
...Selamat membaca...
...🌸🌸🌸🌸🌸...
Mendung yang akhirnya melahirkan tetesan bening air dari langit mengiringi kepergian papa Hengki menuju tanah abadi. Bertemu dengan tuhanNYA dan mempertanggungjawabkan segala amalan selama berada di dunia.
Pemakaman yang hanya dihadiri beberapa kerabat dekat dan kolega kerja yang kebetulan berada di Singapura itu berlangsung dengan derai airmata mama Herna yang seakan tak ada habisnya.
Entah bersumber dari mana saja airmata itu kenapa tak kunjung kering seiring dengan hati yang terus menjerit dan mendengungkan penyesalan yang tak kunjung habis.
Berbeda dengan mama Herna yang diselimuti duka mendalam,, meski berada tepat di sampingnya dan tangan melingkar di bahu wanita tua itu namun hati Hana sama sekali tak merasakan kesedihan.
"Orang yang paling akan sangat mengganggu malah sudah tersingkir tanpa perlu ku kotori tanganku. Papa,,, seandainya saja papa itu memperlakukanku seperti dulu, saat aku masih jadi menantu kesayangan kalian,,, tentu akan ada airmata untuk papa hari ini. Tapi berhubung papa malah menjadi orang pertama yang menyingkirkanku,,, maka hari ini hanya ada sebuah tawa untuk kekalahanmu ini pa. Papa lihat kan? Bahkan Tuhan pun berada di pihakku. Tuhan membantuku menyingkirkan papa."
Hana tersenyum di balik pashmina hitam yang dikalungkannya ke leher dan menutupi sebagian wajahnya. Kacamata hitam yang dipakainya juga mampu menutupi sorot mata bahagia karena duri tertajam dalam perjalanannya sudah tercabut.
"Papa Han,,," lirih mama Herna di sela isakannya.
"Sabar ma. Ini semua sudah jadi takdirNYA dan sudah kewajiban kita sebagai hambaNYA untuk menerima semua ketentuannya." ujar Hana dengan begitu bijaksana.
Ia bahkan bicara demikian seakan lupa dirinya sendiri saja belum bisa menerima kecelakaan yang merenggut anak dan suaminya sebagai ketentuan tuhan. Ia sendiri bahkan saking belum bisanya menerima ketetapanNYA malah sibuk dengan segala rencana jahatnya pada keluarga Dion.
Mama Herna kembali tersedu sedu apalagi saat satu persatu kerabat dan kolega berpamitan. Makin terasa berat hatinya meninggalkan makam papa Hengki. Terbayang tubuh yang pernah terisi dengan nyawa pria pujaan hatinya kini terbujur kaku sendirian di dalam dekapan bumi. Kesedihan itu kembali melanda kala menyadari kini bahkan beliau pun tak bisa menemaninya.
"Maafkan mama pa,,,"
Hanya kalimat itu yang terus menerus bermunculan dalam benak mama Herna dan hanya itu saja juga yang tercetuskan. Entah papa Hengki bisa mendengarnya atau tidak namun mama Herna seakan tak pernah lelah mengatakannya.
__ADS_1
"Ma,,, pulang yuk. Kasihan Dion." ujar Hana.
Ia memang mulai merasa bosan di pemakaman mantan mertua yang dinobatkannya sebagai musuh itu. Apalagi semua sudah pada pulang. Rasa ngeri berada di pemakaman saat hari menjelang sore juga jadi alasan tersendiri.
Lelah juga berpura pura berduka padahal nyatanya ia bahagia.
"Kasihan papa juga Han kalau ditinggalin." mama Herna benar benar tak tega membiarkan bumi menelan rapat rapat tubuh papa Hengki.
"Hadeeh mama ini,,, itu hanya mayat!! Tidak perlu lagi diratapi. Masih ada tubuh bernyawa yang perlu mama perhatikan dan kasihani." sungut Hana yang sudah kehilangan kesabarannya.
"Han!! Tega sekali kamu bicara begitu,,,!!" mama Herna tak terima.
"Trus mama mau apa?? Bentak bentak Hana seperti ini apa maksudnya?? Memangnya apa salah kalau Hana bilang begitu? Kenyataannya memang papa itu mati!! Sekarang gak lebih dari seonggok mayat gak guna yang walo mama tangisin sepanjang hari juga gak akan bangkit lagi!!" bentak Hana.
