Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Lanjutan 37


__ADS_3

Alea dan Arkan kembali berdebat tentang skandal yang sampai sekarang belum juga terselesaikan, Arkan masih tetap ingin mereka diam, karena memang sungguh buntu pikiran lelaki ini ia bagai kehilangan akal sehat untuk berpikir bagaimana caranya agar bisa jujur pada istri pertama dan keluarganya tentang Melati.


Alea pun tak kalah gusar, ia merasa ikut terlibat dalam hal ini, ia terus mendesak Arkan agar cepat menyelesaikan ini dan jujur secara baik-baik agar Abrar dan mamanya bisa di ajak bicara secara baik pula. Namun diluar dugaan lelaki ini masih saja enggan mengaku ia menjadi takut jika mama dan abangnya terluka akan perbuatan yang terlanjur ia lakukan.


"Aku tidak habis pikir, sampai kapan kau bisa menyembunyikan Melati selama itu bang Arkan? bukankah lambat laun ini juga akan terungkap meski bukan dari bibirku namun dari sikapmulah yang akan menunjukkannya, Vina sudah mulai mencurigaimu karena kau kadang pulang kadang tidak akhir-akhir ini"


Ucap Alea kesal, mereka tengah berdebat di sebuah taman tempat ia bertemu iparnya untuk menanyakan kelanjutan dari rencana pria itu.


"Aku juga bingung Alea, aku tidak menyangka akan serumit ini menjalani kehidupan poligami secara diam-diam" ucap Arkan memijat keningnya sendiri.


"Tidak ada yang baik jika berhubungan secara diam-diam bang Arkan, kenapa tidak jujur saja sejak awal jika kau ingin menikahi dua wanita sekaligus"


"Tidak semudah itu Alea, kau pikir mama dan bang Abrar akan mengizinkannya? terlebih bang Abrar yang memang sangat membenci pria yang merusak rumah tangganya demi wanita lain seperti yang papaku lakukan pada mama dulu"


"Ck....itu kau tahu jawabannya, tapi kenapa kau lakukan juga, aku menyesali kenapa tidak kau batalkan saja menikahi Vina saat itu jika kau masih menginginkan Melati, kau terlalu bermain api bang Arkan"


"Aku tidak bisa meninggalkan Vina, aku juga mencintainya Alea...."


"Omong kosong, cinta pada dua wanita enak saja....aku lelah berdebat, aku hanya tidak ingin hidup dalam kegundahan bang Arkan, aku mengetahuinya tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, kau pikir aku tenang....bagaimana jika suamiku tahu bagaimana jika mama tahu? bicaralah setidaknya kau harus mencoba apapun risikonya karena memang itu ulahmu"


"Aku belum siap Alea...aku mohon jangan mempersulitku"


"Astaga....bukankah kau sendiri yang mempersulit keadaan, terserah kau saja aku sudah tidak peduli, ku mohon jangan libatkan aku dalam masalah ini" bentak Alea kembali.


Segera Alea meninggalkan Arkan sendiri di taman tanpa basa basi, namun tanpa mereka sadari Abrar yang kebetulan lewat taman bersama Reza yang ingin menuju sebuah restoran tempat bertemu partner bisnisnya tidak sengaja melihat istrinya sedang berada di taman bersama sang adik Arkan, mula lelaki ini tidak curiga namun dalam perjalanan ia mulai berpikir jika Arkan dan Alea ingin bicara sesuatu kenapa tidak dirumah atau di kantor saja kenapa mesti bicara di taman hanya berdua saja, namun dengan cepat ia tepiskan dari pikiran.


*****


Alea masih bersikap seperti biasa, ia juga kadang merasa kesal jika Vina sering menghubunginya hanya untuk bercerita tentang sikap Arkan akhir-akhir ini yang terlihat murung dan sering jarang pulang padahal Vina dalam keadaan hamil muda yang tentu membutuhkan perhatian lebih dari suaminya.


Alea sungguh tidak bisa berbuat apa-apa, ia tidak ingin menambah masalah, ia berpikir biarlah Arkan sendiri yang harus bicara jujur akan semuanya.


Vina tidak hanya bercerita pada Alea saja tentang rumah tangganya, ia juga berani mengutarakan isi hatinya pada sang mertua tentang sikap Arkan sejak ia mulai mengandung, hingga Bella memutuskan untuk mengajak Vina untuk tinggal di rumah mereka karena tentu Bella tidak ingin terjadi sesuatu pada menantunya yang tengah hamil jika Arkan tidak berada dirumah.


