
suasana sejuk dengan sedikit panas ketika matahari mulai menyongsong hari. Hijaunya pepohonan, sejuknya angin sepoi-sepoi serta tarian indah dari padi yang siap panen.
"Bu! sudah selesai belum?" ucap gadis cantik ini berjalan diantara petak sawah dengan membawa rantang besar.
"yaa... sebentar lagi" jawab wanita paruh baya yang tengah mengikat padi.
"bu. istirahat dulu, aku sudah bawakan makanan untuk bapak dan ibu" ucapnya yang kemudian berjalan menuju saung ditengah sawah.
perempuan cantik ini bernama Ayesha Dhalia Wardhana. gambar kulit putih, hidungnya kecil namun terlihat sedikit mancung dan pipinya merah merona alami ketika terpapar sinar matahari yang terik. umurnya sekitar 19 tahun. memiliki seorang adik laki-laki yang masih duduk di bangku SMP. orang tuanya bekerja sebagai buruh tani.
"iya, tapi kau panggil bapak mu di kebun bawang"
"iya Bu "ucap ayah yang langsung mencari ayahnya di kebun bawang.
ia berjalan melewati kebun timun dan kemudian di seberang sana ia melihat ayahnya sedang bermuram.
" bapak... "
"eh, ngapain di sini? "
"jemput bapak, ayesha mau ajak bapak makan. tuh sudah aku bawakan makanan yang enak banget khusus buat bapak."
"ya udah kalau gitu kita langsung aja makan "
"bapak, kok bawang merahnya pada layu. ada apa pak? "
"ya beginilah nasib bawang bapak tahun ini titik sedang tidak bagus, lihat semuanya pada layu dan rusak. "
"loh kok bisa pak?"
"bapak juga enggak tahu kenapa bisa jadi rusak gini? "
"kayaknya ini ulah seseorang yang berniat merusak kebun bapak"
"sudahlah, tidak apa-apa. yuk kita makan saja dulu bapak sudah lapar"
"iya pak. yuk"
Kebun milik orang tua Ayesha memang terlihat berantakan sekali berbeda sekali dengan kebun-kebun milik orang lain yang berada tepat disebelah nya yang terlihat baik-baik saja dan siapa untuk dipanen.
* * * *
Suara dua orang laki-laki bertubuh besar dan tinggi sedang menggedor-gedor pintu rumah milik Ayesha.
Ayesha dan keluarganya baru saja pulang dan melihat kejadian itu.
Duag... duag.....
__ADS_1
"woi pak Santo buka pintunya!" ucap salah satu dari dua orang yang berjaket hitam dan bertubuh besar mereka adalah ajudan dari lintah darat yaitu Randi.
"eh... eh... ada apa ini?" ibu berusaha menghentikan ulah lelaki besar itu agar tidak merusak pintu rumah.
"Nah, pucuk dicinta ulam pun tiba. Dari tadi ditunggu ternyata baru datang." ucap randi sang lintah darat yang kira-kira usianya setara dengan bapak santo.
"ada apa ya?" tanya bapak santo
"saya kesini biasa, mau nagih hutang" ucapnya.
"kan belum jatuh tempo. dan saya sudah janji untuk bayar 2 Minggu lagi"
"yaahh... memang sih perjanjian nya begitu. tapi saya sudah tidak sabar. Lagipula tak ada salahnya saya menagih lebih cepat"
"Tapi maaf untuk saat ini saya belum punya uang"
"saya tidak mau tahu. pokoknya bayar sekarang atau...." ia tidak menyelesaikan ucapannya tapi ia memetikan jari memberi isyarat kepada ajudan nya.
"siap bos"
kedua ajudan menghampiri pak santo dan mencoba untuk memukulnya tapi dengan cepat dihalangi oleh Ayesha.
"tunguuuu!" ucap Ayesha melebarkan tangannya dan mencoba melindungi ayahnya.
"jangan sakiti bapak. tolong jangan lakukan apapun pada bapak"
"iyaa. jangan sakiti bapak"
"iyaaa.... itu bisa diatur. Dengan cara, Kalian harus bayar hutang kalian!" bentak randi didepan Ayesha.
