
...Selamat membaca...
...❤️❤️❤️❤️...
Sementara itu di tempat lain,,,
"Assalamualaikum om papa,,,"
Karin terpaku pada foto kebersamaannya dengan Dion. Bulir bulir bening membasahi kelopak matanya dan sukses membuat pandangannya mengabur. Segera dihapusnya airmatanya itu karena ia tak ingin senyum manis dalam foto itu terhalang airmata.
Foto yang diambil saat Delvara baru lahir itu memang selalu menjadi senjata paling ampuh karena selalu mampu mengobati rasa rindu dalam dada yang terus membuncah.
"Apa kabar om papa? Sehatkah di sana? Di sini Karin baik baik saja. Karin membuka usaha catering rumahan dan kecil kecilan. Hasilnya lumayan sih untuk kebutuhan sehari hari. Karin juga sisihkan beberapa untuk ditabung. Karin ingin punya restoran atau cafe."
"Oh ya,,,di sini Karin banyak dibantu oleh Yusuf. Jangan salah sangka padanya ya. Dia itu teman masa kecil, masa sekolah sampai kuliah sekaligus tetangga Karin dulunya. Lalu kami terpisah karena papa membawa kami ke Paris. Eh siapa sangka malah ketemu lagi di sini."
Karin tersenyum sendiri mengingat Yusuf. Meski berjauhan dengan Dion tapi rasanya tak pernah ada hal yang terlupa atau terlewat untuk diceritakan Karin pada foto itu. Ia bisa menghabiskan sejam lebih kalau sudah menatap foto itu.
Maklum hanya itu yang bisa dilakukannya untuk menganggap bahwa Dion masih ada dan masih miliknya.
"Nanti om papa harus ucapkan terima kasih padanya karena sudah banyak membantu. Dia yang menyewakan apartemen ini untuk Karin.Awalnya gratis tapi sekarang Karin menolak kalau digratiskan. Gak enak juga kan kalau terus terusan gratis."
"Yusuf juga bantu papa mendapatkan pekerjaan di kantor tempatnya bekerja. Gajinya lumayan untuk menutupi semua kebutuhan Del. Pokoknya om papa jangan lupa berterima kasih pada mereka ya. Sekarang yang penting om papa sehat di sana,,,kerjakan semua yang harus dikerjakan di sana. Setelah itu temui kami. Kami merindukanmu . Kami selalu menunggumu."
"Maafkan Karin yang tidak bisa menghubungi om papa karena akses Karin sangat terbatas dan sepertinya memang sudah dibatasi. Sudahlah,,, yang jelas dengan apa pun yang sudah terjadi pada kita ini,, jangan pernah membenci siapa pun yang menyebabkan kita terpisah begini."
Sekali lagi airmata mulai mengaburkan pandangannya. Namun segera disekanya karena mendengar suara tangisan Delvara di ruang tengah. Anak itu pasti terbangun karena lapar. Makin besar dia makin kuat menyusu. Untungnya Asi Karin sangat lancar.
"Kok nangis sayang?? Mamanya mana ini??" suara Yusuf terdengar.
Karin tergesa gesa menghampiri Delvara dan tak sempat menyembunyikan sisa tangisan di wajahnya langsung menggendong dan membawa Del ke kamarnya untuk disusui.
"Karin kenapa lagi om?" tanya Yusuf pada pak Adi yang membukakan pintu untuknya tadi.
"Seperti biasa nak. Kalau sudah habis ngobrol sama foto ya begitu itu." pak Adi sudah hafal.
__ADS_1
"Sampai detik ini dia masih belum bisa merelakan semuanya ya om?" tanya Yusuf.
"Sepertinya begitu nak." sesungguhnya pak Adi tak enak hati menjawab karena beliau tau pria matang di depannya itu menaruh hati pada putrinya.
"Tidak apa apa. Itu tidak akan menyurutkan perasaanku padamu Rin." batin Yusuf.
"Nak Yusuf gak sibuk hari ini?" tanya pak Adi basa basi mencairkan suasana.
"Kan ini hari libur om. Om juga gak kerja kan?"
"Oh iya. Om lupa nak hehehe,,," pak Adi merasa garing sendiri.
