
...Selamat membaca ...
...๐ง๐ง๐ง...
Mama Herna hanya manggut manggut sambil berpikir keras tindakan apa yang seharusnya diambilnya setelah mendengar pernyataan Hana tadi.
"Memangnya mama gak pernah ya terpikir kenapa gadis semuda Karin itu mau dinikahi Dion? Alasan cinta itu gak mungkin ma. Masih banyak kan pemuda lain sebayanya yang jauh lebih mempesona daripada Dion?"
Hana tak ingin memberi celah pada mama Herna untuk berpikir jernih. Dia terus mencekoki mantan mertuanya itu dengan segala kemungkinan dan tuduhan buruk tentang Karin.
"Gadis semuda itu tuh harusnya masih nge-mall,,, nongkrong di kafe kafe kekinian,,, sibuk gonta ganti pacar sana sini. Bukan malah menghabiskan waktunya untuk mengandung begini. Iya kan ma??"
"Apa kita perlu cari tau latar belakang keluarga Karina ya Han? Teman temannya,,, atau pacarnya juga mungkin? Siapa tau kan kecurigaan kamu itu benar bahwa Karina mengandung anak orang lain. Kasihan Dion Han kalau sampai kecurigaanmu benar. Masak sekali lagi dia harus ditipu wanita licik yang mengincar hartanya saja??"
Binggo,,,,!!
Hana tersenyum lebar karena wanita tua itu sudah berhasil diracuninya. Dengan cepat Hana merubah mimik wajahnya menjadi seakan terkesan dengan cara pikir mama Herna.
"Ide bagus itu ma. Memang begitu seharusnya kan? Apalagi seperti kata mama,,, Mama saja tidak tau atau tidak kenal sebelumnya dan tau tau diundamg ke pernikahan mereka yang kesannya juga sangat mendadak kan? Bisa jadi Karin memaksa atau menjebak Dion agar segera menikahinya biar bisa dapat hartanya."
"Benar itu. Kita harus selamatkan Dion dari niat jahat dan licik Karin Han." mama Herna benar benar sudah tidak bisa berpikir jernih lagi.
"Tenang saja ma. Serahkan sama Hana. Biar Hana yang urus semua. Hana yang akan cari tau siapa dan apa tujuan Karin sebenarnya. Mama istirahat saja ya. Hana juga sepertinya butuh istirahat ma. Hana sedikit mual. Maklum tiap hamil muda Hana memang selalu begini."
"Biar mama buatkan kamu susu dulu ya. Biar hilang atau lebih ringan mualnya. Karin juga selalu begitu kok Han tapi habis minum susu akan hilang mualnya. Tunggu di sini ya sayang. Mama akan segera kembali."
Mama Herna bergegas ke dapur meninggalkan Hana yang mengelus perut ratanya dengan senyum licik.
__ADS_1
"Mempengaruhi mama itu gampang. Mendapatkan kasih sayang dan perhatiannya juga gampang karena tanpa diapa apain juga mama itu udah sayang sama aku. Sabar sayang,,, Papa Dion juga akan segera kita dapatkan. Sekarang kita harus sabar untuk membuat bocah tengik itu keluar dari rumah ini. Mama gak mau ada nyonya lain selain mama. Mama gak mau merasakan sakitnya ditendang oleh istri papa Dion lagi seperti dulu. Kali ini harus mama yang menendang istri papa Dion."
Hana menutup pintu kamarnya dan menunggu susu buatan mama Herna sambil menata sedikit demi sedikit bajunya ke dalam lemari. Tidak banyak memang baju yang dibawanya tapi lumayan membuatnya lelah juga. Awal kehamilan membuat staminanya tidak begitu prima.
Sementara itu di dapur Karin yang hendak mengambil air minum melihat mama Herna sibuk mengaduk susu.
"Ma,,, Susu buat Karin ya? Biar Karin saja yang buat sendiri ma." ucap Karin yang ingat dirinya belum minum susu.
"Bukan buat kamu. Ini buat Hana. Kamu kalau mau minum ya buat sendiri sana. Mama kan sudah sering juga buatin kamu susu. Sekarang kamu uruslah sendiri diri dan anak kamu itu." sungut mama Herna.
