Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S3 bagian 75


__ADS_3

Dannis pulang cepat, entah kenapa pekerjaannya menjadi berantakan hari ini, ia memutuskan untuk pulang lebih cepat untuk beristirahat, ia pikir mungkin saja kelelahan beberapa waktu lalu bekerja terlalu berat dan terkesan memaksakan diri.


Baru saja masuk rumah ia dibuat terkejut saat mendengar suara tawa yang ia yakini dari suara istrinya.


Melangkah pelan, Dannis berjalan menuju ruang tv dimana Nara sedang terbahak-bahak karena sebuah tontonan acara komedi.


Karena sibuk terkikik geli sendiri, gadis ini tidak menyadari bahwa Dannis tengah memperhatikannya dengan tangan bersedekap di dada bersandar di tepi pintu, sesekali ia tersenyum sendiri karena merasa gemas dengan tingkah Nara yang sangat asyik menonton hingga tertawa sendiri tanpa menyadari kehadirannya.


"Jadi ini yang kau lakukan saat aku bekerja? tertawa seperti orang gila disiang hari dan menangis seperti hantu dimalam hari hanya karena menonton tv", ucap Dannis seraya mendekat, yang membuat Nara terkejut dan segera berdiri menunduk takut.


"Tuan Dannis, kau pulang?", tanya Nara menggigit bibir bawahnya.


"Maaf", ucap Nara pelan.


Dannis tersenyum.


"Ayo nonton bioskop, agar kau puas menonton dengan layar yang besar", ucap Dannis tiba-tiba, membuat Nara memberanikan diri menatap wajah suaminya.


"Apa?".


Dannis hanya menjawab dengan anggukan kepala.


"Bersiaplah, aku akan mandi sebentar", kata Dannis lagi.


Nara menatap punggung Dannis yang telah meninggalkannya berdiri tercengang masih mencerna ucapan pria itu.


"Nonton bioskop? hah? yang benar saja? apa aku tidak salah dengar, apa itu artinya kami akan berkencan?", Nara bertanya sendiri dan tersenyum sendiri.


Nara segera ke kamarnya, berdandan dengan girang.


Menunggu Dannis dengan wajah cantik yang merona, senyum gadis ini mengembang saat melihat Dannis turun dari kamarnya.


"Kau sudah siap?", tanya Dannis tersenyum.


Nara mengangguk cepat.


"Kau serius tuan? kau tidak sedang mengerjaiku bukan?", tanya Nara serius.


Dannis hanya terkekeh, "Ayo, aku juga ingin mencari udara segar, aku lelah dengan suasana kantor".


"Apa? mencari udara segar? kita tidak jadi ke bioskop?".

__ADS_1


"Ke bioskop juga", jawab Dannis yang tangannya membuka rambut Nara yang semula dicepol sembarang saja.


"Tuan, apa yang kau lakukan? kenapa merusak rambutku?", Nara berkata kesal saat rambutnya kembali terburai.


"Aku suka rambut panjangmu, tidak perlu di ikat", jawab Dannis yang sudah menggandeng tangan gadis itu berjalan keluar rumah menuju mobilnya berada.


Kata-kata Dannis yang membuat Nara merasa bahagia bukan main, ia terus mengulum senyum saat berada di perjalanan.


Tidak banyak yang Dannis bicarakan di dalam mobil, tidak ada yang tahu isi hati pria itu saat ini.


Mereka sampai pada sebuah mall besar yang bioskop terdapat di sana, meski Dannis hanya diam sejak tadi namun sikapnya sungguh manis, pria itu tidak melepas genggaman tangan istrinya.


"Kau mau popcorn?", tawar Dannis.


"Mau", jawab Nara polos.


Baru saja mereka mendudukkan diri di kursi tunggu masuk ruang teater, Nara dan Dannis dibuat terkejut saat tiba-tiba Nesya menghampiri mereka bersama satu orang teman perempuannya.


"Dannis, kau di sini? kenapa tidak menjawab telepon ku".


"Maaf, ponselku silent", jawab Dannis enteng.


"Kenalkan ini kekasihku, namanya Dannis dan ini Nara adik sepupunya", ucap Nesya pada teman perempuannya setelah mengerlingkan mata pada Dannis seakan menjadi sebuah kode.


"Apa?", tanya Nara.


Nara terkejut bukan main, saat Nesya mengenalkan Dannis sebagai kekasih terlebih Nara dikenalkan sebagai adik sepupu pria itu.


Nara menatap Dannis penuh tanya, namun pria itu terlihat cuek dan biasa saja.


