anakku." Ia langsung segera menuju ke gerbang istana, ia ingin melihat keadaan anaknya. Sedangkan Raden Ganendra Garjitha hanya diam sambil diobati oleh tabib istana.


Begitu Ratu Ardiningrum Bintari sampai di gerbang istana, ia melihat beberapa prajurit istana membantu anaknya untuk berjalan.


"Putraku." Ia terkejut melihat anaknya yang terluka.


"Ibunda." Hatinya merasa sedih saat melihat ibundanya.


"Kau terluka nak?." Hatinya sangat sedih melihat keadaan anaknya.


"Iya ibunda." Ia mencoba bertumpu pada ibundanya, ia merindukan ibundanya, hingga ia tidak bisa menahan air matanya.


"Bagaimana keadaan adikmu nak?. Kenapa kau tidak pulang bersamanya." Ratu Ardiningrum Bintari merasa gelisah karena belum juga melihat putrinya.


"Maafkan aku ibunda. Aku belum tahu keadaan rayi ambarsari. Tapi aku yakin, rayi berada di istana, dan menjadi tahanan mereka." Ia menangis sedih karena belum mengetahui pasti keberadaan adiknya.


"Oh dewata yang agung." Ia merasa sedih dengan apa yang ia dengar dari anaknya Raden Gentala Giandra.


"Prajurit, bawa putraku ke ruang pengobatan." perintah  Ratu Ardiningrum Bintari, ia sangat mencemaskan anaknya.


"sandika gusti putri." Mereka menuruti perintah dari Ratu Ardiningrum Bintari.


"Semoga kau baik-baik saja putriku ambarsari." Ia berdoa dalam hatinya, untuk keselamatan putrinya yang berada di istana kerajaan Suka Damai. Hatinya sangat cemas, jika mereka melakukan hal buruk terhadap anaknya.


...****...


Sedangkan di istana Suka Damai.


"Jadi Rayi prabu akan pergi ke istana mekar jaya?." putri Andhini Andita sedikit heran


"Ya. Sesegera mungkin masalah ini harus diselesaikan." Jaya Satria menatap lurus ke depan.


"Kalau begitu, aku akan ikut dengan rayi prabu." Rasanya sangat cemas mendengarkan kepergian adiknya ke sana.


"Kenapa gusti putri ingin ikut ke sana?." Jaya Satria berpura-pura bertanya.


"Aku hanya khawatir dengan rayi prabu. Jika ia pergi sendirian ke sana, ia akan mendapatkan masalah. Mengingat bagaimana sikap mereka terhadap rayi prabu." Perasaan cemas itu begitu tulus, tidak dibuat-buat atau hanya sekedar sandiwara belaka.


"Jadi gusti putri tidak mengkhawatirkan hamba.?" Jaya Satria mencoba menggoda putri Andhini Andita?.


"Bfffh tentu saja aku juga mengkhawatirkanmu." Ia tertawa kecil. Entah perasaan apa yang sempat hinggap dihatinya saat ini, namun hatinya merasa ada yang aneh dengan dirinya.


Jaya Satria juga ikut tertawa melihat betapa lucunya putri Andhini Andita, dan keduanya sedang bercanda seperti benar-benar telah akrab. Sementara itu dari kejauhan Putri Ambarsari melihat mereka berdua.


"Aku tidak pernah melihat, rayi andhini andita tertawa dengan wajah yang ceria seperti itu." Ia seakan tidak percaya melihat itu.


"Itu karena. Tidak ada dendam di dalam hatinya, yunda." Raden Hadyan Hastanta datang dari samping, ia tersenyum kecil. "Meskipun aku tidak tahu kapan mereka akrab. Tapi sepertinya, jaya satria telah mengubah rayi andhini andita menjadi lebih baik." Ia juga merasakan perubahan yang luar biasa dari adiknya itu.