Vina sangat bahagia, memang ini keinginannya setelah menikah ia ingin tinggal dan menikmati fasilitas mewah yang berada di rumah mertuanya itu, ia merasa kecewa pada suaminya yang hanya menyiapkan rumah tidak terlalu besar dan hanya ada satu pelayan saja padahal Arkan mampu memberikan lebih daripada itu begitu pikir Vina.


Alea turut senang dengan keputusan mertuanya, karena ia juga merasa kasihan pada Vina yang sering ditinggal Arkan padahal sedang hamil muda tentu akan berbeda jika Vina tinggal di rumah Bella yang artinya perempuan yang tiga tahun lebih tua daripada Alea itu tidak akan kesepian.


*****


"Hei kenapa lesu?" tanya Abrar pada istrinya ketika menjemput pulang dari rumah sakit.


"Tidak....aku hanya lelah saja" jawab Alea berdusta, sebenarnya ia merasa sedih sebab Keysa memberi kabar bahagia jika sahabatnya itu tengah berbadan dua sekarang.


Abrar melihat sikap istrinya yang tidak seperti biasa, Alea hanya diam memandang lurus kedepan entah kemana pikirannya, sesekali tangannya mengusap bagian perutnya yang rata.

__ADS_1


"Sayang....katakan padaku, apa kau memikirkan sesuatu?" tanya Abrar mulai cemas.


"Iya....aku stress akan menghadapi ujian beberapa hari lagi" jawab Alea pelan.


"Bukankah kau tidak pernah stress menghadapi apapun sayang, kau bahkan bisa melewati ujian dengan baik selama ini....ayolah sayang bersemangat"


"Aku tidak tahu....banyak yang mengganggu pikiranku akhir-akhir ini, sepertinya aku butuh piknik" jawab Alea lagi menatap suaminya.


"Hei....kau benar, kita sudah lama tidak jalan berdua, kau ingin kemana weekend besok?"


"Aku ingin mengurungmu di kamar saja" jawab Alea sekenanya.


"Astaga.....aku takut" jawab Abrar terkekeh.


*****


Benar saja pasangan yang selalu tampak romantis ini memang meneruskan niat untuk mengurung diri di kamar sabtu ini, namun Alea tidak bisa menyembunyikan kejenuhannya berada di rumah sepanjang hari, maka Alea membujuk suaminya untuk berkencan ke mall sambil menikmati malam minggu dan berbelanja kebutuhannya.


Abrar tentu tidak bisa menolak, mereka benar-benar melepas lelah dan penat setelah menjalani rutinitas hari biasa yang membosankan.


Di mall, entah kenapa Alea begitu sensitif jika melihat perempuan hamil, ia mudah sedih dan merasa kecewa karena ia belum juga merasakannya hingga sekarang meski Abrar tidak pernah membahas tentang anak pada istrinya tentu lelaki ini menjaga perasaan Alea.


Terlebih saat Alea mengetahui bahwa Arkan menghamili dua wanita sekaligus dan dua sahabatnya pun telah merasakan hal yang sama namun tidak baginya yang hingga sekarang belum juga mendapat tanda-tanda hamil.


Alea menjadi kesal ketika mereka kembali bertemu Yura disana, karena sudah bertatap muka tidak mungkin juga ia akan menghindar.


"Yura, kita bertemu lagi....." jawab Abrar dengan senyum.


Alea hanya diam, entah kenapa perempuan ini sangat enggan bicara, ia hanya terus menggenggam tangan suaminya mesra.


Di luar dugaan, Yura mengernyit heran dengan penampilan Alea yang masih sama seperti sebelumnya, tidak ada tanda-tanda perutnya membesar seperti yang ada dalam pikirannya selama ini yang menyangka bahwa Alea menikah dengan Abrar karena telah hamil duluan.


"Nona Alea....bukankah kau sedang hamil? tapi perutmu sama sekali tidak membesar, bukankah pernikahan kalian sudah hampir empat bulan, seharusnya sudah terlihat bukan?" tanya Yura penuh selidik, gadis ini mulai curiga.


Alea terkejut dan tercekat mendapat pertanyaan itu, pun Abrar yang tak kalah canggung dibuatnya.


