Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S3 bagian 50


__ADS_3

"Nona Alea, maaf kalian lama menunggu", sapa Nara pada iparnya itu, gadis ini telah menjelma kembali menjadi seorang perempuan cantik memakai dress rumahan yang sopan.


"Hei berhenti memanggilku begitu Nara, kita saudara ipar panggil namaku saja, seharusnya akulah yang meminta maaf sudah mengganggu waktu berduaan kalian".


Nara tersenyum canggung mendengar kata-kata Alea yang sangat berbanding terbalik dari kenyataan hubungan pernikahannya.


"Aira terus menangis ingin bertemu denganmu, dia ingin berlatih bernyanyi bersamamu Nara untuk tugas sekolahnya, apa kau tidak keberatan Aira ku antar ke sini?".


"Tentu saja tidak, aku akan sangat senang bisa mengajarinya bernyanyi meski aku bukan guru bernyanyi sungguhan, tenanglah aku akan menjaga Aira dengan baik", jawab Nara tersenyum senang sambil ekor matanya menatap gadis kecil yang baru saja turun dari tangga bersama pamannya.


"Baiklah, maaf aku tidak bisa lama....", ucap Alea memeluk Nara berniat pamit.


"Kenapa buru-buru?", tanya Dannis menghampiri istri dan saudara kembarnya.


"Aku akan ke bandara suamiku pulang hari ini, aku titip Aira oke", jawab Alea mengusap kepala anaknya dengan gemas setelah memberi peringatan pada putrinya agar tidak nakal selama berada di sana.


Alea berlalu, meninggalkan kesan canggung diantara keduanya saat bertatapan, terlebih Nara yang merasa jantungnya lebih cepat dari biasa karena otaknya memutar memori yang terjadi di kolam renang beberapa saat lalu.


"Bibi, ayo kita berlatih di kamar bibi saja biar kita bisa berekspresi dengan bebas", ajak Aira menarik tangan Nara.


Gadis itu menjadi bingung, sebab kamarnya berada di belakang tepat di kamar yang biasa ditempati para pelayan.


Sedang Aira menarik tangannya menuju anak tangga yang ia yakini gadis kecil itu mengajaknya ke kamar milik Dannis.


Nara menatap Dannis dengan isyarat meminta izin, pria itu mengangguk saja.


Nara menarik napas dalam saat banyak pertanyaan yang muncul dari bibir kecil Aira tentang barang-barangnya yang tidak ditemukan ketika mereka sudah barada di kamar Dannis.


"Bibi ayo jawab pertanyaan ku, kenapa tidak memajang photo bibi di sini?", desak Aira lagi.


Nara kebingungan ingin menjawab apa, gadis ini masih terdiam.


"Seharusnya ada photo pernikahan di sini, seperti di kamar mommy ku, kenapa paman masih memajang photo orang yang sudah meninggal? tidakkah bibi merasa itu terlihat menyeramkan.....", tanya Aira lagi ketika ia menatap figura kecil di atas nakas.


Dannis menahan kesal saat dirinya berdiri di ambang pintu kamarnya berada, ia tidak sengaja mendengar celetukan keponakannya.


"Sayang, bukankah kita ingin berlatih di sini jadi jangan memikirkan hal yang lain oke?", bujuk Nara.


"Maaf aku hanya merasa heran saja pada kamar bibi semuanya tidak ada, untung aku membawa perlengkapan riasan wajah jadi kita bisa berdandan sebelum berlatih", ucap Aira membuka tas ransel yang ia bawa.


Nara lagi-lagi hanya bisa menghela napas akan sikap polos dan cerewet keponakan suaminya tersebut, Nara menurut saja apa yang diinginkan oleh gadis kecil itu dimana mereka berdandan sebelum berlatih, tidak hanya itu Aira juga memanggil Dannis untuk ikut bergabung.


"Ayolah paman jangan diam saja di sana, paman bisa menjadi penonton penampilanku hari ini", pinta Aira menarik tangan Dannis ketika mendapati pria itu di ambang pintu.


Dannis pun hanya bisa menurut saja, pria itu duduk di sofa kamarnya, ia harus berpura-pura menjadi penonton sekarang.


Aira dan Nara mulai bernyanyi sesuai tema tugas sekolahnya, penampilan mereka layak seperti guru dan murid asli, entah kenapa Dannis yang semula diam dengan wajah datarnya mulai mengulum senyum bahkan pria itu tertawa geli saat keponakannya menampilkan adegan lucu.


Nara melihat jelas wajah tertawa suaminya sekarang, dadanya kian bergemuruh saat Aira menarik Dannis untuk ikut bernyanyi dan berjoget bersama mereka.

__ADS_1


Pun pria itu, ia sungguh ingin menghindar saat wajah istrinya yang didandan lucu nan menggemaskan oleh Aira itu tampil mempesona di matanya, ia tidak bisa membantah bahwa Nara benar-benar pandai bernyanyi dengan suara yang indah.


Siapa yang menyangka Dannis benar-benar melunak saat bersama Aira, gadis kecil yang bersikap lucu itu sungguh menggemaskan hingga siapa saja pasti akan merasa bahagia ketika bersamanya, seperti Dannis pada saat ini.


Disadari atau tidak Nara dan suaminya ikut larut dalam drama bernyanyi bersama putri kecil yang cantik itu, suasana kamar yang semula sepi sekarang menjadi heboh oleh gelak tawa mereka bertiga.


