Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S3 bagian 38


__ADS_3

Nara tiba pada sebuah rumah besar yang di halamannya terdapat mobil dan suami yang menunggunya dengan wajah puas telah kembali mengerjai gadis itu.


Nara yang berkeringat karena berjalan kaki di tengah teriknya mentari tidak memudarkan kecantikannya sedikitpun, matanya menatap tajam Dannis yang terkekeh menyambutnya dengan tepuk tangan.


"Wah.... kau hebat bisa sampai dengan selamat", ucap Dannis mengejek.


"Terserah kau saja", jawab Nara kesal, ia mengambil tas jinjing yang berisikan pakaiannya dari mobil.


"Bawakan juga koper ku", perintah Dannis.


"Bukankah kau punya tangan", jawab Nara cuek.


"Beraninya kau melawanku", Dannis menarik lengan Nara.


"Iya iya baiklah.... aku tahu kau penguasanya di sini", jawab Nara kesal namun tetap menuruti perintah Dannis.


"Bagus jika kau paham".


Tiga pelayan yang sejak tadi memperhatikan majikannya berdebat terlihat bingung, kemudian pikiran mereka ditepis Dannis saat mereka sudah di ambang pintu masuk.


Serentak tiga pelayan itu menunduk hormat yang dibalas oleh Nara dengan senyuman.


Dannis memanggil para pelayan untuk berkumpul di ruang tamu setelah mereka menyelesaikan makan siang.


"Terimakasih atas jasa kalian selama bekerja dan mengurus rumah ini, aku berharap kalian bisa mendapat kehidupan yang lebih baik lagi setelah dari sini, ini gaji dan bonus kalian, mohon maaf pekerjaan kalian hanya sampai di sini saja, aku sudah tidak memerlukan jasa pelayan", ucap Dannis serius yang mana membuat tiga pelayan itu terkejut dan tidak percaya bahwa mereka akan di pecat.


Dannis memberikan mereka amplop tebal yang berisi uang pada ketiga pelayan yang masih tercekat itu.


"Tapi tuan.... nyonya Eliana tidak memberitahu kami bahwa akan diberhentikan dari pekerjaan ini", sela salah satu pelayan yang memberanikan diri.


"Aku tidak butuh izin siapapun untuk melakukan ini, rumah ini menjadi tempat tinggal ku sekarang jadi terserah padaku tentang hal ini", jawab Dannis tegas.


Nara pun kebingungan, kenapa Dannis harus memecat pelayan yang ia yakini telah bekerja lama pada keluarga mama El.


Tiga pelayan itu menunduk takut, tidak ada cara lain selain menerima keputusan Dannis.


"Segera berkemas, dan pulanglah. Aku tidak ingin ada pelayan di rumahku".


"Baik tuan", jawab mereka serentak.


Mereka bertiga segera berlalu dari hadapan Dannis dan Nara.

__ADS_1


"Tuan kenapa kau memecat mereka? lalu siapa yang akan mengurus rumah sebesar ini?", tanya Nara heran.


"Pertanyaan yang bagus", Dannis berjalan ke arah Nara berdiri.


"Jawabannya adalah kau".


"Apa? aku?", tanya Nara lagi yang kebingungan.


"Tentu saja kau yang menjadi pelayanku mulai sekarang".


"Apa? tuan Dannis jangan bercanda, aku tahu kau tidak menganggapku sebagai istri yang sesungguhnya tapi itu bukan berarti kau bisa....", ucapan Nara menggantung ketika mendapat tatapan tajam Dannis.


Nara segera menunduk, "Maaf jika aku lancang".


"Terserah padaku kau mau ku jadikan apa di rumah ini, jawabannya adalah pelayan. Kau mendengarku bukan?".


Nara mengangkat wajahnya menatap Dannis dengan raut kecewa, matanya berkaca-kaca.


"Jadi ini maksudmu mengajak ku pindah dari rumah mama? kau bisa bebas menyiksa ku di sini sebagai pelayanmu begitu?".


"Kau benar sekali, memangnya kau pikir aku mau menerimamu sebagai istri? hei.... jangan berharap itu akan terjadi bahkan dalam mimpimu", jawab Dannis seraya mengejek.


Nara berdecak, ia menarik napas dalam sebelum berkata lagi.


