
...Hai,,,Selamat membaca ya π€...
...Maafkan typo yang bertebaran π€π...
...πΈπΈπΈπΈ...
"Halo ibu Karin,,, Kenalkan saya Sandra."
"Dewi."
"Dinda."
Karin yang sedang duduk di meja VVIp sendirian tersenyum menyalami ketiganya satu persatu ketika mereka menghampirinya. Ketiganya lantas memperkenalkan diri lebih lanjut mulai dari posisi apa yang dipegang masing masing di perusahaan Dion.
"Gak sangka ya pak Dion seleranya masih kinclong begini. Ngomong ngomong ibu umur berapa sih? Masih muda banget kelihatannya??" Sandra mulai.
"Mmm saya baru 24 tahun." Karin menjawab masih dengan senyuman.
"Wah seusia kita kita saja rupanya." sahut Dinda.
"Oh kalau begitu tidak usah panggil ibu. Panggil Karin saja biar lebih akrab." tukas Karin.
"Mana bisa begitu bu. Ibu kan istri bos kita. Gak sopan dan kurang pantas saja rasanya kalau kita panggil nama." Dinda menolak.
"Tidak apa apa. Lagipula aku juga belum punya teman di sini. Kalian mau jadi temanku?" tanya Karin.
Ketiganya berpandangan dengan tatapan penuh arti yang tidak dipahami oleh Karin.
"Dengan senang hati kalau memang ibu Karin maunya seperti itu." Sandra mewakili.
"Karin saja." Karin mengingatkan.
"Eh iya,,,Karin." Semua tertawa dan membaur meski tawa itu hanyalah tawa palsu.
"Tapi kalau ada pak Dion ya jangan panggil nama ya. Nanti si bos bisa pecat kita kita lho." Dewi berkelakar berdasarkan fakta bahwa si bos tidak begitu gampang didekati karena cenderung menjaga jarak dengan karyawannya.
"Benar itu." Sandra menimpali.
"Kan bisa aku yang belain kalian. Aku bisa bilang kalau aku yang meminta kalian memanggilku begitu. Tidak usah khawatir kalau masalah itu." Karin menganggap hal itu bukan perkara besar.
__ADS_1
"Tetap saja lah Rin,,, Musti hati hati sama si bos. Apalagi kalau ada Megha kan ya,,, Uppss,,," Sandra mulai memancing keributan.
"Kenapa memangnya dengan Megha?? Megha sekretaris suamiku kan??" umpan termakan oleh Karin.
Sandra tersenyum tertahan namun bisa dilihat oleh kedua rekannya.
"Iya benar sekretaris pak Dion. Kamu sudah kenal kan pastinya??" tanya Sandra.
Karin menggeleng perlahan.
"Loh belum kenal?? Kok bisa??" Dewi kepo.
"Mmm kenal secara nama saja sih karena om papa,,, Mmm maksudku suamiku sering menyebut namanya. Tapi kalau kenalan langsung belum sih. Belum sempat,,," jawab Karin.
"Aneh kamu. Kan orangnya juga ada di sini. Tuh dia,,," tunjuk Dinda pada wanita berpenampilan anggun dengan rambutnya yang disanggul modern berhiaskan bros kerlap kerlip dan dress hitam mengikuti siluet tubuh dan panjangnya diatas lutut.
Wanita itu berdiri mendampingi Dion yang terlihat antusias berbicara dengan salah satu kepala cabang yang hadir di pesta malam itu.
"Kamu gak cemburu Rin?? Nempel aja si Megha sama si bos." kelakar Sandra.
"Cemburu?? Harus ya?? Kan wajar kalau dia selalu sama suamiku kemana mana. Namanya juga sekretaris kan??" Karin masih berpikir secara logika.
"Logikanya memang begitu. Tapi kan gak masuk logika juga kalau istri si bos sudah disini tapi dia selaku orang terdekat bos masih saja belum menyempatkan diri mengenalmu langsung. Tanda tanya gak sih??" Dinda mulai meracuni pikiran Karin.
"Anehnya di mana sih??" Sandra coba menipu Karin dengan pura pura memandang dari segi positif dan berada di posisi Karin yang tak curiga sama sekali.
