
...Selamat membaca 🌹...
...❤️❤️❤️...
"Hana lepasin aku,,,!!!" bentak Dion karena niatnya mengejar Karin jadi terhalang akibat Hana tidak juga melepaskan pelukannya.
"Boleh,,, Asal kamu janji kamu akan temanin aku Dion."
"Hana please. Ini bukan waktu yang tepat buat membahas itu. Aku harus kejar Karin. Dia lagi hamil Han. Please dong ngerti." pinta Dion.
"Aku juga hamil Dion. Kamu juga please ngerti dong. Kalau bukan karena kamu aku juga gak akan menahanmu atau meminta kasih sayangmu seperti ini. Seharusnya ada suamiku yang memanjakanku."
"Hana lepasin!!!! Dengar gak sih??!!!"
Spontan Hana melepaskan pelukannya karena bentakan kasar Dion. Untuk pertama kalinya ia mendapatkan bentakan dari Dion. Seingatnya mulai pertama perkenalan mereka,,, saat Dion masih semangat mendapatkan hatinya hingga mereka akhirnya menjalin kasih dan menikah,, sampai bercerai dan dipertemukan kembali,,, Ini pertama kalinya Dion membentaknya.
"Kamu membentakku demi wanita itu Dion." Hana terisak.
"Hana maafkan aku. Kamu yang membuatku melakukannya. Aku sudah meminta baik baik padamu tapi kamu tidak melepaskanku juga. Maaf Hana,, Aku gak bermaksud kasar padamu."
"Pergilah. Temui sana istri kecilmu itu. Memang hanya dia wanita yang berhak bahagia dan hanya aku saja yang selalu disengsarakan. Dia dapat segala limpahan kasih sayang dari orang orang terdekatnya sementara aku kehilangan semua orang terdekatku." tangis Hana makin pilu.
Membuat Dion tidak tega saja. Tapi tidak,,, Dion harus tega karena di luar sana ada hati wanita yang mungkin tengah menangis juga karena melihat suaminya dipeluk oleh mantan istrinya.
Meski sudah mantan istri,, dan Dion sama sekali tak punya perasaan lebih tapi tetap saja harus ada penjelasan dari Dion.
"Sana bahagiakan istrimu dan telantarkan aku. Aku bukan istrimu kan?? Aku cuma istri pria malang yang tewas karena ulahmu!!!"
Sindiran demi sindiran keras Hana itu mendengung di telinga Dion.
"Hana,, Kamu boleh bicara apa saja sekarang. Tapi maafkan aku,,,Aku benar benar harus pergi." Dion menangkupkan sepuluh jarinya sambil keluar meninggalkan Hana sendirian di ruangan itu.
__ADS_1
Dion mencari cari keberadaan Karin. Dengan perut sebesar itu dan berjalan saja sudah susah tidak mungkin Karin sudah jauh. Mata Dion menyapu seluruh halaman rumah sakit itu tapi masih tak menemukan Karin.
"Sayang kamu di mana?? Angkat telponnya sayang." Dion cemas karena teleponnya tak kunjung dijawab oleh Karin.
Dion terus mencoba menelpon tapi tampaknya Karin sengaja mengabaikan telponnya. Dion yakin bumilnya itu pasti marah besar mengingat moodnya yang naik turun selama kehamilannya ini.
Langkah Dion terhenti kala ia melihat bumilnya itu duduk memegangi perutnya dan tampak meringis kesakitan. Segera Dion menghampirinya.
"Sayang kamu gak apa apa?? Apanya yang sakit?? Ayo kita ke dokter." Dion langsung menunjukkan perhatiannya. Digenggamnya tangan istri kesayangannya itu dengan erat.
"Tolong Lepasin tangan Karin om papa. Perhatian om papa hanya membuat Karin merasa lebih sakit." ucap Karin pelan.
Dion melepasnya meski hatinya sakit mendengar ucapan itu. Tapi kali ini dia tak ingin lebih menyakiti wanita kecilnya itu dengan membantahnya.
Karin berusaha berdiri sendiri dan Dion tak bisa membantunya karena sudah berusaha bantu tapi tangannya ditepis pelan oleh Karin.
Susah payah Karin akhirnya bisa berdiri. Diambilnya sebuah bungkusan yang tadi ditentengnya.