"Dia sama sekali tidak berada di bawah pengaruh jaya Satria. Dia juga orang yang baik. Aku beberapa kali mengobrol dengannya. Dia bahkan pendengar yang baik, dan memberi saran yang baik juga." Ia tidak mau kakaknya itu berpikiran buruk tentang Jaya Satria, yang bisa mengubah perangai adiknya dan juga dirinya.


Putri Ambarsari terdiam. Ia memang melihat perubahan dari kedua adiknya itu. Entah dari sikapnya, perkataan yang lebih sopan dari yang sebelumnya.


"Mungkin benar yang dikatakan jaya satria. Hati manusia itu pada dasarnya sama-sama baik." Ia ingat perkataan jaya Satria. "Namun hati yang baik itu bisa ternodai, karena pandangan-pandangan kita yang menganggap itu hal yang kita sukai atau tidak kita sukai. Dan setelah itu, hanya ada dua pilihan." Ia menghentikan perkataannya, tersenyum lembut menatap kakaknya.

__ADS_1


"Kearah yang baik dengan pandangan yang baik. Kearah yang buruk dengan pandangan buruk." Lanjutnya.


"Tapi tidak semua yang kita anggap baik itu selamanya baik. Begitu juga keburukan. Jika kita ingin tahu itu baik atau buruk. Tanyakan pada diri kita di masa lalu. Apa saja yang telah kita lakukan pada seseorang, sehingga kita mendapatkan balasannya." Raden Hadyan Hastanta melihat ke arah Jaya Satria dan Putri Andhini Andita yang sedang bercanda ria.


Putri Ambarsari mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh adiknya. Memang sebagian ia mengakui ada benarnya yang dikatakan adiknya. Kebenciannya terhadap Cakara Casugraha atau prabu Asmalaraya Arya Ardhana di masa lalu sangat besar hingga mengubah watak adiknya itu.


"Dewata yang agung, apa yang harus aku lakukan." Hatinya mulai terasa galau, dan juga sedih. Setelah itu ia pergi dari sana, rasanya ia tidak mau memperlihatkan kesedihannya.


"Semoga saja yunda mau berubah, dan kita semua bisa berkumpul bersama, dalam keadaan suasana hati yang baik." Dalam hati Raden Hadyan Hastanta sangat berharap, jika kakaknya juga mau mengubah pandangannya terhadap Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


...***...


Keesokan harinya.


Putri Ambarsari, Putri Andhini Andita, dan jaya Satria sedang bersiap-siap untuk melakukan perjalanan. Mereka akan berangkat menuju Istana Kerajaan Mekar Jaya, dengan beberapa prajurit yang menyertai.


"Berhati-hatilah rayi prabu selama diperjalanan." Raden Hadyan Hastanta melepaskan kepergian prabu Asmalaraya Arya Ardhana bersama kakak dan adiknya.


"Begitu juga dengan rayi andhini andita dan yunda ambarsari. Aku berharap, kalian sampai di istana kerajaan mekar jaya dengan selamat." Lanjutnya.


"Terima kasih raka. Semoga Allah selalu memberikan keselamatan kepada kami." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil, matanya menatap ke arah Jaya Satria.


"Aku juga berharap raka dan jaya satria baik-baik saja selama berada di istana. Semoga saja tidak mendapatkan serangan dari musuh manapun." Ia juga berharap mereka yang di istana baik-baik saja.


"Aku berangkat dulu raka." putri Andhini Andita berpamitan pada kakaknya.


"Berhati-hati rayi. Jaga juga rayi prabu." Balas Raden Hadyan Hastanta.


"Jaya satria. Jaga rakaku dengan baik selama di istana. Sentil saja kepalanya jika penyakitnya kumat lagi." Dengan nada bercanda ia berkata seperti itu Hingga membuat Jaya Satria dan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tertawa kecil.


"Memangnya aku ini anak kecil yang nakal rayi?. Sampai-sampai aku harus dijaga oleh jaya satria." Raden Hadyan Hastanta terlihat cemberut, meskipun hatinya tergelitik dengan ucapan adiknya.


