
Alea terbangun keesokan harinya, ia meregangkan kedua tangannya keatas sambil menguap kecil, ia melihat sekeliling tidak ada Abrar disana.
Alea berjalan keluar kamar mencari pria yang menjadi suaminya, matanya terpaku melihat Abrar masih meringkuk di atas sofa sambil memeluk dirinya sendiri dengan tangan bersedekap di dada.
"Tu kan benar....bang Abrar saja tidak mau seranjang dengan ku, untung aku tidak menuruti dua teman konyolku untuk memakai pakaian seksi menyebalkan itu, jika tidak aku akan malu luar biasa jika ditolak mentah-mentah seperti ini" Kesal Alea bergumam pada dirinya sendiri.
Ia juga tidak mengerti kenapa setelah melihat Abrar tidur di sofa ia menjadi kesal sendiri.
"Tidak mungkin kami melakukannya tanpa cinta bukan, huh....beginikah rasanya terjebak pernikahan konyol yang tidak ku inginkan?" tanya Alea pada dirinya sendiri.
Alea tidak ingin pusing memikirkannya, ia berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri agar kembali segar dan bisa beraktivitas sesuai rencananya, mereka akan langsung pergi berbulan madu ke pulau Lombok selama tiga hari, dimana itu adalah kado dari Arkan untuk mereka karena mereka tidak bisa pergi jauh keluar negeri mengingat masih banyak pekerjaan yang sudah menanti Abrar, pun Alea gadis ini akan segera masuk koas.
*****
Alea tengah bersiap dengan koper dan segala keperluannya selama di pulau Lombok nanti, sambil menunggu suaminya yang masih melakukan ritual mandi.
Abrar keluar kamar mandi dengan handuk melilit di pinggang, handuk kecil ia gunakan untuk mengeringkan rambut.
Alea terbelalak ketika menangkap sosok lelaki berbadan besar dan tinggi itu berjalan arah lemari, Alea hampir ternganga melihat otot dada dan perut Abrar yang liat dan kotak-kotak, dimana ia biasa menyaksikan itu hanya di iklan saja.
"Kenapa melihatku seperti itu? awas liurmu" canda Abrar.
Segera Alea mengelap bibirnya.
"Astaga....mataku ternoda bang Abrar, itu tidak sopan kenapa tidak pakai jubah saja" pekik Alea menutupi wajahnya.
"Memangnya kenapa, kau istriku...tidak ada yang salah dengan ini" jawab Abrar enteng sambil membuka lemari mengambil pakaiannya.
Alea terdiam mendengar kata istri yang baru saja Abrar layangkan.
"Baiklah aku sudah siap dengan koperku, aku akan menunggu di luar saja" Alea dengan segera berlalu dari sana membawa serta kopernya.
******
Sepasang pengantin baru itu telah sampai di sebuah hotel di Lombok tempat mereka akan menginap pada malam harinya, mereka hanya beristirahat saja melepas lelahnya perjalanan tadi.
Abrar tidak banyak bicara, ia memang sungguh lelah terlebih ia masih bekerja satu hari sebelum menikah, lelah akibat pesta saja belum usai sekarang mereka sudah terbang pula ke Lombok, sungguh melelahkan memang.
Maka darinya tanpa basa basi Abrar mengambil bantal dan selimut tipis untuknya tidur di sofa.
__ADS_1
Alea menatap aneh dan kembali kesal, ia berpikir memang Abrar juga tidak menginginkan pernikahan ini.
"Abang kenapa tidur di sofa lagi?" tanya Alea canggung.
"Memang abang harus tidur dimana? tidak mungkin tidur di lantai bukan?" jawab Abrar tersenyum.
"Maksudku abang juga berhak atas ranjang ini, kita bisa pakai guling untuk pembatasnya"
Abrar kembali kecewa mendengarnya, bukan itu yang pria ini harapkan, ia berharap mereka bisa tidur tanpa pembatas, namun ia memilih menolak saja daripada ia harus menahan rasa yang akan menyiksa sepanjang malamnya jika mereka tidur seranjang, ia takut tidak bisa menahannya yang berakibat penolakan dari Alea.
"Tidak....abang tidur disini saja, istirahatlah....kau pasti lelah juga bukan"
Alea merasa kecewa atas penolakan itu, namun segera ia merutukinya karena memang tidak mungkin mereka akan tidur seranjang jika tidak memiliki rasa apapun begitu pikir Alea.
"Baiklah selamat tidur" jawab Alea ketus.
Abrar tidak ingin terlalu berharap, maka ia cepat- cepat memejamkan mata agar terhindar dari perasaan kecewa yang mendalam.
*****
Keesokan paginya, Alea bangun lebih pagi ia sudah menyusun rencana kemana saja mereka hari ini, Alea begitu bersemangat untuk jalan-jalan karena memang Alea jarang sekali berlibur karena padat jadwal kuliahnya.
Mereka akan mulai dari pantai, Alea sudah bersiap dengan dress bermotif bunga-bunga berwarna merah muda yang panjangnya tidak sampai mata kaki, tidak lupa kacamata hitam yang ia sematkan di dadanya, rambut tergerai yang panjangnya melewati dada, flatshoes hitam menghiasi kaki putih mulusnya.
