
Nara mengoleskan krim penghilang memar yang membiru di sebagian wajah suaminya yang dipukul oleh mantan tunangannya sendiri yang tidak lain juga merupakan saudara sepupu jauh dari Dannis.
Dannis tersenyum tipis saat netra hitamnya berhadapan sangat dekat dengan wajah cantik berbibir mungil yang tengah fokus mengobati wajahnya.
"Kenapa menatapku seperti itu? apa kau mulai terpesona?", ucap Nara bercanda sambari melirik mata Dannis yang sedang asyik memperhatikan nya.
"Tidak", jawab Dannis mengelak.
"Sudah selesai, kau bisa mengoles obat ini lagi setelah mandi sore nanti", ucap Nara seraya membereskan obat itu.
Dannis mengangguk, namun ketika Nara ingin pergi pria itu menghentikan langkah gadis yang memakai kaos over size berwarna merah yang tampak menyala dikulit putihnya.
"Ada yang lain?", tanya Nara lagi.
"Kau tidak buruk juga dalam berpakaian", komentar Dannis sambil menilai penampilan istrinya itu.
"Benarkah? apa aku terlihat cantik mengenakan pakaian selain seragam pelayan?", tanya Nara menyindir dengan nada bercanda.
"Kau terlalu percaya diri", ucap Dannis terkekeh.
"Aku rasa aku memang cantik meski memakai seragam pelayan sekalipun, lihatlah Reno saja masih berharap padaku".
"Ceh..... Berhenti menyebutnya di depanku, wajahku seperti ini semua ulahnya".
"Iya, aku sudah bertanggung jawab mengobatimu kenapa mengungkitnya lagi".
"Kenapa tidak menikah dengannya saja bukankah kalian bertunangan?".
"Kami hampir menikah jika ibu dan Ranti tidak membawaku ke kota waktu itu", jawab Nara polos.
Tanpa mereka sadari, Dannis maupun Nara tengah duduk bersama sambari bertukar cerita tentang masa lalu mereka di balkon menikmati angin yang bertiup membuat dedaunan sebuah pohon pelindung yang berdiri kokoh di halaman pada saat terik matahari mulai menyala.
Dannis hanya diam menyimak berbagai cerita dari gadis itu.
"Apa? kau tidak pernah beli baju? oh pantas saja kau seperti tidak pernah belanja saja saat di mall kemarin", Dannis geleng kepala terheran.
__ADS_1
"Iya, itu memang benar.... aku tidak boleh beli baju dengan alasan aku bisa memakai pakaian Ranti yang sudah tidak terpakai".
"Dan kau diam saja? oh ayah macam apa itu", Dannis berdecak kesal mendengar nya.
"Tidak apa, aku sama sekali tidak keberatan Ranti sudah seperti saudara kandungku, aku tidak memiliki saudara selain dia, aku menyayangi nya".
"Dan dia tidak menyayangimu", bantah Dannis.
"Bukan hal yang penting dia menyayangiku atau tidak, kami tetaplah saudara", ucap Nara dengan nada dalam.
Dannis menarik napas dalam melihat wajah sendu gadis itu.
"Lantas kenapa pula kau tidak sekolah tinggi padahal keluarga mu berada?".
"Ayah bilang aku bodoh dalam bidang akademik, jadi aku hanya cocok untuk bekerja rumah tangga saja, lagi pula jika aku sekolah tidak ada yang bisa mengurus rumah, jadi hanya Ranti saja yang meneruskan sekolah hingga sarjana".
"Aku tidak percaya ada ayah seperti itu bahkan dengan anak kandungnya, jadi kau sudah jadi pelayan di rumah mu sendiri sejak SMP?", tanya Dannis tidak percaya.