"Ya aneh kalau cuma sekretaris kantor dan bukan sekretaris pribadi tapi semua urusan pribadi si bos diurusin sama dia. Ya gak sih Rin?? Urusan makan juga Megha yang urus,,, Pakaian ganti kalau mau ketemu klien mendadak juga Megha,,, Apa yang disukai si bos semua Megha tau. Kira kira apa ada ya hal tentang si bos yang gak diketahui Megha???" Dinda bicara setengah bercanda.
"Ukuran itunya pak Dion aja kali ya yang dia gak tau hahaha,,," Sandra menimpali dan lebih berani mengarah ke hal yang pribadi.
Karin belum ikut bereaksi ketika Dewi dan Dinda sudah ngakak dengan candaan Sandra. Akting ketiganya sungguh sempurna hingga Karin tidak bisa bedakan itu candaan benar atau palsu.
"Hey,,, Kita cuma becanda aja. Jangan bengong gitu,,, Ya kali kan Megha ada hubungan special sama si bos. Kan sudah ada kamu Rin sekarang." Sandra menenangkan namun kalimatnya mengundang pertanyaan bagi Karin.
"Ada aku sekarang?? Maksudnya?? Dulu gimana emangnya??"
Akhirnya pertanyaan yang paling ditunggu ketiganya tercetus juga dari bibir Karin. Sandra tersenyum menang dan puas karena umpannya dilahap habis oleh mangsanya.
"Dengar dengar sih ada sesuatu yang spesial diantara mereka. Tapi kita juga gak tau pastinya sih ya. Cuma gosipnya yang beredar kayak gitu." Bisik Sandra.
__ADS_1
"Kamu yakin??" tanya Karin.
"Yakin gak yakin sih. Logikanya emang biasa sekretaris itu kemana aja ikut tapi gak juga musti ikut dong kalau ke acara pribadi si bos?? Dulu tuh dengar dengar si bos dapat undangan nikahan anak sahabatnya dan acaranya itu tertutup. Tapi si Megha ikut aja tuh. Kalau emang acara private kan Megha gak usah ikut. Emang sepenting itu ya Megha sampai harus ikut???" Dinda melanjutkan.
"Emang siapa dia?? Ya kan???" Dewi gak mau kalah jadi kompor.
Karin mulai goyah dengan masukan masukaj yang ia terima. Teman teman baru yang belum dikenalnya cukup baik itu rupanya mampu memainkan perannya masing masing hingga sulit bagi Karin menolak mentah mentah semua ucapannya.
Terlalu meyakinkan.
"Husst husstt,,, udahan bahasnya. Yang diomongin lagi menuju ke sini tuh." Sandra memperingatkan saat melihat Megha melangkah mendekati mereka.
Karin yang semula menunduk dan berpikir langsung mendongak dan pas Megha berdiri di depannya.
"Halo ibu Karin. Perkenalkan saya Megha. Sekretaris pak Dion. Senang akhirnya bisa berkenalan langsung dengan ibu Karin seperti ini."
"Wanita ini memang cantik. Bahkan terlihat dari penampilannya yang lebih matang dariku,,, Dia lebih cocok bersanding dengan om papa. Usia mereka sepertinya sama."
Dengan ramahnya Megha mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Karin namun yang diajak berjabat tangan Tak langsung menanggapi,,, Karin malah terdiam dengan pandangan kosong karena otaknya masih dipenuhi dengan omongan beracun tadi.
"Bu Karin,,," Sandra menyentuh tangan Karin hingga menyadarkan Karin dari bengongnya.
"Eh,,,Iya,,, Senang berkenalan denganmu ibu Megha." Karin menyebut kata "ibu".
"Megha saja ibu Karin." Megha tersenyum simpul.
"Eh iya,,,Megha." Karin malah jadi canggung sendiri.
"Mmm kita tinggal kesana dulu ya bu Karin. Itu teman teman lagi manggil." Sandra ingin menghindar agar keduanya bisa saling bicara atau bahkan bisa mulai bertengkar.
Akan seru bukan??
"Baiklah. Terima kasih sudah menemaniku." jawab Karin.
"Sama sama ibu. Kami permisi." ketiga tersenyum licik.
...πΈπΈπΈ...
...Licik banget dah ya,,, π ...
__ADS_1
...Masih slow up ya,, π€π€§π·...
Dukung author dengan vote, like dan komen ya πΈβ€οΈπΉ