
Alea terbangun, ia meregangkan otot-ototnya sambil masih menguap kecil, tangannya meraba ranjang di sebelah yang sudah kosong, ia merasa kehilangan sosok pria yang membuat tidurnya lebih nyaman dari sebelumnya.
Alea bangkit dan ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya, lalu ia berjalan keluar kamar dengan tergesa-gesa berniat mencari suaminya.
Tidak ada Abrar di dapur maupun tempat lain, ia mulai berpikir jika Abrar sudah pergi untuk berolahraga pagi itu artinya prianya sedang dalam pantauan sang janda diseberang sana.
Alea merasa geram, ia berjalan keluar rumah sambil mengencangkan tali jubah tidur yang masih melekat pada tubuh mungilnya nan sempurna, namun perasaannya lega seketika netranya menangkap sosok Abrar yang tengah memetik sesuatu dari kebun mini nya.
"Sayang....." panggil Alea yang berlari memeluk Abrar.
"Hei kau sudah bangun?" jawab Abrar membalas pelukan istrinya.
"Abang jahat, kenapa tidak membangunkanku? Aku kira kau lari pagi bersama janda sialan itu" kesal Alea.
Abrar terkekeh mendengarnya.
"Kau lihat sendiri aku disini bukan? Aku hanya memetik ini" tunjuk Abrar pada tanaman tomat yang Alea bawa dari rumah mamanya tempo lalu.
Alea menatap Abrar dengan senyum "Apa aku menyebalkan bagimu pagi-pagi seperti ini sudah mencurigaimu?"
"Tidak....sekarang ayo masuk, kita bisa buat sarapan sekarang"
Alea mengangguk setelah memberi ciuman singkat di bibir Abrar.
*****
Abrar akan mengantarkan Alea ke rumah orangtuanya sebelum berangkat ke kantor, karena Bella telah lama merindukan menantunya yang jarang berkunjung akhir-akhir ini.
Dalam perjalanan, Alea terus saja tidur karena kelelahan begadang semalam, ia juga harus memulihkan tenaga untuk bersiap shift jaga nanti malam di rumah sakit.
Abrar mengusap pipi istrinya gemas, bagaimana Alea bisa tidur dengan pulas meski mereka sudah sampai di depan rumah mertuanya.
__ADS_1
Abrar merasa kasihan akibat ulahnya semalam Alea jadi kurang istirahat, ia menggendong Alea menuju kamarnya.
"Sayang kenapa istrimu?" tanya Bella yang heran melihat Abrar masuk rumah sambil menggendong menantunya.
"Istriku tertidur ma, dia kelelahan" jawab Abrar pelan.
Bella tersenyum penuh arti, dalam hatinya sungguh bahagia melihat Abrar dan Alea tampak sangat baik-baik saja sejauh ini.
Abrar membaringkan Alea diranjang kamar yang telah lama Abrar tinggalkan sejak menikah.
Alea benar-benar pulas, Abrar menatapnya penuh cinta, mengecup seluruh wajah istrinya sebelum meninggalkan Alea disana, ia akan meneruskan niat untuk ke kantor pagi ini.
Bella yang mengikuti Abrar hingga ke kamar pun terharu, ia menjadi tahu batapa putranya mencintai Alea sedalam itu tampak jelas dari tatapan dan perlakuan manis Abrar pada menantunya.
Ada terbesit rasa menyesal karena hampir menikahkan Abrar pada wanita lain, sungguh Abrar memang pandai menyembunyikan perasaannya selama ini.
"Ma...aku akan ke kantor, jaga dia untukku" ucap Abrar mencium pipi mamanya sebelum meninggalkan kamar.
"Astaga....apa abang begitu mencintainya?" tanya Bella seraya menahan putranya.
"Kenapa kau tidak pernah mengatakannya selama ini nak? Kau hampir menikah dengan perempuan lain karena mama dan menyembunyikan perasaanmu pada Alea"
"Itu karena Alea belum mencintaiku, dia hanya menganggapku sebagai saudara saja...aku tidak ingin merusaknya" jawab Abrar pelan sambil menatap Alea yang tertidur nyaman.
