
...****...
Pagi itu, tabuh benderang perang telah berbunyi dengan kerasnya. Karena pasukan kerajaan rencong menyerang dengan taktik sapuan angin topan. Kerajaan Jala Besi telah siap, hingga terjadi pertarungan di daerah itu.
"Gusti prabu. Sepertinya kita telah diserang."
"Patih arya sena. Mari kita hadapi mereka semua, jangan sampai mereka membantai semua prajurit kita."
"Sandika gusti prabu."
Patih Arya Sena bergegas menuju medan perang. Keadaan perang sangat kacau dan panas karena sudah ada beberapa dari mereka yang telah gugur?.
"Mari gusti prabu. Hamba juga akan membantu gusti prabu."
"Mari jaya satria."
Prabu Kanigara Laksana juga ikut menuju medan perang. Sebagai seorang raja, ia akan bertanggungjawab atas prajurit yang ia pimpin.
Keadaan Medan perang benar-benar kacau, karena kerajaan rencong menyerang dengan ganasnya.
"Kurang ajar!. Mereka malah menyewa Pendekar untuk menyerang kami."
Patih Arya Sena merasa kesal melihat prajuritnya dibantai habis-habisan oleh mereka. Tentunya ia tidak akan tinggal diam begitu saja melihat itu terjadi.
Begitu juga dengan Jaya Satria dan Prabu Kanigara Laksana yang melihat itu. Mereka tidak percaya dengan keberutalan yang dilakukan oleh prajurit kerajaan Rencong.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Sungguh kejam sekali apa yang mereka lakukan."
"Aku tidak bisa berdiam diri saja. Aku harus menghentikan mereka."
Jaya Satria dan Prabu Kanigara Laksana membantu Prajurit untuk menghadang serangan yang datang. Benar-benar seperti angin topan yang melanda apa saja yang dilaluinya.
Keadaan semakin gawat, karena pasukan kerajaan Jala Besi terdesak oleh kekuatan besar dari Kerajaan Rencong.
"Ya Allah. Izinkan hamba untuk membela kebenaran, dan hilangkan kejahatan yang ada dihadapan hamba saat ini." Jaya Satria mengeluarkan pedang pelebur Sukma. Ia tidak tahan lagi melihat kejadian yang mengerikan itu. Dengan keadaan setengah marah, Jaya Satria memanggil mereka agar perhatian tertuju padanya.
"Hei!. Kalian!. Lawan kalian bukanlah mereka!. Tapi aku!."
"Hei!. Siapa kau!. Berani sekali kau memanggil kami dengan cara seperti itu."
Kelima Pendekar itu mendekati Jaya Satria. Mereka menatap Jaya Satria dengan tatapan aneh.
"Aku jaya satria. Aku sangat benci dengan apa yang telah kalian lakukan."
__ADS_1
"Jadi kau ingin melawan kami?. Pendekar dari bukit tengkorak?."
"Hei!. Anak muda, apakah kau sudah bosan hidup?. Sehingga kau berani menantang kami?."
"Jika kau ingin mati, tidak usah repot-repot menghadapi kami semua."
"Hidup dan matiku, hanya milik Allah SWT. Namun sebagai hamba-Nya yang membenci kejahatan, maka aku harus menghentikan tindakan kalian semua."
Mereka semua malah tertawa mendengarkan apa yang dikatakan oleh Jaya Satria. Seakan yang dikatakan olehnya adalah sebuah candaan yang menimbulkan gelak tawa.
Jaya Satria mengayunkan pedang Pelebur Sukma. Sehingga pedang tersebut memperlihatkan pamor hitam yang sangat pekat. Mereka yang melihat itu sangat terkejut dan tidak percaya.
"Bagaimana mungkin kau memiliki pedang berbahaya itu?. Kenapa kau bisa memiliki pedang itu?."
"Aku tidak perlu menjawabnya. Pedang inilah yang akan menghentikan tindakan kalian."
Jaya Satria berhadapan dengan kelima pendekar itu. Mereka tampak waspada karena mereka mengetahui betapa berbahayanya pedang itu.
Sementara itu, Prabu Kanigara Laksana sedang berhadapan dengan Raja Rencong yang terkenal kejam pada siapa saja.
"Sebaiknya kau menyerah saja. Aku telah membunuh banyak prajurit mu. Aku yakin sebentar lagi kau juga akan menyusul mereka jika kau tidak segera minta ampun padaku."
"Heh!. Kau pikir aku sudi begitu saja minta ampun padamu?. Kau jangan banyak bermimpi!. Aku pasti akan mengalahkanmu."
"Kurang ajar!. Kau berani meremehkan aku!."
Pertarungan antara kedua Raja itu tidak bisa dihindari lagi. Keduanya bertarung dengan sengitnya. Mereka tidak mau mengalah satu sama lain. Saling menyerang, dan kadang melindungi diri, ketika serangan itu hampir saja mengenai tubuh mereka.