"Begitulah." Balasnya hingga membuat suasana itu sedikit cair.


Apalagi Putri Ambarsari hanya diam memperhatikan kedekatan mereka, ia tidak sama sekali bersuara.


"Kalau begitu kami pergi dulu. Sampurasun." prabu Asmalaraya Arya Ardhana memberi salam pada kakaknya.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh." Ia juga mengucapkan salam pada Jaya Satria.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh." Jaya Satria tersenyum kecil.


Setelah itu mereka melangkah pergi meninggalkan gerbang istana untuk menuju ke kerajaan Mekar Jaya.


"Semoga saja mereka baik-baik saja." Ia sangat berharap semuanya akan aman, entah itu di perjalanan, atau di istana kerajaan Mekar Jaya nantinya.


"Ya, kau benar jaya satria-." Raden Hadyan Hastanta melihat kepergian mereka yang mulai menjauh, memasuki Kota raja. Namun begitu matanya melihat ke arah sampingnya?.


"Rayi prabu?." Ia tidak percaya jaya satria berubah menjadi adiknya?." Lalu yang bersama mereka tadi?. Ia seperti orang gagap yang kehilangan kata-kata.


"Maafkan aku raka. Aku memang tidak mengatakan rencana ini pada raka. Karena aku takut yunda ambarsari salah paham. Jika jaya satria yang datang sebagai utusan." Ia menjelaskan pada kakaknya.


"Karena itulah aku dan jaya Satria bertukar tempat. Agar tidak membuat yunda ambarsari curiga. Apalagi saat sampai di istana kerajaan mekar Jaya. Aku takut mereka akan menyerang jaya Satria nantinya." Lanjutnya.


"Ya, rayi prabu benar. Akan sangat berbahaya bagi jaya Satria, juga keselamatan rayi andhini andita." Raden Hadyan Hastanta mengerti, adiknya memang memikirkan sampai ke depan.


"Kita hanya berharap, semuanya akan baik-baik saja raka." Itulah harapan sang Prabu.


***


Kembali pada hari itu.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria baru saja melakukan sholat istikharah, mereka meminta petunjuk kepada Allah SWT.


"رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْراً وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى القَوْمِ الكَافِرِينَ


رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا


رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا

__ADS_1


رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ


رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ


dalam ketidakberdayaan yang kami hadapi, kami hanya memohon padamu ya Allah, aamiin aamiin ya rabbal aalaamiin."


Dalam doa mereka berharap mendapatkan petunjuk untuk bertindak, agar tidak salah dalam mengambil keputusan. Saat itu mereka melihat kedatangan orang yang sangat dirindukan.


"Sampurasun." Suara itu, suara yang ingin mereka dengar, dan wajah ramah yang ingin mereka lihat.


"Ayahanda \ gusti prabu." Keduanya mendekatinya, memeluknya dengan penuh kerinduan.


"Ayahanda akan selalu bersama kalian, hingga pada saatnya. Ayahanda benar-benar tidak bisa berada di dunia ini." Ia juga sedih berpisah dari keduanya, tapi apalah daya, takdir berkata lain.


"Apa yang kalian cemas, juga menjadi kecemasan ayahanda, putraku." Ia mengelus kepala Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria, ia melihat ke arah Jaya Satria.


"Terima kasih karena kau menjaga saudaramu dengan baik, putraku." Ia mengelus wajah yang ditutupi topeng itu, namun Jaya Satria masih dapat merasakan sentuhan itu.


"Kami akan selalu saling menjaga ayahanda." Rasanya ia hampir menangis mendengarnya.


"Terus lah berjalan dalam kebaikan. Meskipun topeng ini menutupi siapa engkau, putraku." ia mencium puncak kepala Jaya Satria dengan sayangnya.