Meski nada suaranya pelan tanpa menunjukkan kemarahan tapi justru itu membuat Dion tidak nyaman..Bukan seperti ini seharusnya reaksi istri yang melihat suaminya dipeluk mantan istrinya. Seharusnya kemarahan yang meledak ledaklah yang didapatkan Dion.
Tapi bidadarinya itu memberikan makan malamnya. Ini sungguh membuat Dion bertanya tanya.
"Makanlah dulu. Jangan sampai telat makan. Om papa suka kambuh maagnya kalau telat makan. Ingat om papa butuh tenaga ekstra untuk mengurus diri sendiri, Karin dan mbak Hana." ucap bidadari kecil itu.
Dion hanya menelan ludahnya. Sikap lembut istrinya itu bagai harimau yang tengah memperhatikan mangsanya. Bergerak pelan namun bisa kapan saja menyerang jika mangsanya lengah.
"Karin pamit pulang saja ya. Mood Karin kacau. Kalau bersama om papa Karin takut malah tambah buat masalah." pamit Karin.
"Om papa antar." jawab Dion cepat.
"Tidak usah. Karin bisa berangkat sendiri tadi. Sekarang pulang pun bisa sendiri." baru kali ini bumil manja itu menolak bentuk perhatian suaminya dan itu makin membuat Dion ketakutan.
__ADS_1
Katanya wanita itu lebih baik manja daripada mandiri dan bisa mengerjakan semuanya sendiri. Karena wanita kalau sudah begitu artinya bahaya bagi pasangannya. Sikap wanita seperti itu artinya ia mulai tak berharap bantuan dari laki laki mana pun. Itu bisa dibilang bentuk luka hati dan kekecewaan terdalam wanita.
Begitulah marahnya wanita,,,
"Gak sayang. Pokoknya om papa antar pulang." Dion membimbing tubuh yang terasa menolak itu tapi tetap dipaksanya.
"Bapak Dion,,, Tolong segera ke ruangan istri bapak, ibu Hana. Ibu Hana perlu kehadiran anda. Ibu Hana histeris lagi." seorang suster tergopoh gopoh menyusul langkah Dion.
Sesampainya di depan Dion tampak suster itu keheranan melihat Dion bersama wanita hamil tua. Ia mulai berpikir yang macam macam. Setahunya istri Dion adalah pasien yang bernama Hana itu. Tapi kenapa ada wanita hamil lainnya yang mendapat perhatian khusus dari Dion??
Otak suster itu berputar keras tapi segera dibuangnya segala pikiran itu karena itu bukan urusan dia.
"Sudah sana. Istrimu membutuhkanmu." ucap Karin sembari melepas tangan Dion dari pinggangnya.
"Sayang,,," Suara Dion terdengar berbeda dengan nada tidak membenarkan ucapan suster tadi.
"Tidak apa apa. Kan aku sudah bilang aku bisa pulang sendiri. Pergilah. Dia lebih membutuhkanmu. Jangan menahanku pulang karena semakin lama kamu menahanku aku akan semakin kelelahan berdiri seperti ini." tegas Karin.
Hati Dion bagai dikoyak koyak dengan ungkapan "aku kamu" Karin. Baru kali ini istrinya itu memakai bahasa aku kamu.
Fix sudah,, Karin marah padanya.
"Lepaskan tanganmu. Aku sungguh ingin cepat pulang." tegas Karin sekali lagi dengan sedikit menghentakkan tangan Dion yang masih menahannya.
"Om papa tau kamu marah sayang. Sabarlah sedikit lagi. Om papa akan jelaskan semuanya padamu. Kamu hanya salah paham sayang." ucap Dion sambil melepaskan tangan Karin.
Tidak menjawab bahkan mengangguk atau menggeleng pun tidak. Bumil manja itu tiba tiba berubah menjad' wanita tangguh yang berjalan pun sudah gak kesusahan. Luka hatinya memberinya kekuatan baru yang lebih membuatnya tak ingin tampak lemah di depan Dion.
"Aku tidak akan lemah seperti wanita lain. Aku harus kuat demi tumbuh kembang bayiku. Aku punya cara sendiri menghadapimu." batin Karin meski setetes demi setetes airmatanya mulai membasahi pipinya.
...❤️❤️❤️...
__ADS_1
Dukung author dengan vote, like dan komen ❤️🌹🌸