"Han,,, Kamu kok kasar sekali ngomongnya. Ini makam papa masih basah lho kok kamu sudah begitu ngomongnya? Masih ada kata lain yang lebih sopan untuk diucapkan Han. Meninggal,,, bukan mati." mama Herna sedih sekali mendengarnya.
"Halah apa bedanya sih ma? Artinya toh sama saja. Trus juga ya,,, Mama itu daripada berdebat masalah pemilihan kata yang tepat untuk papa,,, Apa gak lebih baik pikirkan saja ini Hana,,, Mama lupa mama ini berhutang jasa sama Hana?" tuntut Hana.
"Mama tidak pernah lupa Han. Tapi apa hubungannya kamu bawa bawa jasa dan papa?" mama Herna tak mengerti.
"Ma,,, Hana ini gak bisa dong terus terusan numpang gak jelas sama keluarga kalian. Apalagi sekarang papa sudah meninggal, seharusnya mama itu mulai berpikir siapa yang akan meneruskan semua bisnis papa? Dion?? Sudah gak bisa ma,,,Dion anak kesayangan mama itu lumpuh!! Atau mama mau urus sendiri semuanya?? Bisa apa mama??? Sekarang satu satunya yang bisa mama andalkan cuma Hana. Hana ma,,, Jadi mama daripada bersedih sedih ria untuk papa yang gak akan pernah kembali lagi,,, mendingan mama mulai memikirkan segala sesuatu yang Hana butuhkan." ketus Hana.
"Mama gak ngerti Han,,," mama Herna yang masih berduka itu tak bisa menyaring dengan jelas perkataan Hana.
"Hana butuh kepastian. Hana butuh kejelasan. Hana butuh status. Hana gak mau terus disebut sebut numpang. Hana mau diberikan kepemilikan atas properti yang kalian punya. Mengingat jasa besar yang akan Hana lakukan untuk keluarga ini bukannya tidak berlebihan permintaan Hana ini??" cerca Hana.
Mama Herna menghela napas berat. Tak menyangka Hana begitu tak sabar meminta bagian yang sebenarnya juga bukan haknya. Tapi mengingat bahwa Hana juga akan jadi istri Dion,,,
__ADS_1
"Tak apalah memberikan padanya lebih awal." pikir mama Herna.
"Jangan diam saja ma. Mama juga gak boleh nolak permintaan Hana ini karena ini juga adalah bagian daripada syarat yang Hana ajukan kalau Hana mau mendampingi Dion. Mama masih ingat kan janji mama??"
"Iya Han,,mama ingat. Akan mama minta orang mama mengurus semuanya untukmu ya Han." jawab mama Herna lelah dengan semua desakan Hana.
Sungguh bukan saat yang tepat namun mama Herna juga merasa semakin cepat diiyakan maka Hana akan segera diam dan beliau jadi punya waktu berduka kembali.
"Segera ya ma!!"
"Iya Han iya. Tidak akan lama kok." kembali mama Herna mengiyakan.
Kepalang basah telah berjanji akan memenuhi semua syarat yang diajukan. Tak bisa lagi menghindar apalagi ingkar. Hanya bisa menghela napas agar dada keriput itu tak makin sempit dan mengkerut dihimpit semua duka.
"Pulang sekarang ma. Sudah malam." ajak Hana ketus dan menarik tangan mama Herna kasar.
"Pelan pelan Han. Mama takut jatuh." pinta mama Herna.
"Aduuuh jangan bikin nasib dan hidup Hana makin sial dan berat deh ma. Jalan sudah dituntun masih mau jatuh juga?? Masih mau Hana yang rawat juga??" gerutu Hana sambil terus menyeret tangan mama Herna.
"Ya bukan begitu Han. Mama cuma,,,"
"Udah deh ma. Jangan berisik. Hana ini capek. Mama diam." potong Hana cepat.
Sekali lagi mama Herna hanya bisa hela napas berat. Membiarkan dirinya terus diseret langkah cepat Hana. Berusaha sebisa mungkin mengimbangi agar tak jatuh dan disebut memberatkan lagi.
...🌸🌸🌸🌸🌸...
__ADS_1