"Dan kau. Cakara casugraha. Iringilah saudaramu dengan doa, dan segenap perasaanmu." Kali ini ia mencium puncak kepala Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Tentu saja ayahanda." Keduanya tidak dapat menyembunyikan rasa haru yang mendesak dada mereka. Perhatian ayahandanya, yang tidak dapat dirasakan setiap saat.


"Kalian tenang saja. Untuk mengatasi masalah antara kerajaan suka damai, dengan kerajaan mekar jaya. Kali ini biarkan jaya satria yang ke sana. Namun dalam wujud cakara casugraha." Prabu Kawiswara Arya Ragnala kali ini terlihat serius.


"Kenapa seperti itu ayahanda?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana ingin tahu.


"Karena jika jaya satria pergi ke sana dalam keadaan seperti ini. Ayahanda takut, mereka akan menyerangnya. Dan menganggapmu tidak memiliki sopan santun karena menyuruh utusan, tanpa memperlihatkan wajahnya pada mereka, seakan-akan Jaya Satria seorang penebar teror." prabu Kawiswara Arya Ragnala tidak ingin itu terjadi.


Jaya Satria dan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana saling berpandangan, memikirkan apa yang dikatakan oleh prabu Kawiswara Arya Ragnala.


"Tapi tidak mungkin kami berada di waktu yang bersamaan, atau gusti prabu saja ketika mengiringi kepergian nanti gusti prabu." Ia memikirkan ke sana.


"Benar sekali ayahanda. Itu akan menimbulkan kecurigaan pada mereka nantinya." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga memikirkannya.


Prabu Kawiswara Arya Ragnala tersenyum menatap keduanya, ia mengerti maksud perkataan keduanya.


"Pada saat itu, kalian bertukar tempat, agar mereka tidak curiga." itulah saran yang diberikannya


"Ya, itu benar ayahanda. Itu rencana yang sangat bagus." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana setuju dengan itu.


"Baiklah, kami akan melakukannya dengan baik." Jaya Satria juga setuju.


"Terima kasih ayahanda. Terima kasih karena telah membantu kami." prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat senang, ia merasa lega dengan saran yang diberikan oleh ayahandanya.


Kembali ke masa kini.


...***...


Perjalanan mereka sedikit terhenti, karena prabu Asmalaraya Arya Ardhana melakukan sholat Zuhur bersama prajuritnya yang sebagian beragama Islam.


Sedangkan Putri Andhini Andita, dan Putri Ambarsari memperhatikan apa yang mereka kerjakan.


"Sebenarnya apa yang dikerjakan olehnya rayi prabu?. Harusnya kita meneruskan perjalanan agar cepat sampai di istana kerajaan mekar jaya." putri Ambarsari merasa aneh dengan yang dikerjakan oleh adiknya itu.


"Jaya Satria pernah mengatakan padaku. Apa yang kerjakan oleh rayi prabu adalah gerakan sholat." putri Andhini Andita menjawabnya. "Sholat?. Aku tidak mengerti maksudnya." Ia bertanya lagi.


"Jika yunda penasaran. Kenapa yunda tidak bertanya pada rayi prabu saja." Ia tersenyum kecil, ia tidak bisa menjawab pertanyaan dari kakaknya.


"Apakah aku akan menanyakannya?." Ia bertanya dalam hatinya. Tapi rasanya sangat mustahil ia lakukan, karena ia sama sekali tidak bisa akur dengan adiknya itu.


"Tapi kenapa rayi andhini andita bisa akur dengan rayi prabu?. Apakah ia benar-benar di santet pikirannya oleh rayi prabu?." Matanya melirik ke arah putri Andhini Andita. ia masih heran bagaimana dengan waktu yang cepat adiknya bisa berubah?.


"Aku akan mencobanya. Dan membuktikan bahwa, rayi prabu memang telah menyantet rayi andhini andita, juga rayi hadyan hastanta." Ia masih belum menerima kenyataan perubahan sikap kedua adiknya itu.


Apa yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2