Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Lanjutan 30


__ADS_3

Hari demi hari pun berlalu, pasangan Alea dan Abrar pun semakin menunjukkan peningkatan yang kian intim satu sama lain, meski Abrar harus lebih banyak bersabar dengan sikap pencemburu istrinya, namun ia tidak keberatan dengan itu lelaki ini menerima Alea apapun kekurangannya, karena cintanya tulus sejak dulu, tidak pernah berubah walau Abrar tahu ia harus banyak membimbing Alea ke arah yang lebih baik lagi.


Pun Alea, ia terus berusaha menjadi istri yang baik untuk Abrar, lebih giat belajar memasak karena ia menyukai jika prianya itu betah di rumah dan tidak sering makan di luar, meski belum sempurna menjadi istri idaman namun Alea terus mencoba menjadi yang terbaik setiap harinya meski sikap pencemburu dan suka memaksa perempuan ini belum bisa dihilangkan begitu saja.


Hari ini Alea sedang libur, perempuan yang masih tidak mau memakai jasa pelayan ini menghubungi mamanya untuk menanyakan resep kue, karena ia juga ingin seperti sang ibunda yang pandai membuat kue hingga papanya terus jatuh cinta sampai mereka berumur, seperti itulah harapan Alea dengan ia pandai di dapur akan membuat suaminya kian jatuh cinta agar tidak memiliki waktu untuk memikirkan perempuan lain begitu pikirnya.


Dengan bersemangat Alea berkutat dengan mixer dan tepung, dapur menjadi berantakan akibat ulah perdananya ini.


Belum juga selesai Alea mengambil ponselnya untuk berphoto dengan memakai apron dan topi koki, wajah sedikit bertepung, ia mengacungkan dua jari dengan bibir yang maju mengerucut kedepan.


"Astaga biar dalam keadaan bertepung pun aku tetap saja cantik" gumam Alea bangga melihat hasil jepretannya.


Segera ia mengirim photo tersebut pada suaminya yang pasti sedang sibuk di kantor.


'Sayang....aku lagi belajar membuat kue, semangat bekerja ya....cari uang yang banyak, aku mencintaimu' begitu isi pesannya disertai beberapa photo dirinya yang mengotori dapur.


Abrar yang baru saja kembali ke ruangannya selesai memimpin rapat siang itu, langsung tersenyum manis melihat isi pesan sang istri yang setiap saat ia rindukan.


"Kau menggemaskan sayang" gumam Abrar sambil menggeser layar ponselnya untuk melakukan video call pada Alea.


'Sayang.....' jawab Alea langsung.


"Hei....mana kue nya apa sudah jadi? Astaga....aku merindukanmu, apa aku harus pulang sekarang?" goda Abrar.


'Benarkah? Apa kau sudah tidak sibuk? Ayolah aku juga merindukanmu, pulanglah aku menunggumu' jawab Alea diseberang sana dengan semangat.


"Aku bercanda sayang, aku masih banyak pertemuan hari ini, sepertinya aku akan terlambat pulang"


Alea kembali lesu mendengarnya.


'Selalu saja itu jawaban mu, abang menyebalkan....baiklah bekerja dengan baik oke....aku akan menunggumu di rumah, bisa ku tutup sekarang? Adonan ku tidak boleh dibiarkan lama sayang' jawab Alea kembali sambil mengarahkan kamera pada adonan kue yang belum mengembang.


"Baiklah jangan marah, aku usahakan pulang cepat oke....jangan keluar rumah tanpaku, tunggu aku pulang...aku mencintaimu" Abrar ingin mengakhiri video call tersebut.


Alea hanya mengangguk kesal saja, yang membuat suaminya terkekeh melihat raut perempuan ini.


*****


"Huh....ternyata melelahkan juga hanya untuk membuat beberapa cup kue saja, bagaimana bisa mama melakukan dan menyukai pekerjaan ini, jika bukan karena cinta aku akan sangat bosan dengan bahan-bahan kue menyebalkan ini" gumam Alea kesal sebab adonan kuenya harus gagal dan terpaksa mengulang kembali agar mendapatkan adonan seperti di resep.


Setelah berhasil meski belum sempurna namun cukup baik bagi pemula seperti Alea.