"Gimana om? Om senang kerja di kantorku? upss maksudnya kantor tempatku bekerja." Yusuf yang tak ingin mereka tau siapa dirinya sebenarnya malah keceplosan.
"Alhamdulillah senang nak. Tapi masih penasaran saja karena gak pernah ketemu nak Yusuf di tempat kerja. Sebenarnya nak Yusuf di bagian apa ya?"
"Em,,, saya di bagian marketing lapangan om. Jadi jarang ada di kantor."
"Ohh begitu rupanya." pak Adi manggut manggut.
Ia yang merupakan pemilik perusahaan itu memang tak pernah mau mengakui bahwa perusahaan itu miliknya. Ia yang tengah mencari jodoh selalu menyembunyikan identitasnya demi mendapatkan wanita yang tulus mencintainya apa adanya bukan ada apanya.
"Bosnya juga gak pernah ada ya sepertinya. Kata para staff karena beliau tidak berada di sini." celetuk pak Adi.
"Emh iya karena bosnya tinggal di luar negeri om jadi memang jarang datang." sekali lagi Yusuf berdalih.
Untungnya juga asisten kepercayaannya yang dipasrahi urusan identitas perusahaan juga selalu bisa meyakinkan semua staffnya tentang keberadaan bos mereka.
"Itu Karin sudah keluar,,, Om tinggal dulu kalau begitu ya nak Yusuf." pak Adi menunjuk ke arah Karin yang baru keluar dari kamarnya lalu segera beranjak.
"Papa mau kemana?"
"Papa mau turun dulu. Ada yang harus papa beli." sahut pak Adi yang sebenarnya hanya mencari alasan agar tak mengganggu mereka berdua.
"Mana Del??" tanya Yusuf.
__ADS_1
"Bobo lagi dia. Jangan diganggu dulu. Aku lelah sekali hari ini. Banyak orderan catering dan Del lumayan rewel hari ini." keluh Karin sambil duduk memijat tengkuknya sendiri.
"Mau aku bantu pijat??" Yusuf menawarkan.
"Husss,,, bukan muhrim." tolak Karin.
"Hehehe iya lupa. Lagian kamu juga gitu. Udah tau banyak kerjaan,,,anak lagi rewel malah kamunya baper baperan gitu. Dikira baper juga gak bikin lelah apa??" ucap Yusuf dengan nada bercandanya.
"Sok tau kamu." sungut Karin.
"Dibilangin juga,,, Lagian kamu mau sampai kapan sih begitu? Gak mau buka lembaran baru?? Bersamaku??" masih dengan nada candanya Yusuf bertanya begitu.
"Yang benar itu sampai kapan kamu mau terus menggodaku begitu?? Gak lelah apa??" tanya Karin balik.
"Ok kalau begitu aku serius sekarang. Gak pake canda candaan. Aku cinta kamu Rin,,," wajah Yusuf berubah serius.
Karin memutar bola matanya malas dan menarik napas panjang.
"Yusufffff,,,,sudah setiap hari kamu mengatakannya."
"Iya dan belum pernah kamu jawab sekalipun."
"Haduuhh kamu tuh ya,,," tangan Karin tergerak untuk meraup wajah Yusuf agar tak terus menggodanya dengan wajah seriusnya itu namun dengan cepat Yusuf menangkapnya dan menggenggamnya.
"Aku serius Rin. Aku cinta kamu. Biarkan aku membantumu melupakan masa kelammu.Izinkan aku mengobati luka hatimu. Izinkan aku membahagiakanmu dan Delvara."
Ucapan Yusuf yang terdengar sangat tulus itu membuat Karin tersadar dan segera menarik tangannya dari genggaman Yusuf.
"Dan aku juga serius menjawab kalau aku ini istri orang Yusuf. Jadi aku tidak bisa menerimamu dan semua tawaranmu itu."
"Baiklah,,,, ini juga baru beberapa bulan saja kan? Masih ada banyak bulan tersisa ke depannya dan aku akan tetap menunggumu berubah pikiran. Aku akan bela belain untuk menutup hatiku dari para wanita hanya untukmu calon bidadariku,,,," Yusuf kembali bicara begitu dengan nada bercanda dan kerlingan mata menggodanya.
"Hadeeehhhh cape deh,,," sungut Karin.
...❤️❤️❤️❤️...
__ADS_1