"ta... tapi kita lagi tidak punya uang. mohon beri waktu lebih untuk melunasi semua hutang bapak"
Randi mengangkat dagu gadis ini yang sedari tadi menunduk. " hmm.... saya punya solusi untuk kalian agar hutangnya bisa lunas. yaitu dengan cara anak bapak yang cantik ini harus menikah dengan saya dan saya jamin hidup kalian akan bahagia dengan bergelimang harta"
Ayesha langsung menepis tangan biad*b randi. "nggak! Ayesha nggak mau menikah dengan lintah darat sepertinya dia! bapaaakk" Ayesha langsung berlari kencang menuju bapaknya. merasa ketakutan dengan ucapan randi.
"yaaahh.... kalau begitu. segeralah lunasi hutang kalian dalam waktu 2 Minggu. kalau kalian tidak melunasi maka terpaksa harus menikah kan putri kalian dengan saya"
"memangnya berapa hutang bapak?" tanya ayesha.
"Hutang bapakmu 40 juta dan bunganya 35 juta totalnya 75 juta"
"hah?banyak banget bapak" Ayesha terkejut.
"apa tidak bisa beri tambahan waktu sedikit lebih lama untuk melunasi?"
"tidak ada. sudah jelas?. ayo pergi" mereka pun pergi dengan bangganya.
__ADS_1
Mereka pun hanya dapat meratapi nasib yang akan membawakan kesengsaraan bagi Ayesha.
*. *. *.
Ayesha pov's
"kan ibu sudah bilang jangan pinjam ke si Randi itu. dia bukannya membantu malah mencekik kita pak!" ibu marah besar pada bapak sampai teriak-teriak begitu. tak biasanya ibu seperti itu.
"bapak minta maaf bu? bapak nyesel. tapi mau gimana lagi itu pun bapak terpaksa karena beberapa kali panen kita rusak dan gagal sampai kita kehabisan modal" ucap bapak yang pikiran nya sedang semrawut.
"terus ..... gimana cara nya buat ngelunasin hutang kita dalam waktu 2 Minggu? Bapak mau Ayesha menikah dengan lintah darat tak tahu diri itu?! hah?! ibu sih tidak mau punya menantu seperti dia! amit-amit!"
"bapak juga nggak mau bu. anak bapak gak boleh sampai menikah dengan si tua Bangka itu"
"tapi pak kita nggak mungkin bisa lunasi hutang sebanyak itu dalam waktu 2 Minggu" ibu pun menangis histeris.
aku didalam kamar mendengar ibu menangis langsung ke ruang tengah .
"pak.... bu..."
Dengan suara lirih ibu berkata "nak... maafin ibu dan bapak ya ?"
Aku tidak mengerti dengan ucapan ibu barusan. apa maksudnya?
"kenapa ibu meminta maaf?"
"karena kamu terlibat dengan urusan hutang bapak" ucap bapak merasa bersalah.
"ini bukan salah bapak. Ayesha akan bantu cari uang untuk melunasi hutang"
" tidak usah nak. lagipula kamu mau kerja apa?"
"Ayesha akan pergi ke kota untuk mencari kerja"
"Apaa?!! ke kota?!" ibu terkejut dengan keputusan ku." tidak ibu tidak setuju. kita tidak punya kerabat disana. kamu mau tinggal dimana? dan kehidupan disana itu keras"
"Tapi ... mau gimana lagi bu?"
"bapak setuju, daripada kamu disini nanti dipaksa nikah dengan Randi. lebih baik kamu merantau ke kota.kamu harus pergi dari sini, karena bapak tidak yakin bisa melunasi dalam waktu sesingkat itu"
"BAPAAAKKK!! IBUU TIDAK MENGIJINKAN" ibu berteriak pada bapak.
"merantau lah nak"ucap bapak.
Dengan berat hati, keesokan harinya aku harus pergi secepat mungkin ke Jakarta. Meski ibu awalnya tidak mengijinkan lalu entah mengapa ia kemudian merelakan kepergian ku.
Akupun menaiki bis sambil terus menitikkan air mata karena untuk pertama kalinya aku pergi jauh dari kedua orang tua ku.
__ADS_1
bapak, ibu doakan Ayesha agar bisa membantu secepatnya.