******


Suaminya belum juga pulang hingga pukul delapan malam, perempuan ini sudah lapar dan mengantuk namun ia tahan karena ingin menikmati makan malam dan mencicipi kue buatannya bersama Abrar.


Alea kembali meringkuk di sofa sambil menunggu sang pemilik hatinya pulang, tidak terasa ia memejamkan mata indahnya disana.


Abrar pulang dengan wajah lelah namun menjadi hilang begitu saja ketika mendapati istrinya tertidur menunggu kepulangannya di sofa.


Abrar ikut duduk mendekati Alea, lama ia menatap dan mengusap kepala istrinya dengan lembut, senyum terus terukir di bibir tipis lelaki ini, Abrar juga mengecup puncak kepala Alea berulang.

__ADS_1


Wanita ini menggeliat, ia membuka mata merasakan usapan-usapan dari Abrar, lama mengumpulkan nyawa Alea terkejut dan cepat-cepat duduk dari posisinya.


"Abang sudah pulang? Kenapa tidak membangunkan ku?"


"Kau tidur cantik sayang, aku jadi tidak tega, maaf kau menunggu lama"


"Iya....kenapa lama? Astaga abang menyebalkan" Alea mencubit geram suaminya secara berulang dengan menggigit bibir bawahnya kesal namun Abrar tidak mencoba menghindar.


"Hentikan....kau pasti belum makan?"


"Tentu saja aku belum makan, mana bisa makan tanpa suamiku ini....ayo abang harus bertanggung jawab aku lapar menunggumu...." ajak Alea yang berdiri dari sofa diikuti Abrar yang segera memberi pelukan hangatnya.


Abrar terus memeluk istrinya ketika Alea masih menyiapkan meja makan, pria ini menghilangkan penat dan lelah setelah bekerja dengan bermanja-manja seperti ini sungguh ia merasa bahagia memiliki Alea dalam hidupnya.


Abrar mencicipi masakan istrinya hari ini, ia merasa masakan Alea terus menjadi lebih baik setiap harinya.


"Bagaimana ada yang kurang?" tanya Alea tidak sabar.


"Tidak....ini enak, masakanmu selalu enak" jawab Abrar tersenyum.


"Meski aku tahu abang sedikit berbohong. Tapi tidak masalah.....aku akan tetap memasak untukmu, yaaa....lama-lama juga enak sendiri, tentu butuh jam terbang yang banyak bukan agar menciptakan pengalaman" ucap Alea optimis membuat suaminya bangga.


Abrar tersenyum dan memberi kecupan-kecupan kecil di pipi perempuan ini, mereka selalu menempel meski di meja makan sekalipun.


"Mari makan...." ucap Alea.


Mereka makan dengan tenang, seperti biasa seakan sudah menjadi pemandangan setiap harinya bagi Abrar yang melihat istrinya makan dengan tergesa-gesa seperti orang kelaparan, tapi itulah Alea, wanita ini tidak canggung atau malu dengan tingkahnya jika di meja makan, malah membuat suaminya tambah gemas.


"Apa tidak bisa abang jadi bos di rumah saja? Jadi tidak perlu pulang malam-malam, meski uangnya banyak tapi menyebalkan menunggumu pulang selama itu" gerutu Alea sambil membereskan meja makan.


"Baiklah terserah saja....aku juga tidak mengerti tentang kantor, ayo sekarang abang cicipi kue ku tadi siang" bujuk Alea sambil menyajikan cake buatannya.


Tentu Abrar menerimanya.


"Hmmmm....." Abrar mulai merasakan dan ingin memberi penilaian sambil mengunyah.


"Bagaimana?"


"Cukup baik untuk koki amatiran ku ini" jawab Abrar mengecup bibir Alea.


"Benarkah....jangan bohong"


"Bagaimana jika selanjutnya kue ini dibuat lebih lembut sedikit, hanya sedikit saja....tapi ini enak sayang, aku tidak bohong, kau belajar dengan baik" jawab Abrar yang kembali memakan potongan kedua, ia memberi kritikan dengan sangat halus.


"Astaga....aku bahagia mendengarnya, meski aku tahu masih banyak kekurangan, aku akan belajar lagi....bukankah membuat kue untuk suami itu terlihat sangat romantis? Aaaaa....aku mencintaimu sayang" rengek Alea manja memeluk suaminya.



