
Setelah menyelesaikan urusannya bersama Vina dan mertuanya Arkan pulang dengan perasaan lega meski hatinya tetap merasa kecewa atas apa yang terjadi pada rumah tangganya bersama Vina, namun tentu pria ini bersyukur mengetahui kebohongan Vina lebih awal agar tidak semakin terluka nantinya jika memang Vina berhasil merencanakan tentang kelanjutan kehamilan palsu itu.
Melati heran kenapa mobil suaminya tampak baru saja terparkir di halaman rumah minimalis itu, segera ia membuka pintu.
Arkan memeluknya erat tanpa berkata-kata.
"Hei.....kau kenapa? bukankah kau tidak seharusnya pulang kesini sayang" ucap Melati menerima pelukan Arkan tanpa curiga.
"Tidak.....aku akan pulang kesini setiap hari mulai hari ini" jawab Arkan singkat masih dalam pelukan membuat Melati mengernyitkan dahi.
"Baiklah ayo masuk.....kita bisa bicara di dalam" ajak Melati menarik tangan suaminya pelan, ia yakin ada sesuatu yang terjadi hingga pria itu bicara seperti tadi.
"Kau mau kopi?" tawar Melati, sudah menjadi kebiasaan bagi perempuan ini utnuk melayani suaminya dengan baik jika Arkan pulang ke rumahnya, pria itu hanya mengangguk pelan dan tersenyum namun ketika Melati hendak ke dapur ia malah menarik istrinya lagi dan mencium kening perempuan itu dengan penuh perasaan.
"Aku mencintaimu" ucap Arkan membelai pipi Melati yang belum berisi seperti perempuan hamil pada umumnya, karena memang Melati masih mengalami mual muntah hingga akhir trimester pertama kehamilannya saat ini.
"Aku tahu.....tunggu sebentar, duduklah dulu" jawab Melati tersenyum, ia mendorong tubuh suaminya pelan untuk kembali duduk di sofa.
Sepeninggal Melati membuatkannya kopi, Arkan terus menunduk memijat kepalanya yang terasa pusing, pikirannya menerawang akan takdir cintanya jika pria ini pikir-pikir memang Melati jauh lebih layak dibanding Vina, meski mereka bertemu di waktu yang tidak tepat ketika Arkan telah bertunangan dengan Vina pada saat itu, namun sekarang Arkan merasakan bahwa ia tidak akan pernah menyesalinya.
Melati tidak pernah menuntut apapun darinya perempuan itu sepertinya memang tulus mencintainya bahkan rela menjadi istri simpanan sebelum semuanya terbongkar, tidak pernah merasa keberatan akan suaminya yang lebih sering pulang ke rumah mama Bella selama Vina disana, selalu memberikan pelayanan terbaik jika Arkan pulang untuk gilirannya, perempuan itu hanya bersyukur pria ini mau bertanggung jawab atas perbuatan mereka, memang benar Melati tidak menginginkan yang lebih dari itu.
__ADS_1
"Hei....ayolah jangan melamun, minumlah...." kejut Melati ketika ia melihat raut suaminya setelah menaruh kopi di atas meja.
Arkan kembali meraih tubuh Melati dan mendekapnya, sungguh pria ini merasakan ketenangan berada didekati istri sirinya ini.
"Aku yakin kau sedang ada masalah, ceritakan padaku jika kau sudah siap...." ucap Melati mengusap punggung suaminya dengan sayang.
Arkan masih diam, membuat Melati menerka-nerka apa yang terjadi, tidak pernah Arkan seperti ini sebelumnya.
"Maaf....apa kau sedang bertengkar dengan Vina? apa gara-gara aku?" tanya Melati memberanikan diri, ia merasa tidak enak sendiri jika suaminya bertengkar perihal hubungan cinta segitiga mereka.
"Jangan sebut nama itu lagi, sekarang hanya ada kau dan aku" jawab Arkan mantap sambil menatap wajah istrinya yang kebingungan.
"Sayang jangan bercanda, apa maksudmu? jika kalian bertengkar lebih baik kau pulang selesaikan dulu masalahnya jangan lari kesini" jawab Melati masih bingung.
"Aku serius, masalah aku dan Vina telah usai selamanya....kami sudah berakhir, sekarang kau adalah istriku satu-satunya, aku akan berusaha menjaga hati ini untuk tetap ada padamu seperti yang dilakukan bang Abrar pada Alea selama ini, aku bersyukur memilikimu Melati, sekarang hanya ada kita berdua tidak ada Vina atau siapapun lagi....aku juga akan segera meresmikan pernikahan kita" jawab Arkan pelan namun begitu serius.
Melati terdiam, ia bahkan belum menyangka bahwa ucapan itu yang keluar dari mulut Arkan sore ini, beberapa kali ia mengerjapkan mata menetralisir pendengarannya yang mungkin saja salah.