Nara mengangguk, "Iya, aku sudah jadi pelayan sejak menginjak remaja, bahkan hingga menikah seperti sekarang, nampaknya hanya itu yang mampu ku lakukan, aku mengurus rumah di desa sekarang pun aku mengurus rumah mu yang besar ini, seharusnya kau berterimakasih padaku tidakkah itu terlihat keren aku bahkan melakukannya sejak saat semua teman sebayaku sibuk belajar dengan buku di sekolah, tapi aku sibuk dengan sapu di rumah", Ucap Nara terkekeh mengenang kehidupannya di desa.
"Oh tuan, apa kau tersinggung? aku hanya bercanda, aku memang hanya pantas untuk menjadi pelayan mu saja ketimbang istri aku menyadari itu, tenanglah aku tidak sedang menyudutkan mu", ucap Nara lagi dengan nada bercanda dihiasi tawa kecil dari bibir manisnya.
Lama Dannis menatap manik hitam milik istrinya itu, ia tahu Nara memang polos dan apa adanya.
"Baiklah, lupakan.... Sekarang nyanyikan aku sebuah lagu".
Nara tersenyum.
"Kau ingin aku nyanyikan lagu apa?".
"Lagu berbahasa inggris".
"Tuan, apa kau mengejekku? mana bisa", ucap Nara kesal.
"Bukankah kau pandai bernyanyi? aku pernah mendengar mu bernyanyi lagu berbahasa inggris bersama Aira".
__ADS_1
"Huh.... itu hanya lagu anak-anak, apa kau mau aku menyanyikanmu lagu ost film-film Barbie atau Princess Disney? aku bisa karena aku menyukai filmnya sejak kecil", jawab Nara memukul lengan Dannis.
Dannis menghela napas, ia menatap Nara penuh arti.
"Tapi kau mengucapkannya dengan baik dan benar, bukankah itu luar biasa untuk perempuan yang hanya tamat SMP".
"Aku belajar hanya menggunakan pendengaran ku saja, jadi aku tidak perlu mengerti juga artinya, aku bernyanyi karena aku suka dan untuk sekedar menghibur diri", jawab Nara menunduk menoleh ke sembarang arah.
Saat ia mengangkat wajahnya, alangkah terkejut Nara oleh Dannis yang perlahan mendekatinya.
Nara menjadi canggung, lama saling diam dalam tatapan yang mengarah satu sam lain, gadis itu merasa sesak dan jantungnya terasa ngilu saat wajah Dannis kian mendekatinya.
Ia memejamkan mata saat nafas Dannis mulai menerpa wajahnya seiring perasaan yang membuncah di dada, Nara sama sekali tidak menghindar.
Sengaja atau tidak pria itu benar-benar mendekatkan wajahnya hingga tidak ada jarak lagi, entah tersihir oleh apa yang jelas Dannis begitu bernafsu pada bibir yang mengoceh sejak tadi.
Pria itu merasa gemas saat perempuan yang sudah sah menjadi miliknya itu bicara polos dan apa adanya.
Namun belum juga Dannis berhasil mendaratkan bibirnya pada bibir Nara, terdengar ia mendengus kesal saat ponselnya berbunyi.
"Huh.... sial", umpat Dannis pelan sambil berdiri dari duduknya menerima telepon dari sahabatnya Alan.
Lama Dannis bicara menjauh dari Nara yang diam dan mengusap dadanya karena gugup, ia menggigit bibir bawahnya dengan pipi memerah karena malu.
Karena lama, Nara pun merasa tidak nyaman ia ingin menetralisir perasaannya keluar kamar, maka darinya ia pamit tanpa suara pada Dannis yang masih bicara pada ponselnya.
Dannis melirik dan mengangguk pada gadis itu yang segera keluar dari kamarnya dengan senyum tipis di wajah tampan bermata elang tajam tersebut.
####
Dilanjut besok ya, maaf slow up maklum puasa hihihi
#prayfornanggala402
Semoga Allah menyelamatkan semua awak kapal semudah Allah menyelamatkan nabi Yunus dari perut ikan paus, tidak ada yang tidak mungkin di bulan yang mulia ini.
__ADS_1
Mari berdoa untuk mereka, semua harus optimis.