Abrar sudah tidak tahan jika mendengar suara manja Alea yang benar-benar menggoda bagi pendengarannya, lelaki ini tidak berbasa basi lagi Abrar langsung menggendong istrinya ke kamar.


"Mandi bersamaku?" ajak Abrar yang sesekali mengecup bibir Alea menuju kamar.

__ADS_1


"Aku tidak akan pernah menolaknya sayang" balas Alea mengecup leher suaminya tak kalah menggoda.


*****


"Hei kenapa menatapku seperi itu, kau mengagumiku?"


"Aku selalu mengagumimu setiap hari" jawab Ales mesra sambil memainkan hidungnya di hidung mancung suaminya.



"Sayang....kenapa bang Arkan tidak pergi bulan madu? Bukankah mereka masih cuti?" tanya Alea karena matanya belum mengantuk.


"Tidak tahu, aku sudah menawarinya tapi ditolak dengan alasan ingin di rumah mereka saja, lagi pula dia akan masuk kantor beberapa hari lagi, banyak pekerjaan menunggunya" jawab Abrar mengelus punggung polos istrinya.


"Apa Vina juga akan tetap bekerja setelah menikah?"


"Aku rasa tidak, Arkan bilang dia ingin istri yang jadi ibu rumah tangga saja menunggunya pulang bekerja" jawab Abrar seadanya.


"Hmmm apa kau mau aku seperti Vina juga? Yang hanya jadi ibu rumah tangga biasa, aku mau....tapi tentu tidak menghabiskan waktu sia-sia di rumah saja, jika aku jadi Vina aku akan mengikuti kemana suamiku pergi biar jangan nakal di luar, aku bahkan sangat ingin selalu ikut ke kantormu, meski aku tidak menyukai kantor sedikitpun....aku akan menemani suamiku bekerja setiap harinya" Alea tersenyum geli membayangkan betapa posesif nya ia terhadap suaminya.


Abrar terkekah mendengarnya.


"Astaga....aku seperti sedang di curigai"


"Curiga saja kan boleh-boleh saja, aku tidak menuduhmu nakal juga....hanya waspada tidak masalah bukan? Lelaki itu sangat suka tergoda, apalagi bos-bos seperti kalian, aku tidak mau itu terjadi padaku....sungguh aku takut bang Abrar berpaling dariku, terlebih memang banyak wanita mengagumimu, oh aku kesal jika mengingat mereka" tiba-tiba Alea kesal sendiri mengingat Yura dan Gina.


"Itu tidak akan terjadi sayang, aku suamimu....aku akan menjaga hati ini untuk istriku saja, aku tidak pernah berniat seperti itu"


"Kejahatan tidak terjadi hanya karena niat saja tapi juga karena ada kesempatan, kejahatan saja seperti itu apalagi perselingkuhan" jawab Alea.


Abrar geleng kepala, ada saja yang membuat perasaannya geli jika membahas tentang ini Alea memang pandai menjawab segala sesuatu.


"Astaga....kau benar juga, aku tidak tahu apa aku bisa menyukai wanita lain atau tidak ya" goda Abrar.


"Bang Abrar" bentak Alea kesal.


"Tidak sayang....aku tidak akan tergoda siapapun, aku milikmu hanya untuk istriku saja....aku ingin seperti papamu yang setia sampai menua"


"Awas saja jika kau mengingkarinya...akan ku buat abang menjadi lelaki tidak berguna, akan ku cincang pusakamu jika berani berpaling dariku" ancam Alea menatap tajam suaminya dengan mata besar.


"Astaga....itu ngilu sayang" Abrar bergidik ngeri mendengarnya.


"Bagaimana jika sekarang saja aku cincang benda berhargamu? Tapi tentu saja dengan gigi ku" goda Alea menggigit dagu suaminya.


Abrar terkekeh, ia tidak berkata-kata lagi bagaimana ia selalu menjadi pria paling bahagia dimana istrinya memang menjadi mood booster ketika di rumah terlebih jika di ranjang.


"Benarkah? Ayo silahkan aku ingin melihatnya" jawab Abrar yang kembali menindih tubuh sempurna sang istri.


****


lanjut yaaaa

__ADS_1


baca juga "ku lepas kau dengan ikhlas"


jangan lupa dukungannya


__ADS_2