Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Ini Semua Gak Benar


__ADS_3

...Selamat membaca...


...❤️❤️❤️...


"Gimana ma? Menurut mama apa musik ini cocok untuk wanita hamil?" tanya Hana sembari membantu mama Herna melepas headphones dari telinganya.


"Cocok mah ini Han. Memang musik jenis ini yang cocok untuk ibu hamil. Katanya sih bisa merangsang tumbuh kembang otak janin. Mama harap anakmu ini akan tumbuh jadi anak yang cerdas ya. Anak ini juga akan jadi cucu kesayangan mama." ucap mama Herna sambil mengusap perut Hana.


"Terima kasih ma." Hana tersenyum manis.


Dalam hatinya ia yakin mama Herna memang tidak dengar saat tadi Karin memanggil manggil. Hana yang mendengar sengaja membesarkan volume headphones agar mama Herna tak sampai mendengar teriakan minta tolong Karin.


"Mama tidak membahasnya berarti mama memang gak dengar. Mampus mampus deh kamu Rin. Pembantu itu bisa apa memangnya. Palingan juga akan sangat telat membantumu." batin Hana licik.


"Ya sudah kamu istirahat dulu ya. Mama juga mau istirahat. Karin gak ada suaranya paling juga sudah istirahat lebih dulu." kata mama Herna.


"Sepertinya dia malas ya ma. Suka di kamar saja. Tapi maklumlah namanya saja anak masih bau kencur mana paham apa saja yang harus dilakukan seorang menantu di rumah. Iya kan ma?" Hana mulai lagi.


"Yah begitulah. Selama ini memang lebih banyak di kamar apalagi sejak hamil dan kandungannya sedikit bermasalah. Makin diam di kamar deh. Ya untungnya Dion itu sanggup bayar orang untuk mengerjakan semua urusan rumah." keluh mama Herna.


"Tapi kan jauh lebih terlihat harmonis kalau istri yang mengerjakannya ma. Ya mungkin memang ini seperti yang ditargetkan Karin ma. Menikah dengan duda kaya jadi dia bisa enak ongkang kaki saja." tambah Hana.


Mama Herna tak berkomentar apa pun dan hanya mengangguk angguk bak kerbau dicocok hidung yang tak bisa protes diapakan saja oleh tuannya. Dan itu memudahkan Hana untuk makin memperlancar aksinya. Rasa sayang dan kepercayaan sang mantan mertua menjadi senjata ampuhnya saat ini.


"Mau Hana antar ke kamar ma?" tanya Hana manis.


"Gak usah Han. Kamu istirahat saja ya. Sini biar mama bawa gelas susu itu ke dapur." kata mama Herna sambil menunjuk gelas yang sudah kosong.

__ADS_1


"Terima kasih ya ma. seandainya saja Dion bisa bersikap baik begini ke Hana" Hana meletakkan gelas itu di nampan yang dipegang mama Herna sambil mengeluhkan sikap Dion padanya.


"Sama sama sayang. Istirahat ya. Jangan mikir macam macam. Kamu sama bayimu harus sehat. Percayalah,,, Dion hanya butuh waktu sedikit lebih lama untuk meyakinkan hatinya sendiri bahwa cuma kamu yang dicintainya. Mama tau anak mama itu bagaimana sifatnya,,," mama Herna meyakinkan.


Hana mengangguk dan kemudian membantu membukakan pintu untuk mama Herna. Tapi sebenarnya ia hanya ingin melihat situasi. Ia berharap melihat Karin sudah tergeletak di lantai atau lebih tepatnya sudah mati karena telat dapat pertolongan.


Tapi rupanya sampai mama Herna sudah sampai di dapur tak ada teriakan atau kegaduhan apa pun yang artinya mungkin saja Karin sudah dibawa ke rumah sakit.


"Sialan. Kenapa juga sih pembantu itu datang. Tapi biarkan saja lah. Cukup berdoa ****** itu gak selamat sama anaknya. Biar hilang batu sandunganku." batin Hana.


Hana masuk kamar dan merebahkan dirinya ingin beristirahat tapi matanya tak kunjung terpejam dan pikirannya malah melanglang buana. Mengingat mendiang suami dan anaknya. Mengingat kakak angkatnya Darren.