"Benarkah? Lalu kalian menikah? Bukankah Alea sendiri yang datang mengatakan bahwa kalian saling mencintai?" tanya Bella mulai merasa janggal.
"Itu sudah tidak penting ma, sekarang kami benar-benar saling mencintai, iya saling mencintai....dia istriku....aku mencintainya, kami bahagia" jawab Abrar tersenyum.
Bella tidak bisa berkata-kata lagi, sungguh ia hanya bisa berharap yang terbaik bagi keduanya.
"Baiklah....biarkan dia istirahat, mama rasa kau yang menyebabkannya kelelahan" canda Bella menggoda Abrar.
__ADS_1
Abrar hanya terkekeh, dan mencium pipi Bella lagi sebelum meninggalkan mamanya disana.
******
Alea terbangun, ia menatap heran sekeliling seraya mengumpulkan nyawa, ia baru menyadari bahwa ia telah berada dikamar suaminya ketika bujangan, senyumnya mengembang.
"Astaga aku sudah merindukan suamiku, rasanya aku ingin berhenti saja koas dan mengikuti bang Abrar kemana saja dia pergi" gumam Alea pada dirinya sendiri.
Kemudian ia terkekeh sendiri.
"Astaga....apa aku terlalu berlebihan? Lagipula dia suamiku, tidak mungkin hilang juga bukan, aku akan mengecewakan orangtuaku jika gagal menjadi dokter hanya karena seorang pria yang kadang-kadang menyebalkan itu" Alea menjawab sendiri pertanyaannya.
Alea bangkit dari ranjang, ia berjalan-jalan melihat isi kamar Abrar yang sangat bergaya maskulin, Alea memang sering bermain ke rumah Bella sejak kecil namun tidak pernah masuk kamar pria yang sudah menjadi suaminya ini.
Alea melihat ada sebuah album di bawah rak lemari buku koleksi suaminya, tangannya tergerak ingin melihat.
Alea tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya ketika album tersebut menampilkan semua kolase photo tentang seorang gadis yaitu dirinya sendiri, bahkan kolase itu menunjukkan photo dirinya dari waktu ke waktu dimulai saat dirinya menginjak remaja yang duduk dibangku SMP.
"Astaga....jadi benar bang Abrar mencintaiku selama ini? Kenapa aku tidak menyadarinya, dasar Alea yang bodoh"
Ia merutuki dirinya sendiri ketika melihat kenyataan memang Abrar menyimpan cinta untuknya bahkan selama hampir delapan tahun terakhir, dimana semua kolase photo Alea di beri simbol love disana. Alea salut akan suaminya yang bisa menyimpan cinta tanpa tahu siapapun bahkan rela menikah dengan orang lain ketika itu.
"Bagaimana jika bang Abrar menikah dengan nona Yura waktu itu, aku akan benar-benar menyesal jika itu terjadi, beruntung aku punya ide konyol yang bahkan aku saja tidak mengerti kenapa aku melakukannya jika tidak aku benar-benar akan jadi wanita perebut suami orang sekarang"
Alea geleng-geleng kepala membayangkan bagaimana ia bisa menikah dengan Abrar hingga benar-benar jatuh pada pesona lelaki itu.
*****
Setelah puas menghabiskan waktu bersama mertuanya sambil menunggu Abrar pulang kantor, Alea duduk di balkon kamar Abrar sambil melihat pemandangan langit senja dari sana, matanya tidak sengaja menangkap sosok Arkan yang tengah berbicara di telepon sambil berjalan keluar pagar, meski dari kejauhan namun Alea bisa melihat jelas bahwa Arkan tengah memeluk seorang wanita yang tidak ia kenal, Alea yakin itu bukan calon istri adik iparnya.
__ADS_1
Tampak Arkan memberikan sesuatu yang mungkin adalah uang jika Alea tebak, perempuan itu mencium bibir Arkan sebelum pergi dari sana, Alea terkejut, ia melihat jelas karena kamar Abrar yang terletak di lantai dua bisa menjangkau kesemua arah diluar halaman rumah.
"Astaga...apa mereka baru saja berciuman? Bang Arkan? Wanita itu bukan Vina, jelas sekali mereka berbeda" gumam Alea mulai curiga.