"Aku jamin kau tidak akan memakainya lagi, karena kau akan pakai ini", Dannis melempar sebuah papper bag pada gadis itu.


Nara hampir terhuyung olehnya, segera ia membuka tas kertas itu dan apa yang ia lihat sungguh membuat airmatanya jatuh seketika.


"Seragam pelayan?".


"Iya.... itu seragammu, kau tahu apa artinya? selain kau harus menyadari siapa dirimu, seragam itu akan memperjelas batas diantara kita", jawab Dannis tajam seraya meninggalkan Nara yang berdiri menatap punggungnya yang menjauh.


Kembali gadis itu menatap seragam yang berada di tangannya, matanya tidak bisa membendung tangis yang kian mendera.


"Aku tahu batasku sekarang", gumam Nara pelan yang mulai tersedu oleh tangis.


"Oh iya, satu hal lagi... kau bisa menempati kamar yang berada di belakang sana setelah mereka pergi", tunjuk Dannis pada kamar yang ditempati para pelayan yang sedang berkemas.


Nara mengangguk pelan tanpa menjawab, segera gadis itu membawa tas jinjingnya ke arah yang ditunjukkan oleh Dannis.


"Nona? kenapa kemari?", tanya salah satu pelayan yang selesai berkemas.

__ADS_1


"Ini kamarku", jawab Nara pelan.


"Apa kau bercanda nona?", tanya mereka heran.


"Iya, aku yang akan menggantikan kalian mulai hari ini.... jangan bertanya lebih dalam lagi, aku pun tidak tahu kenapa nasibku seburuk ini".


Membuat tiga pelayan itu menelan ludah, mereka tidak tahu harus berkata apa sekarang, ingin bertanya tentu saja telah dilarang oleh gadis itu.


"Aku tidak tahu bahwa tuan Dannis berubah banyak sekarang, berbeda dengan ayahnya", jawab salah satu pelayan yang terlama bekerja di sana.


"Jangan menilai seseorang dari luarnya, aku harap kalian mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari ini", ucap Nara.


Mereka mengangguk serentak.


"Kami pun berharap kau akan baik-baik saja nona, bersabarlah dengan apa yang menimpamu sekarang, kita baru bertemu sekali tapi aku yakin kau gadis yang baik dan percaya lah Tuhan punya rencana yang lebih baik untukmu dan alasan kenapa kau bisa menikah dengan tuan Dannis".


Nara mengangguk dan tersenyum, setelah berbincang sedikit mereka bertiga pun pamit meninggalkan rumah tempat mereka bekerja bertahun-tahun itu.


Nara segera memakai seragamnya, ia berputar di depan cermin kamar sederhana yang ia tinggali sekarang.


"Aku memang pantas mengenakannya, lihatlah baju ini bahkan terlihat cocok di tubuhku, oh Nara...", gumam Nara pada bayangan wajahnya.


Ia melebarkan senyum memberi semangat pada dirinya sendiri sebelum keluar kamar berniat akan memasak untuk makan malam sebab ia menatap jam dinding yang menunjukkan hari sudah sore.



Dannis menuruni anak tangga, ia mencium bau wangi masakan dari arah dapur.


Pria itu berdiri tepat di belakang perempuan yang telah memakai seragam itu, Nara berbalik badan ketika mendengar langkah kaki yang mendekat.


"Oh tuan Dannis kau kemari? ada yang bisa ku bantu?", tanya Nara menunduk bersikap layaknya seorang pelayan.


Lama Dannis terdiam, ia menatap Nara dengan seksama, ia ingin menyangkal bahwa wajah cantik yang ia tatap itu sangat menarik sekarang. Nara cantik mengenakan apapun meski dibalut seragam pelayan sekalipun, Dannis tidak bisa mengelak akan keindahan di depan matanya kini.


"Kenapa kau memasak? aku tidak menyuruhmu masak", tanya Dannis demi menetralisir tatapannya.


"Bukankah memasak adalah salah satu dari tugasku sebagai pelayan tuan Dannis?", jawab Nara menajamkan kata-kata pelayan di kalimatnya.


"Terserah kau saja, aku akan pergi dan makan di luar malam ini".


"Baik tuan", jawab Nara kembali menunduk.

__ADS_1


Entah kenapa Dannis menjadi kesal sendiri akan sikap istrinya itu.


__ADS_2