Tidak lama Abrar keluar kamar, pria ini pun sudah bersiap dengan pakaian pantainya kemeja putih dan celana casual selutut, tidak lupa ia memakai hat sebagai penutup kepala.
Melihat Abrar telah siap, segera gadis manja ini menarik tangan Abrar agar cepat meninggalkan kamar menuju pantai yang tidak jauh dari resort mereka menginap.
Hanya perlu berjalan kaki sejauh 100 meter saja melewati jalan setapak diantara pepohonan kelapa yang menjulang.
Abrar tersenyum melihat bagaimana raut bahagia sang istri yang tampak bersemangat ingin menghabiskan hari disana.
Alea kembali menautkan tangannya di sela jari Abrar, seolah itu kebiasaan baru bagi gadis cantik ini. Ia mengayun-ayunkan tangan mereka sambil terus berceloteh manja khas Alea selama ini sebelum mencapai bibir pantai.
Mungkin bagi siapa saja yang melihat adegan ini pasti akan mengira mereka memang sepasang pengantin baru yang tengah kasmaran, namun tiada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka.
Alea bersikap manja seperti biasa ia lakukan jika bersama Abrar, tidak canggung sedikitpun, meski Abrar sudah terbiasa akan hal ini namun dengan perasaannya dan status mereka sekarang tentu akan berbeda rasanya bagi pria tampan satu ini.
Alea berlarian mengejar ombak setelah melepas alas kaki mereka, sesekali ia menatap Abrar menyuruhnya mendekat, rambut yang terburai terbawa angin pantai yang menyejukkan menampilkan wajah cantik Alea yang berbeda dari biasanya. Abrar tidak bisa menyembunyikan rasa kagum dan seulas senyum ia lemparkan pada gadis yang tengah berlarian ke arahnya.
__ADS_1
"Sekarang waktunya berphoto" seru Alea ketika sudah berada di samping suaminya.
Ia mendekatkan wajahnya dengan Abrar yang jauh lebih tinggi darinya, hingga wajah Alea hanga bisa mencapai dada Abrar saja.
"Astaga....abang terlalu tinggi, ayo rangkul aku" Alea menarik lengan Abrar dan meletakkannya dibahu gadis itu.
Abrar tampak grogi dan gugup.
Alea melihat hasil photonya kurang bagus karena terlihat jelas wajah canggung Abrar.
"Kenapa selalu saja wajah abang tampak canggung jika berphoto denganku, ayo senyum" Kembali Alea mengambil posisi memeluk pria ini.
"Alea....hentikan ini, kita sudah berphoto sejak tadi tapi tidak ada satupun yang menurutmu bagus" Abrar ingin menghindari kegugupannya.
"Itu karena abang terlalu kaku, di sini spotnya bagus untuk dipajang di media sosialku, aku akan pamer pada Dara, pasti dia panas melihatku bahagia....ha ha ha aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Dara melihat ini"
Jawab Alea tersenyum smirk.
"Astaga....." Abrar hanya bisa menghela napas kasar.
"Ayo lakukan lagi, sekarang abang cium pipiku" perintah Alea sambil memberikan pipinya mendekati wajah Abrar dengan satu tangan memegang ponsel pada kamera mode on.
"Apa?" Abrar terkejut sekaligus tidak percaya.
"Abang ayo.....jangan lama berpikir" perintah Alea kembali.
Abrar yang kian gugup pun melakukannya, ia menempelkan bibir seksi nya di pipi Alea dengan penuh perasaan hingga hasil photo tersebut sangat memuaskan.
"Astaga kenapa sebagus ini, ayo lakukan lagi" Alea memeluk leher Abrar dengan satu tangannya hingga mereka sangat dekat tanpa jarak dan terpaksa Abrar sedikit menunduk agar Alea tidak terlalu berjinjit. Abrar pun hanya menuruti kembali mencium pipi Alea dengan mesra, tanpa sadar pria itu melilitkan tangan kekarnya di pinggang ramping Alea agar mereka lebih dekat.
"Sekarang aku yang akan mencium pipi abang, tapi harus senyum, awas jika tidak senyum" ancam Alea.
Alea melakukannya, ia mencium pipi Abrar seperti yang Abrar lakukan tadi. Mereka benar-benar tampak mesra dan serasi.
Semua photo itu terlihat bagus dan sempurna, Alea benar- benar puas karenanya tanpa tahu bagaimana Abrar menahan laju darahnya yang kian berdesir akibat tingkah Alea yang menggemaskan.
"Saatnya pamer....." ucap Alea tersenyum puas sambil memposting photo ketika Abrar mencium pipinya dan ketika ia mencium pipi Abrar yang tampak sempurna.
__ADS_1
"Ha ha ha....tahu rasa si Dara pasti seperti cacing kepanasan" gumamnya bangga sendiri ketika ia sudah berada duduk dibawah pohon kelapa sambil menunggu Abrar membelikannya minuman.