"Aku tidak hamil" jawab Alea singkat dengan raut datar menatap Yura.


Abrar melirik istrinya heran, biasanya Alea akan pandai berkilah namun tidak hari ini.


"Apa? apa kau selama ini berbohong? kau berbohong tentang kehamilan waktu itu yang menyebabkan Abrar batal menikahiku?" tanya Yura dengan raut memerah.


"Iya...." jawab Alea lagi.


"Sayang...." panggil Abrar pada Alea.

__ADS_1


"Abrar? kau dengar ini? nona Alea merebutmu dariku...oh aku tidak menyangka kau selicik ini nona Alea"


"Yura hentikan, ini hanya salah paham oke....lagi pula tidak perlu kita ungkit lagi, kita tidak berjodoh dan Alea tidak merebut siapapun darimu, karena kita dijodohkan bukan saling mencintai" bela Abrar.


"Tapi aku mencintaimu Abrar....wanita ini berbohong yang menyebabkan pernikahan kita batal, dan kau bilang dia tidak merebutmu? sungguh ironis, kau bahkan tidak berbuat apa-apa malam itu....kau benar-benar jahat nona Alea"


Alea mulai kehilangan pijakan ketika mendengar kata cinta yang sungguh nyata dari mulut Yura, entah kenapa Alea begitu lemah hari ini tidak seperti biasa tanpa takut menghadapi siapapun, airmatanya mulai menetes.


Belum juga ia menjawab, kembali Yura berkata sesuatu yang bisa merobohkan pertahanannya.


"Aku harap kau memang tidak akan hamil selamanya nona Alea....aku membencimu" tatap Yura tajam dengan mata memerah pada Alea yang melangkah mundur seakan sudah tidak tahan berada disana.


Alea melepaskan tangan sang suami, ia berlari pergi dari sana dalam tangis, ia tidak menyangka mendapat sumpah serapah seperti itu.


Abrar merasa geram.


"Kau salah Yura, akulah yang patut kau salahkan malam itu....karena memang aku menghormati orangtuaku dengan menerima perjodohan kita bukan karena aku menyukaimu, dan karena ulah konyol Alea malam itu aku bisa mendapatkannya, kau harus tahu Yura, aku mencintainya lebih dari apapun bahkan aku mencintainya sejak delapan tahun terakhir, jadi kau boleh membenciku dalam hal ini, jadi jangan pernah kau berkata kasar terhadap istriku....kita sudah berakhir Yura, aku kira kau gadis baik namun malam ini bicaramu membuktikan bahwa persepsiku salah, aku berterimakasih padamu Yura, karena perjodohan itu membuat Alea melihat ke arah ku"


Ucap Abrar pada Yura yang kian menangis, lalu pria ini mengejar istrinya keluar.


****


Alea terus berjalan cepat menuju keluar mall, karena terus menunduk sambil menangis Alea kembali menabrak seseorang.


Imran merasa de javu ketika matanya kembali bertemu dengan mata perempuan yang berhasil membuatnya tertarik ketika pertama bertemu di pesta beberapa waktu lalu.


"Nona Alea?" sapa Imran pada perempuan yang masih tampak menangis.


"Maaf....aku menabrakmu tuan, aku permisi" jawab Alea kembali berjalan melewati pria itu begitu saja.


Imran terdiam dari tempatnya menatap punggung Alea dengan senyum terukir, hingga teman yang berada disampingnya heran.


"Apa kau mengenal gadis itu?" tanya pria yang sedang bersamanya.


"Iya....aku menyebutnya bidadari" jawab Imran menarik satu sudut bibirnya.


Temannya hanya bisa geleng kepala, tidak lama Imran melihat Abrar.


"Sekarang aku tahu kenapa wanita itu menangis, sepertinya mereka bertengkar" gumam Imran menatap Abrar yang berjalan cepat ingin melewatinya.


"Kau apakan nona Alea, kenapa dia menangis?" tanya Imran menahan lengan Abrar.


"Bukan urasanmu" jawab Abrar dan langsung memukul wajah Imran dengan geram.


"Oh shitttt....kau memukulku lagi?" bentak Imran kesal menatap tajam Abrar.

__ADS_1


"Makanya jangan halangi jalanku" jawab Abrar datar sambil mendorong tubuh Imran kasar dan berlalu dari sana kembali menyusul Alea.


__ADS_2