"Apa maksudmu bang Arkan? maaf aku belum mengerti ini.....apa yang kau ucapkan ini?" tanya Melati dengan raut begitu terheran-heran, membuat Arkan terkekeh melihatnya.
Lalu pria ini segera menceritakan apa saja kejadian hari itu hingga membuat sebuah keputusan yang cukup berat baginya dan Vina namun sungguh ia merasa lega setelah semuanya selesai dengan baik dimana ia mengembalikan Vina pada kedua orangtuanya dengan sopan dan menjelaskan semua yang terjadi diantara mereka. Perceraian mereka pun akan segera di urus oleh pengacara yang langsung dihubungi oleh Arkan sesaat setelah semuanya usai.
__ADS_1
Melati menangis mendengarnya, ia menatap Arkan dengan penuh haru.
"Aku tidak tahu apa aku harus bahagia karena ini atau tidak...namun percayalah aku tidak pernah menginginkan ini terjadi, tapi semua keputusan ada ditanganmu, aku senang kau sudah menyelesaikannya dengan baik"
Ucap Melati memeluk suaminya dengan erat, membuat Arkan menerbitkan senyum setelah merasakan sesak ketika ia mulai bercerita.
"Sekarang lihat aku baik-baik, mulai hari ini malam ini aku akan selalu pulang kesini, hanya ada kita berdua dan calon anak kita....maaf aku belum menjadi suami yang baik untukmu selama kita menikah namun sungguh aku ingin memperbaikinya, kita akan bahagia setelah ini....aku mencintaimu Melati, hiduplah denganku sampai nanti"
Melati mengangguk penuh semangat "Iya....tentu aku mau sayang, aku mau....aku mau jadi istrimu satu-satunya, iya kita akan bahagia setelah ini aku akan berusaha menjadi istri yang baik untukmu....aku juga ingin seperti Alea dan bang Abrar, aku mau tentu saja aku mau...." jawab Melati dengan suara isaknya.
Lama mereka berpelukan.
******
Alea mulai gusar, setelah pulang dari tugasnya perempuan ini masih berada di rumah sakit sedang mengurus kepindahan mertuanya ke ruang icu, sebab ia baru saja bertemu dokter yang menangani papa Agung menjelaskan bahwa kondisi papa Agung terus menurun sejak pagi tadi, pria itu tidak lagi membuka mata ataupun menyahut jika dipanggil mama Clara dan Naura, Alea pun sudah memeriksanya bahwa papa mertuanya mengalami penurunan kesadaran dengan hitungan yang menjadi ukuran tingkat kesadaran dalam dunia medis, papa Agung mendapat nilai 6, jika pada orang yang tingkat kesadaran penuh akan mendapat nilai 10.
Maka darinya dokter menyarankan untuk segera dipindahkan ke icu, sebab disanalah tempat pasien yang mengalami penurunan kesadaran harusnya dirawat dan dipantau setiap jamnya oleh sebuah monitor dan petugas media yang berjaga, terlebih kondisi papa Agung memang tidak stabil sejak semalam dimana tekanan darahnya terus meningkat dan belum juga merespon meski obat telah di suntikkan bahkan keadaan itu berlangsung sejak semalam, belum lagi pria ini juga mengalami demam yang tinggi.
Alea memberikan yang terbaik, ia segera mengiyakan saran dokter dan langsung memindahkan papa mertuanya ke ruang intensif tersebut, Alea terus menenangkan Naura dan mama Clara yang sejak tadi masih menengis cemas melihat tubuh lemah itu terbaring di sebuah ranjang dengan berbagai selang menempel pada tubuhnya dan sebuah monitor yang terus berbunyi menandakan kondisi pria itu belum stabil.
Dokter telah melakukan berbagai hal untuk menunjang diagnosa seperti ct-scan yang memperlihatkan dengan jelas bahwa perdarahan di kepala papa mertua dari Alea itu telah meluas yang menyebabkan penurunan kesadaran juga telah merusak pusat pengendalian suhu tubuh hingga papa Agung terus demam tinggi dan tidak akan merespon obat penurun demam lagi.
__ADS_1
Alea bingung, ingin rasanya ia menyeret suaminya dan iparnya Arkan untuk datang melihat kondisi papa kandung mereka yang tengah berjuang dalam kesakitan, dokter juga mengatakan bahwa pasien seperti itu sangat jarang untuk bertahan lebih lama lagi, mereka hanya melakukan tindakan untuk memperbaiki tanda vitalnya saja saat ini, karena pasien akan sangat berisiko jika dilakukan tindakan yang mungkin akan mempercepat kematiannya.
Alea pamit pulang, ia menangis sambil terus mengemudi "Kalian akan benar-benar kehilangan papa untuk selamanya, teruslah kalian seperti ini kalian memang jahat bang Abrar, bang Arkan....tidak bisakah menjenguknya kali ini saja, bisa jadi ini untuk yang terakhir kalinya" gumam Alea dalam tangisnya menuju pulang, ia sudah tidak sabar untuk kembali membujuk suami dan iparnya itu.