"Ma,,,Kok mama gitu ngomongnya? Karin ada salah apa ma kok mama sepertinya sedang marah sama Karin?" tanya Karin lembut tanpa ingin mengingatkan dari awal juga bukan maunya untuk mama Herna membuatkannya susu.
Itu adalah kemauan dan permintaan dari mama Herna sendiri. Tapi kenapa sekarang seakan mama Herna menyalahkannya untuk itu.
Satu lagi,,,
"Sudah jangan ganggu mama. Hana sudah menunggu mama." mama Herna enggan menjawab pertanyaan Karin dan memerintahkan Karin segera menyingkir memberinya jalan.
Karin menurut saja. Mengelus dada akan perubahan sikap mama mertuanya itu yang bisa dengan drastis menunjukkan sikap tidak sukanya pada dirinya.
"Hmm,,, baru beberapa jam saja mbak Hana di sini tapi sepertinya sikap mama sudah berubah padaku. Apa sebenarnya yang dikatakan dan dilakukan mbak Hana sampai mama berubah begitu??" pikir Karin.
"Astaghfirullah,,, kok aku malah jadi suudzon begini sih sama mbak Hana. Belum tentu juga ini ulahnya kan. Bisa jadi mama memang hanya sedang lelah kalau harus mengurus kebutuhan kami berdua." sisi baik seorang Karina menenangkan batinnya sendiri.
"Baiklah sayangnya mama sama papa. Kita buat susu sendiri ya kalau begitu. Kamu pasti suka susu buatan mama." Karin mengelus perutnya sambil mengajak baby D bicara.
Tapi baru saja menuangkan air panas ke dalam gelas berisi bubuk susu, Karin merasa perutnya mulas dan sakit. Karin juga merasakan sesuatu yang basah di bagian bawahnya.
__ADS_1
Brrruuaaakkk,,, Dijatuhkannya termos berisi air panas itu dan tangannya langsung mencari tepian meja untuk bertumpu dengan tangan sebelah memegang perut bawahnya.
"Maaaa,,, Maa tolong Karin ma,,," teriaknya sambil menahan sakit di perutnya.
Meski baru pertama kalinya hamil namun Karin cukup tau sepertinya dirinya akan segera melahirkan. Cairan di bawah sana bisa ditebaknya adalah ketubannya yang pecah.
Karin hanya bingung kenapa bisa tiba tiba maju dari hari perkiraan lahirnya begini.
"Maaa,,, Tolong maaa,,,,"
Tidak ada sahutan. Karin kesakitan dan berusaha menggapai kamarnya. Belum dia berhasil sakit di bagian perut bawahnya sudah tidak bisa ditahannya lagi.
"Mbak Kariiinn,,, ya tuhan. Kenapa mbak?? Saya antar ke rumah sakit ya. Nyonya besar kemana sih ini??" asisten rumah yang baru datang dari pasar tergopoh gopoh dan melempar tas belanjanya melihat Karin hampir ambruk.
Segera dipapahnya Karin dan meminta sopir taksi yang masih menurunkan barang belanjaan lainnya mengantar mereka ke rumah sakit terdekat.
"Sabar ya mbak Karin. Saya telpon tuan Dion dulu ya mbak. Mbak Karin yang kuat." asisten itu dengan cepat mencari cari nomer telpon Dion dan menelponnya.
Suara heran karena ditelpon asisten rumah tangga berubah menjadi suara panik setelah asisten itu memberitahu apa yang terjadi. Tapi sesaat saja kepanikan itu menjadi ketegasan.
"Bawa mbak Karin ke rumah sakit tempat periksa kehamilan biasanya ya mbak. Saya akan segera menyusul kesana." titah Dion.
"Baik tuan."
...๐ง๐ง๐ง...
...Mama Herna kemana ya kok gak nyahut pas dipanggil panggil?? Hmmm sengaja yaaa ๐ง๐ค...
__ADS_1
Author tunggu vote, like, hadiah dan komennya ya ๐นโค๏ธ๐