"Darren pasti senang tau aku sama Dion menemukan jalan kembali untuk bersatu. Apa kabarnya dia ya,,, Aku telpon sajalah dia. Sudah lama tak berkabar dengannya." Hana menyambar ponselnya lalu menelpon Darren.


"Assalamualaikum,,," suara Darren begitu lirih dan lemas.


"Begitulah. Inshaallah ini bagian dari penghapusan dosa dosaku." jawab Darren dengan sedikit tawa yang dipaksakan.


"Kamu terus begitu ngomongnya. Dosa dan dosa terus. Memangnya seberapa banyak dosamu? Jangan berlaku seolah kamu saja yang paling berdosa di dunia ini Dare. Lihat sekelilingmu,,, Masih banyak kok diantara mereka yang belum paham apa yang dilakukannya juga sebuah dosa." sungut Hana.


"Anak pak ustadz ini kenapa bertolak belakang sekali pemikirannya dengan ayahnya ya,,," Darren bergurau.


"Jangan bawa bawa mendiang ayah. Ayah sudah damai di sana bersama ibu." ucap Hana.


"Aamiin inshaallah. Jangan lupa selalu kirim Fatihah buat mereka ya Han. Oh ya,,, Kamu gimana kabarnya? Lama gak berkabar sebenarnya kamu kemana saja? Kamu gak lagi berbuat sesuatu yang menambah timbangan dosamu kan hahaha,,, Apa kabar Bryan? Keponakanku juga apa kabarnya?"


Darren yang memang belum dengar kabar kecelakaan itu langsung saja menanyakan kabar mereka. Maklum saat kecelakaan itu Darren tengah kritis berjuang mempertaruhkan nyawa jadi belum ada satu pun yang berani memberitahunya kabar buruk itu.

__ADS_1


"Jadi kamu belum tau?"


"Tau apa memangnya?" Darren bertanya balik.


"Mereka sudah meninggal Dare. Meninggalkan aku dan calon anak keduaku." Hana setengah terisak mengatakannya.


"Innalillahi,,, Kapan? Dimana? Bagaimana bisa? Dan kenapa gak ada satu pun yang memberitahuku tentang ini??" Darren merasa sangat ketinggalan berita tapi kemudian dia paham tentu semuanya hanya belum sempat memberitahunya.


"Nanti saja kalau kamu sudah sehat benar aku akan cerita panjang lebar ya." ucap Hana.


"Baiklah. Lalu kamu sekarang tinggal di mana? Apa kamu baik baik saja? Dan tadi kamu bilang apa,,, calon anak kedua? Artinya aku akan punya keponakan lagi ya,,, Alhamdulillah." Darren bahagia dengan berita itu.


"Iya Dare. Setidaknya tuhan masih baik menyisakan sedikit kebahagiaan untukku meski DIA telah mengambil dua belahan jiwaku. Oh ya,,, aku sekarang tinggal bersama Dion dan keluarganya. Kami akan segera menikah kembali begitu anak ini lahir Dare. Kamu akan datang kan? Kamu itu satu satunya keluarga yang ku punya sekarang." Hana begitu antusias mengatakannya.


"Dion? Sama kamu? Menikah lagi???" Darren terperanjat.


"Iya Dare,,, Kamu tentu senang kan? Kamu dulu begitu sedih dengan perpisahan kami jadi kalau sekarang kami bersatu kembali tentu kamu juga adalah orang yang paling senang dan bahagia kan?" Hana makin menjadi jadi dan yakin akan dapat dukungan dari Darren.


"Tunggu,,, Karin??" itu saja yang terucap dari bibir Darren.


"Kenapa semua orang hanya selalu ingat Karin Karin dan Karin saja?? Tidak adakah yang peduli padaku yang sudah janda dan ditinggal dalam kondisi hamil begini?? Gak kamu gak Dion,,, Kalian sama saja!!!" Hana kesal dan menutup telponnya.


"Ini semua gak benar." Darren mengelus dada dan tak menunggu lagi untuk cepat menghubungi sahabatnya. Darren ingin tau semuanya dari Dion langsung kenapa bisa mereka tinggal bersama dan akan menikah lagi.


...❤️❤️❤️❤️...


Kirim vote, hadiah, like dan komen buat author yaa 🌹❤️🌸

__ADS_1


__ADS_2