Tangannya berpegangan seperti yang diperintahkan Aira, iya Dannis tidak menolak saat Aira meminta Nara bernyanyi bersamanya, dan gadis kecil itu yang menjadi penonton mereka.


'Saat bahagiaku duduk berdua denganmu


Hanyalah bersamamu


Mungkin aku terlanjur


Tak sanggup jauh dari dirimu


Ku ingin engkau selalu tuk jadi milikku


Ku ingin engkau mampu


Ku ingin engkau selalu bisa


Temani diriku sampai akhir hayatmu


Meskipun itu hanya terucap


Dari mulutmu uuu…


Bahagiakan aku hingga ujung waktuku


Selalu…


Seribu jalanpun ku nanti


Bila berdua dengan dirimu


Melangkah bersamamu


Ku yakin tak ada satupun


Yang mampu merubah rasaku untukmu


Ku ingin engkau selalu'


Lagu "Saat Bahagia" dari Band Ungu dan Andin yang dibawakan oleh Nara berhasil membuat Dannis tidak berkutik, genggaman tangan keduanya tidak terlepas meski lagu telah usai, lama saling bertatapan membuat Nara tersenyum canggung, ia menjadi malu sekarang wajahnya merah merona saat sadar Dannis menatapnya sejak tadi.


Sampai pada sebuah tepuk tangan dari jari-jari kecil Aira yang menyadarkan mereka yang sama-sama larut dalam pikiran masing-masing.


"Bibi itu lagu kesukaannya mommy ku, untung aku merekamnya jadi bisa ku tunjukkan pada mommy nanti", ucap Aira tersenyum senang saat mematikan ponsel dan mengakhiri rekaman video bernyanyi itu menggunakan ponsel Dannis.

__ADS_1


Nara yang masih canggung kembali mengangguk pada Aira, gadis ini ingin berjalan menjauh dari Dannis, namun saat tangannya ingin melepaskan diri dari suaminya siapa sangka Dannis seperti enggan melepasnya.


"Tuan?", panggil Nara pada Dannis yang masih saja diam seribu bahasa dengan tangan masih bertaut dengan tangan cantik milik Nara.


"Ah.... iya maaf", jawab Dannis melepaskan genggaman tangan mereka.


"Sekarang ayo kita mengambil photo sebagai kenang-kenangan latihan kita hari ini", ucap Aira tiba-tiba.


Gadis kecil itu memegang ponsel Dannis seraya mendekat.


"Ayo paman bisa mengambil gambarku bersama bibi", perintah Aira pada Dannis dan menarik tangan Nara menuju sofa.


Nara dan Aira memasang wajah cantik di photo pertama, dan memasang wajah lucu di photo berikutnya, Dannis hanya diam dan menurut saja sebagai photografer dadakan istri dan keponakannya.


"Sekarang ayo kita photo bertiga, itu pasti seru", ajak Aira menarik tangan Dannis mendekati mereka.


Gadis kecil itu mahir menggunakan ponsel dan menyetel mode selfie pada ponsel dan menaruhnya di atas meja agar mereka bisa menghadap kamera dengan baik.


Dannis dan Nara tampak canggung, terlihat dari beberapa photo yang tercipta dimana Dannis dan istrinya itu tampak saling memandang satu sama lain meski Aira berada diantara mereka.


"Ayo sekarang aku akan mencium pipi paman sebelah kanan, bibi harus mencium pipi kiri paman, oke", perintah Aira lagi.


Nara ingin menolak karena takut Dannis marah, namun siapa sangka pria itu malah memberi akses pipinya pada Nara yang kian berwajah merah karena malu.


Dannis melingkarkan tangannya di pinggang ramping milik Nara agar gadis itu mendekat padanya.


"Ayo.... 1 2 3", sesuai instruksi dari gadis kecil Alea itu, Nara memberanikan diri mencium pipi Dannis dengan perasaan canggung luar biasa.


Sebuah potret keluarga kecil yang bahagia tampak pada gambar yang baru saja tercipta.


"Sekarang ayo berubah posisi, bibi di tengah biar aku mencium pipi kanan bibi dan paman mencium pipi kiri mu bibi oke".


"Apa?", Nara tidak mengira bahwa Aira benar-benar melakukan itu.


"Ayo lakukan saja", ajak Dannis yang sudah beralih ke kiri Nara.


Nara berada di tengah sesuai yang diminta Aira, Dannis meski canggung namun ia mencium pipi Nara sebelum petikan gambar di ambil.


Nara memasang wajah tersenyum dan bahagia.


"Satu kali lagi", perintah Aira.


Nara mengangguk, namun saat Dannis ingin mencium pipinya lagi Aira berkata "Bibi lihat wajah paman", Nara menurut saja, alhasil saat Dannis mendaratkan bibirnya bukan berlabuh pada pipi namun pada bibir gadis cantik itu, karena disaat bersamaan Nara menghadapkan wajahnya pada Dannis.


Aira melihat itu menutup mulutnya tertawa geli.


"Aira", ucap Nara malu dan menunduk.


"Kenapa bibi malu? suami istri itu harus selalu mesra seperti orangtuaku".

__ADS_1


"Sayang, kau masih kecil", jawab Nara mengusap pipi Aira dengan gemas.


Dannis tersenyum melirik Nara memeluk Aira dengan sayang.


__ADS_2