Keadaan Perang, membuat orang panik. Takut akan kematian, meskipun membela apa yang mereka anggap itu adalah hak yang patut dipertahankan.
Kembali pada Jaya Satria yang dengan lihainya memainkan jurus-jurus pedang yang ia pelajari selama ini. Dan ketika kesempatan datang, ia memainkan jurus cakar naga cakar petir yang ia salurkan dalam pedang pelebur Sukma. Seketika suasana perang menjadi aneh, karena anginnya mengandung aliran petir?. Prajurit kebingungan, karena tubuh mereka terasa sakit. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Gusti prabu kanigara laksana. Gusti patih arya sena. Sebaiknya bawa prajurit yang tersisa menjauh dari sini. Biar hamba atasi mereka semua dengan serangan cakar naga cakar petir."
"Tapi jaya satria. Kami tidak bisa meninggalkan kau sendirian."
"Dengar gusti prabu. Jurus cakar naga cakar petir ini, akan menggerogoti aliran tenaga dalam seseorang. Jika gusti prabu, gusti Patih, serta prajurit masih berada di sini. Hamba tidak jamin keselamatan gusti prabu beserta pasukan."
"Baiklah jaya satria. Aku akan segera menjauh dari sini. Dan kau segera susul kami setelah semuanya selesai."
"Sandika gusti prabu."
Memang benar apa yang dikatakan Jaya Satria. Jurus cakar naga cakar petir itu membuat gerakan mereka terasa berat, dan mereka semua harus menjauh dari sana.
__ADS_1
"Kurang ajar!. Siapa orang itu?. Mengapa ia menggunakan jurus berbahaya itu?." Raja Rencong sangat heran, gerakannya terasa sangat berat. Ia tidak mengerti sama sekali apa yang terjadi.
"Patih wenda sekatara. Hentikan orang itu!. Dia sangat berbahaya jika tidak segera ditangani."
"Sandika gusti prabu."
Patih Wenda Sekatara segera mendekati Jaya Satria. Gerakannya semakin terasa sangat berat. Begitu juga dengan Pendekar yang ia bayar untuk menangani perang ini.
"Tunggu apalagi!. Habisi orang itu!."
"Sandika gusti Patih."
Mereka berlima memaksakan diri untuk bergerak. Mereka menghadapi Jaya Satria dalam keadaan seperti itu?.
"Jangan salahkan aku. Karena kalian yang memilih untuk mati."
Jaya Satria seakan dikuasai oleh dua kemarahan. Ia menyerang salah satu dari lima pendekar yang menyerangnya itu. Jaya Satria berhasil menusukkan pedang itu di dada kirinya, sehingga kegelapan yang dimiliki oleh orang tersebut tersedot ke dalam pedang pelebur sukma, dan terdengar suara teriakan keras dari orang tersebut. Mereka semua terkejut melihat kondisi teman mereka yang menghitam, bagaikan di sambar petir.
"Kau!. Kau telah membunuh kawan kami!."
Mereka semua maju untuk mengeroyok Jaya Satria, namun malangnya. Nasib mereka sama dengan teman mereka.
"Kurang ajar!. Kau telah membunuh Pendekar yang telah aku sewa!."
"Maju saja jika kau ingin bernasib sama dengan mereka."
Patih Wenda Sekatara menyerang Jaya Satria. Pertarungan mereka agak berbeda. Karena Patih Wenda Sekatara bisa menahan jurus cakar naga cakar. Sementara itu Raja Rencong merasa kewalahan akibat dampak jurus itu. Tenaga dalamnya perlahan-lahan terkuras habis. Ia semakin merasa lemah. Tubuhnya tidak kuat lagi menahan jurus itu, hingga akhirnya ia jatuh tak sadarkan diri.
Jaya Satria bertarung dengan Patih Wenda Sekatara. Ia berusaha menyerang Jaya Satria dengan jurus-jurus yang ia mainkan. Namun sayangnya karena dampak dari jurus cakar naga cakar petir, gerakannya perlahan-lahan mulai lamban. Karena tenaga dalamnya terkuras dengan cepat. Dan disaat itu pula, mata kanannya terkena sabetan pedang pelebur sukma.
"Keghaaaaaaaakh."
Patih Wenda Sekatara berteriak kesakitan, karena matanya terkena tajamnya pedang itu. Rasa sakit yang luar biasa, matanya mengalir darah segar.
"Kau telah melukai mataku. Suatu saat nanti aku akan datang untuk menuntut balas apa yang telah kau lakukan padaku!."
Patih Wenda Sekatara pergi dari sana dengan tenaga yang masih tersisa. Ia tidak mungkin melawan Jaya Satria dalam keadaan seperti itu.
...***...
Kembali ke masa ini.
Patih Wenda Sekatara masih ingat bagaimana kejadian yang membuat ia kehilangan mata sebelah kanannya itu. Dan kini dendam itu semakin besar. Ia telah menyiapkan segalanya untuk membalas rasa sakit hatinya itu. Apakah yang akan ia lakukan?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...***...