Dannis menjabat tangan teman dari Nesya tersebut dengan senyum, membuat Nara pun harus ikut berpura dalam sandiwara menyebalkan itu, meski ia merasa kesal namun ia lakukan demi suaminya.


Entah apa yang membuat Nesya dan Dannis berpura menjadi sepasang kekasih sekarang.


"Lihat tiket kalian", Nesya dengan entengnya mengambil tiket nonton itu di tangan Nara.


"Nona Nesya?", Nara berkata kesal saat perempuan itu mengambil paksa tiket nonton mereka.


"Kebetulan sekali, duduk kita berdekatan...", ucap Nesya girang.


Karena Nesya mengambil alih posisi Nara yang semula berdampingan dengan Dannis, membuat Nara menggigit bibir bawahnya geram.

__ADS_1


"Hei, jangan terus memandang mereka yang tengah kasmaran, karena kita sama-sama sendiri ayo kau bisa duduk di sebelah ku saja", tawar teman Nesya pada Nara dengan ramah.


Nara hanya tersenyum canggung lalu mengangguk saja, seraya mengikuti langkah Dannis dan Nesya yang berjalan menuju pintu teater yang telah terbuka tanda film akan segera dimulai.


"Nara, kenapa kau diam?", tanya perempuan di sampingnya itu.


"Apa? kau bicara sesuatu?" tanya Nara terkejut, karena sejak tadi ia sibuk memperhatikan Dannis dan Nesya saja yang duduk bersebelahan asyik menonton sambil berbisik bicara sesuatu.


Nara bahkan tidak menyadari bahwa film telah dimulai sejak tadi, namun matanya tidak beralih dari Dannis yang lengannya terus dipeluk oleh Nesya sesekali gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu Dannis dengan manja layak kekasih yang nyata.


Membuat Nara meradang luar dalam meski ruang teater terasa sejuk, kencan yang semula ia harapkan akan manis seperti diawal kini berubah menjadi rasa kesal sekaligus sedih yang luar biasa, terlebih Dannis diam saja diperlakukan Nesya mesra di hadapan istri sahnya.


Nara mengunyah popcorn sebanyak mungkin yang terasa sulit untuk ia telan, menarik napas dalam beberapa kali agar dadanya yang sesak bisa bernapas dengan normal.


"Tuan", panggil Nara pelan pada Dannis.


Namun Nesya benar-benar menguasai Dannis, membuat Nara mulai merasa tidak tahan, ia bahkan tidak mendengar apa yang dibicarakan oleh teman perempuan Nesya yang duduk di sebelah nya.


Nara tidak bisa menahan airmatanya, ia sungguh merasa sakit meski ia tahu Nesya dan Dannis hanya berpura saja.


Gadis ini berdiri, ia berlalu tanpa basa basi meninggalkan Dannis yang menatap punggungnya dengan penuh arti, terlebih Nesya yang tersenyum puas, namun meninggalkan rasa heran sekaligus terkejut bagi teman perempuan Nesya.


Tidak lama berselang, Dannis pun berdiri menyusul istrinya yang telah keluar pintu teater.


Nesya tampak kesal, ia ingin menyusul namun ditahan oleh temannya yang penasaran dengan apa yang baru saja terjadi.


Dannis menarik tangan Nara menuju lift, pria itu tidak banyak berkata-kata, begitupun Nara yang hanya diam sambil satu tangannya terus menghapus airmata yang seakan enggan berhenti.


Mereka sampai parkiran di mana mobil Dannis berada, pria itu membuka pintu untuk istrinya dan memasangkan sabuk pengaman gadis yang masih menangis dalam diam itu.


Dannis mengemudi pelan meninggalkan mall perlahan tapi pasti, mengakhiri kencan manis yang seakan hanya berada dalam hayalan Nara saja.


"Kami hanya berpura, karena Nesya tidak ingin dijodohkan oleh orangtuanya", ucap Dannis setelah hening sekian lama di perjalanan pulang, bahkan ia membiarkan Nara menangis sepanjang jalan.


Dannis turun mobil yang telah ia parkirkan di halaman rumah mereka.


"Aku cemburu, aku cemburu meski aku tahu kalian berpura saja, tidak bisakah kau berpura di hadapan orang lain saja jangan di depan mataku juga, tidak bisakah kau menghargai perasaanku sedikit saja tuan Dannis?", ucap Nara yang membuat langkah Dannis terhenti.


"Jika begitu bisakah kau berhenti menyukaiku?", Dannis menjawab pelan namun sangat terdengar jelas di telinga Nara.


"Apa?"

__ADS_1


__ADS_2